Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Pengusung Khilafah Ala Hizbut Tahrir Hanya Bualan & Ilusi Kaum Khilaf

Pengusung Khilafah Ala Hizbut Tahrir Hanya Bualan & Ilusi Kaum Khilaf

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Jum, 21 Mei 2021
  • visibility 159
  • comment 0 komentar

Loading

Pendiri Negara Islam Indonesia (NII) Crisis Center Ken Setiawan mengatakan bahwa para pengusung Khilafah telah terjebak pada romantisme sejarah, mereka menjadikan Doktrin Khilafah sebagai solusi satu-satunya dalam merespons modernitas.

Khilafah (bahasa Arab: الخلافة‎, Al-Khilāfah) didefinisikan sebagai sebuah sistem kepemimpinan umum bagi seluruh Kaum Muslim di dunia untuk menerapkan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia. Orang yang memimpinnya disebut Khalifah, dapat juga disebut Imam atau Amirul Mukminin. Misalnya ketika Khalifahnya adalah Abu Bakar Ash-Shiddiq beliau dikenal dengan sebutan Khalifatu Ar-Rasulillah (penggantinya Nabi Muhammad), ketika Khalifah Umar bin Khattab beliau disebut Amirul Mukminin (pemimpinnya orang beriman), dan ketika Khalifah Ali bin Abi Thalib beliau disebut Imam Ali.

Secara umum, sebuah sistem pemerintahan bisa disebut sebagai Khilafah apabila menerapkan Islam sebagai Ideologi, syariat sebagai dasar hukum, serta mengikuti cara kepemimpinan Nabi Muhammad dan Khulafaur Rasyidin dalam menjalankan pemerintahan, meskipun dengan penamaan atau struktur yang berbeda, namun tetap berpegang pada prinsip yang sama, yaitu sebagai otoritas kepemimpinan umat Islam di seluruh dunia. Sehingga pada penerapannya, ketika sebuah Negara Khilafah berdiri (atas persetujuan seluruh umat Islam), kemudian dibai’atnya seorang Khalifah, maka pendirian Negara Khilafah maupun pembai’atan Khalifah lain setelahnya menjadi tidak sah. Hal ini berdasarkan hadits Nabi Muhammad tentang pembai’atan Khalifah

Menurut Ken, mereka bermimpi jika Khilafah tegak di Indonesia, maka akan tercipta kondisi aman dan kondusif, pendidikan dan kesehatan gratis, tidak ada riba dan tidak ada maksiat, mereka katanya melindungi pemeluk agama lain dan lain-lain, walaupun faktanya, pengasong Khilafah saat ini pakai bank riba dan  jangankan yang beda agama, yang satu agama saja dikafirkan bila berbeda paham.

Bagi Ken, para pengusungnya tak lebih hanya kelompok para pengkhayal ulung, bualan, dan ilusi kaum khilaf yang sikap dan tindakannya selalu melangit.

Para pengusung Khilafah ingin menghidupkan sistem politik masa lalu yang diklaim sebagai sistem politik Islam, datang dari Tuhan, dan solusi satu-satunya. Mereka dengan lantang mengatakan bahwa Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah berada pada masa keemasan.

“Klaim keemasan Islam itu ternyata hanya dijadikan slogan semata, tanpa diiringi dengan usaha dan kerja-sama dan dialog dengan budaya/ peradaban lain. Yang terjadi justru malah sibuk mengasingkan diri sendiri dari putaran kemajuan dunia,” imbuh Ken.

Romantisme sejarah adalah ilusi paling besar dari gerakan Khilafah. Hidup di masa sekarang tetapi diukur dengan ribuan tahun masa lalu. Selain faktor historisitas yang bermasalah, setidaknya ada dua faktor lagi yang membuat gagasan Khilafah menjadi ilusi besar, yakni faktor doktrin dan aktualitas.

Para pengusung Khilafah selalu mengatakan bahwa dalam ‘nash’ ada anjuran untuk mengikuti satu sistem politik Islam yang disebut Khilafah. Tetapi ketika ditanya, mana dari nash itu yang menyatakan demikian, tidak ada jawaban sama sekali.

Paling banter, disodorkan dalil tentang ke-khalifah-an manusia. Tentu ini bertolak belakang, sebab doktrin kekhalifahan manusia bukan berarti menunjukkan bahwa Khilafah –sebagaimana digagas kaum HT—adalah suatu kewajiban. Keduanya sangat berbeda.

Dalam konteks aktualitas, para pengusung Khilafah menjadi manusia pengkhayal besar. Mereka seolah-olah hidup di satu wilayah yang tidak tersentuh oleh dinamika sejarah. Dinamika itu adalah kenyataan bahwa sejarah itu bergerak ke depan. Termasuk di dalamnya sistem politiknya.

Era sekarang tentu harus menggunakan sistem politik kekinian yang sesuai dengan masanya. Bukan malah menarik masa kini untuk masuk ke dalam masa lalu –yang masa lalu itu belum tentu lebih baik dari sistem politik masa kini.

Selain itu, dalam aktualisasinya para pengusung Khilafah itu tidak bisa membedakan mana wasilah (sarana) dan mana gayah (tujuan). Bagi mereka Khilafah adalah keduanya sekaligus. Padahal dalam sejarah, Khilafah tak lain hanya wasilah, alat untuk mencapai kesejahteraan dan kemaslahatan manusia (gayah).

Menurut Ken, agar kita keluar dari kotak ideologi sejarah yang membelenggu, kita perlu mengadopsi sejarah apa adanya, sejarah yang penuh dengan dinamika, kompleksitas, dan bukan hitam putih.

Sejarah bukanlah lembaran kertas putih nan indah yang tidak ada cacat, sejarah Khilafah juga penuh dengan pertikaian, perang berdarah-darah, saling menjatuhkan, sejarah tidak seindah yang diimajinasikan oleh para pengusung Hizbut Tahrir dan tidak secantik yang dinarasikan juru kampanyenya. “Sejarah Khilafah bukanlah sejarah malaikat tanpa dosa. Ia adalah sejarah manusia, ada khilaf, dosa, cacat, dan kekurangan,” jelas Ken.

Bahkan faktanya negara yang katanya menegakkan Khilafah justru hancur luluh-lantak berantakan seperti negara Suriah, lalu ada negara yang aman damai seperti Libya dengan 90 persen masyarakat yang mendukung dan mencintai presidennya, hanya karena 10 persen masyarakatnya mendukung Khilafah dan memberontak, kini Libya porak-poranda, kekerasan di mana-mana, penjarahan, pembunuhan terjadi hampir setiap hari, bahkan kepastian untuk hidup pun tak ada.

Apakah kita ingin seperti Libya dan Suriah? Kalau tidak ingin negara kita hancur seperti Suriah dan Libya, maka kita yang waras jangan diam. Lawan, bentengi keluarga dan lingkungan dari bahaya propaganda pengusung Khilafah.  “Mereka itu pemberontak berkedok agama dan akan menggeser konflik yang terjadi di Suriah ke negara kita, mereka akan mensyurahkan Indonesia,” tandas Ken. (*)

Sumber (*/Ken Setiawan)

Foto utama oleh Redaksi Indonesia

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Timor Leste Pinta PB Perbakin Kerja Sama Perkuat Atlet Petembak

    Timor Leste Pinta PB Perbakin Kerja Sama Perkuat Atlet Petembak

    • calendar_month Sab, 24 Agu 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Pengurus Besar Persatuan Menembak Sasaran dan Berburu Indonesia (PB Perbakin), menerima tawaran kerja sama dengan East Timor Shooting Federation  dari Timor Leste dalam rangka memperkuat atlet petembak mereka. Penandatanganan kerja sama (MoU) antara kedua pihak dilangsungkan pada Sabtu, 24 Agustus 2019 pukul 08.00 WIB di gedung Lapangan Tembak Senayan. Ketua Umum […]

  • IMO-Indonesia Proficiat Kepada M. Nuh Ketua Dewan Pers 2019—2022

    IMO-Indonesia Proficiat Kepada M. Nuh Ketua Dewan Pers 2019—2022

    • calendar_month Rab, 22 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Saatnya Pers Indonesia dipimpin oleh orang-orang yang memiliki dedikasi yang lebih tinggi agar apa yang menjadi agenda prioritas dari pengurus sebelumnya dapat diimplementasikan bahkan ditingkatkan “IMO-Indonesia ucapkan selamat dan sukses atas terpilihnya Prof. Dr. Ir. KH. Mohammad Nuh, DEA sebagai ketua Dewan Pers periode 2019—2022; tentunya menjadi hal yang menarik untuk […]

  • SMKN 3 Mataram dan PLN UIP Nusra Kejar Bengkel Konversi Grade A

    SMKN 3 Mataram dan PLN UIP Nusra Kejar Bengkel Konversi Grade A

    • calendar_month Ming, 18 Mei 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Loading

    Bengkel konversi SMKN 3 Mataram juga telah menghasilkan 66 produk kendaraan listrik, termasuk motor konversi, dokar listrik, buggy car, sepeda listrik, dan gerobak listrik. Produk unggulan SMK 3, R-One Smekti, bahkan berhasil tampil di ajang nasional IEMS 2022 di Jakarta.   Mataram | Sekolah binaan program ‘PLN Peduli’ PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa […]

  • PNS Pria Boleh Punya Istri Lebih Dari Satu

    PNS Pria Boleh Punya Istri Lebih Dari Satu

    • calendar_month Sab, 3 Jun 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Sehubungan dengan ramainya pemberitaan di media massa dan media sosial tentang PNS Pria dapat beristri lebih dari satu, berikut penjelasannya sesuai dengan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983 tentang Izin Perkawinan dan Perceraian Bagi Pegawai Negeri Sipil sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Pemerintah Nomor 45 Tahun 1990 tentang Perubahan atas Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun […]

  • Kenapa Advokat Terkesan Banyak dari Suku Batak? (Bagian 1)

    Kenapa Advokat Terkesan Banyak dari Suku Batak? (Bagian 1)

    • calendar_month Sen, 27 Feb 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 157
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Wina Armada Sukardi, Advokat dan Pakar Hukum Pers Pertanyaan kenapa advokat, atau yang di masyarakat luas lebih populer disebut pengacara, terkesan banyak yang berasal dari etnis atau suku Batak? Dalam pergaulan sehari-hari sering dijawab, “Karena orang Batak memang merupakan suku yang terbiasa banyak bicara !” Jawaban tersebut tidak cukup kuat, lantaran banyak juga suku […]

  • Presiden Jokowi Lantik Jenderal Andika Perkasa Jadi Panglima TNI

    Presiden Jokowi Lantik Jenderal Andika Perkasa Jadi Panglima TNI

    • calendar_month Rab, 17 Nov 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo melantik Jenderal Andika Perkasa menjadi Panglima TNI pada Rabu, 17 November 2021 di Istana Negara, Jakarta. Pelantikan Jenderal Andika Perkasa dilakukan berdasarkan Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) Nomor 106/TNI/2021 tentang Pemberhentian dan Pengangkatan Panglima Tentara Nasional Indonesia. Keppres tersebut ditetapkan di Jakarta pada tanggal 17 November 2021. Panglima […]

expand_less