Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Potret Generasi Sandwich di NTT : Banyak Ketergantungan, Sedikit Menopang

Potret Generasi Sandwich di NTT : Banyak Ketergantungan, Sedikit Menopang

  • account_circle Angel Zushelma Hartono
  • calendar_month 1 jam yang lalu
  • visibility 36
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Angel Zushelma Hartono, BPS Provinsi NTT

Masih ingat film 1 Kakak 7 Ponakan? Film ini berkisah tentang Moko–seorang arsitek muda yang baru menamatkan kuliah. Moko mengalami peristiwa tak terduga yang mengubah hidupnya secara drastis.

Kehidupan Moko berbalik arah usai kakak serta kakak iparnya meninggal dalam waktu berdekatan yang membuatnya secara tidak langsung mengambil peran sebagai orang tua tunggal bagi seluruh keponakannya.

Kondisi itu, memaksanya menunda bahkan melepaskan impian melanjutkan pendidikan, demi fokus merawat dan membesarkan mereka. Di tengah tanggung jawab besar itu, Moko tetap harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga yang kini bergantung padanya.

Dari film ini, Moko digambarkan sebagai generasi sandwich: seseorang yang terjepit di antara tuntutan keluarga.

Apa itu Generasi Sandwich?

Istilah generasi sandwich pertama kali diperkenalkan pada tahun 1981 oleh Dorothy A. Miller, seorang profesor dari Universitas Kentucky, dalam jurnalnya yang berjudul The Sandwich Generation: Adult Children of The Aging. Sebuah istilah yang terdengar ringan, tetapi menyimpan tantangan yang harus dihadapi oleh generasi yang menanggung beban ganda.

Generasi sandwich digambarkan sebagai sekelompok orang dalam rentang usia produktif yang harus menanggung generasi yang nonproduktif.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan penduduk usia produktif sebagai mereka yang berusia 15–64 tahun. Sedangkan, mereka yang berada di luar rentang usia tersebut termasuk dalam kategori nonproduktif.

Melihat Rasio Ketergantungan di NTT

Besarnya beban yang dipikul oleh generasi sandwich dapat tercermin melalui rasio ketergantungan atau Dependency Ratio (DR). DR memberikan gambaran seberapa besar populasi nonproduktif yang ‘ditanggung’ oleh mereka yang masih produktif. Semakin tinggi angkanya, semakin berat beban yang harus dipikul oleh mereka.

Proyeksi penduduk hasil SP2020 mencatat jumlah penduduk di Provinsi NTT pada pertengahan tahun, Juni 2024 sebanyak 5,65 juta orang. Sekitar 3,65 juta orang termasuk usia produktif, sementara 2 juta lainnya termasuk dalam kelompok nonproduktif.

Dengan kata lain, rasio ketergantungan berada di angka 55 yang berarti setiap 100 orang produktif tidak hanya menanggung dirinya sendiri, tetapi harus menanggung 55 penduduk nonproduktif.

Sederhananya, 1–2 pahlawan usia produktif harus menopang 1 orang nonproduktif di sekitarnya.

Walaupun rasio ketergantungan terus menurun dari tahun ke tahun, hal ini masih belum meringankan beban para generasi sandwich. Jumlah lansia dan anak-anak yang meningkat setiap tahun, tentu akan menambah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh mereka.

Jika dilihat dari jenis kelamin, rasio ketergantungan laki-laki sebesar 55,60 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Artinya, setiap 100 laki-laki usia produktif menanggung lebih banyak penduduk nonproduktif dibandingkan setiap 100 perempuan usia produktif.

Perbedaan ini secara tidak langsung menggambarkan dinamika sosial ekonomi yang hidup di masyarakat. Dalam banyak keluarga, laki-laki masih dipandang sebagai pencari nafkah utama yang membuat mereka menanggung beban ekonomi lebih besar.

Struktur rumah tangga yang menempatkan laki-laki sebagai penopang bagi lebih banyak anggota keluarga–anak-anak, pasangan, orang tua hingga kerabat lain.

Pola ini secara alami memperlebar rasio ketergantungan tersebut.

Di sisi lain, meskipun perempuan usia produktif memiliki rasio ketergantungan yang lebih rendah, bukan berarti beban mereka lebih ringan. Banyak perempuan harus memikul beban ganda: bekerja untuk membantu pendapatan keluarga dan menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga.

Beban ganda ini membuat tekanan yang mereka hadapi tidak kalah besar dibandingkan laki-laki, meskipun tercermin dalam angka yang berbeda.

Di balik Rasio Ketergantungan

Ada kenyataan pahit di balik angka rasio ketergantungan. Angka ini belum menceritakan kondisi yang sebenarnya. Ia hanya membandingkan jumlah penduduk nonproduktif dengan penduduk usia produktif, tanpa mempertimbangkan apakah kelompok produktif tersebut benar-benar bekerja atau memiliki penghasilan tetap.

BPS mencatat hanya sekitar 3 juta orang penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja di NTT. Artinya, ada lebih dari 600 ribu orang usia produktif yang tidak bekerja. Ironisnya, angka tersebut masih mencakup penduduk berusia 65 tahun ke atas, yang seharusnya menikmati masa istirahat, tapi terpaksa menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) NTT mencapai 77,50 persen yang berarti dari setiap 100 penduduk usia kerja, hanya 77–78 orang yang masuk ke pasar kerja–baik bekerja maupun sedang mencari pekerjaan.

Angka ini menggambarkan tidak semua usia produktif mampu atau siap terlibat dalam aktivitas ekonomi. Ada yang mengurus rumah tangga, sekolah atau bahkan sudah tidak mampu bekerja karena keterbatasan fisik.

Di saat yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada pada angka 3,02 persen. Sekilas angka ini terlihat rendah dan memberi kesan bahwa hampir semua penduduk yang masuk dalam angkatan kerja telah bekerja. Namun, bekerja dalam konteks ini tidak selalu berarti memiliki pekerjaan yang stabil. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024 mencatat bahwa sekitar 72,83 persen penduduk bekerja pada sektor informal.

Artinya, sebagian besar pekerja di NTT berada pada jenis pekerjaan yang tidak memiliki perlindungan kerja, pendapatan yang tidak menentu, serta risiko kehilangan pekerjaan yang lebih tinggi.

Hal ini menunjukkan bahwa beban generasi sandwich tidak berhenti pada hitungan rasio ketergantungan. Realitas di lapangan masih jauh lebih berat. Mereka harus menanggung beban berlapis: kebutuhan orang tua dan anak-anak sekaligus menopang sesama usia produktif yang belum atau sudah tidak bekerja sehingga belum sepenuhnya mandiri secara finansial. Sebuah beban berlapis yang tidak dapat dijelaskan oleh sekadar angka dalam tabel atau grafik.

Budaya, apakah meringankan?

Aspek sosial budaya juga turut mengambil bagian dalam kehidupan generasi sandwich. NTT terkenal dengan hubungan kekeluargaan yang sangat erat. Saling membantu dan menanggung, dua hal indah yang menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, siapa sangka hal tersebut bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi bisa membangun rasa solidaritas yang tinggi, tapi di sini lain bisa menjadi beban tak kasat mata.

Misalkan dalam sebuah pernikahan, biasanya akan didahului dengan tradisi wajib ‘kumpul keluarga’ yang tidak hanya diikuti oleh sanak saudara tetapi juga kerabat dekat. Tujuannya bukan hanya mengumpulkan dukungan moril tetapi juga dukungan finansial demi kelancaran acara tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ, keterlibatan dalam pembayaran belis (maskawin) pun sering kali tidak dapat dihindari. Mau menolak terasa tidak enak, sementara kalau memberi membuat bingung karena kondisi finansial sedang menipis. Akhirnya, mereka terjebak dalam dilema: menjaga tali persaudaraan atau menjaga dompet tetap sehat.

Inilah yang dimaksud dengan beban tak kasat mata yang tidak pernah tercatat dalam data apa pun.

Akibatnya, generasi sandwich dituntut harus memiliki finansial yang kuat dan stabil, meski harus melepaskan keinginan pribadi. Rencana menabung untuk rumah, membeli motor, melanjutkan pendidikan, atau sekadar self reward, semuanya terpaksa ditunda demi mencukupi kebutuhan lain. Impian pribadi terkubur dalam-dalam, diselimuti kalimat pasrah “asalkan mereka senang, aku juga senang”.

Apa yang harus dilakukan?

Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh generasi sandwich adalah mulai berani menata ulang prioritas keuangan. Mulai dengan menabung sedikit demi sedikit, mencari peluang penghasilan tambahan atau mulai membagi peran dalam keluarga. Terpenting, mereka harus berani berkata “tidak” ketika tuntutan tidak diimbangi dengan kemampuan, karena tidak semua harus dikorbankan demi menyenangkan banyak orang.

Generasi sandwich adalah bukti kasih sayang yang melampaui keterbatasan. Mereka adalah tulang punggung yang diam-diam menopang banyak kehidupan.

Mereka layak mendapat dukungan, bukan sekadar simpati. Mereka bukan sekadar generasi yang “kenyang tanggung jawab, lapar finansial”, melainkan generasi tangguh yang layak diperjuangkan bersama.(*)

 

 

 

  • Penulis: Angel Zushelma Hartono

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • 1.500 Personil Diterjunkan untuk Cegah Kebakaran Hutan & Lahan di Riau

    1.500 Personil Diterjunkan untuk Cegah Kebakaran Hutan & Lahan di Riau

    • calendar_month Kam, 11 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Loading

    Pekanbaru, Garda Indonesia | Sebanyak 1.500 personil gabungan diterjunkan untuk mencegah terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Provinsi Riau. Pelepasan personil tersebut dilakukan langsung oleh Kepala BNPB Doni Monardo dalam Apel Kesiapsiagaan Personel dan Peralatan Kebakaran Hutan dan Lahan (karhutla) Provinsi Riau tahun 2019, di Lapangan Kantor Gubernur Riau, Rabu, 10 Juli 2019 Dalam […]

  • Pakai Masker, Bupati Belu: Kita Terlindungi 95 Persen dari Virus Covid–19

    Pakai Masker, Bupati Belu: Kita Terlindungi 95 Persen dari Virus Covid–19

    • calendar_month Sab, 26 Jun 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia  | “Ini langkah yang paling baik karena masker bisa menghindari virus Covid – 19 sampai 95 persen. Artinya, jika kita selalu pakai masker berarti kita terlindungi 95 persen,” sebut Bupati Belu, Agustinus Taolin, Sp.PD–KGEH, FINASIM saat memimpin Rapat Koordinasi (Rakor) Penanganan Covid–19 Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), di lantai I […]

  • Presiden Jokowi Beli Buah Srikaya di Pasar Inpres SoE TTS

    Presiden Jokowi Beli Buah Srikaya di Pasar Inpres SoE TTS

    • calendar_month Kam, 24 Mar 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Loading

    SoE, Garda Indonesia | Presiden Republik Indonesia Ir. Jokowi Widodo melakukan kunjungan kerja di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), untuk meninjau langsung program percepatan penurunan angka stunting bertempat di Kesetnana pada Kamis, 24 Maret 2022. Dari Kesetnana beralih ke Pasar Inpres SoE untuk menyerahkan bantuan tunai kepada pedagang. Presiden RI […]

  • Bayar Air Pakai ‘NTT Pay’ Sejahtera Group dan Bank NTT Teken MOU

    Bayar Air Pakai ‘NTT Pay’ Sejahtera Group dan Bank NTT Teken MOU

    • calendar_month Jum, 23 Apr 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 48
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Manajemen Sejahtera Group membuat terobosan inovatif bagi penghuni perumahan Pondok Indah Matani dan Sejahtera Land Oetalu dalam melakukan pembayaran air menggunakan aplikasi NTT Pay dari Bank NTT. Warga penghuni dua hunian tersebut pun dipermudah dalam mengakses layanan air bersih sekaligus tak direpotkan saat hendak melakukan pembayaran besaran debit penggunaan air. Telah […]

  • Gagal Mediasi, IMO-Indonesia Lanjut Proses Gugatan Terhadap Dewan Pers

    Gagal Mediasi, IMO-Indonesia Lanjut Proses Gugatan Terhadap Dewan Pers

    • calendar_month Rab, 17 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 49
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id |“Mediasi yang tiga kali diagendakan di Pengadilan Jakarta Pusat menuai jalan buntu bagi IMO-Indonesia dan Dewan Pers, pasalnya tidak satupun dari Dewan Pers secara prinsipal hadir serta membawa Proposal Mediasi,“ ujar M. Nasir Bin Umar Sekretaris Jenderal IMO-Indonesia, Rabu/ 17 Oktober 2018. Selanjutnya, M. Nasir mengatakan bahwa IMO-Indonesia sudah siap dan hadir dengan […]

  • TNI dan BMKG Jalin Kerja Sama

    TNI dan BMKG Jalin Kerja Sama

    • calendar_month Sab, 1 Feb 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 60
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Dalam rangka mendukung tugas-tugas Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), TNI dan BMKG menjalin kerja sama dalam bidang Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika. Penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) tersebut dilakukan oleh Panglima TNI Marsekal TNI Dr. (H.C.) Hadi Tjahjanto, S.I.P. bersama Kepala BMKG Prof. Dr. Dwikorita Karnawati di […]

expand_less