Arsip Tag: kecamatan tasifeto barat

Bus Milenial SEHATI Dirusak Orang Tak Dikenal di Jalan Raya Leoruas

4.206 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Bus Paris Indah rute Atambua – Kupang dengan nomor polisi DH 7156 EB yang ditumpangi sekelompok Milenial SEHATI diserang kelompok orang tak dikenal (OTD) di Bilangan Jalan Raya Dusun Leoruas (km.16), Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Kamis siang, 10 Desember 2020.

Kejadian nahas itu diduga kuat berkaitan dengan situasi politik Pilkada Belu, yang telah dihelat pada Rabu, 9 Desember 2020.

Menurut informasi dari sumber Garda Indonesia menyebutkan, Bus itu melaju dari Kota Atambua menuju Kupang. Namun, ketika tiba di tempat kejadian perkara (TKP), bus yang ditumpangi kelompok Milenial SEHATI tersebut dihadang dan salah satu kaca jendela sisi kanan dirusak.

Awalnya, seperti disaksikan para penumpang Milenial SEHATI, satu dari antara gerombolan pelaku itu mengayunkan benda tajam jenis sabit ke arah sopir bus yang sedang melaju. Sang sopir menyadari adanya serangan itu, lantas menghindar sembari terus melajukan kendaraan yang disetirnya ke arah Halilulik, Desa Naitimu. Meskipun tidak ada korban jiwa, tetapi pelaku terus mengayunkan sabit ke arah bus dan mengenai salah satu kaca jendela bus. Akibatnya, kaca pecah dan serpihan itu jatuh ke dalam bus bersama gagang sabit yang dipakai pelaku, dan melukai tangan salah satu anggota Milenial SEHATI.

Anggota Satuan Brimob kawal bus menuju Nurobo, batas Kabupaten Belu – T.T.U

Sopir pun tak menghentikan bus, lalu mengarahkan bus menuju ke Polsek Tasifeto Barat, guna membuat laporan polisi. Usai dilaporkan, bus nahas itu, lalu melanjutkan perjalanan menuju Kupang dengan dikawal oleh anggota Satuan Brimob sampai di Nurobo (batas Kabupaten Belu – T.T.U). (*)

Penulis + foto: (*/Herminus Halek)

Kapolres Belu AKBP Khairul Saleh Tengok Korban Angin Ribut di Kimbana

334 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Kapolres Belu, AKBP Khairul Saleh bersama jajarannya menjenguk para korban angin ribut di Dusun Kimbana, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 13 November 2020.

“Ini, kita bakti sosial bagi para korban bencana setelah terima informasi dari Kapolsek di wilayah ini (Tasifeto Barat, red.), dua hari yang lalu. Jadi, setiap ada yang korban, kita bantu sembako berupa beras bagi yang terdampak Covid – 19 dan menjadi korban bencana lagi. Nah, ini ‘kan secara psikologis perlu dibantu. Pihak kepolisian mau peduli dengan masyarakat yang mengalami kesulitan seperti ini, selama masa Covid”, ungkap Kapolres Belu ketika diwawancarai di lokasi bencana, sembari menuturkan bahwa kegiatan sosial kemanusiaan ini sudah berjalan sejak enam bulan yang lalu.

Pihaknya juga, tandas Khairul, sudah menjenguk korban bencana angin puting beliung beberapa waktu lalu di dua lokasi berbeda seperti Desa Kabuna (Kecamatan Kakuluk Mesak), Desa Naitimu (Kecamatan Tasifeto Barat), dan sejumlah lokasi bencana angin lainnya di wilayah Kabupaten Belu. “Ini, wujud kepedulian Polres Belu terhadap masyarakat korban dengan membantu semampunya”, tuturnya.

Anggota Koramil 1605-06 Halilulik, Tasifeto Barat, bakti sosial di lokasi bencana

Kapolres Belu menambahkan, selain membesuk para korban bencana, pihak Polres pun melakukan patroli sepeda motor ke desa–desa yang sulit dilewati mobil demi mewujudkan Pilkada Belu 2020 yang kondusif, aman dan damai.

Salah satu korban bencana angin badai, Ketut Rosi Widayani, penghuni Asrama Puteri Prima Terano menyampaikan terima kasih berlimpah kepada Kapolres Belu bersama jajarannya yang sudah dengan antusias menaruh rasa peduli terhadap para korban angin badai. “Meskipun bantuannya tidak seberapa nilainya, tapi kami sangat bersyukur dengan kepedulian seperti ini,” ucap Rosi.

Korban lain, pemilik Meubel Aihun, Yos Mau secara terpisah mengemukakan rasa terima kasih kepada Kapolres Belu, yang sangat cepat dan tanggap terhadap situasi para korban angin badai. “Kehadiran pak Kapolres saja sudah membuat kami kuat. Meski bantuannya kecil, tetapi yang paling penting adalah Polres Belu sudah tunjuk sikap keberpihakan kepada kami saat sedang dalam kesusahan”, ujar Yos Mau.

Untuk diketahui, angin kencang disertai hujan deras telah memorak-porandakan 4 unit rumah di Dusun Kimbana, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, pada Rabu, 11 November 2020 sekitar pukul 14.00 Wita. Para korban itu antara lain, Mebel kayu milik Yos Mau, Asrama Puteri Prima Terano milik Ketut Rosi Widayati, rumah milik Maria Aek, dan rumah milik Merry Berek. (*)

Penulis: (*/Herminus Halek)
Editor: (+rony banase)

Laskar SEHATI ‘Tasafoma’ Tala Songsong Agus Taolin

778 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | ”Ternyata hari ini kami datang di Tala, orang kuat Tala ada di SEHATI. Karena itu, hari ini kita klaim orang Tala milik SEHATI. Tasafoma (Tama Sala Foti Maten/ Masuk Salah Angkat Mayat), luar biasa! Hari ini, Tala dominan kuning, Golkar,” ungkap Ketua DPC Golkar Kabupaten Belu, Yohanes Jefry Nahak saat berkampanye di Dusun Tala, Desa Tukuneno, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 6 November 2020.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/11/07/agus-taolin-kita-bicara-program-saja-jangan-saling-menjelekkan/

Partai Golkar menjatuhkan pilihan kepada Paket SEHATI, ulas pemilik sapaan akrab Epy Nahak itu, bukan asal – asalan, melainkan melalui survei dan kajian akurat. “Karena itu, Ketua Partai Golkar bersama seluruh jajaran di Kabupaten Belu, harga mati untuk paket SEHATI. Ada keyakinan di tubuh Golkar Belu, bahwa yang akan memimpin Belu empat tahun ke depan adalah paket SEHATI. Pengurus partai Golkar dari tingkat kabupaten sampai ke tingkat kecamatan sudah satu arah mendukung paket SEHATI. Hari ini saya yakin, tanggal 9 Desember nanti, Tuhan pasti kasih kita pemimpin baru, yaitu dokter Agus Taolin – pak Alo Haleserens,” tandas anggota DPRD Belu periode 2019—2024 dari fraksi Golkar itu.

Ketua DPC Golkar Kabupaten Belu, Yohanes Jefry Nahak saat berkampanye di Dusun Tala, Desa Tukuneno, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 6 November 2020

Setelah paket SEHATI terpilih, menurut Epy Nahak, pihaknya berkomitmen untuk program prioritas pengobatan GRATIS akan segera terwujud di Kabupaten Belu. “Ketua DPD I Golkar, Bapak Melki Laka Lena selaku anggota DPR RI Komisi IX yang membidangi kesehatan, bilang, kalau ada calon Bupati yang membuat program pengobatan GRATIS, berarti sangat kreatif. Itu, bupati yang luar biasa!”, papar Epy Nahak.

Lanjutnya, kewenangan untuk pengobatan GRATIS ada pada Bupati, bukan ada pada Presiden Jokowi. Bupati sebagai kepala daerah di kabupatennya, wajib hukumnya untuk menyejahterakan rakyatnya dengan membuat program pengobatan GRATIS menggunakan APBD.

“Jangan ragu! Jangan khawatir! Karena ada 14 anggota DPRD Belu yang saat ini mendukung program pengobatan GRATIS-nya paket SEHATI. Ingat! tanggal 9 Desember, kita pilih nomor 2, paket SEHATI, Agustinus Taolin – Aloysius Haleserens,”pintanya tegas. (*)

Penulis + foto: (*/Herminus Halek)
Editor: (+ronny banase)

Agus Taolin : Kita Bicara Program Saja, Jangan Saling Menjelekkan

760 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Jangan saling menjelekkan satu sama lain dalam kontestasi Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) Belu 2020, melainkan berbicara tentang program saja. Hal ini disampaikan Calon Bupati Belu Paket SEHATI periode 2021—2025, Agustinus Taolin ketika berkampanye di Dusun Weberliku, Desa Tukuneno, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 6 November 2020.

“Paket SEHATI hanya menawarkan 5 program prioritas. Kita sesuaikan dengan kemampuan kita. Jangan, terlalu banyak program sampai kita sendiri tidak mampu melaksanakan,” ungkap Agus Taolin.

Baca juga : https://gardaindonesia.id/2020/11/06/sipri-temu-pemimpin-5-tahun-lalu-tak-tepati-janji-kita-berhak-ganti-baru/

Pilih pemimpin itu, jelas Agus Taolin, ada dua syarat saja. Yang pertama, ada kemampuan dan, yang kedua ada hati. Ada kemampuan tanpa hati, tentu sulit mendengarkan. Sebaliknya, ada hati tanpa kemampuan pun sama sulitnya. Tanggal 9 Desember (2020) juga ada dua syarat, kasih kekuatan dan dukungan dengan mencoblos nomor 2, paket SEHATI, Agus Taolin – Alo Haleserens.

“Kita butuh dukungan enam puluh ribu sampai tujuh puluh ribu suara untuk bisa lolos Bupati dan Wakil Bupati Belu. Mari kita saling mengajak sebanyak – banyaknya untuk coblos nomor 2, Paket SEHATI,” pinta dokter spesialis penyakit dalam itu.

Masyarakat Belu, lanjut dokter Agus Taolin, memiliki hak sepenuhnya untuk menagih janji kepada Bupati/ Wakil Bupati terpilih. Apa yang dijanjikan, wajib dilaksanakan. Jangan sampai hari ini bicara A besok buat B. Hari ini janji A besok bolak – balik. Pemimpin terpilih wajib menjalankan semua program yang dijanjikan.

Agus Taolin saat berkampanye di Dusun Weberliku, Desa Tukuneno, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Jumat, 6 November 2020.

Karena itu, urai Agus Taolin, Paket SEHATI menawarkan 5 program unggulan :

Pertama, Berobat GRATIS pakai KTP dan Kartu Keluarga. Semua biaya pengobatan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah. Pemerintah yang memikul semua kesusahan masyarakat (Ukun rai mak natiu nola renu niakan susar bot ne’e). Aturan ada? Aturan ada! Mereka bilang ada surat edaran menteri? Karena, mereka jalankan asuransi dua macam. Jamkesda ada asuransi kartunya sendiri, BPJS ada kartu sendiri. Pemerintah wajib simpan uang untuk lihat masyarakat yang sakit. Uang dari mana? Dari anggaran pemerintah. Anggaran pemerintah daerah Belu ada 1 triliun lebih. Untuk kesehatan hanya butuh 25 miliar sampai 28 miliar. Uang ada untuk kesehatan. Undang – undang ada untuk mengatur soal kesehatan masyarakat Belu. Orang yang urus ada, rumah sakit ada, uang untuk membeli obat juga ada. Setiap kali berobat cukup bawa KTP dan Kartu Keluarga Belu. Seluruh warga Belu cukup bawa dan tunjukkan KTP dan Kartu Keluarga Belu. Yang sudah ada BPJS, tetap pakai BPJS GRATIS. Yang pakai Kartu KIS juga, dipastikan untuk semua masyarakat Belu GRATIS. Uang dari mana? Maek Bako, Kepiting Bakau kita berhenti dulu, untuk kita perhatikan orang sakit.

“Prioritas program, prioritas anggaran. Jadi, aturan ada, rumah sakit ada, beli obat juga pemerintah tanggung, harus dijalankan. Kita buat kerja sama dengan rumah sakit pemerintah, Rumah Sakit di Kupang, Soe (T.T.S) dan Kefa (T.T.U). Contohnya sudah ada, Pemerintah Kabupaten Malaka kerja sama dengan Rumah Sakit Atambua. Pemerintah Belu tidak bisa? Kok kenapa ada kerja sama dengan Malaka? Kita pergi di Rumah Sakit Umum, tanya kamu dari mana? Dari Malaka. Bayarkah tidak? Tidak bayar. Wah, saya bagaimana? Hidup di Belu kok berobat pakai bayar? Ini, kami punya rumah sakit, kami bayar setengah mati, kamu datang tidur gratis? Kami tidak tahu, karena kami punya bupati yang buat itu. Jadi, setelah kami terpilih, kasih kesempatan untuk kami susun anggaran secara baik baru kita mulai berobat secara GRATIS!,” urai tegas Agus Taolin.

Kedua, Pendidikan. Pemerintah menyiapkan beasiswa bagi anak sekolah dan Pegawai Negeri Sipil yang berprestasi. Sekarang ini, Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) milik Menteri Pertahanan sudah ada di Belu. “Bukan kita punya. Itu program dari pusat. Sekolah itu akan terima 450 siswa untuk pertanian dan peternakan. Anggaran dari menteri pertahanan dan keamanan”, kata Agus Taolin.

Ketiga, Pertanian. Pengolahan lahan GRATIS, penyediaan bibit dan pupuk subsidi, aktivasi perusahaan daerah untuk membeli hasil pertanian masyarakat dengan jaminan harga stabil.

Keempat, Peternakan. Mengembalikan kejayaan sapi Timor di Belu, piara ikan, ayam, kambing, dan babi. Insentif para pendamping juga dimaksimalkan demi kesejahteraan para pekerja. “Jangan hanya mau perintah orang tapi orang mau makan minum saja setengah mati,” papar Agus Taolin.

Kelima, Reformasi Birokrasi. Penempatan tenaga sesuai dengan kompetensi. “Perbaiki pipa di Atambua, harus pilih orang yang jelas. Minta maaf, Jangan, orang sekolah agama suruh urus air. Jadi, pilih orang yang punya kompetensi. Cari sumber air, perbaiki sumber, penghijauan sumber, bangun embung, optimalisasi jaringan perpipaan. Tetapi, kalau sampai tidak bisa, kita drop air untuk seluruh masyarakat secara merata,” tutur Agus Taolin.

Penulis + foto: (*/Herminus Halek)
Editor: (+rony banase)

Rumah Adat Suku Telitae di Raimanuk – Belu Ludes Dilahap Api

1.135 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Keluarga besar Suku Telitae dirundung nestapa. Betapa pula, rumah adat yang terletak di wilayah RT 01/ RW 01 Dusun Subaru A, Desa Mandeu, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) itu ludes dilalap si jago merah, pada Rabu 5 Agustus 2020 sekitar pukul 16.30 WITA.

Disaksikan Garda Indonesia di Tempat Kejadian Perkara (TKP) bangunan tradisional yang beratap alang–alang tersebut rata dengan tanah hingga yang tersisa hanya puing–puing arang.

Informasi yang dihimpun di TKP menyebutkan bahwa kebakaran rumah adat yang diagung–agungkan para anggotanya di wilayah adat Raimanuk itu, penyebabnya tidak diketahui. Dan, bahkan sudah terjadi untuk yang ketiga kali.

“Tadi, kami sedang bersihkan sayur di pinggir rumah sebelah. Saya cium bau kabel terbakar. Kami semua ada di luar rumah adat. Asap itu muncul pertama dari bagian bubungan atap. Saya langsung lari menuju pintu rumah adat, saya buka pintu ternyata api sudah membesar. Barang–barang di dalam rumah adat itu tidak ada satu pun yang selamat”, cerita penjaga rumah adat, Aplonia Tai dalam Bahasa Tetun sembari mengatakan saat kejadian itu, suaminya Yasintus K.J. Un Atok sedang tidur lelap.

Terkait penyebab kebakaran, dugaan kuat dari sejumlah warga di lokasi kejadian bahwa sumber api itu berasal dari korsleting arus listrik.

Unit Pemadam Kebakaran berupaya memadamkan api

Pantauan media ini, mobil pemadam kebakaran (damkar) baru tiba di lokasi kurang lebih 30 menit kemudian, sekitar pukul 17.00 WITA. “Kendalanya, telepon rumah untuk jalur ini belum masuk. Sedangkan call center-nya itu hanya ada di Atambua. Tadi kami tahu ada kebakaran di sini dari teman – teman di call center via telepon genggam. Kalau bilang terlambat, ya kami juga manusia. Tadi kami datang juga injak orang punya kambing di jalan. Sirene juga sampai putus semua, “imbuh salah satu petugas damkar Paulus Pah diamini teman lainnya.

Adapun keluhan pihak korban dan warga sekitar ketika menyaksikan upaya pemadaman yang sempat terhenti lantaran persediaan air terbatas. Menanggapi hal itu, tambah Paulus Pah, bahwa jika penyemprotan air menggunakan monitor utama, maka 4000 liter air bisa habis hanya dalam tempo 30 detik. Sementara, mobil tangki penyedia air tidak bisa berbuat banyak karena air baku sumur bor di sekitar lokasi tidak ada. Aturannya kata Paulus Pah, petugas damkar bertanggung jawab apabila berkemudi tanpa bunyi sirene.

Kepala Desa Mandeu Heribertus Luan, kepada media ini di lokasi menuturkan, bahwa penyebab kejadiannya tidak diketahui. Akan tetapi, dugaan kuat sumber api itu berasal dari korsleting arus listrik.

Keterlambatan petugas damkar tiba di lokasi, Heri Luan menilai pihak damkar kurang siap dan minimnya pengawasan. “Tadi saya yang telepon langsung ke nomor utama di Atambua, baru mereka telepon lagi ke Sub Kimbana (Kecamatan Tasifeto Barat). Mereka juga datang bawa air sedikit. Kita ada sumur bor di kantor desa tetapi saat kejadian, PLN putuskan arus. Kita di sini sedot air pakai listrik, “ jelasnya.

Untuk mengantisipasi bahaya kebakaran, Heri Luan mengimbau kepada pemerintah Daerah agar memberikan petunjuk dan izin penggunaan anggaran desa/kelurahan untuk membuat papan informasi yang memuat nomor–nomor darurat dan dipajang di tempat–tempat umum. “Kami dari desa mau buat begitu tapi regulasi tidak mengizinkan kami. Anggarannya tidak seberapa kok. Di setiap simpang, lorong, gang itu harusnya ada nomor–nomor penting, sehingga kalau ada situasi darurat seperti ini orang langsung telepon,“ tandasnya.

Sebagai informasi, Call Center pemadam kebakaran untuk wilayah Kabupaten Belu: (0389) 21113. (*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+rony banase)

Kadis PUPR Belu Selaku Inspektur Listrik NTT Siap Tuntaskan Masalah Listrik

542 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Vincent K. Laka juga selaku salah satu dari tiga Inspektur Ketenagalistrikan Indonesia untuk wilayah NTT dan memiliki SK Menteri, menyatakan siap berkoordinasi dengan pihak PLN Kabupaten Belu guna menyelesaikan masalah listrik di Desa Naitimu.

Baca juga: https://gardaindonesia.id/2020/07/16/wakil-bupati-belu-pemimpin-adalah-orang-yang-kedepankan-rasa-adil/

“Saya bisa panggil kepala PLN, periksa dan tahan mereka karena saya punya SK Menteri itu belum dicabut. Inspektur tenaga listrik di NTT ada tiga saja, satu di Kupang, dua di Belu, satunya saya,” sebut Vincent K. Laka sembari mengatakan bahwa kewenangan tentang listrik memang bukan lagi ada di kabupaten, melainkan ada di provinsi.

Menurut Undang- Undang Ketenagalistrikan No. 30 tahun 2009, PLN sebagai operator tenaga listrik harus menyiapkan tiga hal: Keandalan Sistem; Keselamatan Utama; dan Keakraban Terhadap Lingkungan. “Sebagai inspektur listrik, saya minta bapak desa dan bapak camat tolong kasih surat ke PU besok, saya koordinasikan. Kepala PLN saya panggil besok, masalah ini akan selesai,” pinta Eng Laka, sapaan karibnya ketika menjawab keluhan Alex Lau, warga Dusun Halilulik A di Aula Kantor Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu, 15 Juli 2020.

Eng Laka mengungkapkan, bahwa selama masih bicara tentang infrastruktur, pihaknya selalu berada di belakang program nomor urut tiganya Bupati dan Wakil Bupati Belu. “Berarti, Kadis PU masih terdepan dalam program itu”, tandasnya.

Selain itu, menyangkut ketersediaan air bersih di Kabupaten Belu, Eng Laka menyampaikan, bahwa pertama, pihaknya akan memanfaatkan air laut melalui program ‘Reverse Osmosis’ (penyaringan air laut). “Ini, saya sudah sampaikan kepada pak menteri waktu kami rapat di Labuan Bajo (Kabupaten Manggarai Barat). Yang kedua, pemanfaatan air Bendungan Welikis. Strategi ini, sudah melewati studi kelayakan, perencanaan dan desain. Kapasitas airnya, bisa sepuluh kali lipat dari Bendungan Rotiklot. Diyakininya, debet air tidak habis terpakai untuk seluruh Belu hingga dua puluh tahun ke depan. “Jadi, untuk listrik, air, dan rumah kita setuju. Kita harus bersabar karena semua ini butuh waktu”, harapnya.

Sedangkan, untuk perumahan di Naitimu tahun ini dibantu 25 unit. “Kalau bapak dan mama kasih tanah 4—5 hektar, hibah ke pemerintah, saya akan bangun perumahan sehat layak seperti kita sudah bangun di Belakang Kantor Camat Kakuluk Mesak dan Silawan, Kecamatan Tasifeto Timur. Kasih tanah, kamu masuk dan tinggal di rumah dengan fasilitas lengkap air dan listrik, semua ada. Soal air bersih, untuk jangka pendek kita akan operasikan oto tangki. Kalau embung itu kembali kepada studi kelayakan. Kita akan turun survei,” tuturnya. (*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+ rony banase)

Wakil Bupati Belu : Pemimpin Adalah Orang yang Kedepankan Rasa Adil

346 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | Manusia- manusia Indonesia yang menjadi pemimpin, mulai dari presiden sampai RT/ RW adalah orang- orang yang harus mengedepankan rasa adil demi kemakmuran rakyat. Demikian dikemukakan Wakil Bupati Belu, JT. Ose Luan di hadapan puluhan warga Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu, 15 Juli 2020.

Dalam acara kunjungan kerja Bupati dan Wakil Bupati Belu, yang mengusung tema ‘Penyegaran Tupoksi Perangkat Desa dan Kelembagaan Desa Dalam Mendukung Pembangunan Daerah di Era New Normal’ itu, JT Ose Luan menjelaskan, bahwa struktur kepemimpinan dari tingkat atas hingga tingkat bawah adalah orang- orang yang diberikan kepercayaan untuk menjadi pemimpin, untuk menjadi kepala dan untuk menjadi pemerintah.

Di dalam struktur pemerintahan, kata Ose Luan, terdapat Nilai- Nilai Kerohanian dan Nilai- Nilai Adat yang dipadukan untuk menjadi pedoman bagi manusia lain. Tugas dari setiap tingkatan pemimpin itu sama pentingnya. “Tidak bisa (menganggap) tugas bupati dan wakil bupati yang penting, dan kemudian anggap camat, kepala desa semua tidak penting, OPD dan dinas lain tidak penting. Itu, organisasi amburadul yang begitu,” ungkapnya.

Organisasi yang benar, lanjut Ose Luan, bahwa kepemimpinan dari tingkat atas sampai bawah adalah satu kesatuan kelembagaan yang melaksanakan tugas- tugas pelayanan dan pengabdian kepada masyarakat. “Indonesia Adil dan Makmur. Dia menekan pada keadilan bukan kemakmuran. Artinya, manusia- manusia Indonesia yang menjadi pemimpin dari atas sampai RT/ RW itu adalah orang- orang yang mengedepankan rasa adil sehingga masyarakat merasa terlayani secara merata dan kemudian mengalami kemakmuran . Adil dulu baru makmur, bukan sebaliknya,” tandas mantan Sekda Belu itu. (*)

Penulis + foto (*/HH)

Wakil Bupati Belu Sebut Desa Naitimu Sebagai ‘Good Governance’

806 Views

Belu-NTT, Garda Indonesia | “Laporan tadi sudah memenuhi good governance, pemerintahan yang baik untuk kepentingan masyarakat, tidak untuk kepentingan kepala desa”, sebut Wakil Bupati Belu JT. Ose Luan di Aula Kantor Desa Naitimu usai mendengarkan Laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa oleh Kepala Desa Norbertus Moa dalam acara kunjungan kerja Bupati dan Wakil Bupati Belu ke Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Rabu, 15 Juli 2020.

JT. Ose Luan mengatakan, dirinya merasa tertarik dengan Laporan Anggaran Pendapatan dan Belanja Desa Naitimu yang dibacakan oleh kepala desa. “Karena, model laporan tadi yang disampaikan oleh kepala desa (itu) sangat rinci, sangat transparan dan bisa diketahui oleh semua orang bahwa dana itu dimanfaatkan untuk kepentingan rakyat, untuk membiayai bidang pemerintahan, bidang pembangunan, bidang pelayanan dan kemasyarakatan”, jelasnya.

Wakil Bupati Belu menuturkan bahwa jika semua desa melakukan hal yang sama, maka Kabupaten Belu akan terus menerus mendapatkan WTP (Wajar Tanpa Pengecualian).

Laporan Keuangan Pemerintah Daerah Kabupaten Belu, urai Ose Luan, sudah dua tahun berturut- turut memperoleh WTP setelah diaudit oleh Badan Pemeriksaan Keuangan Republik Indonesia Perwakilan Nusa Tenggara Barat (NTB). “Nilai- nilai Ketuhanan harus mendominasi hati agar bisa bekerja (secara) benar. Memang, mendapatkan orang jujur dan baik di zaman ini agak lebih sulit. Tetapi kita tidak boleh pasif dan pasrah,” tegasnya.

Wakil Bupati Belu, JT. Ose Luan saat memberikan sambutan di Aula Desa Naitimu 

JT. Ose Luan juga mengungkapkan bahwa selama tiga tahun pertama masa kepemimpinan Kepala Desa Naitimu Norbertus Moa telah menorehkan prestasi luar biasa. Menurutnya, Bertus Moa sapaan akrabnya, telah berbuat hal penting bagi masyarakat, dan itu yang diharapkan di dalam pemerintahan. “Anda harus menjadi orang yang memberikan kegunaan kepada orang lain, yang memberikan manfaat kepada orang lain. Dan semua yang didudukkan mulai dari kepala desa dengan perangkat desanya, sekretaris, seluruh kaur sampai RT/RW dibentuk supaya organisasi pemerintahan ini berguna dan bermanfaat bagi orang lain,” ungkapnya.

Ose Luan menambahkan, ada tiga nilai pokok yang harus tertanam dalam diri seorang pemimpin, yakni Nilai Religius, Nilai Saling Menghormati (kneter no ktaek) dan Nilai Aturan Pemerintahan yang Baik. Jika nilai- nilai ini dijadikan pedoman dalam hidup, maka seorang pemimpin tidak akan pernah berbuat hal yang buruk bagi masyarakat.

Karena itu, pinta Ose Luan, kepala desa wajib menanamkan dalam diri nilai pengabdian dan pelayanan. Kekuasaan itu diberikan bukan untuk menguasai, melainkan untuk mengabdi dan melayani. Setiap pemimpin yang dipilih itu atas kehendak Tuhan. Tidak ada pemerintah yang tidak berasal dari Allah (Korintus bab 13). Kepala desa dipilih oleh Allah, dan karena itu harus berbuat segala sesuatu seturut kehendak Allah, jangan menampilkan kehendak manusiawi melampaui kehendak Tuhan. “Di saat jadi kepala desa, harus bangga dan tidak boleh sombong. Sombong dan angkuh itu dosa. Jadi bapak desa, kalau engkau sudah sombong, hari ini saya minta engkau tidak boleh sombong lagi. Karena orang yang sederhana dan rendah hati lebih mengutamakan pengabdian dan pelayanan,” tuturnya. (*)

Penulis + foto (*/HH)
Editor (+ rony banase)