Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Tenun Lotis Garuda dari Kab.TTS, Sapa Presiden dari Timur Indonesia

Tenun Lotis Garuda dari Kab.TTS, Sapa Presiden dari Timur Indonesia

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Jum, 6 Sep 2019
  • visibility 197
  • comment 0 komentar

Loading

Fatukopa-T.T.S, Garda Indonesia | Tenun menjadi satu kekayaan budaya Indonesia yang harus terus dijaga dan dipelihara. Dari Timur Indonesia, di Desa Fatukopa, Kecamatan Fatukopa Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Kelompok Tenun Ikat Namaut Hen Pin, menghasilkan tenunan dengan corak burung Garuda dan bertuliskan ‘Presiden Jokowi’.

“Kami masyarakat kecil yang tidak bisa menyapa Pak Jokowi secara langsung. Tapi kami punya kerinduan untuk menyapa Pak Jokowi,”ujar Yuliana Selan, Ketua kelompok tenun ikat Namaut Hen Pin.

Yuliana sapaan akrab wanita berusia 72 tahun itu mengatakan bahwa melalui kreasi tenun tersebut, mereka ingin menunjukkan bahwa usia tidak membatasi mereka untuk berkreasi.

Ketika ditemui di kediamannya pada Rabu, 4 September 2019, Yuliana mengisahkan bahwa dalam proses pembuatan kain tenun motif Garuda, dirinya hanya melihat gambar burung Garuda di buku lalu mentransformasikan langsung ke dalam tenunan tersebut.

Tenun Lotis Garuda hasil kreasi Yuliana Selan

“Kain tenun gambar burung Garuda itu menggunakan teknik lotis (cungkil),” jelas Yuliana.

Ketika ditanya terkait ketrampilan yang dimilikinya, Yuliana mengatakan bahwa dirinya tidak pernah belajar pada orang lain untuk membuat gambar maupun huruf. Lanjutnya, dirinya hanya berbekal kemampuan menenun dengan teknik cungkil tersebut.

“Tidak ada yang ajar. Saya lihat gambar dan langsung menenun,” tuturnya sambil mengunyah siri pinang yang dipercaya mampu menghilangkan bau mulut tersebut.

Perlu diketahui bahwa dalam menenun dengan teknik lotis, digunakan sebuah lidi yang ujungnya dibuat tajam dengan tujuan mampu memisahkan benang sesuai warnanya sehingga bisa menghasilkan gambar maupun huruf.

Yuliana menambahkan bahwa menenun teknik lotis tersebut, biasanya menggunakan dua lidi dalam membentuk huruf ataupun gambar lainnya. Namun dalam pembuatan gambar burung Garuda, dirinya hanya menggunakan satu lidi saja.

Selain membuat tenun bercorak burung Garuda tersebut, kelompok tenun ikat Namaut Hen Pin juga menghasilkan selendang yang bertuliskan Sila-sila Pancasila.

Sementara terkait nama kelompok tenun ikat tersebut, Yuliana menjelaskan bahwa Namaut Hen Pin adalah Bahasa Timor Dawan yang secara harafiah dapat diartikan ‘Biar Tetap Menyala’.

“Nama ini ingin menunjukkan kepada masyarakat bahwa walaupun sedikit orang saja yang masih giat dalam menenun namun itu masih tetap berjalan sebagai upaya memelihara apa yang diwariskan oleh leluhur. Dan kita ambil itu sebagai nama kelompok untuk bisa terus mendorong kita dalam menenun,” jelas Yuliana.

Yuliana juga mengisahkan bahwa sejak pertama kali dikukuhkan pada 17 Juli 2017, Kelompok Tenun Ikat Namaut Hen Pin beranggotakan 12 orang dan semuanya adalah para ibu-ibu yang masih giat menenun. “Jumlah anggota kita semakin banyak dengan bergabungnya 4 orang anggota baru yang ingin sama-sama melestarikan tenun di bumi TTS tercinta,” ungkap Yuliana.

Sejauh ini, lanjut Yuliana belum ada generasi muda yang mau bergabung. Hal itu jelasnya disebabkan oleh keinginan untuk bekerja di kota-kota besar dan menganggap tenunan sebagai gaya berbusana (fashion) yang ketinggalan zaman.

“Mereka (generasi muda, red) hanya ingin memakai pakaian yang dibeli di pasar atau yang berkelas saja”, imbuhnya.

Sikap tersebut, menurut wanita yang walaupun sudah lanjut usia namun tidak menggunakan kacamata ketika menenun ini, adalah suatu sikap yang secara perlahan menghanguskan warisan leluhur.

Tenun Lotis Sila Pancasila kreasi Yuliana Selan

Hal lain yang disampaikan Yuliana bahwa kelompok tenun ikatnya juga sudah mendapatkan bantuan dari pemerintah berupa benang dari pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten.
“Sebagai bentuk tanggung jawab kita membawa hasil tenunan kita dan dipamerkan pada acara pemeran pembangunan tingkat kabupaten beberapa waktu lalu,” jelasnya.

Dirinya menyebutkan bahwa untuk menyelesaikan satu tenunan dengan tulisan huruf, biasanya membutuhkan waktu 2—3 minggu. Hal tersebut lantaran waktu untuk menenun tidak tetap karena berbagai kesibukan yang harus diselesaikan terutama dalam urusan makan minum dalam rumah tangga.

“Kalau selendang corak burung Garuda itu, butuh satu bulan baru bisa habis,”ucap Yuliana.

Harga yang dipatok untuk setiap hasil tenunan itu berkisar antara Rp.500 ribu sampai Rp.1 juta. Harga tersebut lanjutnya dipatok tinggi karena proses pembuatan huruf maupun gambar secara manual dan tidak dibordir.

Sebagai informasi bahwa teknik tenun lotis merupakan salah satu dari 3 (tiga) teknik tenun yang dimiliki masyarakat TTS. Teknik lainnya adalah teknik tenun ikat dan juga teknik buna. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Adipura Bertransformasi, Gagal Kelola Sampah Dapat Predikat Kota Kotor

    Adipura Bertransformasi, Gagal Kelola Sampah Dapat Predikat Kota Kotor

    • calendar_month Kam, 3 Jul 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Loading

    Program Adipura telah dilaksanakan setiap tahun sejak 1986, kemudian terhenti pada tahun 1998. Dalam lima tahun pertama, program Adipura difokuskan untuk mendorong kota-kota di Indonesia menjadi “Kota Bersih dan Teduh”.   Jakarta | Adipura adalah sebuah penghargaan bagi kota di Indonesia yang berhasil dalam kebersihan serta pengelolaan lingkungan perkotaan. Adipura diselenggarakan oleh Kementerian Lingkungan Hidup […]

  • Penyandang Disabilitas di Kota Padang Dilatih Evakuasi Saat Bencana

    Penyandang Disabilitas di Kota Padang Dilatih Evakuasi Saat Bencana

    • calendar_month Rab, 2 Okt 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Loading

    Padang, Garda Indonesia | Persatuan Tuna Netra Indonesia (Pertuni), Organisai Penyandang Disabilitas (OPEDIS), Perhimpunan Penyandang Disabilitas Indonesia (PPDI), Gerakan Tuna Runggu Indonesia, (GERGATIN) Himpunan Wanita Disabiltas Indonesia) yang berada di Kota Padang memperoleh pelatihan dari BPBD Kota Padang. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Padang menggelar Pelatihan Peningkatan Kapasitas Pengurangan Resiko Bencana Berbasis Masyarakat secara […]

  • Kapolda Sumut Apresiasi Tenaga Medis Perempuan Tangani Pasien Covid-19

    Kapolda Sumut Apresiasi Tenaga Medis Perempuan Tangani Pasien Covid-19

    • calendar_month Sel, 21 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Loading

    Medan, Garda Indonesia | Apresiasi diberikan oleh Kapolda Sumut, Irjen. Pol. Drs. Martuani Sormin, M.Si. kepada seluruh Petugas Medis yang menangani Covid-19 di Daerah Sumatera Utara. Rasa bangga dan apresiasi disampaikannya saat Live Zoom In dengan Petugas Medis Penanganan Covid-19 Daerah Sumatera Utara bertempat di Lobi Adhi Pradana Lantai I Mapolda Sumut, pada Senin, 20 […]

  • Pesan di Balik Tarian Hodi Deket, Tarian Sambut Pj Gubernur NTT

    Pesan di Balik Tarian Hodi Deket, Tarian Sambut Pj Gubernur NTT

    • calendar_month Sen, 11 Sep 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Karolus Kopong Medan Tarian Hodi Deket ditampilkan Sanggar Sole Oha di bawah pimpinan Daniel Lebu Raya pada penjemputan Penjabat Gubernur Provinsi NTT, Ayodhia Gehak Lakunamang Kalake pada Jumat, 8 September 2023 di aula El Tari Kupang. Lantas, apa makna dari Tarian Hodi Deket? Video : Tarian Hodi Deket, tarian penyambutan Penjabat Gubernur NTT […]

  • Wartawan Sergap.id Jadi Tersangka, Penyidik Polres Malaka Dinilai Tak Profesional

    Wartawan Sergap.id Jadi Tersangka, Penyidik Polres Malaka Dinilai Tak Profesional

    • calendar_month Rab, 3 Jun 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Ketua Tim Advokat Wartawan Sergap.id, Melkianus Conterius Seran, S.H. menilai penyidik Polres Malaka tidak profesional saat menetapkan Wartawan Serga.id yang bertugas di Kabupaten Malaka, Oktovianus Seldi Ulu Berek sebagai tersangka. Hal itu diungkapkannya usai mengikuti sidang perdana praperadilan atas gugatan Seldi Berek terhadap Penyidik Polres Malaka di Pengadilan Negeri Atambua pada […]

  • “Kapal Selam KRI Nanggala 402 Hilang” Presiden Perintahkan Pencarian

    “Kapal Selam KRI Nanggala 402 Hilang” Presiden Perintahkan Pencarian

    • calendar_month Jum, 23 Apr 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 145
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo telah memerintahkan Panglima TNI, Kepala Staf TNI Angkatan Laut, Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan (Basarnas), dan sejumlah instansi terkait lainnya untuk mengerahkan segala kekuatan dalam rangka melakukan pencarian Kapal Selam KRI Nanggala 402. Keselamatan terhadap 53 awak kapal yang ada di dalamnya menjadi prioritas utama. “Saya telah memerintahkan […]

expand_less