Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pendidikan » Tiga Tahun Program Kemitraan Wilayah di Poktan Kaifo Ingu, Ini Capaiannya

Tiga Tahun Program Kemitraan Wilayah di Poktan Kaifo Ingu, Ini Capaiannya

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sel, 27 Okt 2020
  • visibility 117
  • comment 0 komentar

Loading

Kupang-NTT, Garda Indonesia | Program Kemitraan Wilayah (PKW) di Kelompok Kaifo Ingu dimulai pada tahun 2018 dan akan berakhir di Desember 2020, dengan sumber dana dari DIKTI dan PEMDA Kabupaten Kupang masing-masing sebesar Rp.300 juta dan Rp.600 juta.

Baca juga : http://gardaindonesia.id/2019/03/04/program-kemitraan-wilayah-wujudkan-agroeduwisata-di-kab-kupang/

Program Kemitraan Wilayah (PKW) dengan tema Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang merupakan wisata agro untuk pendidikan bagi siswa mulai dari PAUD, SD, SMP, SMA sampai PT. Di samping untuk masyarakat umum, konsep yang dibangun adalah “Pertanian Terpadu atau Mix Farming” yang dipadukan dengan konsep Zero Waste. Dapat dikatakan Agroeduwisata sebagai lokasi pendidikan bagi siswa dan mahasiswa dan dapat pula melakukan penelitian, pengabdian kepada masyarakat (PKM) dalam bidang Agroforestry bagi para dosen dan mahasiswa dan tempat mehasiswa melakukan praktik kerja lapang (PKL).

Ketua Pelaksana Prof. Dr. Ir. Erna Hartati, MS didampingi Dr. Ir. Markus M. Kleden, para dosen Undana dan Politani, dan Pemda Kabupaten Kupang bersama petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Kaifo Ingu yang diketuai oleh Kristofel Ulu; mulai membuka lahan baru seluas seluas 5 hektar pada tahun 2018, sebelumnya dipenuhi tanaman kabesak hutan.

Foto bersama Prof. Dr. Ir. Erna Hartati, MS, dengan tim dosen Undana dan Politani, dan Pemda Kabupaten Kupang bersama petani yang tergabung dalam kelompok tani (Poktan) Kaifo Ingu

Upaya tersebut dilakukan untuk memperluas lahan yang sudah diusahakan seluas 3 Ha untuk tanaman pangan berupa padi, jagung dan sayuran. Pembukaan lahan baru seluas 5 Ha diperuntukkan bagi budidaya tanaman buah-buahan yang cocok di lahan kering, budidaya hijauan pakan ternak (HPT) menggunakan Sistem Tiga Strata (STS). Selain itu juga dikembangkan Sapi Bali dan Kambing peranakan Etawah (PE) dan Kambing BOER dan hasil persilangan kambing PE dengsn BOER.

Prof. Erna Hartati menyampaikan, kegiatan diawali dengan pelatihan berkaitan dengan inovasi teknologi yang akan diimplementasikan selama tiga tahun. “Respons dari kelompok > 80 % sangat antusias menerima inovasi teknologi yang akan mereka adopsi,” ungkapnya.

Baca juga : http://gardaindonesia.id/2019/11/11/ilmuwan-hitpi-apresiasi-tata-kelola-lahan-kering-oleh-kelompok-tani-kaifo-ingu/

Sementara, pada tahun kedua (2019), imbuh Prof. Erna, kegiatan yang dilakukan antara lain : pertama, dilakukan penanaman padi menggunakan teknologi IPAT-BO yaitu teknologi hemat air, pupuk dan bibit. “Teknologi ini cocok diimplementasikan di Lahan Kering Iklim Tropis Semi Kering seperti di NTT yang dapat ditanaman 2x per tahun yaitu pada musim hujan dan musim kemarau masing-masing dengan produksi 7,8 ton/ha. dan 9,0 ton/ha. Berarti rata-rata kenaikan > 100% dibandingkan penanaman secara konvensional dengan produksi 4 ton/ha. Peningkatan produksi padi secara langsung berpengaruh terhadap kecukupan pangan dan peningkatan ekonomi keluarga kelompok tani/ternak. Setiap penerapan teknologi dalam bidang pertanian akan diikuti pula dengan peningkatan produksi limbah yang sudah didayagunakan secara optimal untuk diolah menjadi sumber pakan menggunakan teknologi amoniasi,” ulasnya.

Untuk tanaman palawija, imbuh Prof. Erna, yaitu tanaman jagung 2x tanam, dipanen sebagai jagung pipil dengan produksi 8 ton/ha/tahun dan terjadi kenaikan produksi 5 ton atau 125 % Disisi lain, juga mengalami peningkatan yang diikuti dengan peningkatan limbah. Limbah jagung yang selanjutnya diolah dengan teknologi silase sebagai sumber pakan bagi ternak kambing dan sapi.

Teknologi Silase

Dalam program kemitraan wilayah (PKW) di Poktan Kaifo Ingu, lanjut Prof. Erna, selain padi dan palawija juga ditanam sayuran yang ditanam sebagai tanaman sela antara tanaman buah. “Dari tahun ke tahun, keragaman jenis tanaman sayuran juga bertambah seperti tanaman cabe rawit, bawang merah, pitcai, sawi, kol, sayur bangkok, kacang panjang, labu lilin, dan terung yang sebelumnya hanya ditanam singkong dan pepaya. Peningkatan keragaman ini membawa dampak terhadap peningkatan ethos kerja dan skill petani karena usia panen yang berbeda dari berbagai jenis tanaman sayur yang ada. Selain dikonsumsi, sebagian besar dijual sehingga berdampak terhadap peningkatan ekonomi keluarga,” bebernya.

Peningkatan ini, terangnya, membawa dampak terhadap peningkatan keragaman konsumsi sayuran. Selain peningkatan keragaman, juga terjadi peningkatan produksi tanaman sayur yang berdampak pada peningkatan ekonomi masyarakat anggota kelompok tani/ternak Kaifo Ingu. “Sistem penjualan produksi tanaman sayur melalui pedagang pengumpul yang langsung datang ke lokasi usaha. Hal ini berdampak pada alokasi penggunaan waktu anggota untuk kegiatan usahatani lainnya,” urai Prof. Erna.

Terkait perawatan tanaman buah-buahan yang sudah dicanangkan penanaman perdana pada Oktober 2018 meliputi irigasi menggunakan sistem tetes, sementara untuk pemupukan diberikan pupuk bokasi yang dibuat langsung oleh kelompok Kaifo Ingu dan untuk mengurangi penguapan dilakukan pemberian mulsa organik dari jerami padi dan rumput kering.

irigasi menggunakan sistem tetes

Budidaya sapi dan kambing PE dan Boer dan hasil persilangannya yang akan beranak akhir Desember 2020 atau awal Januari 2021. “Untuk persiapan pakan di musim kemarau, kelompok sudah menerapkan teknologi amoniasi dari limbah jerami padi dan teknologi silase dari limbah jagung yang dipanen muda seperti yang dilakukan panen jagung pada Jumat, 23 Oktober 2020,” jelas Prof. Erna.

Untuk menciptakan konsep Zero Waste atau tidak ada limbah di lokasi pertanian tersebut, tandasnya, kelompok juga telah terampil melakukan pembuatan pupuk bokasi dan hasilnya kembali ke tanah sebagai pupuk organik bagi tanaman padi, jagung dan sayur mayor dan tanaman buah-buahan.

Budidaya Kambing PE dan Boer

Untuk tahun 2020, urai Prof. Erna, kegiatan yang dilakukan antara lain:

Pertama, melanjutkan kegiatan tahun kedua yaitu selain penanaman padi dengan teknologi IPAT-BO, tanaman jagung, sayur mayur dilakukan perawatan (manajemen pemberian pakan, manajemen penyakit pada ternak dan perawatan tanaman buah-buahan meliputi irigasi dengan sistem tetes, pemupukan dengan pupuk bokasi yang dibuat oleh kelompok dan pemberian mulsa organik menggunakan jerami padi atau rumput kering untuk mengurangi penguapan;

Kedua, di tahun ke-3 sudah mulai terbentuk hasil yang dicapai sesuai dengan tujuan yaitu “Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang” dengan konsep Pertanian Terpadu (Mix Farming) dipadukan dengan konsep Zero Waste;

Ketiga, melanjutkan perawatan sapi baik terhadap induk, pejantan dan anak, kambing PE dan Boer dan ternak kecil dsalam hal ini ternak bebek/entog melalui manajemen pemeliharaan ternak (kebersihan kandang,pemberian pakan dan kesehatan ternak).

Budidaya ternak sapi dikelola oleh Kelompok Tani Kaifo Ingu

Selain menerima bantuan dari PKW, ungkap Prof. Erna, kelompok Kaifo Ingu juga sudah menerima bantuan dari pihak Bank Indonesia (BI) pada awal Oktober 2020 berupa alat untuk mendeteksi temperatur, curah hujan, kesuburan tanah, pH tanah untuk lahan di sekitar Desa Air Bauk. Dengan alat tersebut kelompok tani/ternak dengan mudah memantau dan menindak lanjuti masalah temuan yang terdeteksi sehingga masalah yang dihadapi dapat segera diatasi.

Dampak ekonomi setelah pelaksanaan PKW selama 3 tahun yaitu kontribusi terhadap peningkatan ekonomi RT kelompok baru disumbangkan dari pertanian tanaman pangan (padi, jagung dan sayur mayur). Pada tahun-tahun selanjutnya kontribusi peningkatan ekonomi RT kelompok Kaifo Ingu dalam jangka pendek diperoleh dari produksi telur atau daging bebek dilakukan pengolahan sebelum dijual dan penjualan ternak sapi maupun kambing.

Dampak sosial sudah terjadi perubahan skill dan pola pikir petani dan etos kerja mulai meningkat. Di samping itu, kelompok lain di sekitar lokasi mulai mengadopsi teknologi IPAT-BO untuk tanaman padi, sehingga di sekitar lokasi sudah ditanam padi 2x setahun.

Sementara, Masalah utama yang masih dihadapi, terang Prof. Erna, sumber air sangat kurang untuk mengelola lahan secara maksimal dan ke depan, diharapkan pengadaan sumur bor permanen untuk mewujudkan “Membangun Model Agroeduwisata di Kabupaten Kupang” dengan konsep pertanian terpadu dipadukan dengan konsep Zero waste .

“Sumur bor dimaksud yakni model permanen yang dilengkapi instalasi dengan sumber energi menggunakan solar cell. Di samping itu, masih dibutuhkan pendampingan untuk dua tahun ke depan untuk selanjutnya pada tahun 2025, dan kini, Agroeduwisata atau Wisata Pendidikan Agro” sudah bisa mulai dikunjungi oleh para wisatawan,” pungkas Prof. Erna seraya mengucapkan terima kasih kepada Kemendikbud dan DIKTI, Universitas Nusa Cendana, Politani Negeri Kupang, dan Pemda Kupang. (*)

Sumber berita dan foto (*/tim PKW Undana)
Editor (+rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ketua Araksi NTT Cemar Nama Baik Gubernur VBL? Ini Penjelasannya

    Ketua Araksi NTT Cemar Nama Baik Gubernur VBL? Ini Penjelasannya

    • calendar_month Jum, 6 Agu 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kepala Biro Hukum Setda Provinsi NTT Alexon Lumba, S.H., M.Hum memberikan keterangan pers kepada media pada Kamis, 5 Agustus 2021 atas laporan ke Polda NTT terkait dugaan tindak pidana pencemaran nama baik yang dilakukan oleh Ketua Aliansi Rakyat Anti Korupsi NTT Alfred Baun kepada Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL). “Di […]

  • IMO Dukung Kapolri Berantas Judi Online Hingga Penyalahgunaan BBM & LPG

    IMO Dukung Kapolri Berantas Judi Online Hingga Penyalahgunaan BBM & LPG

    • calendar_month Sen, 22 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Ketua Umum Ikatan Media Online Indonesia Yakub F. Ismail mendukung langkah Kepala Kepolisian Republik Indonesia Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo dalam pemberantasan praktik-praktik ilegal yang diduga melibatkan sejumlah oknum kepolisian. “Prinsipnya kita dukung apa pun langkah Pak Kapolri, Pak Sigit selama itu demi kebaikan Indonesia di masa kini dan akan datang,” […]

  • LP3K Nasional Luncurkan Logo dan Mars Pesparani II

    LP3K Nasional Luncurkan Logo dan Mars Pesparani II

    • calendar_month Sab, 28 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sebulan lebih berproses dan mengumpulkan begitu banyak karya, maka sesuai jadwal pada Sabtu, 28 Maret 2020 pukul 17.00 WITA, Lembaga Pembinaan dan Pengembangan Pesparani Katolik Nasional (LP3KN) mengumumkan kepada publik dua orang pemenang sayembara Logo dan Mars Pesparani II Tahun 2020. Acara pengumuman sekaligus peluncuran Logo dan Mars Pesparani II Nasional […]

  • Usai Tinjau PLTP Kamojang, DPRD NTT Yakin Geotermal Memajukan Daerah

    Usai Tinjau PLTP Kamojang, DPRD NTT Yakin Geotermal Memajukan Daerah

    • calendar_month Jum, 29 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Loading

    Anggota Komisi IV DPRD NTT, Ana Waha Kolin, menilai agenda ini menjadi ruang pembelajaran penting bagi para legislator untuk melihat langsung bagaimana panas bumi dikelola.   Kamojang | Komisi IV DPRD Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) melakukan kunjungan kerja ke pembangkit listrik tenaga panas bumi (PLTP) Kamojang, Jawa Barat, pada Kamis, 21 Agustus 2025. PLTP […]

  • Ironi Ketertinggalan Pulau Timor

    Ironi Ketertinggalan Pulau Timor

    • calendar_month Ming, 31 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Muhammad Amir Ma’ruf Presiden Joko Widodo baru-baru ini menerbitkan Perpres Nomor 63 Tahun 2020 tentang Penetapan Daerah Tertinggal Tahun 2020—2024, di mana terdapat 62 kabupaten dari 10 provinsi termasuk kategori tersebut. Nahas, 13 kabupaten di Provinsi NTT merupakan daerah tertinggal. Daerah tersebut tersebar di berbagai gugus pulau. Jika dijabarkan, seluruh kabupaten di Pulau Sumba […]

  • Gotong Royong Bantu Kebutuhan Spesifik Perempuan dan Anak Korban Gempa

    Gotong Royong Bantu Kebutuhan Spesifik Perempuan dan Anak Korban Gempa

    • calendar_month Sab, 30 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Loading

    Majene, Garda Indonesia | Saat meninjau para korban gempa Kabupaten Majene, Provinsi Sulawesi Barat, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) RI, Bintang Puspayoga memastikan kebutuhan perempuan dan anak pasca bencana terpenuhi di lokasi pengungsian. Ia menyatakan kelompok perempuan dan anak yang masuk dalam kelompok rentan berpotensi mengalami kerentanan ganda apabila pemenuhan kebutuhan spesifiknya terabaikan. […]

expand_less