Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Ferdinand Marcos Bagi Jokowi Dibanding PDI Perjuangan

Ferdinand Marcos Bagi Jokowi Dibanding PDI Perjuangan

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Jum, 12 Jan 2024
  • visibility 144
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Jhon Sitorus

Jagat maya dan nyata Indonesia cukup heboh tanpa kehadiran Jokowi di ulang tahun PDI Perjuangan, partai yang melahirkan dan membesarkan namanya dari tidak dikenal siapa-siapa hingga jadi RI 1.

Bayangkan, di hari yang sama kala PDI Perjuangan menyanyikan Mars PDIP yang syahdu dan bikin merinding itu, Jokowi malah tertawa dengan anak presiden “terkorup” dalam sejarah dunia, Ferdinand Marcos. Dia 11 12 dengan Soeharto, yang juga mendapat predikat “terkorup” setelah Marcos.

Dalihnya sih menjalin hubungan diplomatik antara kedua negara dan pertemuan ini sudah dijadwalkan jauh-jauh hari.

Well, pertemuan dengan Marcos Bongbong benar sudah dijadwalkan jauh-jauh hari, tapi jadwal dan tanggal ultah PDIP tentu sudah ada jauh sebelum Jokowi jadi Presiden dan kunjungan ke Filipina dijadwalkan.

Ini sekaligus menjadi pertama kalinya Jokowi tidak menghadiri ulang tahun PDI Perjuangan semasa  karier politiknya, pas di masa terakhir menjelang pensiun sebagai Presiden, setelah PDI Perjuangan memberi segalanya untuk Jokowi.

Saya tidak ingin terlalu dalam membahas itu, karena yang namanya kepentingan pasti bisa membelokkan hati nurani bahkan dengan cara yang “sadis”.

Memilih bertemu Marcos Bongbong di hari ulang tahun PDI Perjuangan tentu bukan sekadar pertemuan diplomatik. Ada hal yang diperjuangkan demi kesinambungan kekuasaan dan anak kandung yang sedang nyapres sebagaimana Marcos Bongbong melanjutkan kampanye membohongi publik bahwa era Ferdinand Marcos “begitu jaya.” Ya, mirip-mirip Golkar yang menghidupkan mayat Soeharto belakangan ini “piyer kabare? Penak jamanku toh?”

Yang perlu kita ketahui adalah, Pilpres Filipina 2022 memiliki kemiripan dengan Pilpres Indonesia 2024. Marcos Bongbong, anak diktator Filipina yang berkuasa selama 21 tahun dengan segala tindak korupsi besar-besaran, pelanggaran HAM dan krisis ekonomi yang melanda Filipina maju sebagai Capres. Uniknya, Cawapresnya adalah putri presiden petahana Rodrigo Duterte, Sara Duterte.

Kondisi yang sama di Indonesia, Prabowo menantu presiden korup dan diktator “Soeharto” mengambil anak petahana Jokowi, Gibran Rakabuming Raka sebagai Cawapresnya. Baik Sara maupun Gibran adalah sama-sama wali kota sebelum jadi cawapres.

Tak hanya memiliki kesamaan latar belakang. Metode kampanye juga sama. Marcos Bongbong sukses menang di Filipina berkat Influencer dan Buzzer media sosial yang dibayar untuk membodohi publik dari masa lalu ayah Bongbong yang kelam dan penuh dengan darah. Mereka dituntut untuk memainkan emosi anak muda demi meraih simpati lewat joget-joget, kampanye lucu-lucuan dan nangis-nangis.

Pun begitu dengan Prabowo Gibran. Mereka mengoptimalkan kampanye media sosial dengan tagline gemoy, joget-joget dan menangisi kekalahan dipanggung debat.

Mereka paham, anak muda lebih tertarik dengan joget-joget “alay” daripada bicara program dan visi misi. Makanya, program yang ditawarkan juga mirip, makan gratis dan susu gratis, tidak lebih dari itu.

Marcos Bombong juga menggunakan aparat dengan kekuatan penuh untuk menggiring opini, mengintimidasi warga hingga manipulasi lembaga survei untuk mempengaruhi opini publik.

Cara ini persis sedang terjadi di Indonesia. Dari latar belakang hingga metode kampanye, semua mirip. Maka, kedatangan Jokowi ke Filipina bisa saja negosiasi berkedok diplomasi bilateral demi memastikan nasib sang pangeran dan menantu diktator.

Apalagi Jokowi sedang pusing, maklum Prabowo tak perform dipanggung debat, selalu dikangkangi oleh Ganjar & Anies.

Walau belakangan ini, rakyat Filipina muak dengan Marcos Bongbong. Influencer banyak yang minta maaf karena telah “membohongi” publik. Anak2 muda mulai sadar bahwa Presiden mereka anak seorang “diktator kejam”.

Ya, namanya penyesalan, selalu datang terlambat. Tinggal kita saja, mau tidak mengambil pelajaran dari contoh yang gamblang ini? Mau membawa kita terjerumus seperti Filipina? Mau kembali ke era Orde Baru?

BTW, Soeharto dan Ferdinand Marcos itu teman baik loh hehehe.(*)

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • “Kasus Besipae” Niko Manao Pertanyakan Peran Enam Anggota DPRD NTT

    “Kasus Besipae” Niko Manao Pertanyakan Peran Enam Anggota DPRD NTT

    • calendar_month Rab, 2 Nov 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Loading

    Besipae, Garda Indonesia | Nikodemus Manao mewakili warga Besipae menyampaikan keluhan dan mempertanyakan 6 (enam) orang perwakilan anggota DPRD Provinsi NTT dari daerah pemilihan Timor Tengah Selatan (TTS). “Dari enam orang anggota DPRD yang mewakili TTS ke provinsi yaitu, Emelia Nomleni, Ince Sayuna, Reni Un, Obed Naitboho, Eduart Lione, Yohanis Lakapu, mereka duduk di sana […]

  • Pontianak Diguncang Cinta Segi Enam

    Pontianak Diguncang Cinta Segi Enam

    • calendar_month Ming, 1 Feb 2026
    • account_circle Rosadi Jamani
    • visibility 596
    • 0Komentar

    Loading

    Pontianak yang biasanya santai, adem, dan sibuk debat cuaca mendadak naik level jadi panggung drama nasional. Bukan karena banjir, bukan karena politik, tapi karena cinta yang tak lagi segitiga. Seorang istri sah, sah dari segala sisi, lahir batin, administrasi dan grup arisan, muncul ke publik membawa kabar yang bikin kopi pahit terasa makin pahit. Suaminya, […]

  • Langkah George Hadjoh Menuju Wali Kota Kupang

    Langkah George Hadjoh Menuju Wali Kota Kupang

    • calendar_month Jum, 12 Apr 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Roni Banase “George Hadjoh mau mendengar orang,” sebut seorang warga. “Dia itu ko Penjabat Wali Kota Kupang,” kata seorang Oma saat mendengar suara George Hadjoh meski tak melihat wajah. “George Hadjoh bertangan dingin, ia mengubah wajah GOR Flobamora Oepoi dan membawa anak-anak Kempo meraih prestasi dunia,” ungkap seorang atlet. “Eh, dia (George Hadjoh) […]

  • Sehari Bersama Anak-anak Pemulung TPA Alak dengan Program PUSPA NTT

    Sehari Bersama Anak-anak Pemulung TPA Alak dengan Program PUSPA NTT

    • calendar_month Sab, 3 Nov 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Anak Pemulung yang berasal dari Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Sampah Alak-Kota Kupang, menikmati bahagia sehari laiknya anak-anak pada umumnya, mereka diberi kesempatan menikmati akhir pekan untuk bermain, belajar, dan menikmati gaya hidup kekinian sembari meninggalkan rutinitas memulung mereka, Sabtu/ 3 November 2018. Melalui Forkomwil PUSPA (Partisipasi Publik Untuk Kesejahteraan Perempuan dan Anak) […]

  • Pemprov Serahkan Kredit Mikro Merdeka Bank NTT ke Warga

    Pemprov Serahkan Kredit Mikro Merdeka Bank NTT ke Warga

    • calendar_month Kam, 18 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 172
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat, bersama Wakil Gubernur NTT, Josef Nae Soi, menyerahkan  kredit Mikro Merdeka kepada warga. Penyerahan tersebut berlangsung di alun-alun rumah jabatan Gubernur NTT, pada Rabu 17 Agustus 2022 saat upacara peringatan Hari Ulang Tahun Ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia Tingkat Provinsi NTT. Skim Kredit Mikro Merdeka memang sengaja dihadirkan oleh […]

  • Pengacara HRS Munarman Ditangkap Densus 88 Antiteror

    Pengacara HRS Munarman Ditangkap Densus 88 Antiteror

    • calendar_month Sel, 27 Apr 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Densus 88 Antiteror menangkap pengacara HRS, Munarman, diduga terlibat baiat teroris di 3 (tiga) kota. Kadiv Humas Polri Irjen Pol Argo Yuwono menjelaskan Munarman diduga menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana terorisme. Selain itu, Munarman juga diduga menyembunyikan informasi perihal terorisme. “Munarman diduga menggerakkan orang lain untuk melakukan tindak pidana […]

expand_less