Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Menteri Keuangan Purbaya Kasih Opsi MBG Diganti 10Kg Beras

Menteri Keuangan Purbaya Kasih Opsi MBG Diganti 10Kg Beras

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sen, 22 Sep 2025
  • visibility 162
  • comment 0 komentar

Loading

Negara ini sedang demam proyek makan bergizi gratis alias MBG. Anggaran disiapkan bak mahar perkawinan mewah, Rp71 triliun. Tapi apa daya, sampai jelang tutup buku, baru Rp13 triliun yang berhasil ditelan birokrasi. Sisanya? Menggantung di udara, bagai nasi basi di meja resepsi.

Maka, muncullah Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa, sang juru selamat anggaran, dengan ide suci. Kalau MBG tak jalan, ganti saja dengan beras 10 kg per rumah tangga. Lebih sederhana, lebih pasti, dan tentu saja lebih gampang difoto untuk baliho.

Mengapa opsi ini muncul? Lihatlah catatan kelam MBG. Dari Sukoharjo, Cianjur, Bogor, Bombana, Kubu Raya, hingga Garut yang mencatat 569 siswa keracunan hanya karena menu nasi, ayam woku, tempe orek, dan stroberi. E. coli dan Salmonella pun unjuk gigi, seolah diundang khusus jadi bintang tamu. MBG yang seharusnya menambah gizi justru melatih ketahanan tubuh anak-anak menghadapi perang biologis. Di Kalbar, siswa muntah berjemaah setelah lauk berbau aneh, di Bogor puskesmas penuh sesak, di Garut stroberi jadi senjata kimia.

Jika ini bukan tragedi kuliner nasional, lalu apa?

Lebih gila lagi, demi kejar target serapan, pemerintah komandoi, “Bangun dapur massal secepatnya!” Maka berdirilah ribuan dapur MBG terburu-buru. Bukan dengan konsep gizi, melainkan konsep “yang penting keluar nasi kotak.” Filosofinya berubah, dari gizi seimbang ke “asal kenyang, asal cepat, asal anggaran terserap.” Negara jadi seperti chef amatiran yang panik menghadapi tamu datang tiba-tiba, ayam setengah matang, sayur basi, sambal beraroma tikungan.

Di sisi lain, netizen menggugat. “Hentikan MBG! Sudah cukup anak-anak jadi kelinci percobaan. Kasih saja uang langsung ke orang tua siswa.” Argumen mereka sederhana sekaligus menusuk, emak-emak jauh lebih paham gizi ketimbang tender dapur kilat. Emak bisa masak sayur asem segar, tempe goreng kriuk, atau bahkan sekadar telor dadar yang pasti lebih aman ketimbang ayam lendir hasil dapur panik. Uang yang dibagi langsung juga bisa memutar ekonomi pasar tradisional, dari tukang sayur keliling sampai pedagang ikan di pinggir kali.

Tapi pemerintah ragu. Mereka takut uang itu malah dipakai beli rokok, kuota, atau cicilan belanja online. Ironisnya, justru negara sendiri yang terbukti mengubah uang rakyat jadi ayam amis. Antara khawatir rakyat salah pakai uang dan kenyataan negara salah kelola anggaran, bedanya hanya pada siapa yang muntah duluan.

Kini, pilihan ada di meja nasi bangsa ini, tetap bertahan dengan proyek MBG yang tiap bulan menghasilkan berita keracunan, atau menyerah elegan dengan sekarung beras 10 kg. Dalam filsafat makan, memberi beras memang tak seindah memberi lauk lengkap, tapi setidaknya tidak bikin anak-anak tergeletak di koridor sekolah. Lebih baik perut kenyang dengan nasi biasa, daripada kenyang dengan berita duka.

Akhirnya, drama MBG ini membuktikan satu hal, negara bisa menggelontorkan triliunan rupiah, tapi tak sanggup menjaga satu hal paling sederhana di dunia, sepiring nasi sehat.

Sebuah pesan dari seorang ibu. “Sebagai seorang ibu, hati saya remuk melihat anak pulang dari sekolah dengan wajah pucat, perut mual, dan tubuh gemetar hanya karena sepiring makanan yang katanya bergizi. Saya tidak butuh penjelasan panjang tentang anggaran triliunan, saya hanya ingin anak saya aman saat makan di sekolah. Rasanya seperti dikhianati, karena yang seharusnya menyehatkan justru meracuni, yang seharusnya melindungi malah melukai. Bagaimana saya bisa percaya lagi kalau setiap kali anak saya menyuap nasi dari program itu, saya dihantui ketakutan apakah besok ia masih bisa tersenyum?”

Pesannya lagi, “Negara mungkin menganggap keracunan itu angka statistik, tapi bagi saya, itu adalah trauma nyata. Saya ingin penguasa mengerti, makanan bukan proyek, tapi nyawa. Jangan jadikan anak-anak sebagai korban percobaan demi laporan serapan anggaran. Jika memang tidak mampu memastikan mutu makanan, hentikan. Biarlah kami orang tua yang menyiapkan dengan cinta, meski sederhana. Karena cinta seorang ibu selalu lebih bergizi dari pada tender terburu-buru yang berakhir di puskesmas.” (*)

Penulis (*/Rosadi Jamani, Ketua Satupena Kalbar)

 

 

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Himprosma Unimor Gelar Lomba Cepat Tepat Matematika

    Himprosma Unimor Gelar Lomba Cepat Tepat Matematika

    • calendar_month Sel, 7 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Kefa-TTU, Garda Indonesia | Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Matematika (Himprosma) pada Universitas Negeri Timor (Unimor) Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), menggelar kegiatan Lomba Cepat Tepat Matematika (LCTM). Kegiatan yang bertujuan untuk meningkatkan minat dan bakat para pelajar tingkat SLTP dan MTS Se-Daratan Timor di bidang Ilmu Pendidikan Matematika tersebut, dilaksanakan di Aula Serba Guna […]

  • BPOM Keluarkan Edaran Cara Membuat ‘Hand Sanitizer’

    BPOM Keluarkan Edaran Cara Membuat ‘Hand Sanitizer’

    • calendar_month Sel, 31 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 108
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) telah mengeluarkan edaran cara membuat hand sanitizer yang sesuai dengan anjuran Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Baca juga: http://gardaindonesia.id/2020/03/30/pakar-gugus-tugas-covid-19-penggunaan-hand-sanitizer-jangan-berlebihan/ Hand Sanitizer dalam hal ini merupakan antiseptik dalam bentuk cair yang berfungsi menghambat atau memperlambat pertumbuhan mikroorganisme pada jaringan tubuh hidup. Salah satunya adalah kulit. Antiseptik dapat […]

  • Tahun 2022, PLN Catat Kenaikan Penjualan Listrik 6,17 Persen

    Tahun 2022, PLN Catat Kenaikan Penjualan Listrik 6,17 Persen

    • calendar_month Rab, 8 Feb 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | PT PLN (Persero) berhasil mencatat penjualan terbaik pada tahun 2022 sebesar 270,82 terawatt hour (TWh) dengan total 85,28 juta pelanggan. Perolehan ini meningkat sebesar 15,75 TWh atau 6,17 persen dibanding tahun sebelumnya yang hanya sebesar 255,07 TWh. Bahkan, capaian terbaik ini dibungkus oleh PLN di kala pandemi masih melanda. Direktur Utama […]

  • Siapa Bermain Api di Omnibus Law?

    Siapa Bermain Api di Omnibus Law?

    • calendar_month Jum, 9 Okt 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Rudi S Kamri Siapa bermain api di Omnibus Law? Sekarang lagi tren, hari ini, kemarin dan esok, semua sibuk membakar Omnibus Law. Omnibus, anda tahu? Itu adalah bus yang pertama kali diperkenalkan di Paris tahun 1820; itu bus yang bisa mengangkut begitu banyak orang, makanya disebut dengan Bus Omni atau Omni Bus. Kemudian, sejarahnya […]

  • Menparekraf : Penambahan Cuti Bersama  Berdampak Positif Terhadap Pariwisata

    Menparekraf : Penambahan Cuti Bersama Berdampak Positif Terhadap Pariwisata

    • calendar_month Sen, 9 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyambut baik surat keputusan bersama 3 (tiga) menteri terkait penambahan hari libur dan cuti bersama tahun 2020, yang akan memberi dampak positif pada kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif tanah air. Wishnutama Kusubandio usai menyaksikan penandatanganan surat keputusan bersama Menteri […]

  • Manggarai Raya ‘Tepo’ SIAGA

    Manggarai Raya ‘Tepo’ SIAGA

    • calendar_month Kam, 26 Sep 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Loading

    Ruteng | Pada Rabu malam, 25 September 2024, kampung Wangkung di Desa Pong Murung, Kabupaten Manggarai, menjadi saksi peluncuran istilah baru yang menggerakkan semangat masyarakat dalam kontestasi politik Nusa Tenggara Timur (NTT). Pada acara tatap muka antara pasangan calon gubernur dan wakil gubernur NTT, Simon Petrus Kamlasi dan Adrianus Garu, ratusan warga bersorak menggemakan istilah […]

expand_less