Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Sejuta Pohon Setahun, 4.634 Izin Tambang Seumur Hidup

Sejuta Pohon Setahun, 4.634 Izin Tambang Seumur Hidup

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Jum, 28 Nov 2025
  • visibility 452
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Rosadi Jamani

Anda kalau tengok video di Sibolga itu, ngeri. Ribuan batang kayu gelondongan menerjang apa saja di sungai. Sungai penuh dengan kayu. Kenapa ini terjadi?

Negeri ini sudah seperti panggung sulap murahan. Di depan kamera, pejabat berdiri tegap sambil menunduk menanam bibit pohon. “Mari kita hijaukan negeri ini!” katanya. Tepuk tangan terdengar, drone terbang di atas kepala, anak sekolah disuruh melambai tangan ke kamera.

Gerakan Satu Juta Pohon Setahun jadi slogan nasional. Tapi di sisi lain, di balik tembok kantor kementerian, tangan pejabat yang sama menandatangani Izin Usaha Pertambangan (IUP) yang totalnya sudah mencapai 4.634 izin tambang aktif, menguasai 9,1 juta hektar lahan negeri ini. Ini bukan angka kecil. Dua kali luas Pulau Jawa.

Mereka bilang mereka mencintai hutan. Sementara angka deforestasi netto tahun 2023—2024 sudah tembus 175 ribu hektar, dan tahun ini diperkirakan mencapai 600 ribu hektar. Apa kita ini sedang menanam hutan, atau sedang menanam kebohongan? Satu juta bibit pohon setahun, tapi enam ratus ribu hektar hutan primer lenyap dalam periode yang sama. Bibit ditanam dalam pot keramik impor untuk konten Instagram. Sementara di hulu sungai, akar hutan yang sudah menopang tanah ratusan tahun dicabut sampai habis demi nikel dan emas.

Hasil dari pembantaian hutan ini bukan sekadar tanah botak. Banjir bandang datang sebagai tamu tak diundang. Longsor ikut menyapa. Korban manusia jatuh. Di Sumatra saja, data terakhir yang kita pegang, 50 orang meninggal akibat banjir dan longsor. Lima puluh nyawa, lae. Bukan statistik. Itu manusia, dengan nama, dengan keluarga, dengan masa depan.

Sibolga jadi saksi. Gelondongan kayu segede badan gajah meluncur dari gunung, menghantam rumah seperti bola bowling menghancurkan pin. Orang-orang berlari sambil membawa bayi, ada yang berenang sambil mengangkat kulkas di atas kepala. Sementara pejabat kita, yang merasa sudah “berjasa”, berdiri di lokasi bencana sambil mengenakan rompi oranye, dan mengucapkan kalimat standar, “Ini bencana alam.”

Bencana alam, bangsat! Ini bencana tanda tangan! Ini bencana pena pejabat! Bukan Satupena, ya!

Pena itu, lae, yang sekilas terlihat lembut, ringan, elegan, lebih berbahaya dari bulldozer dan chainsaw. Karena dengan goresan pena itu saja, perusahaan dapat mandat resmi untuk menghabisi hutan. Mereka menggunduli tanah, menggali perut bumi, mengubah lanskap seperti memotong kue.

PNBP dari sektor tambang tahun 2024 mencapai Rp268 triliun. Angka besar. Tapi apa rakyat dapat bagian dari itu? Apakah rumah orang Sibolga jadi lebih kuat? Apakah drainase ditingkatkan? Apakah tanggul dibangun? Tidak, uda uni. Yang dibangun malah IKN di tanah bekas hutan, yang suatu hari mungkin juga akan tenggelam oleh ulah yang sama.

Paradoksnya begitu jelas. Satu tangan menanam pohon, satu tangan menebas hutan. Satu mulut bicara hijau dan ekologi, mulut lainnya berbisik royalti dan investasi.

Kalau memang pemerintah serius menyelamatkan hutan, mereka tak perlu menanam sejuta pohon, cukup hentikan penebangan satu pohon raksasa yang usianya ratusan tahun. Karena menanam pohon itu tindakan simbolik. Menjaga hutan yang sudah ada, itulah tindakan penyelamatan. Kalau kita masih berpura-pura, gerakan hijau ini nyata, sementara IUP terus mengalir seperti amplop THR, maka kita sedang ikut menertawakan korban-korban yang mati di lumpur.

Lae, kita ini bukan anti pembangunan. Kita hanya anti pada kebijakan yang membunuh rakyat sendiri. Hutan adalah tameng terakhir kita dari amukan air. Merusak hutan bukan bahaya, itu bunuh diri kolektif. Alam akan menagih hutang itu pada kita semua, tanpa pilih siapa pejabat, siapa rakyat kecil.

Alfatehah untuk semua korban. Karma buat yang teken IUP. Maaf kalau kali ini saya agak kasar akibat terbawa emosi.(*)

 

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Banjir & Longsor Terjang Cipatujah-Tasikmalaya, 2 Orang Meninggal

    Banjir & Longsor Terjang Cipatujah-Tasikmalaya, 2 Orang Meninggal

    • calendar_month Sel, 6 Nov 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Loading

    Tasikmalaya, gardaindonesia.id | Selasa, 6 November 2018 Pkl. 01.00 WIB; Hujan dengan intensitas tinggi mengakibatkan meluapnya aliran sungai Cipatujah, Kecamatan Cipatujah Kabupaten Tasikmalaya Provinsi Jawa Barat. Ruas jalan Cipatujah menuju, Ciheras, Pameungpeuk atau Garut Selatan, lumpuh total. Lumpuhnya arus jalan tersebut menyusul putusnya jembatan Pasanggrahan. Menurut laporan masyarakat jembatan putus akibat arus air yang deras […]

  • Presiden Jokowi Lantik Andika Perkasa sebagai KSAD

    Presiden Jokowi Lantik Andika Perkasa sebagai KSAD

    • calendar_month Kam, 22 Nov 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id |Presiden Joko Widodo pada Kamis, 22 November 2018, melantik Letnan Jenderal TNI Andika Perkasa sebagai Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD). Andika yang dilantik di Istana Negara kini resmi menggantikan Jenderal TNI Mulyono yang akan memasuki masa pensiun. Pengangkatan Andika Perkasa berdasarkan pada Keputusan Presiden Nomor 97/TNI/TAHUN 2018 yang ditetapkan Presiden hari ini, […]

  • Advokasi Sekolah Inklusif, Reza Rahadian Temui Bupati Sumba Barat

    Advokasi Sekolah Inklusif, Reza Rahadian Temui Bupati Sumba Barat

    • calendar_month Ming, 29 Mei 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Loading

    Waikabubak, Garda Indonesia | Aktor sekaligus Duta Persahabatan YAPPIKA-ActionAid, Reza Rahadian berkunjung ke SDN Palamoko dan SDN Rajaka di Kabupaten Sumba Barat, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di kedua sekolah tersebut, Reza berbincang dengan murid-murid, guru dan anggota komunitas sekolah terkait kondisi dan situasi di sekolah. SDN Palamoko dan SDN Rajaka adalah 2 di antara […]

  • Menilik Pentingnya Daging Ayam “Asuh” di Era Pandemi Covid-19

    Menilik Pentingnya Daging Ayam “Asuh” di Era Pandemi Covid-19

    • calendar_month Ming, 4 Okt 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Alya Azzahra, Mahasiswi Program Studi DIV Statistika Peminatan Sosial Kependudukan Politeknik Statistika STIS Daging Ayam Sebagai Bahan Makanan Penting Nasional Sebagai makhluk hidup, manusia tidak bisa lepas dari makanan yang merupakan kebutuhan dasar. Asupan pangan yang dikonsumsi akan menentukan status gizi kuantitas makanan yang dikonsumsi (BPS,2017). Terkait konsumsi per kapita, terdapat 5 (lima) […]

  • Digitalisasi dan Beyond kWh Kunci PLN Melesat ke Fortune Global 500

    Digitalisasi dan Beyond kWh Kunci PLN Melesat ke Fortune Global 500

    • calendar_month Sel, 5 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Loading

    Selain transformasi digital, PLN juga terus memperkuat strategi beyond kWh sebagai bagian dari transformasi bisnis untuk menghadirkan nilai tambah bagi pelanggan sekaligus menjawab kebutuhan energi yang semakin kompleks dan dinamis.   Jakarta | PT PLN (Persero) berhasil mencetak sejarah dengan masuk dalam daftar Fortune Global 500 tahun 2025 sebagai salah satu perusahaan dengan pendapatan terbesar […]

  • Anatomi Kegelisahan (The Cycle of Crisis)

    Anatomi Kegelisahan (The Cycle of Crisis)

    • calendar_month Ming, 15 Feb 2026
    • account_circle Penulis
    • visibility 291
    • 0Komentar

    Loading

    Secara akademis, perkembangan psikososial manusia dapat dipetakan melalui siklus krisis yang berkelanjutan. Dimulai dari teenage crisis (pencarian jati diri), berlanjut ke quarter-life crisis (keraguan masa depan), hingga mid-life crisis (penyesalan masa lalu). Fenomena ini bukanlah sebuah kerusakan mental, melainkan mekanisme alami manusia dalam memproses makna hidup. Kegelisahan muncul dari diskrepansi antara keinginan (ekspektasi) dan kenyataan […]

expand_less