Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Potret Generasi Sandwich di NTT : Banyak Ketergantungan, Sedikit Menopang

Potret Generasi Sandwich di NTT : Banyak Ketergantungan, Sedikit Menopang

  • account_circle Angel Zushelma Hartono
  • calendar_month Sab, 29 Nov 2025
  • visibility 470
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Angel Zushelma Hartono, BPS Provinsi NTT

Masih ingat film 1 Kakak 7 Ponakan? Film ini berkisah tentang Moko–seorang arsitek muda yang baru menamatkan kuliah. Moko mengalami peristiwa tak terduga yang mengubah hidupnya secara drastis.

Kehidupan Moko berbalik arah usai kakak serta kakak iparnya meninggal dalam waktu berdekatan yang membuatnya secara tidak langsung mengambil peran sebagai orang tua tunggal bagi seluruh keponakannya.

Kondisi itu, memaksanya menunda bahkan melepaskan impian melanjutkan pendidikan, demi fokus merawat dan membesarkan mereka. Di tengah tanggung jawab besar itu, Moko tetap harus mencari pekerjaan tambahan untuk memenuhi kebutuhan seluruh anggota keluarga yang kini bergantung padanya.

Dari film ini, Moko digambarkan sebagai generasi sandwich: seseorang yang terjepit di antara tuntutan keluarga.

Apa itu Generasi Sandwich?

Istilah generasi sandwich pertama kali diperkenalkan pada tahun 1981 oleh Dorothy A. Miller, seorang profesor dari Universitas Kentucky, dalam jurnalnya yang berjudul The Sandwich Generation: Adult Children of The Aging. Sebuah istilah yang terdengar ringan, tetapi menyimpan tantangan yang harus dihadapi oleh generasi yang menanggung beban ganda.

Generasi sandwich digambarkan sebagai sekelompok orang dalam rentang usia produktif yang harus menanggung generasi yang nonproduktif.

Badan Pusat Statistik (BPS) mendefinisikan penduduk usia produktif sebagai mereka yang berusia 15–64 tahun. Sedangkan, mereka yang berada di luar rentang usia tersebut termasuk dalam kategori nonproduktif.

Melihat Rasio Ketergantungan di NTT

Besarnya beban yang dipikul oleh generasi sandwich dapat tercermin melalui rasio ketergantungan atau Dependency Ratio (DR). DR memberikan gambaran seberapa besar populasi nonproduktif yang ‘ditanggung’ oleh mereka yang masih produktif. Semakin tinggi angkanya, semakin berat beban yang harus dipikul oleh mereka.

Proyeksi penduduk hasil SP2020 mencatat jumlah penduduk di Provinsi NTT pada pertengahan tahun, Juni 2024 sebanyak 5,65 juta orang. Sekitar 3,65 juta orang termasuk usia produktif, sementara 2 juta lainnya termasuk dalam kelompok nonproduktif.

Dengan kata lain, rasio ketergantungan berada di angka 55 yang berarti setiap 100 orang produktif tidak hanya menanggung dirinya sendiri, tetapi harus menanggung 55 penduduk nonproduktif.

Sederhananya, 1–2 pahlawan usia produktif harus menopang 1 orang nonproduktif di sekitarnya.

Walaupun rasio ketergantungan terus menurun dari tahun ke tahun, hal ini masih belum meringankan beban para generasi sandwich. Jumlah lansia dan anak-anak yang meningkat setiap tahun, tentu akan menambah kebutuhan yang harus dipenuhi oleh mereka.

Jika dilihat dari jenis kelamin, rasio ketergantungan laki-laki sebesar 55,60 persen, sedikit lebih tinggi dibandingkan dengan perempuan. Artinya, setiap 100 laki-laki usia produktif menanggung lebih banyak penduduk nonproduktif dibandingkan setiap 100 perempuan usia produktif.

Perbedaan ini secara tidak langsung menggambarkan dinamika sosial ekonomi yang hidup di masyarakat. Dalam banyak keluarga, laki-laki masih dipandang sebagai pencari nafkah utama yang membuat mereka menanggung beban ekonomi lebih besar.

Struktur rumah tangga yang menempatkan laki-laki sebagai penopang bagi lebih banyak anggota keluarga–anak-anak, pasangan, orang tua hingga kerabat lain.

Pola ini secara alami memperlebar rasio ketergantungan tersebut.

Di sisi lain, meskipun perempuan usia produktif memiliki rasio ketergantungan yang lebih rendah, bukan berarti beban mereka lebih ringan. Banyak perempuan harus memikul beban ganda: bekerja untuk membantu pendapatan keluarga dan menjalankan tugas sebagai ibu rumah tangga.

Beban ganda ini membuat tekanan yang mereka hadapi tidak kalah besar dibandingkan laki-laki, meskipun tercermin dalam angka yang berbeda.

Di balik Rasio Ketergantungan

Ada kenyataan pahit di balik angka rasio ketergantungan. Angka ini belum menceritakan kondisi yang sebenarnya. Ia hanya membandingkan jumlah penduduk nonproduktif dengan penduduk usia produktif, tanpa mempertimbangkan apakah kelompok produktif tersebut benar-benar bekerja atau memiliki penghasilan tetap.

BPS mencatat hanya sekitar 3 juta orang penduduk usia 15 tahun ke atas yang bekerja di NTT. Artinya, ada lebih dari 600 ribu orang usia produktif yang tidak bekerja. Ironisnya, angka tersebut masih mencakup penduduk berusia 65 tahun ke atas, yang seharusnya menikmati masa istirahat, tapi terpaksa menjadi tulang punggung ekonomi keluarga.

Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) NTT mencapai 77,50 persen yang berarti dari setiap 100 penduduk usia kerja, hanya 77–78 orang yang masuk ke pasar kerja–baik bekerja maupun sedang mencari pekerjaan.

Angka ini menggambarkan tidak semua usia produktif mampu atau siap terlibat dalam aktivitas ekonomi. Ada yang mengurus rumah tangga, sekolah atau bahkan sudah tidak mampu bekerja karena keterbatasan fisik.

Di saat yang sama, Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) berada pada angka 3,02 persen. Sekilas angka ini terlihat rendah dan memberi kesan bahwa hampir semua penduduk yang masuk dalam angkatan kerja telah bekerja. Namun, bekerja dalam konteks ini tidak selalu berarti memiliki pekerjaan yang stabil. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2024 mencatat bahwa sekitar 72,83 persen penduduk bekerja pada sektor informal.

Artinya, sebagian besar pekerja di NTT berada pada jenis pekerjaan yang tidak memiliki perlindungan kerja, pendapatan yang tidak menentu, serta risiko kehilangan pekerjaan yang lebih tinggi.

Hal ini menunjukkan bahwa beban generasi sandwich tidak berhenti pada hitungan rasio ketergantungan. Realitas di lapangan masih jauh lebih berat. Mereka harus menanggung beban berlapis: kebutuhan orang tua dan anak-anak sekaligus menopang sesama usia produktif yang belum atau sudah tidak bekerja sehingga belum sepenuhnya mandiri secara finansial. Sebuah beban berlapis yang tidak dapat dijelaskan oleh sekadar angka dalam tabel atau grafik.

Budaya, apakah meringankan?

Aspek sosial budaya juga turut mengambil bagian dalam kehidupan generasi sandwich. NTT terkenal dengan hubungan kekeluargaan yang sangat erat. Saling membantu dan menanggung, dua hal indah yang menjadi bagian tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari. Namun, siapa sangka hal tersebut bisa menjadi pedang bermata dua. Di satu sisi bisa membangun rasa solidaritas yang tinggi, tapi di sini lain bisa menjadi beban tak kasat mata.

Misalkan dalam sebuah pernikahan, biasanya akan didahului dengan tradisi wajib ‘kumpul keluarga’ yang tidak hanya diikuti oleh sanak saudara tetapi juga kerabat dekat. Tujuannya bukan hanya mengumpulkan dukungan moril tetapi juga dukungan finansial demi kelancaran acara tersebut.

Tidak berhenti sampai di situ, keterlibatan dalam pembayaran belis (maskawin) pun sering kali tidak dapat dihindari. Mau menolak terasa tidak enak, sementara kalau memberi membuat bingung karena kondisi finansial sedang menipis. Akhirnya, mereka terjebak dalam dilema: menjaga tali persaudaraan atau menjaga dompet tetap sehat.

Inilah yang dimaksud dengan beban tak kasat mata yang tidak pernah tercatat dalam data apa pun.

Akibatnya, generasi sandwich dituntut harus memiliki finansial yang kuat dan stabil, meski harus melepaskan keinginan pribadi. Rencana menabung untuk rumah, membeli motor, melanjutkan pendidikan, atau sekadar self reward, semuanya terpaksa ditunda demi mencukupi kebutuhan lain. Impian pribadi terkubur dalam-dalam, diselimuti kalimat pasrah “asalkan mereka senang, aku juga senang”.

Apa yang harus dilakukan?

Salah satu cara yang dapat dilakukan oleh generasi sandwich adalah mulai berani menata ulang prioritas keuangan. Mulai dengan menabung sedikit demi sedikit, mencari peluang penghasilan tambahan atau mulai membagi peran dalam keluarga. Terpenting, mereka harus berani berkata “tidak” ketika tuntutan tidak diimbangi dengan kemampuan, karena tidak semua harus dikorbankan demi menyenangkan banyak orang.

Generasi sandwich adalah bukti kasih sayang yang melampaui keterbatasan. Mereka adalah tulang punggung yang diam-diam menopang banyak kehidupan.

Mereka layak mendapat dukungan, bukan sekadar simpati. Mereka bukan sekadar generasi yang “kenyang tanggung jawab, lapar finansial”, melainkan generasi tangguh yang layak diperjuangkan bersama.(*)

 

 

 

  • Penulis: Angel Zushelma Hartono

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubernur Viktor Tantang Mahasiswa Sekolah Perdamaian Tulis Indonesia Masa Depan

    Gubernur Viktor Tantang Mahasiswa Sekolah Perdamaian Tulis Indonesia Masa Depan

    • calendar_month Jum, 19 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur 1 NTT, menegaskan perdamaian hanya bisa terwujud kalau setiap orang mampu memerangi diri sendiri; mengatasi egoisme dan menerima perbedaan. “Saya tertarik dengan ungkapan Latin, Ci Vis Pacem Para Bellum artinya kalau mau damai, siaplah untuk berperang. Dalam konteks membangun perdamain berarti mampu memerangi diri, ” jelas Gubernur Viktor saat […]

  • OTT Bupati Meranti, Komitmen Ketua KPK Berantas Korupsi

    OTT Bupati Meranti, Komitmen Ketua KPK Berantas Korupsi

    • calendar_month Sab, 8 Apr 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Firli Bahuri menegaskan pihaknya bekerja profesional sesuai ketentuan hukum dan peraturan perundang-undangan. Berkat profesionalisme itu, kata Firli, KPK berhasil melancarkan operasi tangkap tangan (OTT) Bupati Kepulauan Meranti Muhammad Adil, Kamis malam, 6 April 2023. “Alhamdulillah, satu kepala daerah, bupati Meranti berhasil ditangkap tangan. Saya selalu menyampaikan […]

  • Pengungsi dari 5 Daerah di Sulteng Mencapai 222.959 Orang

    Pengungsi dari 5 Daerah di Sulteng Mencapai 222.959 Orang

    • calendar_month Ming, 21 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Loading

    Palu, gardaindonesia.id | Penanganan gempa-tsunami di wilayah Palu, Sigi dan Donggala, dipercepat dengan menurunkan berbagai alat berat dan alutsista TNI AD. Tim Komando Tugas Gabungan Terpadu (Kogasgabpad) juga telah menangani dampak bencana kepada para pengungsi dan pembersihan puing-puing. Data pengungsi di Palu hingga 20 Oktober 2018 sebanyak 96.801, Sigi 84.888, Donggala 12.572, Donggala Timur 28.120 […]

  • Polri : Kerumunan Jokowi di NTT Tak Masuk Pelanggaran Hukum

    Polri : Kerumunan Jokowi di NTT Tak Masuk Pelanggaran Hukum

    • calendar_month Ming, 28 Feb 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Mabes Polri membantah menolak laporan Pimpinan Pusat Gerakan Pemuda Islam (PP GPI) soal kerumunan presiden saat kunjungan ke NTT. Bareskrim Polri memiliki alasan tersendiri tidak menerbitkan laporan polisi atas kerumunan Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Nusa Tenggara Timur (NTT). ”Sebenarnya bukan menolak laporan. Bareskrim Polri menyimpulkan tidak ada pelanggaran pidana dalam […]

  • Hari ke-9 Tragedi Sriwijaya Air, Tim SAR Kumpulkan 308 Potongan Tubuh

    Hari ke-9 Tragedi Sriwijaya Air, Tim SAR Kumpulkan 308 Potongan Tubuh

    • calendar_month Ming, 17 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Tim Search And Rescue (SAR), Badan SAR Nasional terus bekerja keras melakukan pencarian korban Sriwijaya Air SJ-182 dan berhasil mengumpulkan 308 potongan tubuh (body remains) penumpang. Dimulai pada pelaksanaan operasi SAR hari ke-9 jatuhnya pesawat Sriwijaya Air SJ-182. Total temuan obyek pencarian sebanyak 308 human body remains, 58 serpihan kecil pesawat, […]

  • Lima Bupati/Wabup Terpilih di NTT Dilantik Tatap Muka, Sabu Raijua Ditunda

    Lima Bupati/Wabup Terpilih di NTT Dilantik Tatap Muka, Sabu Raijua Ditunda

    • calendar_month Rab, 24 Feb 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat mewakili Mendagri bakal melantik 5 (lima) pasangan Bupati dan Wakil Bupati Terpilih hasil pemilihan kepala daerah (pilkada) serentak  pada 9 Desember 2020. Semula, sesuai rencana dilakukan pelantikan secara online atau virtual, namun sesuai arahan dari Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri), maka dilakukan pelantikan tatap muka atau offline. […]

expand_less