CIRMA Intensifkan Serial Belajar Iklim Petani Timor Barat
- account_circle Roni Banase
- calendar_month Sen, 15 Des 2025
- visibility 256
- comment 0 komentar

![]()
Direktur CIRMA, John Mangu Ladjar membeberkan bahwa para petani marginal di Timor Barat telah bekerja keras menjaga lahan, benih, dan tradisi bertani, namun sering kali tanpa perlindungan yang memadai dari perubahan iklim.
Timor Barat | Sejak Desember 2024, CIRMA memperluas skala jangkauan program lintas kabupaten dalam kemitraan global bersama CJRF (Climate Justice Resilience Fund) – Amerika Serikat, melalui Program Empowering West Timor: Advancing Climate Justice and Community Resilience for Rural Smallholder Farmers, berdurasi tiga tahun. Skema program ini fokus penerima – fokus lokasi, yakni 6.000 petani kecil di 30 desa di 14 kecamatan di 6 kabupaten/kota di daratan Timor.
Direktur CIRMA, John Mangu Ladjar membeberkan bahwa para petani marginal di Timor Barat telah bekerja keras menjaga lahan, benih, dan tradisi bertani, namun sering kali tanpa perlindungan yang memadai dari perubahan iklim, tanpa akses yang adil terhadap layanan, informasi, maupun pasar.
Demikian dipaparkan John Ladjar pada sesi refleksi perjalanan CIRMA koleksi aksi tahun 2025 pada Rabu—Kamis, 3—4 Desember 2025 di Neo El Tari Hotel Kupang.
Pada sesi tersebut, tim evaluasi memotret temuan kontekstual dari petugas CIRMA di lapangan atau district focal point (DFC) ditemukan bahwa para petani Timor Barat antusias dalam menekuni sekolah lapang iklim dengan model yang lebih adaptif dan berjenjang yang dapat mengikuti ritme petani sesuai musim dan menghidupkan proses sosial dan kearifan lokal yang diwariskan secara turun-temurun.
Disebut John Ladjar, program yang dilakukan pada Juni—Desember 2025, CIRMA ingin memotret dampak pemajuan petani di Timor Barat. Petani kecil menghadapi tekanan ekologis dan sosial-ekonomi yang berat. Curah hujan yang pendek, degradasi tanah, minimnya akses air pertanian, serta variabilitas musim menyebabkan produktivitas lahan sangat rendah. Pertanian yang seharusnya menjadi tulang punggung ekonomi keluarga kerap berubah menjadi sumber ketidakpastian. Situasi ini bukan hanya tantangan teknis, tetapi bagian dari lingkaran kerentanan struktural yang terus berulang dari tahun ke tahun.
Di tengah kompleksitas tersebut, CIRMA hadir dengan pendekatan pemberdayaan berbasis komunitas yang menyentuh aspek teknis, kelembagaan, dan struktural. CIRMA memulai dari keberpihakan terhadap kelompok paling terdampak—perempuan petani, keluarga miskin, dan kelompok marginal lainnya. Pendekatan yang dikembangkan bukan sekadar proyek jangka pendek, tetapi model transformasi sosial-agraris yang terintegrasi dan kontekstual dengan realitas lahan kering.
Kondisi ini juga selaras dengan NTT memiliki iklim kering tropis, berbeda dengan banyak wilayah Indonesia lain, berupa musim hujan pendek (± 3–4 bulan), musim kemarau panjang (± 8–9 bulan), angin kencang cukup sering, suhu relatif panas, ketersediaan air terbatas.
Dan menilik kondisi ini, CIRMA pun menggagas dan menggencarkan serial belajar iklim bagi Petani Timor Barat. Model pembelajaran disesuaikan dengan kondisi geografis dan kearifan lokal. Pada tahapan ini, petani dilatih memanfaatkan matahari, menjaga dan menyimpan air dan tanah, serta menjaga dan memperkuat pengetahuan lokal sebagai kunci keberlanjutan.(*)
- Penulis: Roni Banase











Saat ini belum ada komentar