Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Transformasi Digital Pendidikan, Siapa Yang Amat Siap?

Transformasi Digital Pendidikan, Siapa Yang Amat Siap?

  • account_circle Athaya Shabihah
  • calendar_month Sab, 20 Des 2025
  • visibility 404
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Athaya Shabihah, Statistisi Ahli Pertama BPS Provinsi NTT

Pendidikan yang berkualitas tentu dimulai dari tenaga kependidikan yang berkualitas. Tenaga kependidikan tidak hanya mencakup guru sebagai pengajar, tetapi juga semua pekerja di sektor pendidikan termasuk tenaga manajerial, tenaga administrasi, tenaga teknis, dan banyak lagi. Ketika kualitas tenaga kependidikan terjaga, maka output sistem pendidikan pun akan meningkat. Pada akhirnya, hal ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang lebih terpelajar dan mampu membawa Indonesia, khususnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ke arah yang lebih baik.

Pada beberapa tahun terakhir, sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami perubahan signifikan. Berbagai kegiatan yang sebelumnya dilakukan secara konvensional kini beralih ke bentuk digital dengan memanfaatkan teknologi. Hal ini tampak pada berbagai program pemerintah yang mendorong digitalisasi seperti adanya penyediaan akun belajar.id, dukungan sarana penunjang seperti laptop, alokasi dana khusus untuk pengadaan infrastruktur teknologi sekolah, kerja sama dengan operator telekomunikasi guna pemberian kuota internet, dan banyak lagi. Hal ini menunjukkan tekad kuat pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan di melalui transformasi digital.

Namun, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah apakah tenaga kependidikan sudah cukup siap menghadapi perubahan tersebut?

Secara tidak langsung, mereka dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Namun pada kenyataannya, masih terdapat sebagian tenaga kependidikan yang belum atau bahkan tidak mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Keterbatasan sarana serta rendahnya kualitas sumber daya manusia menjadi faktor utama yang menghambat proses adaptasi ini.

Jika ditinjau lebih jauh, pada tahun 2024 sebagian besar tenaga kependidikan di NTT memang telah memiliki tingkat pendidikan di atas SMA, yakni sebesar 84,24 persen. Meski demikian, masih terdapat 15,76 persen yang berpendidikan di bawah SMA. Persentase ini tergolong kecil, tetapi dampaknya cukup signifikan terhadap penggunaan komputer dan internet dalam pekerjaan. Tenaga kependidikan dengan tingkat pendidikan rendah cenderung lebih sulit mengadopsi teknologi, sehingga keberhasilan proyek digitalisasi pendidikan akan sulit tercapai tanpa perhatian serius pemerintah terhadap peningkatan kualitas pendidikan tenaga kependidikan itu sendiri.

Di samping dituntut untuk beradaptasi dengan era digital, permasalahan upah yang minim masih menjadi isu yang berulang kali dialami tenaga kependidikan. Berdasarkan data BPS, median pendapatan tenaga kependidikan di NTT tahun 2024 adalah sebesar Rp.2.000.000 per bulan. Artinya, separuh (50 persen) tenaga kependidikan di NTT memiliki pendapatan di bawah Rp.2.000.000 per bulan sementara separuh lainnya di atas Rp.2.000.000 per bulan. Median ini tidak dipengaruhi oleh pendapatan yang sangat tinggi maupun sangat rendah, sehingga lebih mencerminkan kondisi umum pekerja.

Pendapatan tersebut masih lebih rendah dari pada nilai Upah Minimum Provinsi (UMP) NTT tahun 2024 yang ditetapkan sebesar Rp.2.186.826 per bulan. Padahal, UMP dihitung berdasarkan kebutuhan hidup layak rata-rata, inflasi, dan kondisi ekonomi daerah. Banyaknya pekerja yang berpendapatan di bawah UMP menunjukkan bahwa kesejahteraan tenaga kependidikan yang relatif rendah dibanding dengan standar kebutuhan hidup layak. Akibatnya, mereka mungkin harus mengurangi pengeluaran atau mencari pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Rendahnya tingkat kesejahteraan tersebut lambat laun akan berdampak pada motivasi, kualitas hidup, dan produktivitas tenaga kependidikan. Di tengah beban kerja, tuntutan administrasi, serta kewajiban untuk beradaptasi dengan sistem digital, upah yang diterima terasa tidak sebanding. Hal ini tercermin dari masih besarnya persentase tenaga kependidikan yang belum menggunakan teknologi dalam pekerjaannya, yaitu 25,06 persen belum menggunakan komputer dan 13,47 persen belum menggunakan internet. Angka ini patut menjadi perhatian serius apabila pemerintah benar-benar ingin mengimplementasikan digitalisasi pendidikan secara menyeluruh.

Selain persoalan upah yang relatif rendah, tenaga kependidikan juga masih minim dalam memperoleh penghargaan dari pemerintah, baik secara material maupun nonmaterial. Kurangnya penghargaan ini berpotensi memperparah penurunan motivasi dan rasa memiliki terhadap sistem pendidikan itu sendiri. Jika pemerintah ingin memastikan keberhasilan digitalisasi pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka perhatian tidak cukup hanya pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga perlu diwujudkan melalui pengakuan, apresiasi, dan kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan serta peran strategis tenaga kependidikan.

Pada akhirnya, tuntutan digitalisasi pendidikan harus dibarengi dengan kesiapan fasilitas, kualitas sumber daya manusia, serta regulasi yang mendukung kesejahteraan pekerja pendidikan. Pendidikan yang berkualitas memang menjadi tanggung jawab bersama. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap individu juga harus terlebih dahulu berjuang memenuhi kebutuhan hidup dasarnya. Negara yang maju, cerdas, dan berdaya guna hanya dapat terwujud apabila masyarakatnya, termasuk tenaga kependidikan, hidup dalam kondisi yang sejahtera.(*)

 

 

  • Penulis: Athaya Shabihah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dewan Pers Kecam Pelaku Kekerasan dan Penghalang Kerja Wartawan

    Dewan Pers Kecam Pelaku Kekerasan dan Penghalang Kerja Wartawan

    • calendar_month Rab, 2 Okt 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 151
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Dewan Pers mengecam tindakan kekerasan dan intimidasi terhadap wartawan yang meliput unjuk rasa oleh aparat keamanan selama kegiatan unjuk rasa terhadap penolakan pengesahan RKUHP, pada Selasa, 24 September 2019 di beberapa kota. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2019/10/01/wartawan-sinar-pagi-dianiaya-aparat-stop-tindak-kekerasan/ Dewan Pers juga prihatin dan menyesalkan pemberitaan yang menimbulkan keresahan dalam masyarakat serta berpotensi meningkatkan […]

  • Timnas Indonesia Berpeluang Raih Tiket Olimpiade Paris 2024

    Timnas Indonesia Berpeluang Raih Tiket Olimpiade Paris 2024

    • calendar_month Sel, 30 Apr 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 208
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Usai menggapai kemenangan gemilang dengan skor 4-1 atas tim kuat Yordania pada Minggu, 21 April 2024. Timnas Indonesia siap menghadapi ujian berikutnya dalam perjalanannya di arena sepak bola Piala AFC U-23. Kemenangan melawan Yordania telah menandai kebangkitan Timnas Indonesia yang semakin menunjukkan potensi dan kemampuannya dalam pertandingan yang kompetitif. Para pemain telah menunjukkan semangat […]

  • Turis Milenial Jadi Target Pariwisata Indonesia 2019

    Turis Milenial Jadi Target Pariwisata Indonesia 2019

    • calendar_month Ming, 3 Feb 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Pariwisata Indonesia pada tahun-tahun mendatang akan difokuskan pada wisatawan yang dinamis dan berbasis pada ‘experience tourism’. Turis milineal menjadi pasar menjanjikan untuk pariwisata Indonesia, mengingat jumlahnya mencapai lebih dari 300 juta orang secara global hingga 2030 (berdasarkan proyeksi World Tourism Organization). Data tersebut disampaikan oleh Dirut PT Garuda Indonesia, I Gusti Ngurah […]

  • Indikator Kesehatan Masyarakat Tentukan Penilaian Risiko Penularan Covid-19

    Indikator Kesehatan Masyarakat Tentukan Penilaian Risiko Penularan Covid-19

    • calendar_month Sel, 26 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 168
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 menggunakan indikator kesehatan masyarakat untuk membantu pemerintah daerah dalam penilaian tingkat risiko penularan di wilayahnya. Ketiga indikator kesehatan masyarakat tersebut yakni epidemiologi, surveilans kesehatan masyarakat dan pelayanan kesehatan. Indikator epidemiologi merujuk pada kecenderungan kasus positif, meninggal dunia, orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pengawasan (PDP). […]

  • ‘Pre Launching Paradiso Regency’ pada HUT Ke-74 RI, Ayo! Kesempatan Terbatas

    ‘Pre Launching Paradiso Regency’ pada HUT Ke-74 RI, Ayo! Kesempatan Terbatas

    • calendar_month Jum, 16 Agu 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 206
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sejahtera Regency selaku developer (pengembang perumahan/hunian) dibawah pimpinan Bobby Lianto, melakukan Pre Launching Hunian dengan brand ‘Paradiso Regency’ yang berlokasi di pesisir Pantai Paradiso Kelurahan Oesapa, Kota Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur. Dihadapan wartawan (Kamis, 15 Agustus 2019 pukul 15:30 WITA) saat sesi konferensi pers yang dihelat pada REI Expo di […]

  • Mobil Karantina Pertanian Kupang Terjungkal di Atambua

    Mobil Karantina Pertanian Kupang Terjungkal di Atambua

    • calendar_month Rab, 10 Jun 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 164
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Mobil Izusu Panther milik Badan Karantina Pertanian Kupang bernomor polisi B 1292 UQN jungkir balik di Bilangan Kilometer 4, depan Kantor Lurah Fatukbot, Kecamatan Atambua Selatan, Kabupaten Belu, pada Rabu 10 Juni 2020 petang. Menurut informasi yang berhasil dihimpun Garda Indonesia di lokasi kejadian menyebutkan, mobil itu bergerak dari arah Motamasin […]

expand_less