Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Koordinat Cinta yang Hilang, Jatuhnya Pesawat ATR 42-500

Koordinat Cinta yang Hilang, Jatuhnya Pesawat ATR 42-500

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Sen, 19 Jan 2026
  • visibility 548
  • comment 0 komentar

Loading

Pagi itu, langit tidak sekadar biru. Ia terlalu sopan, terlalu rapi, seolah sedang menghadiri pesta pernikahan yang batal tanpa pernah diberi tahu. Angin berembus dengan santun, awan berjalan pelan, dan dunia sepakat berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa yang akan hilang hari itu.

Pesawat ATR 42-500, tubuh logam kecil dengan umur dua puluh lima tahun dan kelelahan yang disembunyikan, mengangkat sepuluh nyawa dari Yogyakarta. Sepuluh cerita yang masih setengah jalan. Sepuluh rencana yang belum sempat minta izin kepada maut. Di salah satu kursi, duduk seorang perempuan bernama Florencia Lolita Wibisono. Orang memanggilnya Ollen. Nama yang lembut, seolah diciptakan agar mudah dipanggil pulang.

Ollen menatap jendela. Di pantulannya, ada wajah perempuan yang sebentar lagi akan menjadi istri. Ia tidak membawa gaun pengantin hari itu, tapi ia membawa bayangan gaun yang putihnya belum sempat kotor oleh realitas. Di tas kecilnya, mungkin ada ponsel berisi pesan yang belum terkirim, foto cincin yang belum dipamerkan, dan catatan belanja yang terlalu optimistis, bunga, katering, tanggal yang belum berani ditulis. Ollen somo kaweng. Mau nikah. Kalimat yang diucapkan sambil tertawa, karena hidup masih terlihat jinak.

Ia berdarah Manado. Dari ibunya, Kendis, Minahasa, tempat doa-doa tidak pernah disingkat. Doa diucapkan dengan napas panjang, dengan jeda yang memberi waktu bagi Tuhan untuk mendengar. Doa yang hari itu naik lebih cepat dari pesawat, tapi entah mengapa tiba lebih lambat.

Pesawat melaju. Mesin berdengung seperti lagu nina bobo bagi takdir. Lalu, di antara Maros dan Pangkep, langit memutuskan berhenti ramah. Kontak hilang. Kata yang terdengar administratif, dingin, dan kejam. Hilang kontak, seolah manusia adalah sinyal yang bisa disambungkan ulang. Seolah cinta bisa dihubungi kembali jika baterai diganti.

Di darat, waktu retak. Jam di rumah keluarga Ollen berhenti berdetak, bukan karena rusak, melainkan karena tidak sanggup lagi bergerak ke depan. Keluarga bersiap ke Makassar. Kata bersiap terdengar ringan bagi mereka yang tak ikut mengemas duka. Mereka memasukkan pakaian secukupnya, tapi lupa, atau mungkin tak sanggup, memasukkan air mata, karena air mata tak pernah cukup. Mereka membawa harapan seperti kaca tipis, dijaga, dipeluk, namun tetap melukai.

“Semoga mukjizat,” kata mereka. Kalimat paling rapuh yang dimiliki manusia. Mukjizat selalu diminta ketika semua pintu sudah menutup diri. Mukjizat adalah cara kita menawar kenyataan, meski tahu tawaran itu sering ditolak.

Sementara itu, gunung Bulusaraung berdiri tua dan bisu. Ia telah melihat ratusan tahun manusia datang dan pergi. Hari itu ia kembali menerima rahasia. Badan pesawat ditemukan di puncaknya. Badan, kata yang menyayat. Mengingatkan bahwa yang jatuh bukan hanya logam, tapi juga tubuh-tubuh yang pernah hangat, yang pernah memeluk, yang pernah berjanji.

Bayangkan Ollen pada detik terakhir. Tidak perlu ledakan, tidak perlu teriakan heroik. Cukup sunyi. Sunyi yang berat. Mungkin ia memikirkan ibunya. Mungkin ia memikirkan calon suaminya yang sedang menghitung hari. Mungkin ia memikirkan satu hal paling sederhana, Aku belum sempat hidup. Tragedi paling kejam bukanlah kematian, melainkan hidup yang baru hendak dimulai lalu dipadamkan.

Di tempat lain, gaun pengantin menunggu di masa depan yang tak jadi datang. Cincin masih bulat, belum pernah menyentuh jari yang seharusnya. Undangan belum dicetak, tapi perpisahan sudah diumumkan oleh alam. Inilah hidup bekerja sempurna. Pernikahan dibatalkan tanpa pemberitahuan, oleh kekuatan yang tidak bisa diajak bicara.

Tim SAR bekerja, manusia melawan medan, negara melawan cuaca. Mereka mencari bukan hanya korban, tetapi kepastian, karena bagi keluarga, ketidakpastian lebih menyakitkan dari kabar terburuk. Lebih baik luka yang berdarah dari harapan yang menggantung.

Lalu kita, yang membaca kisah ini, tiba-tiba tersadar. Betapa sombongnya kita pada rencana. Betapa yakinnya kita pada jadwal tiba. Padahal hidup tidak pernah menjanjikan pendaratan. Ia hanya memberi tiket sekali jalan, lalu menonton dari kejauhan saat kita percaya segalanya akan baik-baik saja.

Florencia Lolita Wibisono. Ollen. Namamu kini bukan sekadar tercatat di manifes. Namamu tinggal di dada orang-orang yang mencintaimu, sebagai lubang yang tak bisa ditutup oleh waktu. Jika tangis jatuh saat membaca ini, biarkan. Itu bukan kelemahan. Itu tanda, di dunia yang sering dingin dan cepat lupa, kita masih manusia.(*)

 

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubernur Viktor Laiskodat : “Kita Hebat Namun Perlu Konsolidasi!”

    Gubernur Viktor Laiskodat : “Kita Hebat Namun Perlu Konsolidasi!”

    • calendar_month Kam, 2 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 137
    • 0Komentar

    Loading

    Mbay-Nagekeo, Garda Indonesia | “Kita ini hebat-hebat tapi belum mampu konsolidasi. Kita perlu konsolidasi kekuasaan, konsolidasi anggaran dan konsolidasi informasi. Mari kita bangun sejarah baru, buat daerah jadi lebih hebat lagi”, tegas Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dalam pertemuannya bersama seluruh jajaran Pemerintah Kabupaten Nagekeo, bertempat di Aula Kantor Bupati Nagekeo, Rabu, 1 Mei […]

  • Gandeng TII, Mahfud MD Tindaklanjuti Rekomendasi Indeks Korupsi

    Gandeng TII, Mahfud MD Tindaklanjuti Rekomendasi Indeks Korupsi

    • calendar_month Kam, 25 Feb 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 143
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Menindaklanjuti rekomendasi soal indeks persepsi korupsi, Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengundang Sekjen Transparancy International Indonesia (TII) Danang Widoyoko dan Manager Riset TII Wawan Suyatmiko ke kantor Kemenko Polhukam. Hal ini dilakukan Mahfud dalam rangka memperbaiki indeks persepsi korupsi serta langkah-langkah yang tepat dalam pemberantasan […]

  • Kementan & Pemda Bali Berkomitmen Kendalikan Kasus Kematian Babi

    Kementan & Pemda Bali Berkomitmen Kendalikan Kasus Kematian Babi

    • calendar_month Sab, 15 Feb 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Loading

    Denpasar, Garda Indonesia | Kementerian Pertanian melalui Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan (Ditjen PKH) menyampaikan kesiapan dan komitmennya untuk terus membantu dalam mengendalikan penyakit pada babi yang dalam 1 (satu) bulan terakhir ini menjangkiti beberapa wilayah di Provinsi Bali. Hal tersebut disampaikan I Ketut Diarmita, Dirjen PKH pada saat menemui Gubernur Bali, I Wayan […]

  • ‘Wokee’, Perbankan Digital Bank Bukopin Goes To Campus Unwira

    ‘Wokee’, Perbankan Digital Bank Bukopin Goes To Campus Unwira

    • calendar_month Sab, 6 Apr 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 154
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sebagai salah 1 (satu) dari 3 (tiga) bank yang menjalankan perbankan digital, Bank Bukopin Cabang Kupang mewujudkannya dengan menjangkau khalayak untuk memakai pembayaran digitalisasi yang menggunakan handphone atau smartphone, tidak menggunakan kartu ATM, dan hanya menggunakan Aplikasi Wokee di dalam handphone (smartphone) sebagai sarana transaksi Mengambil lokasi di lapangan Kampus Universitas […]

  • Gubernur Viktor Bertekad Rubah Indeks Persepsi Korupsi Jadi Lebih Baik

    Gubernur Viktor Bertekad Rubah Indeks Persepsi Korupsi Jadi Lebih Baik

    • calendar_month Sab, 20 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Viktor Bungtilu Laiskodat, Gubernur 1 NTT, bertekad merubah Indeks Persepsi Korupsi (IPK) NTT menjadi lebih baik. Karena korupsi berkaitan erat dengan karakter manusia. “Hari ini IPK NTT adalah keempat yang terburuk dari seluruh Provinsi di Indonesia. Sebagai Gubernur saya ingin agar ke depan turun jauh tingkat persepsi publik terhadap korupsi penyelenggara negara […]

  • Kadis Kominfo Belu Harap Kemitraan RRI dengan Pemda Ditingkatkan

    Kadis Kominfo Belu Harap Kemitraan RRI dengan Pemda Ditingkatkan

    • calendar_month Sab, 11 Sep 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Loading

    Belu–NTT, Garda Indonesia | Pemerintah adalah pelayan masyarakat, dan masyarakat adalah pendengar RRI. Ke depan, kemitraan antara RRI Atambua dan Pemerintah Daerah semakin ditingkatkan sehingga upaya–upaya pelayanan terhadap masyarakat dapat dilakukan secara optimal. Tentu, pemerintah siap memberi support agar konten–konten RRI lebih melibatkan masyarakat level bawah. Demikian diungkapkan Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Kabupaten […]

expand_less