Sejarah Imlek—Perayaan di Indonesia Mulai Era Gus Dur dan Megawati
- account_circle Penulis
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 56
- comment 0 komentar

![]()
Tahun Baru Imlek merupakan perayaan terpenting orang Tionghoa. Perayaan tahun baru imlek dimulai pada hari pertama bulan pertama (Hanzi: 正月; pinyin: zhēng yuè) di penanggalan Tionghoa dan berakhir dengan Cap Go Meh (十五暝 元宵節) pada tanggal ke-15 (pada saat bulan purnama). Malam tahun baru imlek dikenal sebagai Chúxī (除夕) yang berarti “malam pergantian tahun”.
Perayaan Imlek menandai akhir musim dingin dan awal musim semi, festival ini berlangsung dari malam Tahun Baru Imlek (malam sebelum hari pertama tahun) hingga Festival Lentera, yang diadakan pada hari ke-15. Hari pertama Tahun Baru Imlek jatuh pada bulan baru yang muncul antara 21 Januari dan 20 Februari.
Di Tiongkok, adat dan tradisi wilayah yang berkaitan dengan perayaan tahun baru Imlek sangat beragam. Namun, semuanya banyak berbagi tema umum seperti perjamuan makan malam pada malam tahun baru yang sangat beragam dan berwarna-warni, serta penyulutan kembang api, juga pembagian angpao atau sering disebut hóngbāo (红包) yang dilakukan oleh orang orang yang sudah menikah kepada yang belum menikah. Meskipun penanggalan Imlek secara tradisional tidak menggunakan nomor tahun malar, penanggalan Tionghoa di luar Tiongkok sering kali dinomori dari pemerintahan Huangdi. Setidaknya sekarang ada tiga tahun berangka 1 yang digunakan oleh berbagai ahli, sehingga pada tahun 2017 Masehi, “Tahun Tionghoa” dapat jadi tahun 4715, 4714, atau 4654.
Dirayakan di daerah dengan populasi suku Tionghoa, Tahun Baru Imlek dianggap sebagai hari libur besar untuk orang Tionghoa dan memiliki pengaruh pada perayaan tahun baru di tetangga geografis Tiongkok, serta budaya yang dengannya orang Tionghoa berinteraksi meluas. Ini termasuk Korea, Mongolia, Nepal, Bhutan, Vietnam, dan Jepang (sebelum 1873).

Puisi Tahun Baru Imlek tulisan tangan ditempel pada pintu ke rumah orang, di Lijiang, Yunnan, Tiongkok. Foto : Wikipedia
Di Daratan Tiongkok, Hongkong, Makau, Taiwan,Singapura, Indonesia, Malaysia, Filipina, Thailand, dan negara-negara lain atau daerah dengan populasi Suku Han yang signifikan, Tahun Baru Imlek juga dirayakan, dan telah menjadi bagian dari budaya tradisional dari negara-negara tersebut.
Imlek di Indonesia
Di Indonesia, selama tahun 1968—1999, perayaan tahun baru Imlek dilarang dirayakan di depan umum. Dengan Instruksi Presiden Nomor 14 Tahun 1967, rezim Orde Baru di bawah pemerintahan Presiden Soeharto, melarang segala hal yang berbau Tionghoa, di antaranya Imlek.
Bagi masyarakat Tionghoa di Indonesia, perayaan Imlek adalah sebuah perjalanan sejarah. Kita pernah melewati masa pembatasan selama Orde Baru. Namun, suasana berubah ketika Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menjadi Presiden.
Gus Dur mencabut Inpres No. 14/1967, mengembalikan kebebasan berekspresi budaya. Langkah ini kemudian disempurnakan oleh Presiden Megawati yang menetapkan Imlek sebagai Hari Libur Nasional. Kini di tahun 2026, Imlek telah menjadi bagian tak terpisahkan dari budaya Nusantara.

Lampion Tahun Baru Imlek. Foto : pexels / Hong Zhu/
Makna di balik warna merah dan suara bising
Tahun 2026 ini, kita kembali melihat dekorasi merah yang semarak. Namun, pernahkah Anda bertanya mengapa Imlek identik dengan warna merah dan suara petasan? Ternyata, ini adalah strategi pertahanan diri dari masa lalu.
Menurut legenda, dahulu kala, Nián (年) adalah seekor raksasa pemakan manusia dari pegunungan (atau dalam ragam hikayat lain, dari bawah laut), yang muncul di akhir musim dingin untuk memakan hasil panen, ternak, dan bahkan penduduk desa. Untuk melindungi diri mereka, para penduduk menaruh makanan di depan pintu mereka pada awal tahun. Dipercaya bahwa dengan melakukan hal itu, maka Nian akan memakan makanan yang telah mereka siapkan dan tidak akan menyerang orang atau mencuri ternak dan hasil panen.
Pada suatu waktu, penduduk melihat Nian lari ketakutan setelah bertemu dengan seorang anak kecil yang mengenakan pakaian berwarna merah. Sejak saat itu, Nian tidak pernah datang kembali ke desa. Nian pada akhirnya ditangkap oleh 鸿钧老祖 atau 鸿钧天尊 Hongjun Laozu, dewa Taoisme dalam kisah Fengsheng Yanyi, dan dijadikan kendaraan Honjun Laozu. Penduduk kemudian percaya bahwa Nian takut akan warna merah, sehingga setiap kali tahun baru akan datang, para penduduk akan menggantungkan lentera dan gulungan kertas merah di jendela dan pintu. Mereka juga menggunakan kembang api untuk menakuti Nian. Adat-adat pengusiran Nian ini kemudian berkembang menjadi perayaan tahun baru. Guò nián (Hanzi tradisional: 過年; Hanzi: 过年), yang berarti “menyambut tahun baru”, secara harfiah berarti “mengusir Nian”.
Tradisi turun-temurun dipakai hingga saat ini..Nenek moyang masyarakat Tiongkok menemukan “titik lemah” sang monster:
- Nian takut pada warna merah.
- Nian benci cahaya terang (api/lampion).
- Nian panik mendengar suara ledakan.
Apa yang dulunya adalah upaya bertahan hidup berbasis probabilitas, kini menjadi pesta budaya yang kita rayakan bersama.(*)
- Penulis: Penulis
- Editor: Roni Banase
- Sumber: Unesa & Wikipedia











Saat ini belum ada komentar