Singa Selatan—Sejarah Barongsai di Indonesia
- account_circle Penulis
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 66
- comment 0 komentar

![]()
Barongsai, dikenal sebagai barongan Cina, Merujuk pada kamus online Kemendikbud, Barongsai adalah tarian tradisional yang kerap dipertunjukkan saat perayaan Imlek. Tarian tradisional ini berasal dari Tiongkok dan biasanya ditarikan oleh dua orang yang mengenakan kostum menyerupai singa.
Populer di Indonesia, terutama di daerah dengan mayoritas masyarakat keturunan Tionghoa, Barongsai telah menjadi bagian tak terpisahkan dari perayaan Imlek.
Pada pertunjukkan Barongsai, satu orang memainkan peran depan dengan memakai topeng kepala singa, sementara yang lainnya berperan sebagai kaki belakang. Meskipun istilah “barongsai” hanya dikenal di Indonesia, namun asal-usulnya mencakup dua kata, yaitu “Barong” dari seni tari Bali dan “Sai” dari bahasa Hokkian yang berarti singa.
Di Tiongkok, tarian ini dikenal dengan nama “Wu Shi” dan secara internasional dikenal sebagai “Lion Dance“. Barongsai sendiri menjadi salah satu wujud dari akulturasi budaya Tionghoa dengan Indonesia, bahkan pada tahun 2010 telah diakui sebagai Warisan Budaya Tak Benda (WBTB) Indonesia.
Dari perspektif Feng Shui, barongsai memiliki beberapa makna yang mendukung peningkatan energi positif:
- Menghilangkan energi negatif: Suara drum yang keras dan gembira akan membersihkan daerah dari energi negatif, menggantikannya dengan energi yang positif.
- Mengusir roh jahat: Kekuatan dan keberadaan barongsai diyakini cukup untuk mengusir roh jahat, memastikan kesuksesan dalam usaha yang dilakukan.
- Membawa keberuntungan: Sebagai simbol kekuatan dan keberuntungan, kehadiran barongsai dianggap membawa keberuntungan bagi tempat yang dikunjungi.
Berbekal nilai-nilai simbolis yang terkandung di dalamnya, Barongsai tidak hanya menjadi bagian dari perayaan budaya, tetapi juga memberikan harapan dan optimisme bagi masyarakat yang merayakannya.
Sejarah Barongsai
Berdasarkan kepercayaan masyarakat Tionghoa, singa dianggap sebagai simbol keberanian, kekuatan, kebijakan dan keunggulan. Barongsai memiliki sejarah ribuan tahun. Catatan pertama tentang tarian ini dengan tujuan untuk mendatangkan keberuntungan, hal ini bisa ditelusuri pada masa Dinasti Qin sekitar abad ketiga sebelum Masehi.
Kesenian Barongsai mulai populer pada zaman dinasti Selatan-Utara (Nan Bei) tahun 420-589 Masehi. Kala itu, pasukan dari raja Song Wen Di kewalahan menghadapi serangan pasukan gajah raja Fan Yang dari negeri Lin Yi. Seorang panglima perang bernama Zhong Que membuat tiruan boneka singa untuk mengusir pasukan raja Fan itu. Ternyata upaya itu sukses hingga akhirnya tarian barongsai melegenda hingga sekarang.
Tarian Singa terdiri dari dua jenis utama yakni Singa Utara yang memiliki surai ikal dan berkaki empat, dan Singa Selatan yang bersisik dan bertanduk. Penampilan singa Utara lebih mirip singa karena berbulu tebal, bukan bersisik.Tarian naga berasal dari zaman Dinasti Han dan di percaya sebagai metode penyembuhan dan pencegahan penyakit.
Barongsai ini diiringi dengan musik yang meriah, menggunakan alat musik simbal, gong, dan trompet.

Tarian singa atau barongsai/Foto: Pixabay.com
Singa Utara
Di Indonesia, Singa Utara (Mandarin: Bei Shi) biasa disebut Peking Sai. Singa Utara memiliki bulu yang lebat dan panjang berwarna kuning dan merah, biasanya Singa Utara dimainkan dengan 2 Singa dewasa dengan pita warna merah di kepalanya yang menggambarkan Singa Jantan dan Pita Hijau (kadang bulu hijau di kepalanya) untuk menggambarkan Singa Betina.
Pekingsai dimainkan dengan Akrobatik dan Atraktif, seperti berjalan di tali, berjalan di atas bola, menggendong, berputar, dan gerakan-gerakan akrobatis lainnya. Tidak jarang juga, Pekingsai dimainkan dengan anak singa, atau seorang ‘pendekar’ yang memegang benda berbentuk bola yang memimpin para Singa. Biasanya, sang pendekar melakukan beberapa gerakan-gerakan beladiri Wushu.
Konon, atraksi Pekingsai digunakan untuk menghibur keluarga kerajaan di istana Tiongkok.
Singa Selatan
Singa Selatan inilah yang sering kita lihat, atau kita sebut Barongsai. Singa Selatan lebih ekspresif dibanding Singa Utara. Kerangka kepala Singa Selatan dibuat dari bambu, lalu ditempeli kertas, lalu dilukis, dan ditempeli bulu dan dihias. Bulu yang memiliki kualitas tinggi untuk pembuatan Barongsai adalah bulu domba atau bulu kelinci. Tetapi, untuk harga yang murah, biasanya digunakan bulu sintetis. Pada zaman modern, kerangka barongsai mulai dibuat dengan aluminium atau rotan.
Singa Selatan memiliki berbagai macam jenis. Singa yang memiliki tanduk lancip, mulut seperti kucing, dahi yang tinggi, dan ekor yang lebih panjang disebut Fut San (juga disebut Fo Shan, atau Fat San). Sedangkan Singa yang memiliki mulut moncong ke depan, tanduk yang tidak lancip, dan ekor yang lebih kecil disebut Hok San. Keduanya diambil dari nama tempat di Tiongkok.
Barongsai Futsan dimainkan dengan kuda-kuda dan gerakan yang lebih memerlukan tenaga. Barongsai Futsan biasanya dimainkan di dalam kategori Barongsai Tradisional. Kuda-kuda dan gerakan barongsai hoksan lebih santai daripada Barongsai futsan. Barongsai futsan biasanya digunakan di sekolah-sekolah kungfu, dan hanya murid terbaik yang dapat menarikannya.
Sementara, Barongsai hoksan biasanya dikenal karena ekspresif, langkah kaki yang unik, penampilan yang impresif, dan musik yang bertenaga. Diperkirakan, pendiri Barongsai Hoksan adalah Feng Gengzhang pada abad ke 20. Feng lahir di desa, di kota He Shan, dan dia diajarkan beladiri Tiongkok dan Barongsai dari ayahnya. Kemudian, ia mempelajari bela diri dan Barongsai dari Fo Shan sebelum pulang ke desanya dan membuat sasananya sendiri. Dia menciptakan gaya menarikan barongsai yang unik, dan menciptakan teknik baru memainkan barongsai dengan mempelajari mimik dan gerak kucing, seperti “menangkap tikus, bermain, menangkap burung, dan berguling”.
Setelah beberapa waktu, terciptalah kepala barongsai bergaya Hok San, ia merendahkan dahi Barongsai, melengkungi tanduknya, dan membuat mulutnya menjadi seperti paruh bebek. Badannya juga menjadi terlihat lebih bertenaga dan berwarna lebih mencolok, bersama dengan langkah kaki yang lebih unik dan tangkas, Feng menciptakan gaya musik baru dalam bermain Barongsai yang disebut “Seven Star Drum”.
Sekitar tahun 1945, pemain Barongsai hoksan diundang untuk tampil di berbagai tempat di Tiongkok dan bagian Asia Tenggara. Di Singapura, Barongsai hoksan menjadi terkenal dan mendapatkan julukan “Raja dari Raja Barongsai” dan memiliki tulisan “Raja” (王) di dahi Barongsai Hoksan. Perbaikan lebih lanjut, asosiasi Barongsai hoksan di Singapura membuat Barongsai hoksan menjadi lebih mirip seperti seekor kucing dengan memendekkan ekornya, dan membuat ketukan drum yang baru untuk tarian singa ini.(*)
- Penulis: Penulis
- Editor: Roni Banase
- Sumber: Tri Bhakti & Wikipedia











Saat ini belum ada komentar