Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Merawat Akal Sehat dalam Berdemokrasi

Merawat Akal Sehat dalam Berdemokrasi

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 6 Okt 2019
  • visibility 126
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh Muhammad Syukur Mandar, S.H., M.H.

Jakarta, Garda Indonesia | Indonesia adalah bangsa besar, bangsa yang merdeka dari kekuatan rakyat, direbut dengan tumpahan darah dan jiwa juang yang tinggi oleh para pahlawan di medan laga tanpa pamrih.

Kini usia bangsa tak lagi muda, meski segenap agenda kebangsaan yang tersirat dalam falsafah pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, belum ditunaikan oleh para pemimpin bangsa.

Umpamanya, Pasal 33 UUD 1945, tujuan dan cita-cita bangsa yang nyata belum dicapainya. Padahal kemakmuran bagi seluruh Rakyat Indonesia adalah nawa cita pendiri bangsa. Seluruh jiwa dan raga pejuang ditumpahkan bukan sekadar merebut kemerdekaan, melainkan juga untuk mencapai kemakmuran sebagai sebuah bangsa.

Kini jiwa raga bangsa ini terus dilaga, terkoyak antara aksi kepalsuan atas cita- cita dan kesungguhan mengapai nawa cita. Para pemimpin bangsa dituntut bersikap kesatria. Menorehkan mata melihat jiwa rakyat yang terus & semakin merana.

Kemiskinan datang tak henti dan perlahan lahan merenggut satu persatu nyawa anak bangsa. Menghilangkan banyak harapan anak ibu pertiwi. Tapi tak ada getar getir demonstrasi mahasiswa yang meradang, begitu pula nasib pengungsi Wamena (akibat rusuh) dan pengungsi Maluku (akibat gempa) yang tak terurus dengan baik oleh mereka yang seharusnya mengurus.

Tapi juga tak ada suara riak nan lantang mahasiswa atas nama ketidakadilan. Banyak anak cucu Ibu Pertiwi menjerit oleh jepitan ketidakadilan, Mereka yang ditindas bencana nyaris tersiksa oleh duka dan lara di medan pengungsian.

Sementara pada sisi lain, para pejuang masa kini atas nama demokrasi angkat bicara soal narasi kebangsaan yang lantang atas sandiwara politik senayan. Demonstrasi sana sini sibuk digelar, berjatuhan korban anak cucu bangsa yang tak kuasa menahan air mata.

Lalu mengapa kita begitu cinta pada bangsa dan siapkan jiwa raga sebagai taruhannya?, oleh karena bangsa Indonesia adalah bangsa yang dilahirkan oleh Ibu Pertiwi melalui perjuangan keras di medan laga.

Hari ini nyaris nyata benturan antara akal sehat dan kekerasan di depan mata, dalam narasi demonstrasi & perang akal sehat. Semua atas nama bangsa, semua atas nama negara, seolah berdiri pada tujuan yang sama, tetapi nyata pada posisi yang berbeda.

Siapa diantaranya Nakula dan siapa sebagai Sadewa?, tak mampu kita membedakannya. Kita seolah kehilangan petunjuk akan nawa cita leluhur (the founding fathers).

Presiden pun dibuat nyaris hilang nyali, mungkin tak biasa atau takut menjadi bara demonstrasi mahasiswa, Perpu dipandang perlu untuk direvisi, revisi seolah jawaban nyata bagi akal sehat berantas korupsi. Batalkan Perpu menjadi tuntutan sejumlah agenda yang disuarakan mahasiswa.

Roh negara besar (big country) hampir berubah dan terancam menjadi negara barbar (barbaric country). Negara barbar adalah Negara yang napas pemerintahannya ditentukan di jalanan oleh tekanan masa. Ini bukanlah anugerah melainkan sebagai insentif bencana masa datang buat negara dan anak cucu bangsa.

Tak ada yang salah bila rakyat bersuara, mengkritik yang dianggap keliru olehnya dan tidak sepatutnya, tapi tak juga harusnya pemerintah menjadi gampang meradang, dan tanpa narasi ikut tekanan massa.

PERPU adalah suatu produk yang luar biasa pentingnya pada suatu negara hukum. Perpu mahal harganya bila digadaikan, dengan harga sebuah demonstrasi. Demonstrasi adalah soal demokrasi dan Perpu adalah soal wibawa bernegara. Pada sisi ini kita seolah menjawab teka teki silang dan harus mengisinya, meskipun pada soal yang tak ada jawabnya.

Bukan soal setuju atau tidak, atau sekadar ada atau tidak adanya Perpu, tetapi Perpu harus dilahirkan atas kondisi darurat hukum dan sejenisnya pada sebuah bangsa dan negara. Tak harus menjadi pintu keluar dari tuntutan massa, Perpu harus menjelma sebagai suatu kekuatan istimewa sebuah produk hukum negara yang kehadirannya mampu menyelamatkan kondisi negara dalam darurat. itulah falsafah adanya sebuah Perpu sebaliknya perlu tak kita harapkan hadir menyelinap di tengah teriakan kerumunan massa.

Bahwa jika Perpu dikeluarkan karena desakan massa demonstrasi, maka tidak saja preseden buruk bagi kelangsungan hukum dan pemerintahan dalam kita bernegara. Cerita ini akan memiliki efek sosio politik dan menjadi tradisi baru bernegara dan akibatnya ke depan bangsa kita terbiasa menyelesaikan masalah bangsa dengan cara-cara jalanan. Kita akan hilang dari falsafah musyawarah mufakat yang mencirikan kita sebagai Negara Pancasila. (*)

Penulis (*/Praktisi Hukum dan Dosen Fakultas Hukum)
Editor (+rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Julie Sutrisno Laiskodat Ajak Anak Bajawa Konsumsi Ikan & Marungga

    Julie Sutrisno Laiskodat Ajak Anak Bajawa Konsumsi Ikan & Marungga

    • calendar_month Rab, 1 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Loading

    Ngada-NTT, Garda Indonesia | “Dalam 5 (lima) tahun ke depan, kami akan terus mengampanyekan gerakan makan ikan dan kelor (marungga). Tujuannya, terutama untuk memberantas gizi buruk, stunting dan untuk meningkatkan kecerdasan masyarakat di Nusa Tenggara Timur”, kata Julie Sutrisno Laiskodat yang ditemui usai membawakan materinya, dalam Kegiatan Kampanye Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) di Sekolah […]

  • APINDO & TopKarir Kerja Sama Gali Potensi Industri & Tenaga Kerja

    APINDO & TopKarir Kerja Sama Gali Potensi Industri & Tenaga Kerja

    • calendar_month Jum, 19 Apr 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Loading

    Banten, Garda Indonesia | Provinsi Banten merupakan daerah dengan potensi yang sangat besar, mulai dari pariwisata, budaya, hingga zona industrinya. Zona industri merupakan jantung pengembangan ekonomi di Provinsi Banten. Bahkan zona industri di Provinsi Banten menjadi percontohan untuk pembangunan kawasan industri di Indonesia, terutama di luar Pulau Jawa Zona industri di Provinsi Banten juga telah […]

  • Deretan Lima Anak NTT Juara Dunia Swipoa Internasional 2024

    Deretan Lima Anak NTT Juara Dunia Swipoa Internasional 2024

    • calendar_month Rab, 12 Feb 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Loading

    Pj. Gubernur NTT, Dr. Andriko Noto Susanto, S.P, M.P mengapresiasi 5 (lima) siswa asal NTT yang berhasil meraih 5 (lima) peringkat terbaik kompetisi Hall of Fame Abacus Brain Gym 2024 bertempat di ruang rapat Kantor Gubernur NTT pada Selasa,11 Februari 2024.   Kupang | Ajang Hall of Fame Abacus Brain Gym 2024 juga dikenal sebagai […]

  • Banjir Rendam 9.285 Rumah di Kabupaten Bandung

    Banjir Rendam 9.285 Rumah di Kabupaten Bandung

    • calendar_month Sel, 31 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Loading

    Kab. Bandung, Garda Indonesia | Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung melaporkan kejadian banjir telah merendam sebanyak 9.285 rumah di wilayah Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat, pada Selasa, 31 Maret 2020. Kepala Pusat Data Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Agus Wibowo mengatakan banjir tersebut juga berdampak pada 15.639 KK/56.251 jiwa dan memaksa sedikitnya 76 […]

  • Respons Presiden Prabowo Tanggapi Gus Miftah Undur Diri

    Respons Presiden Prabowo Tanggapi Gus Miftah Undur Diri

    • calendar_month Ming, 8 Des 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta | Presiden Prabowo Subianto memberikan tanggapannya terkait pengunduran diri Miftah Maulana Habiburrahman atau Gus Miftah dari jabatan Utusan Khusus Presiden Bidang Kerukunan Beragama dan Pembinaan Sarana Keagamaan. Presiden Prabowo menyatakan bahwa pengunduran diri tersebut merupakan bentuk tanggung jawab atas pernyataan yang dilontarkan Gus Miftah. “Saya sendiri belum lihat langsung, tapi di laporan beliau sudah mengundurkan […]

  • Volunteer Pegawai PLN Warnai Hari Anak Nasional 2025

    Volunteer Pegawai PLN Warnai Hari Anak Nasional 2025

    • calendar_month Sab, 26 Jul 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 158
    • 0Komentar

    Loading

    Aksi ini melengkapi kebahagiaan warga sekolah yang baru saja menerima gedung baru yang dibangun dari material ecoblocks daur ulang sampah plastik.   Waingapu | Suasana peresmian gedung baru TK Negeri Kalu Manandang di Kecamatan Kambera, Sumba Timur, menjadi lebih berwarna berkat aksi sosial para pegawai PT PLN (Persero). Terlibat sebagai relawan, mereka turun tangan langsung […]

expand_less