Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Bila Hanya Membawa Keresahan, Buat Apa Berkuasa?

Bila Hanya Membawa Keresahan, Buat Apa Berkuasa?

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 10 Okt 2021
  • visibility 98
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Eddy Ngganggus

Tujuan berkuasa adalah untuk kesejahteraan orang yang dikuasainya. Menguasai orang lain dengan typical intimidatif adalah ciri penguasa yang kekuasaannya akan dicabik oleh orang yang dipimpinya. Karena tidak mungkin ada loyalis sejati di sekitarnya. Yang pasti ada hanyalah loyalis semu. Karena pada ihkwalnya tidak ada manusia yang suka dengan penguasa yang membawa keresahan ke dalam komunitas kekuasaannya.

Masih tidak percaya dan mau membuktikannya ? Jawabannya adalah silakan lanjutkan dan maksimalkan gaya berkuasamu, kelak akan terjawab kebenaran premis humanis di atas.

Penguasa jenis ini tidak sadar membenturkan nilai keutamaan dengan nilai keburukan ke dalam  lingkungan kerjanya . Nilai keutamaan tidak mungkin bisa dikuasi oleh keburukan. Jika tampaknya gaya berkuasa ini cocok dengan pendasaran bahwa perubahan di wilayah ini hanya bisa diubah dengan pendekatan kekuasaan model ini, saya ajak kita berkolaborasi  ide  berikut :  Kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi, Salus Populli Suprema Lex Esto

Kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi, asal muasalnya dari diksi latin,“Salus Populli Suprema Lex Esto”. Ini adalah konstitusi tertinggi, baik perspektif yudisial maupun perspektif etik. Tidak ada kebenaran etik di dalam gaya berkuasa yang menghadirkan keresahan bagi orang yang dipimpinnya .

Tidaklah mungkin kita mengharapkan garis lurus dengan menggunakan mistar bengkok. Seberapa pun mulia penguasa ingin membetulkan kesalahan yang ada bila sumpah jabatan yang pernah diikrarkan dilanggarnya pula? Di dalam sumpah jabatan itu berisi seluruh janji luhur untuk mempimpin secara baik dan benar. Ibarat induk bebek mengajarkan anak bebek berjalan. Dalam gaya bahasa Kupang bilang ; “mai bebek minta kepada anaknya agar kalau jalan panta jangan ba edok , padahal dia pung mai jalan panta ada ba edok bukan main“ (Induk Bebek minta anaknya agar saat berjalan jangan menggoyangkan pantat, padahal induknya melakukan hal serupa) heheh….bukankah itu ambigu ?

Belajar dari pengalaman mereka yang terjerat masuk ke dalam jeruji besi akibat melanggar sumpah jabatan. Mengira akan lolos dari jeratan hukum karena menganggap apa yang dilakukan itu benar dan masih in line atau on the track dengan sumpah jabatan sambil mengabaikan fakta keresahan yang sedang terjadi pada orang-orang yang dipimpinya adalah sebuah entry gate atau gerbang masuk menuju gerbang bui.

Menakar sisi yuridis normative dengan yuridis empiris ini menjadi awasan agar segera ambil haluan untuk “rendah hati” berbalik pada kebenaran sejati , bukan kebenaran semu. Sebab jika tidak, pemimpin seperti ini akan terus disandera oleh nafsu berkuasa tanpa fondasi nilai keutamaan. Jika tampak bersikap rohani , itu hanya kesan postingan di media sosial saja, ia tidak bisa mengubah realita buah yang di hasilkan yakni “keresahan” yang sedang mendera orang-orang yang dipimpin. Kecuali ia berbuah dengan nilai-nilai keutamaan.

Mengapa Hukum Tidak Menjerakan ?

Perilaku menyimpang dari para penguasa seakan tidak surut, terus berduplikasi. Ragam kategori perilaku menyimpang terutama dua tabiat ini yakni mencuri uang (baca korupsi), penjahat seksual, yakni asmara tidak wajar antara pria dan wanita tanpa ikatan perkawinan. Ini fenomena dominan penguasa yang sulit dijerakan, berikut ada 2 (dua) penyebab (menurut saya), jika pembaca punya yang lain, silakan ditambahkan :

  1. Karena alam sudah menetapkan kandidat terhukum untuk memenuhi jumlah orang-orang yang harus dipenjarakan. Pertanyaan reflekifnya, mengapa anda, dia, mereka, bukan yang lain?
  2. Hilangnya nurani dan jiwa negarawan pada diri penguasa. Nurani disekat oleh tumpukan materi . Selaput minim empati pada seorang penguasa berakar pada rendahnya integritas.

Ajakan

Menjadi orang kaya nilai akan menghindarkan penguasa dari predikat pembawa keresahan. Salah satu jalan menuju ke sana adalah dengan banyak bergaul, diskusi, berteman dengan ragam orang yang kaya nilai. Mereka itu bisa manusia, bisa buku. Santu Thomas Aquinas menyindir orang yang minim bergaul dengan buku sebagai “homo unius libri“ atau manusia satu buku.

Ayo mari berubah, bergaul dengan lebih banyak orang atau lebih dari satu buku. Semoga.

Foto utama (*/istimewa—koleksi pribadi)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Apresiasi PLN NTT, Gubernur VBL : Listrik Pulih dalam Waktu Dekat

    Apresiasi PLN NTT, Gubernur VBL : Listrik Pulih dalam Waktu Dekat

    • calendar_month Ming, 11 Apr 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT,  Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) memberikan apresiasi terhadap kerja keras PLN untuk memulihkan kembali jaringan listrik yang rusak akibat bencana badai Siklon Tropis Seroja di NTT pada 5 April 2021. “Tentunya dari PLN telah berusaha maksimal. Masyarakat diharapkan bersabar karena badai ini telah mengakibatkan kerusakan sangat parah. Saya yakin teman-teman […]

  • Dirut PLN Pimpin Siaga Kelistrikan Nasional dari Posko Aceh Tamiang

    Dirut PLN Pimpin Siaga Kelistrikan Nasional dari Posko Aceh Tamiang

    • calendar_month Rab, 31 Des 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Loading

    Darmawan membeberkan untuk mengamankan pasokan di malam tahun baru 2026, PLN mengerahkan sebanyak 69 ribu personel yang tersebar di 3.402 posko, dan 137 command center di seluruh Indonesia.   Aceh Tamiang | Usai mengamankan sistem kelistrikan saat periode Natal 2025, Direktur Utama PLN, Darmawan Prasodjo kembali turun langsung untuk mengawal keandalan pasokan listrik pada pergantian […]

  • 5 Sikap TNI & Polri Terhadap Pemilu Serentak 2019

    5 Sikap TNI & Polri Terhadap Pemilu Serentak 2019

    • calendar_month Kam, 18 Apr 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 73
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Tahapan pemungutan suara dan penghitungan suara Pemilu Serentak Tahun 2019 telah berjalan aman, tertib, dan lancar serta damai. Kondisi ini tentunya tidak terlepas dari peran serta semua pemangku kepentingan, yaitu Peserta Pemilu, Pemerintah, Penyelenggara Pemilu, dan Aparat Keamanan (TNI/Polri) serta seluruh masyarakat Indonesia. Oleh karena itu, disampaikan apresiasi dan terimakasih setinggi-tingginya […]

  • Pangdam IX/Udy Ajak Masyarakat Wujudkan NKRI Berdaulat & Sejahtera

    Pangdam IX/Udy Ajak Masyarakat Wujudkan NKRI Berdaulat & Sejahtera

    • calendar_month Kam, 27 Jun 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 92
    • 0Komentar

    Loading

    Denpasar-Bali, Garda Indonesia | Komunikasi adalah hal yang hakiki dalam kehidupan sosial umat manusia. Tidak ada manusia yang melepaskan hidupnya untuk berkomunikasi antar sesama. Oleh karena itu, komunikasi sosial sangat penting dalam kehidupan manusia guna saling berinteraksi dengan sesama. Sehingga, pada Kamis, 27 Juni 2019, Kodam IX/Udayana menhelat acara Komunikasi Sosial dengan Seluruh Komponen Masyarakat […]

  • HUT Ke-76 TNI, Presiden Apresiasi Peran TNI Tangani Pandemi Covid-19

    HUT Ke-76 TNI, Presiden Apresiasi Peran TNI Tangani Pandemi Covid-19

    • calendar_month Sel, 5 Okt 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 130
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo mengapresiasi peran besar Tentara Nasional Indonesia (TNI) dalam keberhasilan penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia. Menurut Presiden, bila diibaratkan sebagai perang, melawan pandemi Covid-19 saat ini seperti perang yang menguras tenaga, pikiran, mental, dan semangat juang. Perang yang membutuhkan kewaspadaan, kecepatan, sinergi, dan pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hal […]

  • Norci Nomleni–Pendiri Komunitas Penggerak Perempuan & Pecinta Tenunan

    Norci Nomleni–Pendiri Komunitas Penggerak Perempuan & Pecinta Tenunan

    • calendar_month Rab, 3 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Loading

    So’e-TTS, Garda Indonesia | Arus globalisasi didukung perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membawa banyak kebudayaan luar atau mancanegara masuk dan diadopsi oleh anak-anak bangsa. Lalu penggunaan atau pelestarian kekayaan budaya mulai tersingkir secara perlahan-lahan. Menyadari pergeseran pelestarian kebudayaan; oleh pemerintah dilakukan berbagai usaha untuk mempertahankan kebudayaan suku-suku di Tanah Air. Misalnya di Nusa Tenggara Timur […]

expand_less