Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Bila Hanya Membawa Keresahan, Buat Apa Berkuasa?

Bila Hanya Membawa Keresahan, Buat Apa Berkuasa?

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 10 Okt 2021
  • visibility 155
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Eddy Ngganggus

Tujuan berkuasa adalah untuk kesejahteraan orang yang dikuasainya. Menguasai orang lain dengan typical intimidatif adalah ciri penguasa yang kekuasaannya akan dicabik oleh orang yang dipimpinya. Karena tidak mungkin ada loyalis sejati di sekitarnya. Yang pasti ada hanyalah loyalis semu. Karena pada ihkwalnya tidak ada manusia yang suka dengan penguasa yang membawa keresahan ke dalam komunitas kekuasaannya.

Masih tidak percaya dan mau membuktikannya ? Jawabannya adalah silakan lanjutkan dan maksimalkan gaya berkuasamu, kelak akan terjawab kebenaran premis humanis di atas.

Penguasa jenis ini tidak sadar membenturkan nilai keutamaan dengan nilai keburukan ke dalam  lingkungan kerjanya . Nilai keutamaan tidak mungkin bisa dikuasi oleh keburukan. Jika tampaknya gaya berkuasa ini cocok dengan pendasaran bahwa perubahan di wilayah ini hanya bisa diubah dengan pendekatan kekuasaan model ini, saya ajak kita berkolaborasi  ide  berikut :  Kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi, Salus Populli Suprema Lex Esto

Kesejahteraan rakyat adalah hukum tertinggi, asal muasalnya dari diksi latin,“Salus Populli Suprema Lex Esto”. Ini adalah konstitusi tertinggi, baik perspektif yudisial maupun perspektif etik. Tidak ada kebenaran etik di dalam gaya berkuasa yang menghadirkan keresahan bagi orang yang dipimpinnya .

Tidaklah mungkin kita mengharapkan garis lurus dengan menggunakan mistar bengkok. Seberapa pun mulia penguasa ingin membetulkan kesalahan yang ada bila sumpah jabatan yang pernah diikrarkan dilanggarnya pula? Di dalam sumpah jabatan itu berisi seluruh janji luhur untuk mempimpin secara baik dan benar. Ibarat induk bebek mengajarkan anak bebek berjalan. Dalam gaya bahasa Kupang bilang ; “mai bebek minta kepada anaknya agar kalau jalan panta jangan ba edok , padahal dia pung mai jalan panta ada ba edok bukan main“ (Induk Bebek minta anaknya agar saat berjalan jangan menggoyangkan pantat, padahal induknya melakukan hal serupa) heheh….bukankah itu ambigu ?

Belajar dari pengalaman mereka yang terjerat masuk ke dalam jeruji besi akibat melanggar sumpah jabatan. Mengira akan lolos dari jeratan hukum karena menganggap apa yang dilakukan itu benar dan masih in line atau on the track dengan sumpah jabatan sambil mengabaikan fakta keresahan yang sedang terjadi pada orang-orang yang dipimpinya adalah sebuah entry gate atau gerbang masuk menuju gerbang bui.

Menakar sisi yuridis normative dengan yuridis empiris ini menjadi awasan agar segera ambil haluan untuk “rendah hati” berbalik pada kebenaran sejati , bukan kebenaran semu. Sebab jika tidak, pemimpin seperti ini akan terus disandera oleh nafsu berkuasa tanpa fondasi nilai keutamaan. Jika tampak bersikap rohani , itu hanya kesan postingan di media sosial saja, ia tidak bisa mengubah realita buah yang di hasilkan yakni “keresahan” yang sedang mendera orang-orang yang dipimpin. Kecuali ia berbuah dengan nilai-nilai keutamaan.

Mengapa Hukum Tidak Menjerakan ?

Perilaku menyimpang dari para penguasa seakan tidak surut, terus berduplikasi. Ragam kategori perilaku menyimpang terutama dua tabiat ini yakni mencuri uang (baca korupsi), penjahat seksual, yakni asmara tidak wajar antara pria dan wanita tanpa ikatan perkawinan. Ini fenomena dominan penguasa yang sulit dijerakan, berikut ada 2 (dua) penyebab (menurut saya), jika pembaca punya yang lain, silakan ditambahkan :

  1. Karena alam sudah menetapkan kandidat terhukum untuk memenuhi jumlah orang-orang yang harus dipenjarakan. Pertanyaan reflekifnya, mengapa anda, dia, mereka, bukan yang lain?
  2. Hilangnya nurani dan jiwa negarawan pada diri penguasa. Nurani disekat oleh tumpukan materi . Selaput minim empati pada seorang penguasa berakar pada rendahnya integritas.

Ajakan

Menjadi orang kaya nilai akan menghindarkan penguasa dari predikat pembawa keresahan. Salah satu jalan menuju ke sana adalah dengan banyak bergaul, diskusi, berteman dengan ragam orang yang kaya nilai. Mereka itu bisa manusia, bisa buku. Santu Thomas Aquinas menyindir orang yang minim bergaul dengan buku sebagai “homo unius libri“ atau manusia satu buku.

Ayo mari berubah, bergaul dengan lebih banyak orang atau lebih dari satu buku. Semoga.

Foto utama (*/istimewa—koleksi pribadi)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tak Ada Sebuah Kebetulan

    Tak Ada Sebuah Kebetulan

    • calendar_month Jum, 5 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 152
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Roni Banase Percaya kah Anda bahwa pertemuan kita dengan seseorang yang belum kita kenal sebelumnya, mendapatkan rezeki secara tiba-tiba, mengenal orang baru, bahkan mendapatkan teman hidup merupakan sebuah kebetulan? Tak ada yang kebetulan di dunia ini. Semua yang terjadi di alam ini atas izin dan kehendak Tuhan. Semuanya ada dan dalam genggaman Allah. […]

  • Pesan Sapu Tangan Basah

    Pesan Sapu Tangan Basah

    • calendar_month Kam, 19 Nov 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Loading

    Penulis : Melkianus Nino Bahu tertindih seikat kayu api. Terasa seperti sedang memikul peti mati yang dititipkan Gadis Cantik dari rindang Beringin Tua. Badan gemetaran, dengan bulu-bulu pada pergelangan tangan yang merayap pulas, berdiri tegap tak ingin kembali pulas. Aku tak sadar, ketika Tuan Rimba mengintai langkah kaki dengan begitu lincah. Entah ! Dia, gadis […]

  • Uang 1,5 Miliar Viral Blast Klub Sepakbola Disita Bareskrim Polri

    Uang 1,5 Miliar Viral Blast Klub Sepakbola Disita Bareskrim Polri

    • calendar_month Sab, 14 Mei 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Bareskrim Polri menyita uang sebanyak 1,5 miliar rupiah terkait kasus robot trading Viral Blast. Belakangan terungkap, uang tersebut berasal dari 3 (tiga) klub sepakbola, yakni Persija, Bhayangkara FC, dan Madura United (MU). “Benar. Di antaranya ada yang disita dari beberapa klub bola. Sebagian disita dari Persija, Madura United, dan Bhayangkara FC,” […]

  • Hari Ini Rabu 21 Nov 2018, Anggota Bali 9 Renae Lawrence Bebas

    Hari Ini Rabu 21 Nov 2018, Anggota Bali 9 Renae Lawrence Bebas

    • calendar_month Rab, 21 Nov 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Loading

    Bali, gardaindonesia.id | Salah satu anggota Bali 9 yang luput dari hukuman mati, Renae Lawrance (41) hari ini dibebaskan, Rabu 21 November 2018. Lawrence menjalani pidana sejak 13 April 2006 hingga 21 November 2018. Sampai pembebasan dirinya, satu-satunya perempuan anggota Bali 9 ini menjalani pidana di Rutan Bangli. Kepala Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan HAM […]

  • 1500 Petugas PLN Jadikan Sulteng Kembali Terang

    1500 Petugas PLN Jadikan Sulteng Kembali Terang

    • calendar_month Kam, 25 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Loading

    Palu, gardaindonesia.id | Hampir satu bulan masa tanggap darurat PLN untuk normalisasi kondisi kelistrikan di Palu dan sekitarnya. Lebih dari 1.500 relawan yang terdiri dari berbagai macam latar belakang keahlian, mulai dari pembangkitan, transmisi hingga distribusi bersatu bahu-membahu untuk memulihkan kembali Palu, Donggala, Sigi dan Parigi. Berbagai upaya pun dilakukan oleh PLN untuk bergerak cepat […]

  • Tarif Listrik PLN Triwulan IV 2024 Tidak Naik

    Tarif Listrik PLN Triwulan IV 2024 Tidak Naik

    • calendar_month Sen, 7 Okt 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta | Pemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) memutuskan tarif tenaga listrik triwulan IV, Oktober—Desember 2024 untuk 13 golongan pelanggan non-subsidi tidak mengalami perubahan atau tetap. Sebagaimana diatur dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 7 Tahun 2024 tentang Tarif Tenaga Listrik yang disediakan PLN (Persero), bahwa penyesuaian tarif tenaga listrik bagi pelanggan non-subsidi […]

expand_less