Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Cerpen “Jeritan Istri, Ratapan Anak Diplomat”

Cerpen “Jeritan Istri, Ratapan Anak Diplomat”

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Rab, 3 Sep 2025
  • visibility 63
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Rosadi Jamani

Malam itu harusnya sederhana. Di bawah temaram lampu jalan, seorang istri berdiri menunggu di pintu rumah. Priscillia menatap suaminya, Zetro Leonardo Purba, diplomat muda Indonesia, yang mengayuh sepeda dengan senyum lelah. Ia ingin segera menyambutnya, meraih tangan suami tercinta, lalu masuk bersama ke rumah, bercengkerama dengan tiga buah hati mereka.

Namun takdir kejam datang tanpa aba-aba. Deru motor meraung, dua sosok asing melintas cepat. Lalu, dor! dor! dor! tiga peluru menyalak, merobek malam, merobek tubuh lelaki itu. Zetro terhuyung, darah menyembur, lalu jatuh di aspal tepat di depan mata istrinya.

Priscillia menjerit, suara parau yang memecah langit,

“Bang… jangan tinggalkan aku, Bang!”

Ia berlari, memeluk tubuh yang masih hangat tapi semakin dingin. Darah membasahi bajunya, mengalir ke tangannya, bercampur dengan air mata yang jatuh tanpa henti. Tubuhnya gemetar, bibirnya bergetar, suaranya pecah,

“Kau janji kita akan tua bersama, Bang… kau janji akan lihat anak-anak kita besar… jangan pergi sekarang… jangan di depan mataku…”

Orang-orang berkumpul, lampu-lampu menyinari tubuh yang tergeletak. Tapi bagi sang istri, dunia sudah runtuh. Detik itu, ia bukan lagi perempuan yang punya sandaran hidup. Ia hanya seorang istri yang kehilangan separuh jiwanya.

Di klinik, saat monitor medis menampilkan garis lurus, tangisnya meledak,

“Ya Tuhan… ambil nyawaku saja, jangan dia… anak-anak kami butuh ayahnya…”

Namun doa itu hanya bergema di ruangan dingin. Zetro pergi, tak kembali.

Di rumah, tiga anak menunggu. Si sulung, dengan wajah polos, bertanya, “Ma, ayah kenapa lama?” Si tengah menggenggam boneka lusuh, memandang pintu seakan ayahnya akan muncul membawa senyuman. Si bungsu, yang bahkan belum bisa memahami arti kehilangan, hanya menangis keras mencari dekapan ayah.

Priscillia menatap mereka, hatinya hancur berkeping-keping. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ayah mereka kini tidur dalam peti dingin? Dengan suara tersendat, ia berkata,

“Nak… ayah kalian sudah pergi. Ayah tak akan pulang lagi…”

Tangisan anak-anak pun pecah. Si sulung mencoba menahan air mata, tapi tubuh kecilnya bergetar. Si tengah berbisik lirih sambil menatap foto ayah di meja:

“Ayah, jangan tinggalin aku… aku masih butuh ayah…”

Si bungsu, dengan tangis yang belum bisa diucapkan dengan kata-kata, hanya memeluk ibunya erat-erat.

Kini rumah itu sunyi. Kursi makan yang dulu penuh tawa kini kosong. Sepeda yang dikayuh Zetro malam itu masih terparkir, menjadi saksi bisu. Foto keluarga di dinding kini bukan lagi sumber bahagia, melainkan belati yang menusuk tiap kali dipandang.

Setiap malam, Priscillia terduduk di kursi ruang tamu, menatap pintu, berharap keajaiban terjadi. Ia sering berbisik pada udara, seolah suaminya masih bisa mendengar,

“Bang… pulanglah sekali lagi. Aku janji tak kan melepasmu lagi. Pulanglah, meski hanya dalam mimpi…”

Air matanya jatuh, membasahi lantai

Malam Lince bukan hanya lokasi kejahatan. Ia adalah makam luka, tempat di mana seorang istri kehilangan separuh nyawa, dan tiga anak kehilangan pelukan ayah mereka. Tragedi ini bukan sekadar berita. Ia adalah jeritan manusia, jeritan cinta yang dipaksa hancur oleh kekejaman peluru.

Dari kisah pilu ini, kita belajar bahwa di balik setiap seragam, jabatan, atau pangkat yang melekat pada seseorang, ada hati yang berdenyut, ada keluarga yang mencintai, dan ada air mata yang jatuh diam-diam ketika takdir merenggut paksa. Seorang diplomat bukan hanya representasi negara, tetapi juga seorang suami, seorang ayah, seorang manusia yang sama rapuhnya dengan kita. Tragedi ini mengingatkan kita bahwa nyawa jauh lebih berharga dari segala bentuk ambisi, kekerasan, atau kekuasaan yang dipertaruhkan di jalanan.

Ratapan istri dan tangisan anak-anaknya adalah jeritan nurani yang seharusnya mengguncang dunia. Bahwa, kekerasan tidak hanya melukai korban, tetapi juga memutuskan banyak ikatan kasih yang tak tergantikan. Hidup ini fana, sementara cinta keluarga adalah abadi.(*)

 

 

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Hanya di Bali, Nyepi 2025 Pemprov Bali Stop Data Internet

    Hanya di Bali, Nyepi 2025 Pemprov Bali Stop Data Internet

    • calendar_month Jum, 28 Mar 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Loading

    Kementerian Komunikasi dan Digital (Komdigi) juga sudah mengumumkan mengenai pembatasan jaringan internet serta siaran televisi dan radio di Bali tersebut.   Denpasar | Pemprov Bali memanfaatkan layanan short massage service (SMS) untuk menyampaikan informasi terkait pembatasan layanan data seluler dan internet protocol television (IPTV [layanan televisi yang menggunakan jaringan internet untuk mengirimkan konten video dan […]

  • Figur Frans Lebu Raya Panutan Simon Petrus Kamlasi-Adrianus Garu

    Figur Frans Lebu Raya Panutan Simon Petrus Kamlasi-Adrianus Garu

    • calendar_month Kam, 12 Sep 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Loading

    Larantuka | Salah satu agenda safari politik calon gubernur dan wakil gubernur NTT, Simon Petrus Kamlasi-Adrianus Garu (SIAGA) di Kabupaten Flores Timur adalah berziarah ke makam mantan Gubernur NTT 2 (dua) periode, Frans Lebu Raya pada Rabu, 11 September 2024. Simon Petrus Kamlasi-Adrianus Garu bertolak dari kampung Waeburak sekitar pukul 6.30 Wita menuju ke lokasi […]

  • Pemkot Kupang & BI NTT Bahas Trik Kontrol Inflasi

    Pemkot Kupang & BI NTT Bahas Trik Kontrol Inflasi

    • calendar_month Kam, 7 Sep 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 56
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Penjabat Wali Kota Kupang, Fahrensy Funay dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Donny Heatubun membahas dan mengulas upaya penanganan inflasi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kota Kupang. Pertemuan keduanya dihelat pada pada Kamis, 7 September 2023. Turut hadir Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Daniel Agus Prasetyo dan Pratyaksa […]

  • Kapolri Bakal Tegur Kapolda & Kapolres Tak Tindak Tegas Aksi Premanisme

    Kapolri Bakal Tegur Kapolda & Kapolres Tak Tindak Tegas Aksi Premanisme

    • calendar_month Ming, 13 Jun 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 35
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menegaskan akan memberikan teguran kepada Kapolda dan Kapolres yang saat ini belum melakukan penindakan terhadap aksi Premanisme di wilayahnya masing-masing. Kapolri mengeluarkan instruksi kepada seluruh jajarannya di wilayah untuk menindak aksi Premanisme dan pelaku kejahatan konvensional lainnya yang meresahkan masyarakat. Mengingat, hal tersebut menjadi atensi dari […]

  • Perkuat Ekosistem Digital Inklusif, Digital Access Inggris Helat Pelatihan di Indonesia Timur

    Perkuat Ekosistem Digital Inklusif, Digital Access Inggris Helat Pelatihan di Indonesia Timur

    • calendar_month Sab, 16 Nov 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Loading

    Diluncurkan pada tahun 2022, program Digital Access Inggris bertujuan menciptakan komunitas digital dan kreatif yang inklusif di Indonesia Timur dengan meningkatkan keterampilan digital dan akses teknologi bagi kelompok marginal. Tahap sebelumnya telah menjangkau wilayah lain di Indonesia Timur, termasuk Makassar, Gowa, Maros, Manado, Kendari, Balikpapan, dan Samarinda.   Kupang | Kedutaan Besar Inggris Jakarta, melalui […]

  • Berbagi Praktik Baik Desa Layak Anak di Desa Sopo Timor Tengah Selatan

    Berbagi Praktik Baik Desa Layak Anak di Desa Sopo Timor Tengah Selatan

    • calendar_month Sen, 2 Sep 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 40
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Desa Sopo yang terletak di Kecamatan Amanuban Tengah Kecamatan Timor Tengah Selatan, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi salah satu atensi dari para peserta pelatihan Gugus Tugas Kota Layak Anak Tahun 2019. Pelatihan Gugus Tugas Kota Layak Anak yang diinisiasi oleh Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Dinas PPPA) NTT dan […]

expand_less