Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Cerpen “Jeritan Istri, Ratapan Anak Diplomat”

Cerpen “Jeritan Istri, Ratapan Anak Diplomat”

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Rab, 3 Sep 2025
  • visibility 121
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Rosadi Jamani

Malam itu harusnya sederhana. Di bawah temaram lampu jalan, seorang istri berdiri menunggu di pintu rumah. Priscillia menatap suaminya, Zetro Leonardo Purba, diplomat muda Indonesia, yang mengayuh sepeda dengan senyum lelah. Ia ingin segera menyambutnya, meraih tangan suami tercinta, lalu masuk bersama ke rumah, bercengkerama dengan tiga buah hati mereka.

Namun takdir kejam datang tanpa aba-aba. Deru motor meraung, dua sosok asing melintas cepat. Lalu, dor! dor! dor! tiga peluru menyalak, merobek malam, merobek tubuh lelaki itu. Zetro terhuyung, darah menyembur, lalu jatuh di aspal tepat di depan mata istrinya.

Priscillia menjerit, suara parau yang memecah langit,

“Bang… jangan tinggalkan aku, Bang!”

Ia berlari, memeluk tubuh yang masih hangat tapi semakin dingin. Darah membasahi bajunya, mengalir ke tangannya, bercampur dengan air mata yang jatuh tanpa henti. Tubuhnya gemetar, bibirnya bergetar, suaranya pecah,

“Kau janji kita akan tua bersama, Bang… kau janji akan lihat anak-anak kita besar… jangan pergi sekarang… jangan di depan mataku…”

Orang-orang berkumpul, lampu-lampu menyinari tubuh yang tergeletak. Tapi bagi sang istri, dunia sudah runtuh. Detik itu, ia bukan lagi perempuan yang punya sandaran hidup. Ia hanya seorang istri yang kehilangan separuh jiwanya.

Di klinik, saat monitor medis menampilkan garis lurus, tangisnya meledak,

“Ya Tuhan… ambil nyawaku saja, jangan dia… anak-anak kami butuh ayahnya…”

Namun doa itu hanya bergema di ruangan dingin. Zetro pergi, tak kembali.

Di rumah, tiga anak menunggu. Si sulung, dengan wajah polos, bertanya, “Ma, ayah kenapa lama?” Si tengah menggenggam boneka lusuh, memandang pintu seakan ayahnya akan muncul membawa senyuman. Si bungsu, yang bahkan belum bisa memahami arti kehilangan, hanya menangis keras mencari dekapan ayah.

Priscillia menatap mereka, hatinya hancur berkeping-keping. Bagaimana ia bisa menjelaskan bahwa ayah mereka kini tidur dalam peti dingin? Dengan suara tersendat, ia berkata,

“Nak… ayah kalian sudah pergi. Ayah tak akan pulang lagi…”

Tangisan anak-anak pun pecah. Si sulung mencoba menahan air mata, tapi tubuh kecilnya bergetar. Si tengah berbisik lirih sambil menatap foto ayah di meja:

“Ayah, jangan tinggalin aku… aku masih butuh ayah…”

Si bungsu, dengan tangis yang belum bisa diucapkan dengan kata-kata, hanya memeluk ibunya erat-erat.

Kini rumah itu sunyi. Kursi makan yang dulu penuh tawa kini kosong. Sepeda yang dikayuh Zetro malam itu masih terparkir, menjadi saksi bisu. Foto keluarga di dinding kini bukan lagi sumber bahagia, melainkan belati yang menusuk tiap kali dipandang.

Setiap malam, Priscillia terduduk di kursi ruang tamu, menatap pintu, berharap keajaiban terjadi. Ia sering berbisik pada udara, seolah suaminya masih bisa mendengar,

“Bang… pulanglah sekali lagi. Aku janji tak kan melepasmu lagi. Pulanglah, meski hanya dalam mimpi…”

Air matanya jatuh, membasahi lantai

Malam Lince bukan hanya lokasi kejahatan. Ia adalah makam luka, tempat di mana seorang istri kehilangan separuh nyawa, dan tiga anak kehilangan pelukan ayah mereka. Tragedi ini bukan sekadar berita. Ia adalah jeritan manusia, jeritan cinta yang dipaksa hancur oleh kekejaman peluru.

Dari kisah pilu ini, kita belajar bahwa di balik setiap seragam, jabatan, atau pangkat yang melekat pada seseorang, ada hati yang berdenyut, ada keluarga yang mencintai, dan ada air mata yang jatuh diam-diam ketika takdir merenggut paksa. Seorang diplomat bukan hanya representasi negara, tetapi juga seorang suami, seorang ayah, seorang manusia yang sama rapuhnya dengan kita. Tragedi ini mengingatkan kita bahwa nyawa jauh lebih berharga dari segala bentuk ambisi, kekerasan, atau kekuasaan yang dipertaruhkan di jalanan.

Ratapan istri dan tangisan anak-anaknya adalah jeritan nurani yang seharusnya mengguncang dunia. Bahwa, kekerasan tidak hanya melukai korban, tetapi juga memutuskan banyak ikatan kasih yang tak tergantikan. Hidup ini fana, sementara cinta keluarga adalah abadi.(*)

 

 

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pendam – Pendam Si Fotografer

    Pendam – Pendam Si Fotografer

    • calendar_month Rab, 11 Agu 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 74
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Melkianus Nino Menelusuri kubangan bekas tapak ratusan Kerbau liar dalam rimba hijau dekat kaki bukit. Bukit dengan batuan hitam pasi. Melihat dari lembah seperti coretan kapur tulis pada blackboard tanpa catatan. Jika menghampirinya, banyak batu meruncing tajam menakutkan kaki telanjang. “Oh, perih sekali”. Benar-benar beda. Semirip cerita klasik. Dulu air naik dan pulang […]

  • HHCI Edukasi dan Putuskan Mata Rantai Covid-19 di Wilayah Denpasar

    HHCI Edukasi dan Putuskan Mata Rantai Covid-19 di Wilayah Denpasar

    • calendar_month Sen, 30 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Loading

    Denpasar, Garda Indonesia | Sejumlah relawan yang menamakan diri Happy Helping Community Indonesia (HHCI) turun langsung untuk membantu memutus mata rantai penyebaran Covid-19. Mereka melakukan penyemprotan disinfektan sekaligus memberi pemahaman kepada masyarakat terkait cara-cara pencegahan Covid-19 di Panti Asuhan Tat Twam Asi, pada Senin, 30 Maret 2020. Ketua Umum Happy Helping Community Indonesia (HHCI), Ida […]

  • Terima Vaksin AstraZeneca, Gubernur VBL Imbau Tingkatan ‘Herd Immunity’

    Terima Vaksin AstraZeneca, Gubernur VBL Imbau Tingkatan ‘Herd Immunity’

    • calendar_month Rab, 14 Jul 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat menerima vaksin jenis Astrazeneca tahap pertama bersama para pejabat Eselon II pada Rabu, 14 Juli 2021 di Kantor Gubernur NTT. Usai melakukan vaksinasi, Gubernur VBL mengimbau kepada Bupati dan Wali Kota se-NTT untuk tetap mendorong masyarakat agar segera melakukan vaksinasi untuk mencegah penyebaran Covid-19. “Sebagai Gubernur, […]

  • Dinas Kearsipan dan Perpustakaan TTS Monev di TBM Imanuel Mio

    Dinas Kearsipan dan Perpustakaan TTS Monev di TBM Imanuel Mio

    • calendar_month Kam, 24 Jul 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 117
    • 0Komentar

    Loading

    Tim monev yang dipimpin oleh Eduard Tabun, S.H. dari Dinas Kearsipan dan Perpustakaan diterima langsung oleh pengelola Taman Bacaan Masyarakat Imanuel Mio, Beny Okran Neonane, S.Si, Gr.   Mio | Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS) melaksanakan kegiatan monitoring dan evaluasi (Monev) di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) Imanuel Mio, Desa Mio, Kecamatan […]

  • 82 Orang Meninggal Dunia akibat Gempa 7 SR; Ribuan Warga Mengungsi

    82 Orang Meninggal Dunia akibat Gempa 7 SR; Ribuan Warga Mengungsi

    • calendar_month Ming, 5 Agu 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 150
    • 0Komentar

    Loading

    Lombok-NTB, gardaindonesia.id – Dampak gempabumi 7 SR yang mengguncang wilayah di Nusa Tenggara Barat pada Minggu (5/8/2018) pukul 18.46 WIB memberikan dampak yang luas. Hingga Senin dini hari (6/8/2018) pukul 02.30 WIB tercatat 82 orang meninggal dunia akibat gempa, ratusan orang luka-luka dan ribuan rumah mengalami kerusakan. Ribuan warga mengungsi ke tempat yang aman. Aparat […]

  • Berjualan Saat Covid-19, Pedagang Takjil Minta Kebijakan Pemerintah

    Berjualan Saat Covid-19, Pedagang Takjil Minta Kebijakan Pemerintah

    • calendar_month Kam, 30 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Kudapan Takjil Ramadan di daerah Bonipoi, telah ada dan menjadi budaya kuliner sejak 15 tahun lalu, selalu di setiap Ramadan, bakal berjejer para pedagang yang menjajakan takjil (jajanan aneka ragam kue, kolak, dan es buah) menu berbuka puasa bagi umat Muslim di Kota Kupang. Tak ketinggalan, warga Non Muslim pun […]

expand_less