Fenomena Istri Simpanan di Kalangan Pejabat Tinggi
- account_circle Rosadi Jamani
- calendar_month 5 jam yang lalu
- visibility 221
- comment 0 komentar

![]()
Pada kelas Sex Education, guru selalu bilang, “Kalau sudah dewasa, semua harus pakai pengaman.” Masalahnya, di republik ini, yang paling anti pengaman justru pejabat tinggi. Begitu jabatan ereksi, akal sehat langsung loyo. Dana hibah mengeras, nurani melemas.
Ambil contoh Kusnadi, almarhum pejabat DPRD Jawa Timur, yang secara metaforis bisa kita sebut pasien gagal mengontrol hormon kekuasaan. Di luar istri sah, ia mengembangkan hubungan ekstra kurikuler dengan Fujika Senna Oktavia, istri siri yang fungsinya bukan Cuma romantis, tapi organ reproduksi finansial. Dalam sidang Tipikor Surabaya, 30 Januari 2026, Fujika tampil seperti murid teladan yang akhirnya jujur ke guru BK. Iya, saya istri kedua. Iya, saya dapat rumah belasan miliar. Iya, ada aliran dana Rp10 miliar ke perusahaan saya. Lengkap. Tanpa malu. Tanpa keringat.
Dalam anatomi korupsi, istri simpanan itu ibarat rahim pencucian uang. Uang haram dibuahi dari dana hibah, dikandung di rekening pribadi, lalu lahir sebagai rumah mewah, mobil kinclong, dan PT dengan nama sok estetik. Semua tampak sah, seperti bayi tabung: secara moral meragukan, secara administratif “rapi”.
KPK datang seperti bidan, tapi sering Cuma bisa cek denyut nadi. Barang bukti keburu dipindahkan. Uangnya sudah disapih, disekolahkan, bahkan mungkin sudah nikah lagi dengan rekening lain. Sistemnya canggih. Ini bukan zina receh, ini hubungan gelap berstandar MBA.
Jangan kira ini kelainan lokal. Di China, hampir 90 persen pejabat yang kena korupsi berat tercatat punya simpanan. Dalam istilah pendidikan seks, multiple partners tanpa kontrol, risiko penyakit tinggi. Liu Zhijun punya 18 mistresses, Lai Xiaomin konon sampai 100. Itu bukan libido, itu overdosis hormon kekuasaan. Negara dirangsang, rakyat yang kelelahan.
Filipina, Nigeria, Bolivia, semua menunjukkan gejala yang sama. Ketika kekuasaan naik, testosteron struktural melonjak. Pria berkuasa merasa dirinya kebal, seperti remaja yang baru nemu VPN lalu buka situs terlarang. Istri simpanan dipercaya sebagai “pengaman hukum”, padahal justru jadi carrier virus TPPU.
Di Indonesia, kita kenal istilah sugar daddy politik. Ini bukan soal cinta, ini soal logistik. Simpanan dijadikan kondom keuangan. Dipakai untuk menampung, lalu dibuang jika bocor. Tapi seperti semua alat murahan, selalu ada kebocoran. Biasanya ketahuan saat hubungan sudah terlalu dalam dan saldo terlalu besar.
Pertanyaan pamungkas ala sex education, siapa yang pegang kendali? Pejabatnya, atau para istri simpanan yang pegang ATM, PIN, dan rahasia ranjang plus rekening? Jangan-jangan para simpanan inilah sekretaris negara sesungguhnya, mengatur arus dana sambil senyum manis di foto Instagram.
Nuan bayangkan jika suatu hari salah satu dari mereka PMS (Post Moral Syndrome) lalu spill semua chat, transfer, dan sertifikat rumah. Negara bisa kolaps bukan karena kudeta, tapi karena screenshoot.
Sayangnya, mimpi itu jarang kejadian. Mesin cuci uang terus muter. Pejabat terus birahi. Kita, rakyat dewasa yang tak pernah diajak pendidikan etika kekuasaan, Cuma bisa tercengang sambil menyimpulkan satu hal, di negeri ini, korupsi bukan sekadar kejahatan keuangan, ia adalah hubungan intim tanpa komitmen, tanpa pengaman, dan selalu meninggalkan anak haram bernama skandal.
Perkawinan bukan rekening cadangan dan pasangan hidup bukan tempat parkir dosa. Suami, kalau rezeki bertambah jangan merasa iman kebal dan hawa nafsu berhak naik kelas. Ingat, uang haram itu licin. Sekali tergelincir, keluarga yang ikut jatuh. Istri, jangan pernah menukar ketenangan batin dengan kemewahan sesaat. Tas mahal bisa dipamerkan. Tapi, rasa malu dan penyesalan sering datang diam-diam di tengah malam. Rumah tangga yang sehat bukan soal berapa banyak yang dimiliki, tapi seberapa jujur, setia, dan berani berkata “cukup” ketika godaan datang membawa amplop tebal.(*)
- Penulis: Rosadi Jamani











Saat ini belum ada komentar