Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Hadi Tjahjanto & Raja Juli Antoni: Sikat Mafia Tanah & Bereskan Tata Ruang!

Hadi Tjahjanto & Raja Juli Antoni: Sikat Mafia Tanah & Bereskan Tata Ruang!

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sab, 18 Jun 2022
  • visibility 114
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Andre Vincent Wenas

Presiden Jokowi bilang, ada sekitar 126 jutaan lahan tanah yang mesti disertifikasi, baru terealisasi sekitar 80 jutaan. Masih ada tunggakan tugas sekitar 46 jutaan lahan yang mesti disertifikasi. Sementara itu, kata Presiden, kementerian ATR/BPN baru mampu menerbitkan sekitar 500 ribuan sertifikat per tahun. Padahal target Presiden Jokowi adalah sekitar 8—9 juta per tahun.

Kalau begitu cerita realisasinya, berarti masih perlu waktu sekitar 92 tahun lagi untuk melegalisasi seluruh lahan-lahan di Indonesia. Atau kalau target Presiden terpenuhi, artinya masih perlu sekitar 5—6 tahun lagi saja.

Ini batu ujian yang tidak main-main bagi Hadi Tjahjanto dan Raja Juli Antoni yang baru saja dilantik saat reshuffle kabinet baru-baru ini. Mereka berdua bukan sembarang orang yang dipilih Presiden. Rekam jejak mereka menunjukkan telah lulus dari banyak batu ujian di areanya masing-masing.

Tapi Kementerian Agraria dan Tata Ruang/Badan Pertanahan Nasional ini arena baru yang sungguh menantang. Bertugas di Kementerian ini seperti menceburkan mereka kembali ke dalam Kawah Candradimuka (tempat ujian) yang betul-betul mendidih! Kenapa?

Mereka berdua hanya ada waktu 2,5 tahun lagi. Kalau kita memakai asumsi seperti yang dikatakan Presiden Jokowi di atas tadi, apakah akselerasi sertifikasi lahan bisa mencapai 8—9 juta sertifikat per tahun? Demi mengejar 46 jutaan ketertinggalan di bidang kepastian hukum agraria kita.

Kementerian ATR/BPN jelas tidak bisa kerja sendirian. Ia harus bekerja sama dengan instansi penegak hukum (Kepolisian, Kejaksaan dan KPK), yang bersama dengan seluruh pemerintah daerah kompak mengerjakan tugas maha penting dari negara ini. Benar-benar sebuah orkestrasi kolosal (besar-besaran) bahkan untuk sekadar menyanyikan bait lagu, “Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku, di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku.”

Kita bayangkan ada bara api jauh di bawah permukaan yang bisa membuat batu meleleh jadi lava. Dahsyatnya panas itu sampai membuat kawah di permukaan atas jadi mendidih. Bara api itu adalah Mafia Tanah dan Oligarki! Ini sebentuk konspirasi jahat, persekongkolan busuk yang bisa kita rasakan panasnya, namun sumbernya mengalir di bawah permukaan.

Apakah mereka tersembunyi? Tidak juga. Istilahnya, kita sudah tahu sama tahu. Lantaran pada kenyataannya, praktik ‘land-grabbing’ (perampasan lahan) yang terang benderang ujungnya (jadi milik siapa) juga sudah kita sadari dengan cara yang saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya bukan? Mereka tidak tersembunyi, tapi mungkin terlindungi, entah oleh siapa.

Siapa pun tahu, pembangunan fisik (baik itu infrastruktur publik maupun bangunan komersial) mesti mengacu (artinya taat) pada: 1) Aturan tata ruang. Ini area yang – kabarnya – sering ditekak-tekuk oleh konspirasi kepentingan oligarki lewat para mafia tanah. Serta, 2) Kepastian hukum (status legal) dari lahan di mana pembangunan itu bakal dilaksanakan. Artinya menghormati hak kepemilikan lahan tersebut.

Jelas ada persoalan besar di kedua area tersebut: tata ruang serta sertifikasi lahan demi kepastian hukum. Tanpa ada kepastian hukum sebagai fondasi maka apa pun yang dibangun di atasnya bakal gampang digoyah dan roboh. Mafia tanah memang berkepentingan untuk mengail di air yang keruh. Artinya semakin butek aturan dan tak adanya kepastian hukum, maka semakin leluasa, mereka mengeruk (bukan memancing lagi) di air yang keruh itu.

Persoalan ‘land-grabbing’ (perampasan lahan) masih jadi momok yang menakutkan, dan sekaligus biang kerok ketimpangan sosial-ekonomi di Indonesia.

Wong cilik – faktanya – mana bisa dan mana berani bersengketa lewat jalur pengadilan? Bakal dapat tambahan persoalan lantaran mesti berhadapan lagi dengan mafia peradilan (mafia hukum).  Prosesnya bisa super panjang, dan super mahal. Mana tahan?

Tren akuisisi tanah yang semakin marak diburu investor ini diduga juga dipicu gelombang investasi global. Tanah jadi target perburuan demi memaksimalkan profit. Menurut studi yang pernah dilakukan STPN (Sekolah Tinggi Pertanahan Nasional) tahun 2012, tanah itu bersinonim dengan uang, sementara uang bersinonim dengan kekuasaan, maka lebih banyak tanah berarti lebih banyak uang, dan lebih banyak uang berarti lebih banyak kekuasaan, dan bisa punya lebih banyak tanah lagi. Begitu seterusnya.

Baru-baru ini Presiden Jokowi juga menyerukan agar lahan-lahan menganggur bisa ditanami tanaman pangan. Memang isu pangan juga merupakan isu krusial negeri ini. Bahkan isu global juga. Kita tahu  bahwa pangan dan energi adalah juga merupakan faktor pemicu akuisisi tanah.

Makanan merupakan kebutuhan dasar manusia, maka ketersediaan pangan merupakan pertaruhan eksistensi sebuah negara. Sedangkan energi merupakan faktor penggerak, mobilisasi perekonomian. Soal ketersediaan pangan dan energi ini jelas butuh ketersediaan lahan bercocok tanam serta lahan penambangan.

Perampasan lahan (land grabbing) seperti kita sadari bersama adalah sebab, tapi juga sekaligus akibat dari ketimpangan sosial. Maka, masalah disparitas pendapatan memang menjadi salah satu indikator penting di sini. Yang miskin mana bisa melawan kondisi tak adil yang dilakukan si kaya.

Sekilas saja kita tengok laporan ketimpangan yang diukur dengan Rasio Gini. Koefisien Gini adalah bilangan antara 0 dan 1, di mana 0 bermakna “kesetaraan sempurna” (setiap orang memiliki pendapatan setara) dan 1 berarti “ketidaksetaraan sempurna” (di mana terdapat satu/segelintir orang yang meraup seluruh pendapatan, sementara lainnya dapat nol). Jadi, makin kecil bilangan rasio gini adalah semakin baik.

Dari data BPS yang dirilis 17 Januari 2022, ukuran ketimpangan kita tercatat sebagai berikut: Pada September 2021, Gini Ratio adalah sebesar 0,381. Angka ini menurun 0,003 poin jika dibandingkan dengan Gini Ratio Maret 2021 (yang 0,384) dan menurun 0,004 poin dibandingkan dengan Gini Ratio September 2020 (yang 0,385).

Gini Ratio di daerah perkotaan pada September 2021 tercatat sebesar 0,398 turun dibanding Gini Ratio Maret 2021 (yang 0,401) dan Gini Ratio September 2020 (yang 0,399).

Gini Ratio di daerah perdesaan pada September 2021 tercatat sebesar 0,314 turun dibanding Gini Ratio Maret 2021 (yang 0,315) dan Gini Ratio September 2020 (yang 0,319).

Memang ada tren perbaikan (Rasio Gini menurun). Namun ingat, setiap data statistik mestilah selalu dibaca dengan reserve daya kritis. Oxfam juga pernah merilis info tentang konsentrasi kekayaan yang ada di tangan segelintir orang super-kaya di Indonesia. Kabarnya empat orang terkaya di Indonesia setara dengan kekayaan 100 juta penduduk termiskin. Fenomena ketimpangan seperti ini perlu dicermati dengan mengingat-ingat sila keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Artinya, disparitas ekonomi di Indonesia tetap masih menjadi isu penting. Soal ketimpangan ini memang selalu jadi momok paling menakutkan, kerap jadi pemicu kecemburuan sosial dan akhirnya bisa memuncak jadi kerusuhan massal. Kerusuhan bisa merusak hampir segalanya.

Batu sandungan di persoalan agraria kita jelas adalah para mafia tanah. Mafia ini, sekali lagi, adalah sebentuk konspirasi jahat (orang di internal pemerintahan dengan pihak eksternal. Mereka ini jadi eksekutor kepentingan para oligarki (komplotan penguasa-pengusaha, dan atau pengusaha yang bertransformasi jadi penguasa atau sebaliknya: penguasa yang bernafsu jadi pengusaha).

Jelas, Marsekal (Purn) Hadi Tjahjanto sebagai Menteri ATR/BPN dan Raja Juli Antoni sebagai Wakil Menterinya seperti kembali menceburkan diri ke dalam Kawah Candradimuka. Kawah ini super panas, apa pun atau siapa pun yang tercemplung di dalamnya bakal meleleh. Larut dalam arus besar konspirasi jahat itu.

Namun, kalau punya genetika (DNA) Gatotkaca, disertai hati bersih nan berani, maka bisa kita harapkan bakal lahirlah pahlawan baru. Negarawan berotot kawat berbalung besi serta bermental baja. Dan sebagai lulusan Kawah Candradimuka ini, maka tanggung jawab lebih besar menanti di depan untuk diamanahkan kepada mereka berdua. Mempersiapkan dan menghantar Indonesia masuk ke era keemasannya.

Selamat bekerja!

Jumat, 17 Juni 2022

Penulis merupakan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis PERSPEKTIF (LKSP), Jakarta.

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Dampak Pandemi, Unimor Berlakukan Keringanan Uang Kuliah Tunggak

    Dampak Pandemi, Unimor Berlakukan Keringanan Uang Kuliah Tunggak

    • calendar_month Sel, 12 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 84
    • 0Komentar

    Loading

    Kefa-TTU, Garda Indonesia | Universitas Timor (Unimor) di Kefa, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) memberlakukan 2 (dua) sistem perkuliahan yakni tatap muka (offline) dan secara daring (online). Sistem kuliah tersebut diterapkan akibat pandemi Covid-19 sejak Maret 2020. Rektor Unimor TTU, Dr. Ir. Stefanus Sio, M.P. saat ditemui Garda Indonesia di […]

  • ‘Kelor’, Menu Utama Bhayangkari Satbrimobda di Milenial Expo 2019

    ‘Kelor’, Menu Utama Bhayangkari Satbrimobda di Milenial Expo 2019

    • calendar_month Sen, 1 Apr 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | UMKM TERATAI dari Bhayangkari Cabang Satbrimobda NTT menyediakan Menu Kuliner Lokal berupa “Pecel Pincuk Kelor dan Es Dawet Kelor yang telah meramaikan dan memanjakan lidah para pengunjung UMKM saat Millenial Expo Maret 2019 yang dihelat oleh IWAPI NTT bekerjasama dengan Lippo Plaza dan Beta Peduli M2 Reborn di Atrium Lippo Plaza […]

  • Hermanus Man : Calon Pemimpin Perlu Tahu Kelola Konflik

    Hermanus Man : Calon Pemimpin Perlu Tahu Kelola Konflik

    • calendar_month Sab, 30 Apr 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Wakil Wali Kota Kupang, dr. Hermanus Man saat menjadi nara sumber dalam latihan dasar kepemimpinan (LDK) yang dihelat pusat pengembangan anak (PPA) Dewan Anak Kluster Kupang Barat pada Jumat, 29 April 2022, menekankan bahwa anak-anak sebagai calon pemimpin masa depan perlu mengetahui cara mengelola konflik yang timbul akibat perbedaan. Wakil […]

  • Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Tera Ulang 133 SPBU di NTT

    Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus Tera Ulang 133 SPBU di NTT

    • calendar_month Kam, 21 Nov 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 144
    • 2Komentar

    Loading

    Pelaksanaan tera ulang SPBU dilaksanakan pada Rabu, 20 November 2024 bersama dengan Penera Ahli Bidang Kemetrologian dengan hasil tera ulang takaran nozzle di SPBU telah sesuai dengan standar toleransi PASTI PAS SPBU Pertamina yaitu -03% atau -60ml/20L   Kupang | Pertamina Patra Niaga Jatimbalinus memastikan seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) yang berada di […]

  • ‘Colorful East Nusa Tenggara’ Jadi Tema Malam Final Putri Indonesia 2020

    ‘Colorful East Nusa Tenggara’ Jadi Tema Malam Final Putri Indonesia 2020

    • calendar_month Sab, 7 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Penasehat Utama Yayasan Puteri Indonesia Putri Kis Wisnu Wardani mengatakan, melalui pemilihan Puteri Indonesia 2020 juga menjadi ajang promosi destinasi wisata di Indonesia. Khususnya wisata budaya karena Indonesia memiliki kekayaan budaya yang luar biasa. “Puteri Indonesia diharapkan berperan aktif menjadi jembatan bagaimana mengembangkan daerahnya nanti, terutama kaitannya dengan pariwisata Indonesia. Mereka […]

  • Sekolah Plastik Daur Ulang, dari PLN untuk Anak Indonesia

    Sekolah Plastik Daur Ulang, dari PLN untuk Anak Indonesia

    • calendar_month Kam, 24 Jul 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Loading

    Melalui program Tanggung Jawab Sosial dan Lingkungan (TJSL) PLN Peduli, sekolah ini dibangun menggunakan material ecoblock yang berasal dari 2 ton sampah botol plastik daur ulang.   Sumba | PT PLN (Persero) kembali menegaskan komitmennya dalam inovasi berkelanjutan dengan meresmikan gedung baru TK Negeri Kalu Manandang di Kecamatan Kambera, Kabupaten Sumba Timur, Nusa Tenggara Timur. […]

expand_less