“Matahari Dalam Tanah” Mengulik Dialog dan Tantangan Geotermal di NTT
- account_circle Roni Banase
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 62
- comment 0 komentar

![]()
Kupang | Listrik, ganti rugi dan pembangunan. Apakah mereka paham?Apakah benar aman? Sumur bor PLTP (listrik geotermal), masyarakat bukan menolak, namun belum paham apa itu listrik yang bersumber dari panas bumi.
Itu beberapa refleksi peluncuran film dokumenter, Matahari Dalam Tanah, Minggu sore, 1 Maret 2026 yang diinisiasi oleh PLN Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) melalui Unit Pelaksana Proyek (UPP) Nusra 3 bersama Tribun EO dan Harian Pos Kupang.
Film karya sineas muda Nusa Tenggara Timur (NTT) ini menjadi media reflektif yang memotret dinamika pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP). Disutradarai Faldo Lango, “Matahari dalam Tanah” mengikuti perjalanan Maria Sholastika Maunino (Mira), perempuan muda berdarah Timor dari Lembata. Ia kembali ke kampung halamannya di tengah proyek geotermal dan berupaya memahami pro dan kontra di tengah masyarakat.
Link film Matahari Dalam Tanah https://youtu.be/w4FJIrlFUy4?si=gy96dyHifRcfEhgt
Perjalanan Mira membawanya ke Ulumbu di Ruteng, Manggarai, yang telah lebih dahulu merasakan manfaat listrik dari PLTP. Di sana, anak-anak belajar dengan penerangan yang memadai dan aktivitas ekonomi warga mulai bertumbuh. Sementara di Mataloko, ia mendapati kegelisahan dan keragu-raguan warga terhadap eksplorasi geothermal. Dari Ulumbu hingga Atadei, film ini merangkum beragam perspektif tentang energi panas bumi secara utuh.
Berbekal pendekatan jurnalistik dan sinematografi, “Matahari dalam Tanah” menghadirkan suara tokoh adat, petani, perempuan, hingga anak-anak. Film ini sekaligus membuka ruang dialog mengenai bagaimana pembangunan energi hijau dapat berjalan berdampingan dengan nilai tradisi dan ekologi.
Diproduksi oleh talenta lokal NTT, eksekutif produser Kristanto Bisilisin, produser dan penulis naskah Clara Marly, serta sutradara Faldo Lango, “Matahari dalam Tanah” menjadi bukti kolaborasi antara PLN, media, dan insan kreatif daerah dalam mendukung transisi energi yang inklusif.
Penayangan film dokumenter berdurasi 1 jam 6 menit ini dihadiri Senior Manager Perizinan, Pertanahan dan Komunikasi PT PLN (Persero) UIP Nusra Bruly Victor Tarigan, Senior Manager Transmisi & Distribusi PT PLN (Persero) Unit Induk Wilayah (UIW) NTT Suparje Wardiyono, Manager PLN UPP Nusra 3 Agung Triwibowo, unsur Forkopimda, jajaran pemerintah daerah, pimpinan media, serta para tamu undangan dan awak media.

Pose bersama jajaran PLN UIP Nusra, PLN UPP Nusra 3, dan redaktur Pos Kupang. Foto : tim PLN UIP Nusra
Pimpinan Redaksi Harian Pos Kupang, Dion D.B Putra, menegaskan film ini dihadirkan sebagai ruang dengar bersama. Menurutnya, energi baru terbarukan merupakan kebutuhan yang tak terhindarkan, namun implementasinya harus dibangun di atas keterbukaan dan partisipasi publik.
Manager PLN UPP Nusra 3, Agung Triwibowo, menyampaikan NTT memiliki potensi panas bumi yang besar dan perlu dikelola secara tepat agar memberi manfaat nyata bagi masyarakat. Ia menilai masih banyak masyarakat yang belum memperoleh informasi utuh mengenai geotermal, sehingga film ini diharapkan menjadi sarana edukasi dan literasi energi.
“Ada di dalam film tadi, jangan langsung menolak, lihat dulu. Kalau perlu bandingkan dengan tempat lain yang sudah ada PLTP, apakah di sana rusak atau justru memberikan kemakmuran bagi masyarakat. Jangan langsung menolak, apabila kurang jelas silakan ditanya, kami membuka ruang dialog,” kata Agung.
Senior Manager PLN UIP Nusra, Bruly Victor Tarigan, menyampaikan bahwa membangun di ruang ekologi bukan perkara sederhana karena alam menyimpan sejarah sekaligus menjadi sumber kehidupan masyarakat. Menurutnya, keberhasilan pengembangan geotermal turut ditentukan oleh relasi yang terbangun antara pemerintah, pelaku pembangunan, dan masyarakat di atas permukaan.
General Manager PT PLN (Persero) UIP Nusra, Rizki Aftarianto, menegaskan kehadiran film ini merupakan bagian dari komitmen PLN membangun komunikasi yang transparan dan partisipatif dengan masyarakat. “Melalui film ini, kami ingin menunjukkan bahwa PLN membangun ruang dialog, mendengar aspirasi, dan memastikan pembangunan energi bersih berjalan bersama kepentingan masyarakat serta kelestarian lingkungan,” tandasnya.(*)
- Penulis: Roni Banase
- Sumber: Tim PLN UIP Nusra











Saat ini belum ada komentar