Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Mengelola Sisi ‘Demand’ via Diversifikasi Pangan Lokal Ketimbang Impor

Mengelola Sisi ‘Demand’ via Diversifikasi Pangan Lokal Ketimbang Impor

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Rab, 17 Mar 2021
  • visibility 140
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Andre Vincent Wenas

Di samping sisi supply (pasokan) dalam program ketahanan pangan nasional, kita selayaknya juga merekayasa ulang sisi demand (permintaannya). Apa maksudnya?Sederhana. Maksudnya supaya kita tidak melulu tergantung pada satu komoditi utama pangan, yaitu beras.

Kuliner Indonesia terkenal sangat bervariasi sumber karbohidrat dan kalorinya. Kita bicara soal umbi-umbian dan sagu misalnya, dengan segala macam cara mengolahnya. Kaya sekali warisan budaya kuliner serta potensi Indonesia ini.

Sementara itu, kita pun sudah mendengar rencana pemerintah (Menteri Airlangga Hartarto) untuk mengimpor 1 juta ton beras, katanya demi menjaga stok pada posisi aman. Lalu, isu ini jadi ramai, dan tentu polemik dari berbagai kalangan. Mulai dari ‘man on the street’ sampai pengamat bertitel berendeng. Termasuk Bulog juga belum menentukan sikap.

Ada yang tidak peduli, ada yang oke-oke saja, dan tentu saja ramai sekali yang mempertanyakan, sambil curiga juga apa maksudnya mau impor 1 juta ton beras? Memang ada perbedaan data soal stok beras ini. Kita ambil contoh versi dari Kementerian Pertanian (Kementan) dan versi dari Faisal Basri misalnya.

Menurut Kementan, stok akhir beras tahun 2020, yang menjadi stok awal 2021 adalah 7,4 juta ton. Ditambah rencana produksi selama kuartal satu 2021 sebesar 17,5 juta ton, maka stok beras sampai Mei 2021 adalah 24,9 juta ton.

Dengan perkiraan konsumsi (demand) beras sampai Mei 2021 yang sebesar 12,3 juta ton, masih bakal terdapat surplus stok sekitar 12,6 juta ton (per bulan Mei 2021). Sementara itu, menurut Faisal Basri, “Stok akhir pada akhir 2020 memang di bawah 1 juta ton, mirip dengan kondisi akhir 2017. Namun, peningkatan produksi yang cukup tajam, khususnya pada April-Mei, sudah di depan mata.”

Lalu dengan mengutip data BPS, Faisal Basri mengatakan bahwa, “Potensi produksi beras Januari—April tahun 2021 mencapai 14,54 juta ton, meningkat sebanyak 3,08 juta ton atau 26,84 persen dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu. Kenaikan ini tak lepas dari kenaikan potensi luas panen yang cukup menjanjikan yaitu sebesar 1 juta hektar selama periode yang sama dibandingkan tahun lalu. Ditopang pula oleh potensi kenaikan produktivitas.”

Jadi, kalau kita membandingkan dua perbedaan data tadi, stok akhir 2020 (Kementan 7,4 juta ton, sedangkan Faisal Basri kurang dari 1 juta ton) dan rencana produksi nasional kuartal satu 2021 (Kementan 17,5 juta ton, Faisal Basri  14,54 juta ton) maka dengan tingkat konsumsi sebesar 12,3 juta ton sampai Mei 2021, tetap saja posisi per Mei 2021 adalah surplus.

Jadi sementara ini, kita tinggalkan saja dulu polemik soal rencana impor beras 1 juta ton itu. Kita pantau saja argumen mana yang paling masuk akal. Dalam kesempatan ini kita hanya mau mengingatkan kembali soal pentingnya diversifikasi pangan, sehingga tidak terlalu tergantung dengan politik ekonomi beras. Arahnya ke umbi-umbian, bukan ke gandum atau terigu yang juga masih diimpor besar-besaran.

Menurut kajian yang pernah dilakukan oleh para ahlinya, sebetulnya umbi-umbian merupakan komoditi pangan yang sangat besar potensinya. Mengacu pada data Kementan tahun 2015, produksi ubi kayu di Indonesia mencapai 21,8 juta ton, ubi jalar 2,3 juta ton dan kentang sebanyak 1,2 juta ton.

Ada lagi umbi talas yang menurut BPS tahun 2012 produksinya mencapai 312.7 ribu ton. Produksi bengkuang pada tahun 2008 mencapai 57 ribu ton. Belum lagi kita bicara soal sagu. Jadi, potensi produksinya amat banyak. Umbi-umbian juga punya kandungan gizi dan karbohidrat yang baik. Sehingga bisa jadi bahan pangan alternatif pengganti beras. Tumbuhnya pun bisa di daerah marjinal, serta bisa pula disimpan dalam bentuk tepung atau pati.

Membaca politik ekonomi beras saat ini, tampaknya lebih sarat dengan dimensi politik ketimbang ekonominya.

Seperti pernah disinyalir oleh Faisal Basri, “Salah satu kondisi ekstrem terjadi pada Oktober 2019. Harga beras eceran di Indonesia kala itu Rp.13.978/kg. Pada waktu yang sama, harga beras Vietnam setara dengan Rp.4.561. Selisih harga yang lebih dari tiga kali lipat itu amat menggiurkan.”

Lanjutnya, “Selandainya pun dibandingkan dengan harga eceran tertinggi untuk beras medium di Jawa (Rp9.450/kg), selisihnya dengan beras Vietnam masih dua kali lipat. Katakanlah beras impor Vietnam sampai di pasar domestik menjadi Rp7.000/kg, keuntungan yang diraup setidaknya Rp2.500/kg.”

Sehingga, “Dikalikan dengan 1 juta ton, maka keuntungan bersih bisa mencapai Rp2,5 triliun.”

Nah itu dia! Menteri-menteri yang berasal dari parpol maupun yang bukan dari parpol tapi punya ambisi di tahun 2024 nanti, tentu perlu menumpuk amunisi dan logistik politiknya masing-masing. Ini hal yang gampang sekali dicerna oleh akal sehat rakyat kebanyakan.

Namun, sementara ini biarlah itu jadi urusan mereka dan pemerintah, yang penting buat rakyat adalah perut kenyang, sehingga bisa diajak berpikir waras.

Dan kali ini kita mengajak semua pihak untuk bersama-sama memikirkan kembali serta mengolah sisi demand (permintaan, konsumsinya) ketimbang pusing dengan sisi supply (pasokannya) dengan cara gampangan, yaitu impor.

Kita sangat berharap, diversifikasi pangan bukan lagi sekedar wacana di ruang publik, tapi sudah menjadi menu sehari-hari di meja makan.

Bagaimana?

Selasa, 16 Maret 2021

Penulis merupakan Direktur Kajian Ekonomi, Kebijakan Publik & SDA Lembaga Kajian Anak Bangsa (LKAB)

Foto utama oleh pertani.co.id

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • CSR JNE Kupang, Distribusi Bantuan Erupsi Gunung Ile Lewotolok di Lembata

    CSR JNE Kupang, Distribusi Bantuan Erupsi Gunung Ile Lewotolok di Lembata

    • calendar_month Ming, 6 Des 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 170
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Semenjak erupsi kedua Gunung api Ile Lewotokok di Kecamatan Ile Ape, Kabupaten Lembata, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Minggu, 29 November 2020 pukul 09:45 WITA; JNE Kupang sebagai perusahaan yang bergerak dalam jasa pengiriman telah menggalang CSR (Corporate Social Responsibility) berupa pengiriman gratis berbagai bantuan kepada para pengungsi. Emi I […]

  • Deklarasi AMMTC XVII Labuan Bajo, Berantas Kejahatan Lintas-Negara

    Deklarasi AMMTC XVII Labuan Bajo, Berantas Kejahatan Lintas-Negara

    • calendar_month Rab, 23 Agu 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Loading

    Labuan Bajo, Garda Indonesia | Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo mengungkap hasil pertemuan ASEAN Ministerial Meeting On Transnational Crime (AMMTC) H+3 ke-17 di Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur (NTT). Sigit menyebut, dalam sidang pertemuan yang dilaksanakan mulai 21—22 Agustus, menghasilkan 16 dokumen, di antaranya terdapat 4 (empat) deklarasi, di mana 3 (tiga) merupakan inisiatif dari […]

  • Pemerintah Abai, Anak Muda Manggarai Galang Dana Perbaikan Jalan

    Pemerintah Abai, Anak Muda Manggarai Galang Dana Perbaikan Jalan

    • calendar_month Ming, 31 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 308
    • 0Komentar

    Loading

    Salah satu anak muda, Jefri Pamput kepada media ini pada Kamis, 28 Agustus 2025, mengatakan sudah banyak pengendara sepeda motor yang nyaris terjatuh dan terancam kehilangan nyawa akibat kerusakan fasilitas infrastruktur publik itu.   Manggarai | Sekelompok anak muda di Kampung Raci, Desa Wae Codi, Kecamatan Cibal Barat, Kabupaten Manggarai, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), […]

  • Kontestasi dalam Pemungutan Suara Ulang di Sabu Raijua

    Kontestasi dalam Pemungutan Suara Ulang di Sabu Raijua

    • calendar_month Ming, 30 Mei 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 116
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : David B.W.Pandie Pilkada 2020 di Sabu-Raijua berbuntut panjang setelah Mahkamah Konstitusi (MK)  dalam amar putusannya Nomor 135/PHP.BUP-XIX/2021 yang dibacakan pada Kamis, 15 April 2021 di Ruang Sidang Pleno MK menganulir hasil pemilu. Inti keputusan itu adalah mendiskualifikasi pasangan calon (Paslon) nomor urut 2, Orient Patriot Riwu Kore dan Thobias Uly sebagai peserta dalam […]

  • Kopdit Pintu Air Perangi Rentenir, Dukung Petani Jagung di Dompu

    Kopdit Pintu Air Perangi Rentenir, Dukung Petani Jagung di Dompu

    • calendar_month Sen, 28 Nov 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 146
    • 0Komentar

    Loading

    Dompu, Garda Indonesia | KSP Kopdit Pintu Air sebagai koperasi peringat satu nasional dari sisi jumlah anggota, telah hadir sejak tahun 2018 melayani masyarakat dengan status Kantor Cabang Pembantu (KCP) di Kabupaten Dompu, Provinsi Nusa Tenggara Barat. Koperasi yang berkantor pusat di Kampung Rotat, Desa Ladogahar, Kecamatan Nita kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur itu kini […]

  • Bank NTT Jadi Pengelola Kas Titipan BI Terbanyak di Seluruh Indonesia

    Bank NTT Jadi Pengelola Kas Titipan BI Terbanyak di Seluruh Indonesia

    • calendar_month Sab, 23 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Kami bersyukur memiliki para pemegang saham yang memiliki komitmen yang sangat luar biasa untuk terus mengawal bank ini bisa menjadi hebat dan besar bagi pembangunan di Nusa Tenggara Timur ini. Kesanggupan dan perhatian dari pemegang saham sangat besar sehingga ada tiga sampai empat langkah yang sudah dilakukan,” ujar Plt. Direktur Utama […]

expand_less