Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Pentingnya Jadi Ayah Hebat untuk Dukung Tumbuh Kembang Anak

Pentingnya Jadi Ayah Hebat untuk Dukung Tumbuh Kembang Anak

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 12 Jan 2020
  • visibility 126
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Derry Fahrizal Ulum

Pemberian pola asuh dan hubungan dalam rumah tangga memberikan pengaruh bagi perkembangan anak, yang pelaksanaannya dipengaruhi oleh konteks. Sebagai orang pertama yang berinteraksi dengan anak dalam keluarga, orang tua atau pengasuh memainkan peran penting dalam perkembangan anak, terutama selama masa kanak-kanak hingga usia pra-sekolah.

Banyak penelitian secara global menyatakan bahwa gaya pengasuhan dalam keluarga memiliki peran penting dalam berbagai fase perkembangan anak. Berbagai faktor telah mempengaruhi fungsi pengasuhan, yakni sistem makro (mengacu pada nilai-nilai budaya, tradisi, dan hukum) serta sistem mikro (mengacu pada hubungan dan interaksi antara orang tua/pengasuh dengan anak-anak mereka).

Indonesia adalah negara yang memperjuangkan nilai-nilai yang kuat seperti rasa kekeluargaan dan rasa memiliki yang kuat terhadap keluarga–bahkan tidak jarang keluarga di sini tidak hanya terdiri dari keluarga inti (ayah, ibu, anak), namun juga keluarga besar (ayah, ibu, anak, ditambah dengan anggota keluarga lain seperti kakek, nenek, paman, bibi, sepupu, dan sebagainya) yang tinggal di satu rumah atau berdekatan, serta saling turut terlibat dalam suatu keputusan anggota keluarga.

Orang Indonesia juga cenderung menghargai kebijaksanaan, moral, dan norma masyarakat. Studi terbatas dari Bank Dunia pada tahun 2015 yang meninjau Program Pendidikan Pengasuhan di Indonesia menyarankan bahwa praktik pengasuhan saat ini perlu mengurangi – bahkan menghilangkan – praktik hukuman fisik oleh orang tua atau pengasuh untuk melindungi kesehatan dan keselamatan anak-anak.

Memahami sikap, pengetahuan, pemahaman, dan praktik pengasuhan saat ini sangat penting untuk mengidentifikasi kesenjangan serta pendorong dan hambatan agar dapat mempromosikan praktik yang baik demi peningkatan kesejahteraan, kesehatan, dan perlindungan anak.

Di Aceh misalnya, penelitian tahun 2018 yang dilakukan oleh Amani, Savitri, dan Bintari yang berjudul Pelibatan Ayah dalam Pengasuhan Anak di Aceh menunjukkan bahwa banyak pengasuhan sebagian besar dilakukan oleh para ibu dengan dukungan terbatas dari ayah, karena anggapan bahwa pengasuhan anak adalah tanggung jawab ibu.

Situasi ini tentunya menjadi tantangan bagi banyak perempuan yang hidup dalam rumah tangga miskin karena kebanyakan dari mereka terlibat dalam mencari nafkah untuk memperoleh uang tambahan di samping melakukan urusan rumah tangga rutin. Dengan beban ini, para ibu mengalami keterbatasan dalam mendapatkan pengetahuan baru tentang pengasuhan anak dan mereka bergantung pada tradisi lokal tentang cara merawat bayi mereka.

Misalnya, banyak ibu di Aceh yang tidak mengerti atau memiliki pemahaman yang salah tentang pemberian ASI eksklusif kepada bayi yang baru lahir. Temuan dari suatu penelitian dari UNICEF menceritakan bahwa seorang ibu di Lhok Nga, Aceh mengatakan bahwa ia biasa memberikan pisang dan madu kepada bayinya yang berusia 3 bulan. Bagi banyak ibu di sini, ketika bayi menangis setelah disusui, ibu menganggapnya sebagai rasa lapar dan berpikir bahwa ia membutuhkan lebih banyak asupan dibandingkan hanya sekadar ASI.

Data tahun 2016 dari Kementerian Kesehatan menyatakan bahwa hanya 23,5% bayi baru lahir di Aceh yang menerima pemberian ASI ekslusif selama enam bulan. Keterlibatan ayah dalam hal ini menjadi signifikan dan karena itu perlu disadari pentingnya menemukan saluran yang tepat untuk membuat ayah sadar akan perannya untuk mendukung para ibu dalam mengasuh anak-anak mereka.

Ayah seringkali kurang terwakili dalam intervensi atau program tentang pengasuhan, padahal mereka adalah target penting untuk dilibatkan. Dalam sebuah temuan jurnal, melaporkan bahwa ayah berkeyakinan intervensi atau program pengasuhan diperuntukkan bagi ibu, dan bahwa yang harus hadir utamanya adalah ibu.

Selain itu, kurangnya pengetahuan, kesadaran, dan minat dalam intervensi pengasuhan menjadi alasan lainnya. Sehingga, diperlukan penggunaan pesan yang secara khusus memang menargetkan ayah, misalnya ‘Program Menjadi Ayah Hebat’.

Hambatan lain dalam penelitian tersebut juga membahas keyakinan ayah mengenai peran gender tentang pengasuhan dan orang tua. Ayah menganggap dirinya sebagai orang tua yang ‘melindungi’ dan ‘maskulin’ (sebagai penyedia kebutuhan keluarga dan penjaga kedisiplinan anak) dibandingkan peran ibu yang berbeda (misalnya: urusan-urusan domestik). Dengan demikian, ayah yang memiliki anggapan tersebut cenderung memiliki penolakan untuk terlibat dalam intervensi.

Intervensi pengasuhan bertujuan untuk mengubah sikap dan keyakinan serta praktik pengasuhan sehingga ada kemungkinan bahwa intervensi mengubah keyakinan maskulin menjadi penting agar ibu dan ayah berbagi peran. Sebuah studi baru-baru ini menemukan bahwa ayah yang memiliki keyakinan norma-norma maskulin menunjukkan praktik pengasuhan yang kurang positif, dan mengasuh dengan lebih keras, dan ini adalah perilaku yang perlu diubah melalui intervensi. Studi ini juga menemukan bahwa ayah yang menganut kepercayaan maskulin meminimalkan dirinya untuk terlibat dalam pengasuhan anak.

Dengan demikian, ayah dengan kepercayaan yang lebih maskulin mungkin mendapat manfaat paling besar dari program pengasuhan jika mereka pada akhirnya mau terlibat dalam intervensi, dan pesan mengenai pentingnya keterlibatan ayah mungkin sangat penting bagi ayah.

Program-program dan penelitian di masa depan perlu bertujuan untuk menargetkan ayah yang menganut kepercayaan maskulin dalam mengasuh anak, dan mengeksplorasi penggunaan strategi khusus untuk melunturkan keyakinan ini.

Mari menjadi ayah hebat yang ikut aktif mengasuh anak secara positif! (*)

(*/Penulis merupakan pegiat anak)
Editor (+rony banase) Foto oleh titikdua.net

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Mengenal Syamsul Jahidin, Mantan Satpam Pengguncang Markas Polisi

    Mengenal Syamsul Jahidin, Mantan Satpam Pengguncang Markas Polisi

    • calendar_month Sen, 17 Nov 2025
    • account_circle Rosadi Jamani
    • visibility 745
    • 0Komentar

    Loading

    Publik ramai membicarakan sosok pemberani, dan mantan Satpam. Sosok ini telah mengguncang markas polisi. Dialah Syamsul Jahidin, bukan Syamsul yang itu ya. Ini asli Syamsul pemberani. Namanya, dari lahir memang Syamsul Jahidin. Ia bukanlah dari akademi kepolisian, bukan dari barisan keluarga ningrat, melainkan dari pos satpam. Tempat paling jujur untuk belajar tentang negara, menjaga pintu, […]

  • Polisi Lalu Lintas Darurat

    Polisi Lalu Lintas Darurat

    • calendar_month Sab, 18 Feb 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Roni Banase Usai menikmati berkat Tuhan di warung makan di samping Apotik Rahayu Cideng, daerah Roxy, Jakarta Pusat pada Senin, 19 Desember 2022 sekitar pukul 18.35 WIB, saya melihat sekelompok anak muda sementara mengatur alur lalu lintas yang sementara padat merayap. “Hoi, Hei,” teriak seorang anak muda kisaran usia 18 tahun sambil memberikan […]

  • Menteri PPPA : Bijak Berinternet, Hak Anak Terpenuhi Namun Tetap Terlindungi

    Menteri PPPA : Bijak Berinternet, Hak Anak Terpenuhi Namun Tetap Terlindungi

    • calendar_month Sel, 21 Jul 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Bintang Puspayoga menekankan pentingnya peran orang tua mendampingi anak dalam mengakses internet. Apalagi pada masa pandemi Covid-19 ini, internet menjadi kebutuhan bagi anak dalam melaksanakan kegiatan belajar dari rumah. “Perlindungan dan pemenuhan hak anak harus diwujudkan kapan saja dan di mana saja tidak terkecuali […]

  • Bantu Siswa Jakarta, Pramono Anung Hapus Ribuan Ijazah Tertahan

    Bantu Siswa Jakarta, Pramono Anung Hapus Ribuan Ijazah Tertahan

    • calendar_month Kam, 21 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 215
    • 0Komentar

    Loading

    Pramono menekankan pentingnya program pemutihan ijazah sebagai langkah nyata membuka jalan bagi anak-anak Jakarta untuk melanjutkan pendidikan dan memperbaiki taraf hidup.   Jakarta | Fakta di lapangan banyak menunjukkan bahwa penahanan ijazah di sekolah karena tunggakan biaya SPP masih banyak terjadi di berbagai daerah. Tentu hal tersebut menjadi tantangan bagi setiap kepala daerah untuk menuntaskannya. […]

  • Sudah 174 Orang Tewas, Istana Belum Cap Status Darurat Nasional

    Sudah 174 Orang Tewas, Istana Belum Cap Status Darurat Nasional

    • calendar_month Sab, 29 Nov 2025
    • account_circle Rosadi Jamani
    • visibility 380
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Rosadi Jamani Saya mencoba menyuguhkan tulisan secara komprehensif. Cukup lama mengumpulkan data-datanya. Ini terkait Bencana Sumatera yang sudah memakan korban 174 jiwa. Pada detik-detik terakhir November 2025, tepatnya 29 November, ketika siklon tropis Senyar masih mengamuk dengan hujan deras yang tak kunjung reda, Pulau Sumatera memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara paling mengerikan yang […]

  • Jika Ada Pabrik Semen di Matim, VBL : Matim Akan Bertumbuh Luar Biasa!

    Jika Ada Pabrik Semen di Matim, VBL : Matim Akan Bertumbuh Luar Biasa!

    • calendar_month Jum, 26 Jun 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 119
    • 0Komentar

    Loading

    Matim-NTT, Garda Indonesia | Dalam kunjungan kerja (Kunker) Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) di daratan Flores khususnya di Kabupaten Manggarai Timur (Matim) ada pernyataan yang menarik. “Kita juga bersyukur dengan pembangunan di Matim, walaupun kita tahu bahwa ada polemik terhadap pembangunan pabrik semen,” tandas Gubernur VBL saat tatap muka bersama masyarakat di Kelurahan Pota […]

expand_less