Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Pidato Presiden Jokowi: Giring Ganesha Optimis, Ahmad Syaikhu Pesimis

Pidato Presiden Jokowi: Giring Ganesha Optimis, Ahmad Syaikhu Pesimis

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Rab, 18 Agu 2021
  • visibility 140
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Andre Vincent Wenas

Terhadap pidato kenegaraan Presiden Joko Widodo barusan ada dua tanggapan dengan nada (tone) yang berbeda. Ada pandangan ala Giring Ganesha (Plt.Ketum PSI) yang bernada positif (optimistik), dan satunya dari Ahmad Syaikhu (Presiden PKS) yang bernada negatif (pesimistis).

Begitulah diskursus (wacana) dalam negara demokrasi. Narasi yang dibangun bisa saja saling berseberangan, tapi seyogianya bisa saling melengkapi juga. Seharusnya. Hanya saja dibutuhkan suatu proses pencernaan informasi yang kritis dengan kepala dingin. Tak perlu marah-marah, apa lagi dengan bumbu kenyinyiran yang malah menyesatkan.

Begini pernyataan dari kedua kutub itu,

Bagi Giring Ganesha (PSI), pemenang adalah mereka yang adaptif. Intinya ia sepakat dengan Presiden Jokowi bahwa keberanian untuk berubah merupakan syarat untuk menuju Indonesia yang maju.

Melihat tantangan menjadi peluang untuk transformasi. Seperti kata Presiden Jokowi yang intinya meminta kita semua agar bisa memanfaatkan pandemi ini untuk berani berubah. Suatu ‘turning point’.

Turning point dari apa? Dari paradigma lama ke paradigma baru. Mengapa?

Karena, “Pandemi Covid-19 telah mengubah wajah dunia secara drastis, menjadi sangat berbeda. Kita tak bisa menjalani dunia dengan sikap mental dan kebiasaan masa lalu, yang kaku, yang tidak adaptif. Pemenang masa depan adalah mereka yang adaptif.” Begitu tegas Giring Ganesha.

Lalu apa yang membedakan dengan cara pandang Ahmad Syaikhu (PKS)?

Ahmad Syaikhu justru malah menyayangkan Presiden Jokowi yang selaku Kepala Negara dinilainya kurang berempati atas tingginya angka kematian Covid-19 di Indonesia.

Ahmad Syaikhu bilang, “Kami menyayangkan tidak ada sama sekali rasa empati melalui permintaan maaf dari Pak Jokowi sebagai Presiden RI terkait belum optimalnya penanganan pandemi Covid-19, sehingga menyebabkan tingginya angka kematian yang menimpa rakyat Indonesia.”

Dua kutub cara pandang yang detrimental (berlawanan).

Ini memang mencerminkan posisi kedua parpol itu, yang satu ada dalam koalisi administrasi pemerintah (posisi proponen), sedangkan yang lainnya berseberangan, oposisi (posisi oponen).

Dalam negara demokrasi, perbedaan pandangan antara keduanya tentu boleh-boleh saja. Tak masalah. Tinggallah sekarang publik menilai argumentasi dari keduanya, mana yang bisa diterima akal sehat dan mana yang cuma asal beda saja.

Giring Ganesha (PSI) berargumentasi bahwa,

Realitas pandemi global Covid-19 ini faktanya memang telah mengubah wajah dunia secara drastis, menjadi sangat berbeda. Di mana kita semua tak bisa lagi menjalani kehidupan di dunia ini dengan sikap mental dan kebiasaan masa lalu, yang kaku, yang tidak adaptif.

Justru momentum ini mesti dijadikan semacam “peluang’ untuk mengubah sikap mental kita untuk bisa keluar sebagai pemenang masa depan dengan sikap yang adaptif.

Tapi bagaimana caranya?

Saran Giring Ganesha, “…karena itu, kreativitas dan inovasi harus diberi tempat, jangan dihambat. Kalau perlu disediakan insentif agar semua pihak berlomba-lomba. Terutama pemuda, sebagai aset utama dalam bonus demografi, harus diberi ruang untuk tampil, produktif dan memicu berbagai perubahan.”

Apa yang mesti diubah?

Pertama-tama, birokrasi yang lamban!

“Stigma birokrasi yang lamban dan sulit berubah harus dihapus dengan kerja keras dan cerdas. Kalau birokrasi masih seperti dulu, Indonesia akan sulit dengan cepat mencapai kemajuan,” begitu tegas Giring Ganesha yang juga telah mendeklarasikan dirinya sebagai bakal Calon Presiden RI 2024 itu.

Stigma ini harus diubah. Karenanya semua pihak harus sudah bersiap untuk melakukan perubahan. Ya, harus semua pihak supaya geraknya bisa sinergis. Terutama, lingkungan birokrasi.

Tentu saja, lantaran birokrasi adalah mesin pemerintahan. Representasi dari tubuh kepemimpinan negeri ini. Jika Presiden dan Kabinetnya ibarat kepalanya, maka birokrasi merupakan tubuh, kaki-tangan yang mengeksekusi segala kebijakan yang telah diambil dan ditetapkan.

Sementara itu, di sisi yang berseberangan, argumentasi Ahmad Syaikhu (PKS) dalam mengritisi Pidato Presiden Jokowi adalah berkisar soal cara penanganan pandemi ini oleh Presiden Joko Widodo.

Menurut Ahmad Syaikhu, cara penanganan pandemi Covid-19 di Indonesia masih sporadis atau tidak merata. Kenapa bisa begitu? Menurutnya, hal itu terjadi akibat pemerintah masih belum memiliki road map yang jelas dalam penanganan pandemi.

Sehingga akibatnya, “… kebijakan yang dilakukan sporadis tidak berdasarkan basis ilmu pengetahuan, data, pengalaman dan kemampuan SDM dan birokrasi.” Begitu kritik dari Ahmad Syaikhu.

Lalu soal kebijakan bidang pendidikan semasa pandemi ini, Ahmad Syaikhu menyayangkan tidak disinggungnya soal perlunya menjaga kualitas pendidikan dan sumber daya manusia (SDM).

Kritiknya, “Di bidang pendidikan, tidak ada rencana yang jelas dalam menjaga kualitas pendidikan dan SDM selama Covid-19, khususnya untuk pendidikan SD—SMA, sangat disayangkan.”

Aspek kebijakan ekonomi kerakyatan, khususnya Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM), juga dikritisi Ahmad Syaikhu. Ia menilai belum ada integrasi kuat antara industri dan UMKM sehingga membuat ekonomi Indonesia masih rapuh.

Dalam pandangannya, “Belum ada integrasi yang kuat antara industri dan UMKM, masing-masing berjalan sendiri-sendiri, membuat ekonomi Indonesia rapuh. Padahal terdapat 64 juta pengusaha UMKM.”

Jadi kritik Ahmad Syaikhu berkisar soal empati terhadap korban pandemi, kualitas SDM, birokrasi, kebijakan pendidikan dan ekonomi kerakyatan.

Apakah dalam pidato Presiden Joko Widodo itu tidak tercermin empati kepada para korban pandemi? Apakah Jokowi juga tidak melawat soal efektivitas dan efisiensi birokrasi sampai ke soal pendidikan dan ekonomi kerakyatan?

Tampaknya tidaklah demikian.

Presiden Joko Widodo jelas menyampaikannya dalam pidato beliau (maupun dalam Nota Keuangan) bahwasanya semua isu itu sedang ditangani.

Dan bukan hanya itu saja, bahkan anggaran untuk masing-masing sektor itu pun sudah dialokasikan. Itulah bukti integrasi antara ide dan program pelaksanaannya. Antara gagasan dan anggaran.

Tinggal sekarang, sekali lagi, supaya birokrasi pemerintahan (pusat maupun daerah) bisa mengeksekusinya dengan tuntas. Silakan dilihat kembali penyampaian Nota Keuangannya (hubungan antara gagasan perbaikan dan anggaran pelaksanaannya). Jangan lagi ada kebocoran (korupsi), jangan lagi ada hoaks yang menyesatkan publik.

Memang masih banyak ruang untuk perbaikan (room for improvement). Namun jangan lelah dan lengah untuk terus memperbaiki diri. Seperti ditekankan oleh Giring Ganesha dalam pernyataannya menyikapi pidato Presiden Jokowi itu,

“Meski banyak ruang untuk perbaikan dan pantang berpuas diri, PSI mengapresiasi berbagai kemajuan yang dicapai pemerintah dan lembaga negara lainnya. Kami merasa Indonesia sudah pada arah yang benar”

Kita semua menyadari, tak satu pun negara di dunia ini yang siap dengan terpaan pandemi Covid-19 ini. Namun demikian, tak satu pun negara di dunia ini yang boleh membiarkan pandemi ini menghalangi kita semua untuk menyiapkan dirinya memasuki era normal baru (the new normal).

Menyiapkan diri untuk memasuki era normal baru itu artinya,

Sadar bahwa kita sekarang hidup di tengah dunia yang penuh disrupsi. Maka perlu membangun karakter yang berani untuk berubah sekaligus berani untuk mengubah. Berani untuk menciptakan (kreasi) hal-hal baru. Itulah  fondasi dari bangunan yang kita cita-citakan bersama: Indonesia Maju!

Pesan Presiden Joko Widodo cukup jelas, “Kita telah berusaha bermigrasi ke cara-cara baru di era Revolusi Industri 4.0 ini, agar bisa bekerja lebih efektif, lebih efisien, dan lebih produktif.” Pandemi Covid-19 sekarang ini mesti menambah akselerasi inovasi yang semakin menyatu dalam keseharian kehidupan kita.

Kita garis bawahi bersama: Bekerja lebih efektif, lebih efisien dan produktif. Justru akibat pandemi ini kita percepat (akselerasi) inovasi.

Semua pilar kehidupan kita sedang diuji, semua pilar kekuatan kita sedang diasah. Ketabahan, kesabaran, ketahanan, kebersamaan, kepandaian, dan kecepatan kita, semuanya diuji dan sekaligus diasah.

Cara pandang positif adalah dengan melihat bahwa pandemi ini ibarat kawah candradimuka yang menguji, yang mengajarkan, dan sekaligus mengasah kita sebagai bangsa.

Bangsa yang tangguh, serta mampu untuk terus bertumbuh, di tengah segala tantangan yang ada. Dari Soempah Pemoeda ke Proklamasi Kemerdekaan menuju Indonesia Maju!

Merdeka!

Selasa, 17 Agustus 2021

Penulis merupakan pemerhati ekonomi-politik

Foto utama oleh BPMI Setpres

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tren Pendapatan Meningkat, Dorong PLN Masuk Fortune Global 500

    Tren Pendapatan Meningkat, Dorong PLN Masuk Fortune Global 500

    • calendar_month Jum, 1 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 179
    • 0Komentar

    Loading

    Penjualan listrik didominasi oleh sektor rumah tangga sebesar 43%, disusul sektor industri 30%, sektor bisnis 19%, dan sektor lainnya 8%. Konsumsi listrik rumah tangga tercatat tumbuh 6,62% menjadi 130,43 TWh, sementara konsumsi sektor industri meningkat 4,17% menjadi 92,28 TWh.   Jakarta | PT PLN (Persero) berhasil menembus daftar Fortune Global 500 tahun 2025 dan menempati […]

  • PLN Siap Strategi Mitigasi Perubahan Iklim ‘Carbon Neutral’ pada 2060

    PLN Siap Strategi Mitigasi Perubahan Iklim ‘Carbon Neutral’ pada 2060

    • calendar_month Sel, 30 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 131
    • 0Komentar

    Loading

    Nusa Dua, Garda Indonesia | PT PLN (Persero) melakukan sejumlah upaya mitigasi perubahan iklim, salah satunya dengan memaksimalkan operasional pembangkit yang ada dan secara paralel mengganti pembangkit listrik yang lebih ramah lingkungan. Direktur Perencanaan Korporat PLN, Evy Haryadi mengatakan, PLN telah berkomitmen untuk mengurangi emisi karbon. Selain dukungan penugasan dari pemerintah, juga sebagai bentuk tanggung […]

  • IMO-Indonesia Jalin Komunikasi dengan Dewan Pers

    IMO-Indonesia Jalin Komunikasi dengan Dewan Pers

    • calendar_month Kam, 18 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | “Tim Papat yang didaulat oleh Dewan Pimpinan Pusat Ikatan Media Online ( IMO ) Indonesia untuk membuka dan menjalin komunikasi sekaligus beraudiensi dengan dengan Dewan Pers akhirnya dapat terealisasi”, ujar Yakub F. Ismail Ketua Umum IMO-Indonesia kepada awak media di Jakarta, Kamis, 18 Juli 2019. Yakub juga menuturkan bahwa Tim papat […]

  • KPU NTT Tetapkan Kursi & Calon Terpilih Anggota DPRD NTT Tahun 2024

    KPU NTT Tetapkan Kursi & Calon Terpilih Anggota DPRD NTT Tahun 2024

    • calendar_month Kam, 2 Mei 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 130
    • 1Komentar

    Loading

    Kupang, Komisi Pemilihan Umum Nusa Tenggara Timur (KPU NTT) telah melakukan tahapan pemilihan umum (Pemilu) sejak Juni 2024 (sebagai tahapan awal) hingga pada 2 Mei 2024 sebagai tahapan terakhir berupa penetapan perolehan kursi dan calon terpilih anggota dewan perwakilan rakyat daerah provinsi Nusa Tenggara Timur dalam Pemilu 2024. Adapun rapat pleno dibuka oleh Ketua KPU […]

  • Pasal Karet UU ITE, Mahfud MD: Jangan Alergi Terhadap Perubahan

    Pasal Karet UU ITE, Mahfud MD: Jangan Alergi Terhadap Perubahan

    • calendar_month Jum, 26 Feb 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 127
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Menko Polhukam Mahfud MD, mengatakan bahwa hukum adalah produk resultante, dari perkembangan situasi politik, sosial ekonomi hingga hukum. Oleh karena itu jangan alergi terhadap perubahan, karena hukum bisa berubah sesuai dengan perubahan masyarakatnya. “Pemerintah tengah mempertimbangkan untuk membuat resultante atau kesepakatan baru terkait  kontroversi di dalam UU ITE. Hal tersebut bisa  […]

  • Menko Perekonomian Airlangga Bicara Ekonomi Indonesia

    Menko Perekonomian Airlangga Bicara Ekonomi Indonesia

    • calendar_month Kam, 31 Okt 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 184
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Ada 3 (tiga) hal yang menjadi ujung tombak pertumbuhan ekonomi Indonesia, yaitu pasar domestik, investasi, dan kebijakan fiskal. Selain itu, Pemerintah akan menjaga daya beli masyarakat dan mengembangkan lapangan pekerjaan baru. “Kemudian juga ada program-program yang diharapkan bisa memberikan debottlenecking terhadap perekonomian nasional. Mulai dari logistik, perizinan, sampai tahap operasionalisasi pada […]

expand_less