Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Prof. Dr. Cornelis Lay, MA. Duka Cita Bagi Guru, Sahabat, & Cendekiawan Soekarnois

Prof. Dr. Cornelis Lay, MA. Duka Cita Bagi Guru, Sahabat, & Cendekiawan Soekarnois

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Rab, 5 Agu 2020
  • visibility 92
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Hasto Kristiyanto

Berita pagi ini dari Mas Pratik, Menteri Sekretaris Negara tentang dipanggilnya Mas Conny kehadirat Ilahi begitu mengejutkan saya. Seluruh perasaan campur aduk: kesedihan, duka cita, dan sekaligus terbentanglah seluruh rekam jejak sejarah perjalanan bersama Sosok Cendekiawan Soekarnois yang begitu saya kagumi.

Prof. Dr. Cornelis Lay, M.A. merupakan sosok akademisi yang mampu membuat sintesis yang tepat antara pemikiran Bung Karno dan jalan politik Megawati Soekarnoputri. Sintesis pemikiran yang lahir dari kesadaran untuk menjadikan politik sebagai keyakinan ideologis; politik sebagai dedikasi bagi kepentingan umum; politik sebagai kesabaran revolusioner untuk memperjuangkan sebuah tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara yang bebas dari berbagai belenggu penjajahan. Melalui sosok seperti Cornelis Lay, Ibu Megawati Soekarnoputri dapat berdialog berjam-jam, melakukan ‘recalling’ keseluruhan ide, gagasan, cita-cita, dan perjuangan Bung Karno yang dibumikan dalam alam kekinian. Keduanya secara intens membaca apa yang tidak tertulis, merasakan apa yang tidak tampak, dan mencari makna atas setiap peristiwa politik dengan “terang” pemikiran Bung Karno.

Ibu Megawati Soekarnoputri-Cornelis Lay, menjadi sahabat justru karena “sikap bebas” Cornelis Lay yang terus hadir sebagai sosok pemikir-intelektual. Ia tidak melibatkan diri dalam jabatan kekuasaan politik praktis. Ia lebih memilih berdedikasi di dalam mengurai dan memformulasikan sintesa setiap gagasan Bung Karno dalam praktik politik Megawati Soekarnoputri.

Tak heran, dalam setiap langkah, hingga jebakan politik yang sering diciptakan kala berhadapan dengan pemerintahan otoritarian Orde Baru, Ibu Megawati sering kali menempuh jalan diam. Diam sebagai strategi. Diam membangun ruang kontemplasi dan diam penuh kesabaran diri.

Dalam jalan diam itulah, Cornelis Lay hadir, dan menjadi teman, sahabat, sekaligus sparing-partner diskusi Ibu Megawati. Dalam diam itulah sosok Cornelis hadir dan bersama Megawati menggali pemikiran banyak tokoh, merasakan pemikiran itu dalam kesatuan akal budi dan hati.

Dalam periode 1998 hingga 2014, saya sering mendampingi, atau tepatnya mengantar Mas Conny ke Kebagusan, Teuku Umar dan di berbagai tempat, menjadi saksi atas dialog politik yang selalu terjadi dalam keheningan, sebab yang dibahas adalah masa depan negeri. Dalam keseluruhan perjalanan politik, saya sungguh bersyukur, bahwa saya berkesempatan mendapatkan “mutiara gagasan” yang ikut membentuk seluruh kesadaran ideologi, kesadaran politik, dan kesadaran berorganisasi, serta kesadaran berkebudayaan, yang di belakang hari begitu berguna dalam seluruh perjalanan politik saya di PDI Perjuangan.

Melalui Prof. Dr. Cornelis Lay pula, saya memahami keteguhan sikapnya untuk tetap berdiri pada jalan intelektual. Jalan yang menjaga jarak dengan politik, namun menceburkan diri dengan sikap “lepas-bebas” agar tetap bertahan pada obyektivitas dan mengawal kebenaran dalam politik. Apa yang dilakukan Mas Conny ini sejalan dengan sikap intelektual, yang berangkat dari makna ilmu pengetahuan yang digagas Bung Karno untuk diterapkan guna mengabdi pada perjuangan kemanusiaan.

Perjuangan politik kemanusiaan inilah yang terus digagas dan ditekuni oleh Mas Conny. Dengan demikian, penemuannya terhadap Jalan Ketiga Peran Intelektual sebagai Konvergensi Kekuasaan dan Kemanusiaan tidak terlepas dari dialog panjang, dan koneksitas gagasan Bung Karno yang dipraktikkan oleh Ibu Megawati Soekarnoputri.

Interaksi ilmu pengetahuan dan kekuasaan sebagaimana digagas Mas Conny, pernah disampaikan Bung Karno ketika menerima gelar Doktor Honoris Causa Ilmu Hukum, 19 September 1951. Ilmu pengetahuan hanya berharga penuh jika ia dipergunakan untuk mengabdi pada praktik hidupnya manusia, atau praktik hidupnya bangsa, atau praktik hidupnya kemanusiaan… Itulah sebabnya mengapa Bung Karno selalu mencoba menghubungkan ilmu dengan amal; menghubungkan pengetahuan dengan perbuatan, sehingga pengetahuan ialah untuk perbuatan dan perbuatan dipimpin oleh pengetahuan. Buatlah ilmu berdwitunggal dengan amal!

Ilmu dan amal yang digaungkan Bung Karno, dalam praktik politik tidak mudah diimplementasikan. Apalagi ketika selama pemerintahan Orde Baru, dunia akademis sering digunakan untuk melegalisasi kebijakan pemerintah sehingga terjadi “kebekuan” antara dunia akademis dan politik pemerintahan.

Kejernihan Mas Conny terlihat ketika menyintesis pemikiran Bung Karno dengan praktik politik Megawati Soekarnoputri yang berupaya menegakkan prinsip bahwa ilmu pengetahuan dan kekuasaan politik harus berjalan seiring dalam bahasa kemanusiaan.

Ibu Megawati mengalami praktik-praktik politik kotor, homo homini lupus. Manusia dilihat sebagai serigala bagi sesamanya. Bahkan di era politik kontemporer saat ini, praktik menghalalkan segala cara untuk mencapai kekuasaan masih terus dilakukan. Aktor politik banyak melakukan pembunuhan karakter, fitnah, sampai pada penghilangan nyawa lawan politik sebagai satu hal yang biasa.

Refleksi kritis atas berbagai praktik politik kotor yang dialami Ibu Megawati dan PDI Perjuangan, bagi sosok Cornelis Lay menjadi api harapan bahwa jalan politik bukan semata-mata meraih kekuasaan tetapi bersatu dengan rakyat dalam bahasa kemanusiaan, sebab politik itu beradab.

Politik beradab dan jalan kemanusiaan itulah buah ‘dialog batin’ antara Ibu Megawati dan Mas Conny. “Sebagai politisi, setiap kader PDI Perjuangan harus kedepankan politik kemanusiaan, politik humanis, sebagai perwujudan ilmu dan amal”, ujar Mas Conny suatu ketika. Bahkan dalam suatu perjalanan pulang pasca ‘geger politik” Sidang Umum MPR 1999, ketika saya masih awam terhadap berbagai bentuk ‘penjegalan politik’, saya mencatat kata bijak sosok pemikir pejuang tsb: “antara pemilu legislatif dan apa yang terjadi di Sidang Umum MPR 1999 seharusnya merupakan satu nafas kehendak rakyat, one electoral processes. Etika dan moral kekuasaan politik inilah yang harus dipegang. Untuk apa sebuah kemenangan dalam kontestasi politik bila harus mengoyak rasa keadilan dan rasa kemanusiaan serta mengabaikan kehendak rakyat yang disuarakan melalui Pemilu. Maka politik tidak boleh kehilangan watak kemanusiaan itu”.

Jalan kemanusiaan adalah esensi pokok semangat pembebasan yang dikumandangkan oleh Bung Karno. Suatu jalan yang dipraktikkan dalam politik melalui cara berpikir dialektis, berpikir kritis. “Sebab yang diubah bukan hanya tatanan hidup, tetapi juga mentalitas, dan struktur sosial yang tidak adil”, kata mas Conny yang selalu merasuk dalam pikiran saya, membentuk landasan sikap ideologis dan jalan intelektual khas bagi sosok Cornelis Lay.

Karena itulah, saya tidak heran atas gagasan jalan ketiga peran intelektual yang digagas Prof. Dr. Cornelis Lay, M.A. dalam pidato pengukuhan guru besar UGM tersebut. Ke semuanya bertopang dari daya kritisnya.

Melalui daya kritis dan tradisi intelektual yang sama, Mas Conny, memberikan pemaknaan secara akademis atas label melekat yang ditujukan ke PDI Perjuangan seperti demokrasi arus bawah, mimbar demokrasi, posko gotong royong, penggembira politik, hingga label PDI Perjuangan sebagai Partai Wong Cilik. Pemaknaan secara akademis tersebut menjadi basis intelektual atas proses konsolidasi demokrasi dan kristalisasi ideologi. Melalui dialog intens dengan Megawati, Cornelis Lay juga mampu mengurai kegelisahannya ketika berkiprah di dua bidang yang diperhadapkan-hadapkan. Ia adalah ilmuwan yang akrab dengan dunia politik. Penghayatannya pada ajaran-ajaran Bung Karno, dan pengalaman empiris selama berinteraksi dengan Ibu Megawati Soekarnoputri dan PDI Perjuangan membuktikan bahwa peran intelektual sangat dibutuhkan dalam melaksanakan kekuasaan. Akan tetapi watak dan cara kekuasaan yang terbentuk harus berinti pada kemanusiaan.

Pemikiran Mas Conny sangat kontekstual. Harus ada ruang tradisi intelektual dalam kekuasaan agar terjadi konvergensi antara ilmu pengetahuan dan kekuasaan yang dipertemukan dalam bentuk pengabdian pada kemanusiaan. Jalan ketiga dalam politik Indonesia kontemporer bagi kaum intelektual sebenarnya mewujud pada diri Cornelis sendiri. Ia mampu memberikan warna intelektualisasi pada praktik politik di PDI Perjuangan. Di sisi lain, ia juga tidak kehilangan kekritisan akademis ketika berada di antara para politisi.

Kebebasan ruang gerak kaum intelektual ke dalam praktik politik Indonesia tanpa meninggalkan daya kritis keilmuan atau pun menggadaikan pemikiran demi kekuasaan akan menjadi gerbang bagi kebangkitan bangsa di masa depan. Sebab bangkitnya sebuah bangsa sangat ditentukan pada kemampuan menyinergikan kekuatan politik, kekuatan kaum intelektual, dan kekuatan masyarakat.

Kepada Mas Conny, seluruh kader PDI Perjuangan ikut menghayati apa yang menjadi pesan Bung Karno, bahwa dalam setiap perjuangan, pahit-getirnya perjuangan, seluruh romantika, dinamika, dan dialektikanya perjuangan, ke semuanya tidak ada yang sia-sia. Terlebih ketika perjuangan itu didedikasikan bagi kepentingan bangsa dan negara; kepentingan ilmu pengetahuan, dan kepentingan umat manusia pada umumnya. Maka tidak ada perjuangan yang sia-sia, no sacrife is wasted!.

Mas Conny, Bung telah memberikan cahaya terang bagi kehidupan politik yang mengedepankan jalan kemanusiaan. Terimalah rasa terima kasih kami, rasa hormat kami dari seluruh simpatisan, anggota, dan kader PDI Perjuangan. Selamat jalan Mas Conny, engkau telah pergi, namun pemikiranmu akan semakin bersemi.(*)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Enam Partai Politik Daftar Balon DPR RI pada Hari ke-14

    Enam Partai Politik Daftar Balon DPR RI pada Hari ke-14

    • calendar_month Sen, 15 Mei 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 139
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Pada Minggu, 14 Mei 2023, secara berturut-turut, 6 (enam) partai politik (parpol) mendaftarkan bakal calon (balon) anggota dewan perwakilan rakyat (DPR) ke Komisi Pemilihan Umum Republik Indonesia (KPU RI). Dimulai pada pukul 08.37 WIB, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mengajukan balon Anggota DPR RI pada Pemilu 2024, di Kantor KPU. Pengajuan dilakukan […]

  • Pemda Rote Ndao Pakai Map Daun Lontar untuk Berkas Administrasi

    Pemda Rote Ndao Pakai Map Daun Lontar untuk Berkas Administrasi

    • calendar_month Jum, 20 Jan 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 148
    • 0Komentar

    Loading

    Rote Ndao, Garda Indonesia | Pohon Lontar sebagai pohon endemik yang tumbuh di Pulau Rote, Sabu Raijua, Timor, dan beberapa daratan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT); memiliki beragam manfaat. Dari daunnya digunakan sebagai bahan kerajinan dan media penulisan naskah lontar. Barang-barang kerajinan yang dibuat dari daun lontar antara lain adalah kipas, tikar, topi, aneka keranjang, tenunan untuk […]

  • Urgensi Peningkatan Literasi Kemiskinan di NTT

    Urgensi Peningkatan Literasi Kemiskinan di NTT

    • calendar_month Kam, 27 Nov 2025
    • account_circle Yezua Abel
    • visibility 349
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh Yezua Abel, Statistisi pada BPS Kota Kupang Nusa Tenggara Timur (NTT) sudah lama bergumul dengan masalah kemiskinan. Masih banyak daerahnya yang tertinggal, baik dari sisi akses maupun ketersediaan sumber daya. Singkatan NTT sering dipelesetkan menjadi ‘Nanti Tuhan Tolong”, atau “Nasib Tidak Tentu” meskipun saat ini sudah jarang terdengar. Posisi NTT di antara provinsi lainnya […]

  • Megawati Telah Ingatkan Urgensi Proyek Kereta Cepat Sejak 2015

    Megawati Telah Ingatkan Urgensi Proyek Kereta Cepat Sejak 2015

    • calendar_month Kam, 30 Okt 2025
    • account_circle melihatindonesia
    • visibility 404
    • 0Komentar

    Loading

    Megawati sempat mempertanyakan apakah proyek kereta cepat sudah tepat dilakukan pada saat itu dan bagaimana manfaatnya bagi masyarakat luas.   Jakarta | Ketua DPP PDI Perjuangan My Esti Wijayati mengungkapkan bahwa Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri telah jauh-jauh hari menyoroti urgensi pembangunan proyek kereta cepat Whoosh sejak tahun 2015. Pernyataan ini disampaikan My Esti menanggapi […]

  • Gubernur VBL : Jepang Minta 40 Ton Bubuk Kelor Setiap Minggu

    Gubernur VBL : Jepang Minta 40 Ton Bubuk Kelor Setiap Minggu

    • calendar_month Jum, 3 Apr 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Usai melakukan panen jagung di Kecamatan Amabi Oefeto, Kabupaten Kupang, Gubernur Nusa Tenggara Timur Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) juga menyempatkan diri untuk melakukan penanaman anakan Kelor di kecamatan Amabi Oefeto pada Kamis, 2 April 2020, tepatnya di lahan milik PT. Timor Mitra Niaga. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2020/04/02/ikut-program-tjps-gubernur-vbl-apresiasi-kinerja-kelompok-tani-fajar-pagi/ Gubernur menyampaikan rasa terima […]

  • Guru Gugat ke Mahkamah Konstitusi Minta Pensiun Layaknya Dosen

    Guru Gugat ke Mahkamah Konstitusi Minta Pensiun Layaknya Dosen

    • calendar_month Sel, 12 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 263
    • 0Komentar

    Loading

    Sri dalam permohonannya menilai aturan ini bersifat diskriminatif, karena membuat guru kehilangan kesempatan bekerja serta menerima gaji dan tunjangan profesi selama lima tahun.   Jakarta | Mahkamah Konstitusi (MK) menggelar sidang perkara terkait perbedaan batas usia pensiun guru dan dosen, Selasa, 12 Agustus 2025. Perkara Nomor 99/PUU-XXIII/2025 ini diajukan oleh Sri Hartono, guru Bahasa Inggris […]

expand_less