Potensi Prospek Jagung Dukung Ketahanan Pangan dan Ekonomi NTT

Loading

Oleh : Marcelina Christin Edon/BPS Provinsi NTT

Jagung merupakan salah satu komoditi penting di Indonesia ditinjau dari aspek pengusahaan dan pemanfaatan hasilnya yakni sebagai bahan pangan dan pakan ternak.

Sejalan dengan bertambahnya penduduk dan industri pakan ternak, kebutuhan jagung nasional terus meningkat sehingga harus dilakukan impor terutama dari Amerika. Namun demikian, dengan semakin maraknya penggunaan jagung sebagai bioenergi di negara produsen utama tersebut, suatu saat persediaan jagung Indonesia akan terancam sehingga tentunya dapat berdampak buruk pada sektor ekonomi lainnya. Oleh karena itu, kemandirian Indonesia dalam memenuhi kebutuhan jagung dalam negeri sudah harus dimulai yakni dengan peningkatan produksinya melalui pemanfaatan potensi-potensi yang ada secara optimal.

Di Provinsi NTT sendiri, jagung merupakan salah satu komoditi unggulan yang tujuan utama pengusahaannya adalah untuk memenuhi kebutuhan pangan dan pakan ternak. Secara nasional NTT merupakan salah satu provinsi sentra produksi jagung. Produksi jagung (pipilan kering kadar air 14%) tahun 2024 tercatat sebesar 293 ribu ton, menempatkannya pada urutan ke-11 penyumbang produksi jagung nasional. Luas panen, di tahun yang sama sebesar 109 ribu hektar, tertinggi ke-8 dari seluruh provinsi penghasil jagung nasional. Namun demikian, produktivitas jagung NTT merupakan yang terendah secara nasional dengan rata-rata 27 kw/ha dan jauh dari rata-rata nasional yang telah mencapai 59 kw/ha.

Rendahnya produktivitas jagung NTT dan dengan pemanfaatan utama untuk memenuhi kebutuhan lokal untuk menjaga ketahanan pangan masyarakat dan sebagai pakan ternak, menyebabkan jagung belum dapat dijadikan penyokong ekonomi. Lebih lanjut, meskipun provinsi ini merupakan salah satu sentra jagung nasional, kontribusinya terhadap pasokan jagung nasional belum nyata dibanding provinsi sentra lainnya seperti Jawa Timur, Jawa Tengah, Sumatera Utara, NTB, Sulawesi Selatan dan Lampung yang produksinya telah di atas satu juta ton per tahunnya.

Tantangan

Masih rendahnya produktivitas jagung di NTT disebabkan oleh berbagai hal. Selain kondisi alam, seperti perubahan iklim, kenaikan dan penurunan suhu, ketidakstabilan musim dan curah hujan yang berdampak pada tidak stabilnya produksi jagung, Petani jagung NTT juga menghadapi berbagai tantangan lainnya yang berpengaruh pada kualitas dan kuantitas hasil yang ditanam oleh petani.

Dari sisi pengusahaan, jagung di NTT secara umum masih dikelola dalam skala kecil (subsisten) dan belum berorientasi agribisnis atau masih bertujuan terutama hanya untuk memenuhi kecukupan pangan saja. Pada tahun 2023 tercatat 72 persen rumah tangga mengonsumsi seluruh jagung yang diproduksinya.

Berdasarkan hasil Sensus Pertanian 2023, usaha pembibitan tanaman pangan khususnya padi atau jagung oleh Rumah Tangga Pertanian Perorangan (RTUP) sangat rendah yaitu kurang dari dua persen. Dengan rendahnya usahanya pembibitan padi atau jagung akan berdampak terhadap usaha pemenuhan bibit untuk kebutuhan usaha padi dan jagung pada periode tanam selanjutnya. Pada tahun 2023, 34 persen RTUP NTT mendapatkan bantuan subsidi pupuk.

Secara umum pengusahaan pertanian di NTT masih berskala kecil, karena berbagai jenis bantuan pemerintah masih sangat dibutuhkan oleh petani termasuk bantuan subsidi pupuk. Tujuan pemerintah memberikan subsidi benih dan pupuk bagi petani adalah untuk meringankan beban petani dan mendorong pemupukan berimbang dengan harga terjangkau, sehingga produksi dan produktivitas meningkat.

Penyuluh pertanian diperlukan untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan adopsi teknologi pada petani. Hal ini penting untuk meningkatkan produktivitas, efisiensi, dan kesejahteraan petani serta mendukung pembangunan pertanian yang berkelanjutan. Namun, berdasarkan hasil ST2023 hanya sekitar lima persen rumah tangga pertanian perorangan yang pernah mendapatkan penyuluhan pertanian di NTT.

Dukungan lain yang tidak kalah penting yang dibutuhkan oleh petani adalah dukungan permodalan. Permodalan merupakan permasalahan paling mendasar yang dihadapi oleh petani untuk membuat kualitas dan kuantitas hasil pertaniannya lebih maksimal. Untuk membantu petani mengatasi permasalahan permodalan ini, pemerintah telah melaksanakan berbagai program yakni Kredit Usaha Rakyat (KUR) dengan skema khusus untuk usaha pertanian. Namun, pada tahun 2023 tercatat baru 12 persen RTUP yang memiliki akses terhadap KUR.

Dari berbagai tantangan tersebut, usaha tani jagung di NTT belum sepenuhnya mampu meningkatkan pendapatan petani dan perekonomian NTT secara signifikan. Dengan demikian, suatu terobosan tentunya dibutuhkan untuk mengoptimalkan potensi-potensi yang ada dan mengakselerasi produktivitas tanaman jagung sehingga mampu bersaing dengan jagung dari provinsi lainnya baik dari segi kuantitas, kualitas dan harga yang pada akhirnya mendukung peningkatan pendapatan petani jagung dan perekonomian NTT secara keseluruhan.

Potensi

Pengembangan usaha tani jagung di NTT untuk menjaga ketahanan pangan lokal serta mendukung kebutuhan jagung nasional dan sekaligus meningkatkan perekonomian masyarakat tentunya masih sangat prospektif. Hal ini dilihat dari potensi lahan kering yang luas dan peluang pangsa pasar lokal dan nasional yang masih terbuka. Hingga tahun 2024, NTT memiliki lahan yang sementara tidak diusahakan seluas 669.026 ha sedangkan yang sudah dimanfaatkan untuk usaha tani jagung hanya sekitar 108.816 ha sehingga masih sangat memungkinkan untuk dilakukannya upaya ekstensifikasi. Sementara secara ekonomi, pangsa pasar nasional masih sangat membutuhkan pasokan jagung dari daerah-daerah khususnya sentra jagung seperti NTT.

Di samping itu, pengembangan jagung di NTT juga sangat didukung oleh kultur sosial sebagian besar masyarakat yang telah terbiasa menanam jagung ditunjukkan dengan tingginya jumlah rumah tangga tani jagung yang tersebar di seluruh kabupaten dan kota di provinsi ini. Pada tahun 2023, tercatat sebanyak 404 ribu rumah tangga yang melakukan penanaman jagung atau 33,67 persen dari total rumah tangga yang ada di NTT.

Timor Tengah Selatan merupakan kabupaten dengan jumlah rumah tangga petani jagung terbanyak. Tahun 2023 tercatat 81,55 persen rumah tangga di TTS merupakan rumah tangga usaha tanaman jagung dan menyumbang 24 persen dari total produksi jagung di NTT.

Dari sisi ekonominya, Tabel Input Output NTT 2016 mencatat kontribusi nilai tambah komoditi ini terhadap total nilai tambah ekonomi NTT sekitar empat persen, sehingga menjadikannya penyumbang tertinggi keenam. Sementara dua sektor penyumbang tertinggi adalah konstruksi dan pemerintahan dengan masing-masing kontribusi sebesar 11 dan 10 persen.

Harapan

Jagung merupakan komoditas strategis bagi NTT, baik untuk ketahanan pangan lokal maupun sebagai potensi penggerak ekonomi. Namun, rendahnya produktivitas dan masih terbatasnya orientasi agribisnis menjadikan jagung belum maksimal memberi nilai tambah bagi petani dan daerah. Berbagai upaya strategis diharapkan dapat berdampak positif bagai peningkatan produksi jagung di NTT.

Perluasan akses terhadap benih unggul, pupuk bersubsidi, dan penyuluhan pertanian modern dan adopsi teknologi budidaya sudah seharusnya menjadi prioritas.

Mengkaji program akses petani terhadap Kredit Usaha Rakyat (KUR) yang masih rendah misalnya dengan menyederhanakan prosedur dan/atau menggandeng lembaga keuangan lokal untuk menjangkau lebih banyak petani jagung.

Masih banyak lahan tidak diusahakan yang potensial untuk pengembangan jagung. Pemanfaatan lahan ini harus dilakukan dengan perencanaan spasial yang matang dan dukungan infrastruktur irigasi sederhana.

Mendorong lebih meningkatnya usaha pengolahan jagung skala kecil dan menengah seperti tepung jagung, pakan ternak, atau camilan berbasis jagung untuk menambah nilai ekonomi di tingkat lokal.

Singkatnya, kuatnya tradisi bertani jagung di NTT sebagai modal penting yang sudah ada di NTT, luas lahan yang memadai disertai dukungan institusi terkait maka harapan jagung bisa menjadi motor penggerak pertanian modern dan ekonomi kerakyatan di provinsi NTT dapat terwujud.(*)

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *