Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Sandra Dewi dan 88 Tas Mahal

Sandra Dewi dan 88 Tas Mahal

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Sel, 28 Okt 2025
  • visibility 407
  • comment 0 komentar

Loading

Negeri ini memang luar biasa, wak. Tiap kali kita kira udah gila, dia tambah sinting. Datanglah kisah Sandra Dewi, sang putri sinetron yang terseret dalam opera sabun hukum paling mewah di jagat selebritas. Bukan karena main film, tapi karena jaksa menemukan 88 tas mewah, rumah bertingkat bak museum parfum, dan deposito miliaran rupiah hasil “cinta suci” dari suaminya, Harvey Moeis, sang raja timah yang lebih berkilau dari nikel Elon Musk. Simak narasinya sambil seruput kopi Senang khas Sorong, tanpa gula!

Kata jaksa, uang itu ngalir deras dari Harvey ke rekening Sandra, sebagian lagi numpang dulu di rekening asisten, Ratih Purnamasari, yang ATM-nya dikasih balik ke majikannya. Total hampir Rp 894 juta mengalir di situ, belum termasuk transfer lain miliaran rupiah. Tapi ketika jaksa bertanya, Sandra menjawab dengan wajah teduh seolah baru selesai berdoa, “Saya tidak tahu, Pak.” Hukum kita, yang lembut seperti spons basah, menjawab, “Oke Bu, semoga sehat selalu.”

Hukum di negeri ini memang punya cara mencintai yang unik. Ia keras pada maling sandal, tapi lembut pada pemilik Hermes. Kalau rakyat kecil salah kirim uang 500 ribu, bisa dijemput polisi. Tapi kalau artis punya tas 88 biji dari uang negara? Ah, itu Cuma gift of love, bukan gratifikasi, katanya.

Sandra bahkan sempat menggugat penyitaan asetnya. Katanya, itu hasil kerja kerasnya sebagai influencer, hasil endorse dan peluh suci di dunia maya. Mungkin benar. Karena memang, mengetik “#blessed” di caption Instagram itu pekerjaan berat, apalagi sambil membawa 88 tas ke lokasi syuting. Tapi akhirnya gugatan itu dicabut juga, tanggal 28 Oktober 2025, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda. Sebuah sumpah baru lahir, sumpah untuk pasrah.

Kini aset disita, tapi namanya tetap harum. Tasnya jadi milik negara, tapi senyumnya masih punya publik. Ia tidak tersangka, karena katanya “tidak tahu.” Mungkin benar, di negeri ini, pura-pura tidak tahu adalah seni bela diri tertinggi.

Direk bayangkan, wak! Kalau hukum itu orang, mungkin dia sekarang lagi berdiri di depan kaca, nyisir poni, sambil berkata, “Aku gak buta kok, Cuma selektif aja.” Kalau tas-tas Sandra bisa bicara, mungkin mereka sudah berteriak, “Kami korban cinta yang salah transfer!”

Publik pun terbagi dua. Ada yang marah, ada yang kagum. Sebagian iri karena tidak pernah disita tasnya, sebagian lain sedih karena sadar, di Indonesia, keadilan itu kayak diskon, Cuma berlaku buat yang punya merek tertentu.

Tapi lucunya, berita ini malah trending bukan karena korupsinya, tapi karena koleksi tasnya. Netizen sibuk debat, “Hermesnya warna apa, sih?” Padahal negara lagi kehilangan triliunan. Kita semua mendadak jadi fashion analyst di tengah kubangan uang kotor.

Begitulah, kang. Kisah ini menutup babnya dengan tenang. Harvey di penjara, Sandra di rumah, Ratih entah di mana, dan hukum… masih menulis caption baru di Instagram, “Hidup itu indah, asal rekeningnya bukan atas nama asisten.”

Di negeri ini, dosa bisa disemir jadi gaya hidup, kejahatan bisa dilapisi glitter, dan keadilan?

Ah, dia lagi rebahan di butik, nyobain tas nomor 89.

Kisah viral ini seharusnya menjadi cermin betapa glamor sering kali hanyalah lapisan tipis yang menutupi kisah getir di baliknya. Di dunia yang terobsesi pada kemewahan, citra, dan kehidupan sempurna di media sosial, publik terkadang lupa, kejujuran dan tanggung jawab jauh lebih bernilai dari tas Hermes atau saldo miliaran. Kasus ini mengingatkan, kekayaan bukan tolok ukur kemuliaan, dan nama baik tak bisa dibeli dengan rekening atas nama siapa pun. Masyarakat pun diajak untuk tidak mudah menelan citra “sempurna” yang dipoles kamera dan pencitraan, sebab di balik senyum bisa saja tersimpan badai.

Lebih dalam lagi, pesan moral yang tersisa adalah pentingnya menegakkan keadilan tanpa pandang bulu. Hukum semestinya bukan alat kosmetik yang hanya menghias kepala kecil tapi menutup mata pada kepala besar. Jika seseorang benar-benar bersih, biarlah hukum membuktikannya dengan terang. Tapi, bila ada noda yang disembunyikan di balik kemewahan, jangan biarkan kilau emas menutupi bau karat. Keadilan yang selektif hanyalah sandiwara murahan, dan rakyat sudah muak menonton drama yang sama berulang kali dengan aktor yang berganti tapi naskahnya tak pernah berubah.(*)

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Kasus ‘Crazy Rich’ Bandung Doni Salmanan Naik ke Penyidikan

    Kasus ‘Crazy Rich’ Bandung Doni Salmanan Naik ke Penyidikan

    • calendar_month Sab, 5 Mar 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 191
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Bareskrim Polri menaikkan kasus yang menjerat Crazy Rich Bandung, Doni Salmanan ke tahap penyidikan. Doni diduga affiliator investasi bodong aplikasi Quotex. “Terkait dengan Doni Salmanan bukan menggunakan platform Binomo, melainkan menggunakan platform Quotex,” ujar Kabag Penum Divisi Humas Polri Kombes Gatot Repli Handoko dalam keterangannya pada Jumat, 4 Maret 2022. Baca juga : https://gardaindonesia.id/2022/03/03/usai-indra-kenz-giliran-doni-salmanan-dilaporkan-ke-bareskrim-polri/ Adapun […]

  • Lansia Jemaat GMIT Bait El Kampung Baru Penfui Hidup Penuh Berkat & Bernilai

    Lansia Jemaat GMIT Bait El Kampung Baru Penfui Hidup Penuh Berkat & Bernilai

    • calendar_month Sen, 16 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 240
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Kekayaan sesungguhnya bukanlah kaya harta, namun kaya akan pengalaman,” ujar Dr. Welliam Jayapranata kepada para lansia (opa dan oma) dari Gereja GMIT Bait El Kampung Baru Penfui Kupang, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Baca juga : http://gardaindonesia.id/2019/04/14/wisata-lansia-ala-gereja-bait-el-kampung-baru-penfui-kupang/ Sekitar 50 lansia mengikuti Workshop Lansia Bahagia (Happy) yang mengusung tema “Strategi Hidup yang […]

  • Para Calon Menteri Prabowo Terima Pembekalan di Hambalang

    Para Calon Menteri Prabowo Terima Pembekalan di Hambalang

    • calendar_month Kam, 17 Okt 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 200
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta | Menteri Komunikasi dan Informatika Budi Arie Setiadi menyebut calon-calon menteri Prabowo Subianto bakal kembali menerima pembekalan di Akademi Militer (Akmil), Magelang, Jawa Tengah pada Jumat, 18 Oktober 2024. “Ya, nanti hari Jumat,” kata Budi Arie saat ditemui di sekitar gerbang depan kediaman Prabowo di Hambalang, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, sebagaimana dilansir Antara, Rabu […]

  • Periskop Tenun NTT, Erwin Yuan Menenun Waktu

    Periskop Tenun NTT, Erwin Yuan Menenun Waktu

    • calendar_month Sab, 14 Mar 2026
    • account_circle Roni Banase
    • visibility 141
    • 0Komentar

    Loading

    Suara kayu beradu pelan terdengar dari sudut rumah sederhana di sebuah desa di Nusa Tenggara Timur. Tak…tak..ritmenya berulang, teratur, hampir serupa detak jantung. Di sana, seorang perempuan duduk bersila di depan alat tenun, tangannya bergerak sabar menyusun benang demi benang. Bagi sebagian orang, pemandangan itu mungkin terlihat biasa. Namun bagi Erwin Yuan, momen seperti itu […]

  • Luna Maya Ajak Masyarakat Peduli Habitat Gajah Sumatra

    Luna Maya Ajak Masyarakat Peduli Habitat Gajah Sumatra

    • calendar_month Jum, 20 Feb 2026
    • account_circle Penulis
    • visibility 470
    • 0Komentar

    Loading

    Luna Maya menandaskan bahwa melindungi gajah berarti melindungi manusia juga. Manusia dan satwa liar tidak harus bermusuhan. Kita bisa hidup berdampingan kalau kita mau.   Aceh | Gajah Sumatra (Elephas maximus sumatranus) mendiami hutan dataran rendah, hutan rawa, dan hutan gambut di bawah 300 meter dpl, terutama di Riau, Lampung, Sumatra Selatan, Jambi, Bengkulu, Sumatra […]

  • 70 Mahasiswa STIPAS KAK Jalani ‘Live In’ di Rote Ndao

    70 Mahasiswa STIPAS KAK Jalani ‘Live In’ di Rote Ndao

    • calendar_month Sel, 11 Jun 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 140
    • 0Komentar

    Loading

    Rote Ndao-NTT, Garda Indonesia | Live in sebagai sebuah kegiatan pastoral dimana mahasiswa tinggal bersama umat dan merasakan kehidupan umat; dijalani oleh Mahasiswa Sekolah Tinggi Pastoral (STIPAS) Keuskupan Agung Kupang (KAK) di Ba’a dan Pantai Baru Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur Paroki Sto. Petrus Pante Baru dan Paroki Sto. Kristoforus Ba’a Kabupaten Rote […]

expand_less