Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Menalar Data Koperasi dan Peternakan NTT, Menata Arah Kebijakan

Menalar Data Koperasi dan Peternakan NTT, Menata Arah Kebijakan

  • account_circle Indra Achmad Sofian Souri
  • calendar_month Ming, 21 Des 2025
  • visibility 370
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Indra Achmad Sofian Souri

Data yang baik tidak pernah menuntut pembenaran; ia menuntut keberanian untuk dibaca, dipahami, dan ditindaklanjuti. Publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) berjudul Analisis Isu Terkini Provinsi Nusa Tenggara Timur 2025 menghadirkan pesan penting tentang arah pembangunan ekonomi rakyat yang tidak boleh diabaikan. Angka-angka yang tersaji mengandung peringatan bahwa arah kebijakan koperasi dan peternakan rakyat perlu dipertajam.

Secara kuantitatif, koperasi di NTT berkembang pesat. Jumlahnya meningkat dari 4.146 unit pada 2018 menjadi 4.295 unit pada 2024, dengan keanggotaan hampir 2,5 juta orang. Capaian ini menunjukkan meningkatnya kesadaran akan pentingnya ekonomi kolektif. Namun statistik tidak berhenti pada jumlah. Ironisnya, perkembangan ini belum berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan. Pada 2025, tingkat kemiskinan NTT masih memprihatinkan di 18,60 persen, tertinggal jauh dari rata-rata nasional (8,47 persen). Indeks Pembangunan Manusia (IPM) pun berada pada taraf 67,39, jauh pula di bawah capaian nasional (74,20). Hal ini tidak dapat terus-menerus dijelaskan dengan alasan geografis, keterpencilan, atau keterbatasan sumber daya. Fenomena tersebut menuntut evaluasi atas efektivitas instrumen kebijakan ekonomi yang selama ini dijalankan.

Nyatanya, polemik justru muncul ketika data dianalisis lebih dalam. Rata-rata rasio anggota koperasi terhadap penduduk NTT hanya 0,24, dengan median 0,19. Artinya, hanya 19 dari 100 penduduk yang tercatat sebagai anggota koperasi. Kesenjangan antardaerah pun cukup lebar; sebagian besar kabupaten/kota memiliki rasio rendah, berkisar 7 hingga 24 persen dari total penduduk. Kondisi ini menunjukkan bahwa angka partisipasi koperasi relatif rendah dan belum merata secara sosial maupun spasial.

Lebih jauh, korelasi antara keanggotaan koperasi dan peningkatan kualitas hidup tergolong lemah. Hubungan dengan IPM hanya 0,17; sementara kaitannya dengan indikator pendidikan nyaris tidak terlihat. Hal ini mengindikasikan bahwa pertumbuhan koperasi belum cukup berdampak terhadap pendidikan sebagai dimensi pembangunan manusia. Meski terdapat korelasi dengan penurunan kemiskinan, hubungan tersebut tidak konsisten antardaerah. Terdapat daerah dengan rasio keanggotaan koperasi relatif tinggi, namun kemiskinan pun tetap tinggi. Hal ini menunjukkan bahwa angka partisipasi koperasi belum berbanding lurus dengan perbaikan ekonomi.

Inkonsistensi ini mencerminkan terbatasnya peran koperasi dalam meningkatkan kesejahteraan. Perkembangan koperasi masih lebih menekankan kuantitas ketimbang dampak. Koperasi NTT banyak berkembang sebagai lembaga yang berfokus pada penyaluran kredit. Belum menjadi instrumen transformasi struktural bagi produktivitas, akses pasar, dan pengentasan kemiskinan. Akibatnya, pertumbuhan jumlah koperasi belum menghasilkan inklusi sosial-ekonomi yang lebih berarti.

Masalah utamanya bukan terletak pada koperasi sebagai konsep ekonomi kerakyatan, melainkan pada cara kebijakan memperlakukannya. Koperasi kerap diposisikan sebagai capaian administratif—dibentuk, didaftarkan, dan dihitung—tanpa diiringi upaya serius agar berdampak nyata bagi kesejahteraan. Selama kebijakan lebih sibuk mengejar jumlah unit aktif dibandingkan kualitas, fungsi, dan manfaatnya, koperasi akan terus tumbuh secara administratif. Namun perannya sebagai penguat sosial ekonomi belum sepenuhnya terwujud.

Kekeliruan cara pandang ini menjelaskan mengapa pertumbuhan koperasi di NTT kerap berhenti pada kuantitas. Koperasi belum menjelma menjadi kekuatan yang mampu mengubah struktur ekonomi anggotanya. Ketika koperasi tak terintegrasi dengan sektor produktif, keberadaannya terlepas dari denyut ekonomi masyarakat. Di Nusa Tenggara Timur, aktivitas ekonomi riil masyarakat salah satunya bersumber dari sektor peternakan rakyat. Karena itu, tidak menempatkan koperasi sebagai pengungkit sektor ini bukan hanya persoalan kelembagaan, melainkan juga persoalan arah kebijakan pembangunan. Nyatanya, koperasi yang seharusnya menjadi pilar ekonomi kerakyatan ini belum sepenuhnya ditempatkan sebagai katalisator perbaikan kesenjangan, padahal sektor peternakan pada 2024 menyumbang 10,72 persen terhadap PDRB NTT.

Selama koperasi tidak terhubung secara fungsional dengan sektor produktif, maka perannya berhenti pada fungsi administratif, bukan pada penguatan kesejahteraan. Data sektor peternakan perorangan mempertegas persoalan tersebut. Sebanyak 93 persen unit usaha peternakan di NTT dikelola secara perorangan dan mayoritas berorientasi jual. Namun, lebih dari separuhnya (56,25 persen) belum mampu merealisasikan penjualan dan masih bergantung pada pola usaha subsisten. Struktur produksi didominasi oleh ternak hidup—terutama babi dan sapi potong—dengan beban relatif besar pada pakan dan tenaga kerja keluarga.

Fenomena ini menciptakan paradoks di mana daerah dengan basis peternakan kuat dan jumlah unit usaha besar, serta memiliki banyak koperasi, tidak selalu diikuti tingkat kesejahteraan yang tinggi. Ini menunjukkan bahwa keunggulan peternakan dan bertumbuhnya koperasi belum mendongkrak kesejahteraan rakyat. Tantangan geografis dan keterbatasan akses memang memperberat keadaan, tetapi masalah utamanya terletak pada belum tajamnya intervensi kebijakan. Tanpa perubahan arah, kesenjangan kesejahteraan di NTT akan terus menjadi beban, bahkan ketika potensi ekonomi sebenarnya cukup besar untuk dikembangkan.

Peternakan seyogianya mampu menjadi denyut ekonomi NTT sebagaimana digaungkan, namun data menunjukkan bahwa perbedaan keuntungan antarjenis ternak secara statistik terbukti signifikan. Profitabilitas usaha peternakan sangat bergantung pada jenis ternak dan pola usaha, di mana sebagian peternak lebih beruntung dibandingkan yang lain, meskipun sama-sama dikategorikan sebagai “peternak rakyat”. Pada sisi lain, meskipun tingkat profitabilitas relatif tinggi pada ternak besar, namun tergolong rapuh karena minim pengolahan turunan, terbatasnya akses pasar, dan lemahnya ketahanan jika tiba-tiba terjadi kenaikan harga pakan.

Dari sini, arah rekomendasi kebijakan koperasi dan peternakan rakyat di NTT semakin jelas dan butuh penanganan yang lebih presisi serta berbasis data. Pertama, pemangku kebijakan perlu menggeser indikator keberhasilan koperasi dari kuantitas ke dampak sosial. Evaluasi koperasi tidak lagi cukup berbasis jumlah unit dan anggota. Penilaian harus mengukur kontribusi nyata terhadap penurunan kemiskinan, peningkatan pendapatan, dan akses terhadap layanan dasar. Ini menuntut integrasi data koperasi dengan indikator kesejahteraan daerah secara menyeluruh.

Kedua, diferensiasi koperasi berbasis fungsi dan wilayah. Tidak semua koperasi harus diperlakukan sama. Koperasi simpan pinjam, koperasi produksi, dan koperasi sektor peternakan serta sektor riil lainnya memiliki kebutuhan dan potensi yang berbeda. Di kabupaten dengan kemiskinan tinggi, koperasi seyogianya bukan entitas usaha semata, namun diarahkan sebagai instrumen perlindungan sosial dan pemberdayaan ekonomi kelompok rentan.

Ketiga, penguatan tata kelola dan kapasitas manajerial koperasi menjadi prioritas anggaran, bukan pelengkap program. Data menunjukkan bahwa keberadaan koperasi tanpa kapasitas manajemen yang memadai tidak berdampak signifikan bagi kesejahteraan. Investasi pada penguatan fungsi koperasi, digitalisasi, dan transparansi keuangan akan jauh lebih efektif dibandingkan pembentukan koperasi baru tanpa landasan kebijakan. Intervensi dapat berupa revitalisasi koperasi melalui perda khusus dengan mengalokasikan APBD 2026-2030 untuk menginkubasi sejumlah koperasi di kabupaten-kabupaten dengan kondisi jumlah koperasi dan partisipasi keanggotaan rendah, IPM rendah, namun angka kemiskinan tinggi.

Keempat, kebijakan peternakan rakyat perlu berbasis segmentasi ekonomi usaha. Temuan tentang perbedaan profit antarjenis ternak perlu diterjemahkan menjadi kebijakan yang relevan, semisal jenis ternak tertentu memerlukan dukungan akses pakan, jenis lain membutuhkan penguatan pasar atau manajemen pascaproduksi. Dalam hal ini, pendekatan satu program untuk seluruh kondisi tidak lagi sepadan.

Kelima, sinergi koperasi dan peternakan diformalkan dalam kebijakan lintas sektor. Koperasi tidak boleh berdiri sendiri, terpisah dari strategi pengembangan peternakan dan sektor riil lainnya. Sebaliknya, koperasi harus didorong menjadi simpul rantai nilai, mulai dari pembiayaan, produksi, hingga pemasaran. Tanpa integrasi ini, koperasi akan tetap menjadi aktor pinggiran dalam perekonomian.

Data dalam Publikasi Analisis Isu Terkini Provinsi Nusa Tenggara Timur 2025 telah menjalankan fungsinya dengan jujur. Ia menunjukkan harapan besar terhadap koperasi dan peternakan rakyat di NTT. Kini, keputusan berada di tangan para perumus kebijakan. Apakah statistik akan terus menjadi laporan tahunan yang dibaca sekilas dalam seremonial, atau beralih menjadi dasar koreksi kebijakan yang berani dan terukur, secara regional maupun spasial?

Dalam konteks ini pula, kehadiran gagasan “Koperasi Merah Putih” semestinya dinalar bukan sebagai solusi instan, melainkan sebagai ujian serius bagi konsistensi arah pembangunan. Tanpa koreksi paradigma, Koperasi Merah Putih berisiko mengulang pola lama: kuat pada simbol dan nomenklatur, tetapi lemah dalam dampak.

Lebih jauh, jika koperasi tidak dirancang berbasis diferensiasi wilayah dan sektor, maka ia akan sulit menjawab masalah nyata yang terungkap dalam data. Sektor riil NTT menuntut koperasi berfungsi sebagai sumber pemberdayaan masyarakat, produktivitas dan perluasan akses pasar. Tanpa integrasi kebijakan antara koperasi, peternakan, sektor riil lainnya, dan pembangunan manusia, maka Koperasi Merah Putih berisiko menjadi tambahan entitas administratif baru, bukan katalis transformasi ekonomi kerakyatan yang selama ini dinantikan.

Pembangunan yang efektif tidak lahir dari optimisme kosong, melainkan dari keberanian mengakui keterbatasan dan memperbaikinya. NTT tidak kekurangan potensi; yang dibutuhkan adalah kebijakan yang lebih presisi, lebih berbasis data, dan lebih berpihak pada dampak nyata. Statistik sudah berbicara. Saatnya kebijakan menjawab dengan tindakan yang setara.(*)

 

 

 

  • Penulis: Indra Achmad Sofian Souri

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Emi Nomleni Ketua DPRD NTT Angkat Bicara Soal Aksi Heboh di Besipa’e TTS

    Emi Nomleni Ketua DPRD NTT Angkat Bicara Soal Aksi Heboh di Besipa’e TTS

    • calendar_month Jum, 15 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Ketua DPRD Provinsi Emelia Nomleni angkat bicara terkait aksi heboh ibu-ibu bertelanjang dada di hadapan Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) di Besiapa’e, Desa Meo, Kecamatan Amanuban Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (T.T.S), Provinsi Nusa Tenggara (NTT) pada Selasa, 12 Mei 2020. Lahan dengan luas sekitar 3.700 hektar di Desa Mio […]

  • Pemprov NTT Bakal Ambil Alih Pengelolaan Taman Nasional Komodo

    Pemprov NTT Bakal Ambil Alih Pengelolaan Taman Nasional Komodo

    • calendar_month Sen, 26 Nov 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, gardaindonesia.id | Taman Nasional Komodo (TNK) yang berada di Kabupaten Manggarai Barat Provinsi Nusa Tenggara Timur yang selama ini dikelola oleh otoritas TNK dibawah Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dan dijadikan sebagai pendapatan negara bukan pajak bakal diambil alih oleh Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur. “Kita harapkan jika sudah dikelola maka akan menambah Pendapatan […]

  • Menparekraf : Penambahan Cuti Bersama  Berdampak Positif Terhadap Pariwisata

    Menparekraf : Penambahan Cuti Bersama Berdampak Positif Terhadap Pariwisata

    • calendar_month Sen, 9 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif/Kepala Badan Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Wishnutama Kusubandio menyambut baik surat keputusan bersama 3 (tiga) menteri terkait penambahan hari libur dan cuti bersama tahun 2020, yang akan memberi dampak positif pada kegiatan pariwisata dan ekonomi kreatif tanah air. Wishnutama Kusubandio usai menyaksikan penandatanganan surat keputusan bersama Menteri […]

  • Diduga Pengelolaan BUMDes Oelet di Kabupaten TTS Bermasalah

    Diduga Pengelolaan BUMDes Oelet di Kabupaten TTS Bermasalah

    • calendar_month Kam, 22 Agu 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Loading

    Oelet-TTS, Garda Indonesia | Pengelolaan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Oelet diambil alih oleh Kepala Desa, M. Nurdin Tapoin, S. Sos, sejak April 2019 lalu. Hal tersebut disampaikan oleh Ketua BUMDes Oelet, Andi Anin yang ditemui di Oelet pada Rabu, 21 Agustus 2019. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2019/08/21/krisis-air-bersih-di-tts-masyarakat-minta-pemdes-sediakan-sumur-bor/ Anin menjelaskan bahwa dirinya mendapatkan informasi adanya penambahan […]

  • Empat Kabupaten di NTT dengan Zona Kerentanan Iklim Tertinggi

    Empat Kabupaten di NTT dengan Zona Kerentanan Iklim Tertinggi

    • calendar_month Kam, 11 Des 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 512
    • 0Komentar

    Loading

    Tim peneliti terdiri dari Leny M. Mooy, S.P., M.P. Norman Riwu Kaho, S.P., M.Sc. Dr. Yendris Krisno Syamruth, S.KM., M.Kes. Dr. Yulius P.K. Suni, S.T., M.Sc. Budhi B. Lily, S.T., M.T. dan Dismas F.N. Banu, S.Fil.   Kupang | Nusa Tenggara Timur (NTT) merupakan salah satu provinsi paling rentan terhadap dampak perubahan iklim. Pola hujan […]

  • Purnatugas Pj Bupati Belu, Zaka Moruk Pamit Pulang ke Kupang

    Purnatugas Pj Bupati Belu, Zaka Moruk Pamit Pulang ke Kupang

    • calendar_month Rab, 28 Apr 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Masa tugas Zakarias Moruk, M.M. sebagai penjabat Bupati Belu sejak 27 Maret 2021 telah berakhir; ditandai dengan dilakukannya serah terima jabatan (Sertijab) kepada Bupati dr. Agustinus Taolin dan Wakil Bupati Aloysius Hale Serens di Ruang Rapat Paripurna Istimewa DPRD Belu, pada Selasa, 27 April 2021. Zaka Moruk atas nama pemerintah dan […]

expand_less