Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Uang 100 Miliar Kasus Korupsi Kuota Haji Dikembalikan Sukarela

Uang 100 Miliar Kasus Korupsi Kuota Haji Dikembalikan Sukarela

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Sab, 10 Jan 2026
  • visibility 433
  • comment 0 komentar

Loading

Ngeri juga gaya korupsinya. Diimbau agar mengembalikan uang, eh benaran dikembalikan. Sudah ada 100 miliar dikembalikan secara sukarela. Dugaan korupsi kuota haji pun sudah menetapkan Gus Yaqut dan Gus Alex jadi tersangka. Sepertinya akan banyak tersangka baru nanti.

Di republik yang percaya bahwa ibadah haji adalah urusan langit, ternyata jalurnya dikelola penuh oleh manusia-manusia bumi yang hobi bermain angka. Pada Jumat, 9 Januari 2026, KPK mengumumkan Rp100 miliar uang yang “dikembalikan secara sukarela” oleh Penyelenggara Ibadah Haji Khusus dan biro travel. Angka ini disampaikan Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, di gedung KPK. “Ini belum final, silakan yang lain menyusul,” imbau KPK. Di titik ini, publik mulai paham, uang panas rupanya punya jalan pulang sendiri, asal pintunya tidak ditutup rapat.

KPK memang masih menutup rapat mulut soal hubungan langsung Rp100 miliar itu dengan kasus korupsi kuota haji, tapi lembaga ini sudah sempat keceplosan kata kunci paling jujur dalam kamus birokrasi, “uang percepatan”. Uang ini konon membuat calon jamaah bisa berangkat lebih dulu menggunakan kuota haji tambahan 2024. Kalau selama ini kita mengenal fast track di bandara, ternyata fast track menuju Baitullah juga tersedia, hanya saja loketnya tidak diumumkan di papan informasi.

Nama besar pun masuk daftar pemeran. Mantan Menag Yaqut Cholil Qoumas dan mantan Staf Khusus Menteri Agama Isfan Abidal Aziz alias Gus Alex ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK. Tapi sampai hari ini, keduanya belum ditahan. Entah karena hukum sedang ingin santai, atau karena sel tahanan ikut antre haji reguler.

Cerita ini bermula dari kuota tambahan yang diberikan Arab Saudi. Aturannya jelas, bahkan anak madrasah pun hafal, 92 persen untuk haji reguler, delapan persen untuk haji khusus. Tapi di tangan para pendekar administrasi, angka itu dipelintir jadi 50:50, seperti sedang membagi warisan sambil pura-pura adil. Separuh untuk reguler, separuh untuk khusus. Padahal yang reguler itu rakyat jelata dengan antrean belasan hingga puluhan tahun. Sementara yang khusus adalah ladang bisnis dengan tarif ratusan juta rupiah per kursi.

Asosiasi travel pun disebut-sebut melobi Kemenag agar memperoleh kuota lebih banyak. KPK mengendus lebih dari 100 travel haji dan umrah diduga terlibat. Setiap travel memperoleh jumlah kuota berbeda, tergantung seberapa besar perusahaannya. Logikanya sederhana dan kejam. Makin besar travel, makin besar jatah, makin deras pula aliran “komitmen”. Dari perhitungan awal KPK, kerugian negara dalam perkara ini ditaksir mencapai lebih dari Rp1 triliun. Angka yang membuat Rp100 miliar pengembalian terasa seperti uang parkir, bukan pengembalian dosa.

Yang membuat cerita ini terasa seperti konspirasi murahan tapi nyata adalah imbauan resmi KPK sendiri. PIHK, biro travel, dan asosiasi diminta kooperatif, termasuk mengembalikan uang. Bahasa halusnya begini. Ayo kita rapikan dulu uangnya, urusan siapa salah siapa benar nanti kita diskusikan sambil minum air putih. Secara hukum, pengembalian uang memang tidak menghapus pidana. Tapi secara psikologis, ini memberi ilusi, korupsi bisa dicicil, asal sopan dan tepat waktu.

Sementara itu, jamaah haji reguler tetap setia menunggu, tak tahu bahwa hak mereka pernah dinegosiasikan dalam rapat-rapat yang tidak pernah mereka hadiri. Mereka hanya tahu nomor antrean mereka tak bergerak, sementara sebagian orang melesat dengan boarding pass mahal hasil “uang percepatan”. Ibadah pun berubah rupa, dari rukun Islam menjadi simulasi ekonomi, dari soal niat menjadi soal koneksi.

Akhirnya, kasus kuota haji ini bukan sekadar cerita korupsi, tapi dongeng modern tentang bagaimana surga bisa diberi jalur cepat, bagaimana angka bisa lebih sakti dari doa, dan bagaimana Rp1 triliun bisa menguap hingga yang kembali baru Rp100 miliar. Kita pun hanya bisa meneguk Koptagul sampai pahitnya habis, sambil tertawa getir. Di negeri ini, perjalanan ke Tanah Suci pun harus melewati calo, asosiasi, dan matematika ajaib ala birokrasi.(*)

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Banten Tetapkan Kejadian Luar Biasa Virus Corona, Proses KBM Dilakukan ‘Online’

    Banten Tetapkan Kejadian Luar Biasa Virus Corona, Proses KBM Dilakukan ‘Online’

    • calendar_month Ming, 15 Mar 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Loading

    Banten, Garda Indonesia | Gubernur Banten Wahidin Halim menetapkan status KLB (Kejadian Luar Biasa) atas wabah virus Corona di Provinsi Banten. Penetapan KLB sebagai salah satu upaya Pemprov Banten dalam membatasi kecepatan paparan virus corona (Covid-19) terhadap warga masyarakat di wilayah Provinsi Banten. Dalam Rapat yang dipimpin langsung Gubernur Banten Wahidin Halim pada Sabtu, 14 […]

  • Liburan Mewah 8 Wisatawan di Labuan Bajo Nyaris Jadi Mimpi Buruk

    Liburan Mewah 8 Wisatawan di Labuan Bajo Nyaris Jadi Mimpi Buruk

    • calendar_month Ming, 29 Jun 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 203
    • 0Komentar

    Loading

    Mereka berangkat dari Labuan Bajo sekitar pukul 10.00 WITA dengan tujuan menikmati keindahan Pulau Komodo, namun baru beberapa jam berlayar, bencana datang tanpa peringatan.   Labuan Bajo | Sebanyak 8 (delapan) orang wisatawan mancanegara yang sedang asyik menikmati liburan mewah di Labuan Bajo nyaris berubah menjadi sebuah mimpi buruk yang tak bisa mereka lupakan sepanjang […]

  • Tetap Produktif Meski di Rumah Saat Pandemi Covid-19

    Tetap Produktif Meski di Rumah Saat Pandemi Covid-19

    • calendar_month Ming, 31 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Penggiat media sosial Taqy Malik berbagi pengalaman saat harus di rumah di tengah pandemi penyebaran virus SARS-CoV-2 melanda tanah air. Tantangan besar yang mungkin dihadapi sebagian besar masyarakat yakni kejenuhan karena menghabiskan sebagian besar waktu dengan tinggal di rumah. Namun, Taqy mampu untuk mengatasi kejenuhan itu. Ia pun melakukan berbagai aktivitas […]

  • Bantuan Berjarak di NTT, DPPPA Gandeng JNE Kirim Gratis ke 10 Kabupaten

    Bantuan Berjarak di NTT, DPPPA Gandeng JNE Kirim Gratis ke 10 Kabupaten

    • calendar_month Sab, 17 Okt 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Sekitar 650 penerima manfaat program Bersama Jaga Keluarga Kita (Berjarak) dari Kementerian PPPA bakal segera memperolehnya melalui Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPPA) Provinsi NTT, dalam hal ini kelompok spesifik masyarakat yaitu kaum perempuan, lansia, penyandang disabilitas dan anak-anak maupun keluarga yang terkena dampak pandemi Covid-19 yang masuk dalam kategori […]

  • 6 Desa Mengadu ke DPRD TTS Terkait Surat Keterangan Dokter

    6 Desa Mengadu ke DPRD TTS Terkait Surat Keterangan Dokter

    • calendar_month Jum, 29 Apr 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 135
    • 0Komentar

    Loading

    SoE, Garda Indonesia | Masyarakat dari beberapa bakal calon kepala desa di Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), diantaranya, Desa Mnelalete Kecamatan Amanuban Barat, Desa Oenino Kecamatan Oenino, Desa Oeuban Kecamatan Mollo Barat, Desa Fatokoko Kacamatan Mollo Barat, Desa Oekam Kecamatan Noebeba, dan Desa Oepliki, Kecamatan Noebeba; mengadu ke Komisi I […]

  • Ketat!, Pengamanan IMF-World Bank 2018

    Ketat!, Pengamanan IMF-World Bank 2018

    • calendar_month Ming, 7 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 126
    • 0Komentar

    Loading

    Bali, gardaindonesia.id – 60 delegasi dari 189 negara peserta International Monetery Fund-World Bank (IMF-WB), telah datang ke Bali pada H-1 menjelang pelaksanaan pada Senin, 8 Oktober 2018. Pengamanan menuju Nusa Dua diperketat dengan menerapkan pola ganjil genap. Kapolda Bali Irjen Pol Petrus R. Golose mengatakan, TNI/Polri melakukan pengamanan obyek vital dan sterilisasi kawasan tertentu untuk […]

expand_less