Produksi Padi NTT Meningkat, Dari Kupang Menuju Swasembada Pangan
- account_circle Penulis
- calendar_month 3 jam yang lalu
- visibility 85
- comment 0 komentar

![]()
Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Wanda menyampaikan capaian Pemprov NTT meraih Pin Penghargaan Swasembada Pangan Nasional dari Kementerian Pertanian RI pada Januari 2026 atas peningkatan signifikan produksi padi.
Manusak | Sektor pertanian memiliki peran yang sangat penting dalam menjaga kedaulatan negara, terutama dalam upaya memperkuat ketahanan pangan. Berdasarkan laporan Kementerian Pertanian tahun 2020, padi merupakan tanaman pangan yang memiliki jumlah produksi terbesar di Provinsi NTT dengan total produksi mencapai 1,09 juta ton pada tahun 2017 atau berkontribusi sebesar 1.34 persen dari total produksi padi nasional.
Sektor pertanian di Provinsi NTT memiliki kontribusi penting bagi masyarakat. Namun, pengembangan sektor pertanian perlahan terlupakan karena sering dianggap sebagai unsur penunjang dalam perekonomian. Oleh sebab itu, pengembangan sektor pertanian yang lebih masif perlu dilakukan karena dapat menjadi salah satu alternatif untuk mengurangi kesenjangan pembangunan wilayah.
Salah satu upaya implementasi ketahanan pangan tersebut yakni dilaksanakan Gerakan Tanam Padi Serentak se-Provinsi Nusa Tenggara Timur Mendukung Swasembada Pangan Berkelanjutan. Kegiatan ini dipusatkan di Desa Manusak, Kecamatan Kupang Timur – Kabupaten Kupang pada Senin pagi, 16 Februari 2026.
Hadir Gubernur NTT, Melki Laka Lena bersama Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma, Ketua DPRD NTT, Emi Nomleni, Bupati Kupang, Yosef Lede, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda, Perwakilan Kementerian Pertanian RI, TNI/POLRI, Para Penyuluh Pertanian serta Kelompok Tani dan juga Rektor Undana Prof. Dr. Jefri Semuel Bale, bersama para mahasiswa.

Gerakan tanam padi serentak pada Senin pagi, 16 Februari 2026 di Manusak Kabupaten Kupang. Foto : Gerald
Gubernur NTT Melki Laka Lena mengungkapkan Gerakan Tanam Padi Serentak tersebut sebagai bentuk komitmen pemerintah daerah, kelompok tani, penyuluh pertanian, serta semua pihak yang terlibat dalam mendukung sektor pertanian sebagai fondasi utama perekonomian masyarakat. ”Melalui gerakan tanam serentak ini juga, kita bisa memuliakan para petani. Para petani adalah para pejuang-pejuang memberikan dampak langsung bagi keberlangsungan hidup kita sekalian. Karena melalui petani maka kita bisa makan dan menikmati berbagai jenis menu di meja makan kita, maka perlu kita maknai bahwa petani adalah pahlawan bagi kita sekalian,” jelasnya.
Gubernur Laka Lena menggambarkan progres capaian produksi gabah kering giling (GKG) di NTT yang hampir mencapai 1 juta ton di tahun 2025. ”Tahun 2025 produksi GKG itu hampir 1 juta ton, dengan angka 968.324 ton GKG. Produksi ini meningkat sebesar 260.532 ton GKG atau 36,81% dari tahun sebelumnya. Selanjutnya produksi beras Tahun 2025 sebesar 567.178 Ton mengalami peningkatan sebesar 152.602 Ton (35,38%) jika dibandingkan dengan Tahun 2024 sebesar 414.576 Ton. Peningkatan produksi beras tahun 2025 turut berdampak positif bagi peningkatan penyerapan beras oleh perum Bulog di NTT sebanyak 6.056 ton,” paparnya.
Ia pun memberikan apresiasi kepada Kementerian Pertanian RI, terutama Menteri Pertanian, Amran Sulaiman yang senantiasa menaruh perhatian maksimal terhadap kebutuhan para petani di daerah termasuk Nusa Tenggara Timur.
Sejurus, Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma juga mendorong strategi adaptasi sektor pertanian tidak saja hanya dengan komoditi padi melainkan juga dengan produksi sorgum atau jagung. Hal tersebut disampaikan beliau saat memberi arahan kepada Bupati Sabu Raijua dan jajaran.

Wakil Gubernur NTT, Johni Asadoma memberkati bantuan benih padi kepada petani. Foto : Gerald
Sementara itu, Bupati Kupang, Yosef Lede menargetkan produksi padi tahun 2026 menjadi 100.000 ton. ”Kita ingin tahun ini kita bisa produksi sampai 100.000 ton dibandingkan tahun lalu sebanyak 87.000 ton,” jelasnya.
Ia menambahkan, pentingnya upaya mekanisasi dan sistem brigade alsintan. Strategi yang diterapkan mencakup penggunaan sistem “brigade” untuk alat mesin pertanian (alsintan), program cetak sawah rakyat, dan optimalisasi lahan tadah hujan. Selain itu, pemerintah Kabupaten Kupang juga tengah menyiapkan regulasi untuk pembentukan BUMD Agrobisnis guna menjamin stabilitas harga hasil panen petani. Inisiatif ini juga dipersiapkan untuk memastikan seluruh kebutuhan pangan berasal dari hasil produksi petani lokal di Kabupaten Kupang.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Bily Oemboe Wanda melaporkan Pemerintah Provinsi NTT pada tahun 2026 menargetkan peningkatan luas tanam padi sebesar 7,90% (273.800 ha) dari tahun 2025 seluas 253.700 ha dengan target produksi padi sebesar 1.186.456 Ton GKG dan produksi beras 694.944 Ton. Hal tersebut didasarkan untuk memenuhi rata-rata kebutuhan beras NTT di kisaran 650.000 ton/tahun.
Ia juga menjelaskan capaian Pemerintah Provinsi NTT yang meraih Pin Penghargaan Swasembada Pangan Nasional dari Kementerian Pertanian RI pada Januari 2026 atas peningkatan signifikan produksi padi. ”Untuk pencapaian produksi tersebut, oleh Kementerian Pertanian memberikan Pin Swasembada bagi 5 (lima) provinsi yaitu Jawa Timur, Jawa Barat, NTT, Banten dan Papua Selatan. Kami juga memberi apresiasi kepada 3 (tiga) Kabupaten dengan produksi padi tertinggi di NTT yaitu Manggarai Barat, Kupang dan Sumba Timur,” jelas Joaz.(*)
- Penulis: Penulis
- Editor: Roni Banase
- Sumber: Biro AdPim Setda NTT/Meldo Nailopo











Saat ini belum ada komentar