Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Asal Usul Suku Tetun di Pulau Timor

Asal Usul Suku Tetun di Pulau Timor

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 9 Jun 2024
  • visibility 255
  • comment 0 komentar

Loading

Suku Tetun, disebut juga Tetum atau Belu adalah suku bangsa yang merupakan penduduk asli Pulau Timor. Suku ini mendiami Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur (NTT), Indonesia dan sebagian besar wilayah Timor Leste.

Bahasa Suku Tetun disebut dengan bahasa Tetun yang merupakan bagian dari rumpun bahasa Austronesia. Selain di Pulau Timor, suku ini juga banyak terdapat di Jakarta, Indonesia.

Di antara Tetum Terik dari Viqueque, diyakini bahwa manusia pertama muncul dari dua lubang atau vagina, “Mahuma” dan “Lequi Bui”, muncul di tanah dengan memanjat sulur suci. Oleh karena itu, di kalangan Tetum Terik, pintu rumah adat disebut sebagai vagina dan bagian dalamnya disebut WOMB, ruang perempuan.

Menurut kepercayaan mereka, alam semesta Tetum Terik yang terbagi atas dunia bawah dan dunia atas dihubungkan melalui vagina wanita. Dunia bawah atau sakral didefinisikan sebagai feminin, didominasi oleh wanita, sedangkan dunia atas sekuler dan maskulin ditempati oleh pria. Kedua dunia tersebut harus bersatu, jika tidak, kemandulan, penyakit, dan kematian akan mengancam.

Berdasarkan cerita yang berkembang turun temurun, suku Tetun dipercayai sebelumnya berasal dari Malaka di Semenanjung Malaya, kemudian berpindah ke beberapa tempat sebelum akhirnya tiba di Pulau Timor, yaitu di bagian timur pulau. Cerita ini dipercaya juga sebagai asal-usul berdirinya Kerajaan Malaka di Timor Barat, yakni salah satu kerajaan yang dipimpin suku Tetun.

Wanita suku Tetun yang akan dan telah menikah, dahulu secara tradisional akan memakai tato dengan motif tertentu yang melambangkan status sosial mereka. Para pengantin pria dan wanita suku Tetun juga memiliki pakaian adat yang dilengkapi hiasan kepala, kain, kalung, giwang, serta perhiasan-perhiasan lainnya yang memiliki corak dan makna yang khas.

Salah satu tarian tradisional suku Tetun adalah tari Likurai, yang ditarikan oleh kaum wanita untuk menyambut tamu atau pejuang yang kembali dari perang.(*)

Sumber (*/Wikipedia)

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Merci Jone : Makanan dan Minuman  di Rutan Harus Layak dan Sesuai

    Merci Jone : Makanan dan Minuman di Rutan Harus Layak dan Sesuai

    • calendar_month Ming, 31 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 83
    • 0Komentar

    Loading

    Kefa-TTU, Garda Indonesia | Kepala Kantor Wilayah (Kakanwil) Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) NTT, Marciana Dominika Jone melakukan kunjungan dan meninjau langsung pelayanan kepada warga binaan di rumah tahanan (Rutan) Klas IIB Kefamenanu dan Rutan SoE pada Sabtu, 30 Januari 2021. Merci Jone (sapaan akrab dari Kakanwil perempuan pertama di NTT, red) dalam kunjungannya didampingi […]

  • PPP Bukan Partai Milik Islam, Djainudin Lonek: Berlaku Juga di NTT

    PPP Bukan Partai Milik Islam, Djainudin Lonek: Berlaku Juga di NTT

    • calendar_month Ming, 30 Mei 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 160
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Ketua DPW Partai Persatuan Pembangunan (PPP) NTT masa bakti 2022—2026, Djainudin Lonek, S.H., M.H. kepada awak media pada Sabtu malam, 29 Mei 2021 di Restoran Titi Hena; mengungkapkan bahwa musyawarah wilayah (Muswil) IX PPP NTT yang diikuti pengurus DPW dan DPC dari 22 kabupaten/kota bersepakat untuk mengamanatkan dirinya untuk kembali menakhodai […]

  • Peduli Sumber Daya Air di NTT, Politeknik Negeri Kupang Helat Seminar Nasional

    Peduli Sumber Daya Air di NTT, Politeknik Negeri Kupang Helat Seminar Nasional

    • calendar_month Kam, 21 Nov 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 122
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kondisi curah hujan di Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) terkecil di Indonesia dengan rata-rata volume curah hujan tahunan di NTT hanya 1.000 mm dengan musim hujan hanya berkisar 3—5 bulan dan musim panas (kering) berlangsung selama 7—9 bulan yang menyebabkan kondisi sumber daya air relatif kecil dan terbatas. Menyadari kondisi tersebut, […]

  • Pecahkan Rekor MURI, Bank NTT Kolaborasi BI dan Pemda Rote Ndao

    Pecahkan Rekor MURI, Bank NTT Kolaborasi BI dan Pemda Rote Ndao

    • calendar_month Ming, 10 Jul 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 123
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Rekor dunia dipecahkan dari kolaborasi sukses antara Bank Indonesia, Bank NTT dengan Pemerintah Kabupaten Rote Ndao. Rekor dunia ini dicatat Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) dengan nomor 10416. Adapun rekor dunia yang dipecahkan yakni ‘Pagelaran Tari Te’o Renda oleh Penari Terbanyak.’ Perhelatan ini berlangsung di Lapangan Upacara Kantor Bupati Rote Ndao […]

  • 13 Ruas Tol Baru Siap Dioperasikan pada Oktober – Desember 2018

    13 Ruas Tol Baru Siap Dioperasikan pada Oktober – Desember 2018

    • calendar_month Ming, 14 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 121
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) terus mendorong penyelesaian ruas-ruas tol baru di berbagai wilayah. Pembangunan jalan tol yang masif dilakukan bertujuan untuk meningkatkan konektivitas antar wilayah guna menurunkan biaya logistik sebagai amanat Nawa Cita Pemerintahan Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dalam meningkatkan daya saing bangsa Indonesia. “Melalui […]

  • Surat Kertas Hitam Buat Gubernur dan DPRD Provinsi NTT

    Surat Kertas Hitam Buat Gubernur dan DPRD Provinsi NTT

    • calendar_month Sen, 15 Sep 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 129
    • 6Komentar

    Loading

    Oleh : Marsel Robot, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana Bapak Gubernur, Bapak dan Ibu Dewan Perwakilan Rakayat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang saya hormati. Saya menulis surat ini di atas kertas hitam. Maaf! Dan barangkali, Bapak dan Ibu sulit membaca surat ini, karena tidak kelihatan huruf-hurufnya. Lagi pula, ditulis dengan tinta hitam. […]

expand_less