Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Kota » IKKON Kupang & Perajin Tenun Penkase, Hasilkan Pewarna Alam & Tenun Khas

IKKON Kupang & Perajin Tenun Penkase, Hasilkan Pewarna Alam & Tenun Khas

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Jum, 18 Okt 2019
  • visibility 147
  • comment 0 komentar

Loading

Kota Kupang, Garda Indonesia | Tim Inovatif dan Kreatif melalui Kolaborasi Nusantara (IKKON) Kupang melaksanakan Tanabae Festival 2019 yang merupakan wujud akuntabilitas publik dari tim IKKON kepada masyarakat Kota Kupang.

Kegiatan yang dilangsungkan di alun-alun Subasuka Cafe and Restoran, dimeriahkan oleh pameran berbagai hasil kreasi kolaborasi IKKON Kupang dengan setiap stakeholder kreatif di Kota Kupang.

Pada Tanabae Festival 2019, IKKON Kupang yang berkolaborasi dengan Perajin tenun dari Penkase Oeleta, memamerkan hasil tenun dengan warna yang berbeda dari tenun sebelumnya.

Desainer Produksi IKKON Kupang, Wisnu Purbandaru yang ditemui media ini di stan pameran hasil tenun Mama-mama dari Penkase mengatakan bahwa tim IKKON Kupang memberikan workshop kepada para perajin tenun pada beberapa bulan lalu, terutama terkait penggunaan warna alami.

“Sebenarnya mereka (perajin tenun), sudah tahu warna-warna alami itu, tapi mereka berpikir bahwa itu mahal dan akhirnya ditinggalkan. Mereka memilih menggunakan benang yang dijual di toko,” jelas Wisnu.

Setelah bertemu dan bertukar pikiran, lanjut Wisnu akhirnya masyarakat perajin tenun kembali menggunakan pewarna alam yang sudah ada dan membuat beberapa motif baru.

“Setelah workshop, kita sama-sama membuat pewarna alam tersebut lalu kita gunakan serta kita buat motif baru yaitu daun sepe,” ujarnya.

Deretan tenun khas yang dipamerkan dalam Festival Tanabae 2019

Sebelum bertemu Tim IKKON Kupang, para penenun menggunakan benang-benang yang dijual di toko-toko dengan berbagai warna. Dan harga jual untuk 1 selendang yang dibuat itu berkisar antara Rp.30.000—40.000,- saja.

“Pewarna alam itu digunakan pada benang katun. Jadi dari hasilnya, bisa dijual 1 selendang seharga Rp.100.000—200.000,-saja,” tutur Wisnu.

Bahkan hasil tenun kolaborasi tersebut, sudah dibawa dan dipamerkan pada Festival Bekraf di Solo dan animo pengunjung saat itu sangat tinggi serta hasil tenunan tersebut banyak menuai pujian.

Sementara itu, Elizabeth Selly selaku desainer tekstil tim IKKON Kupang, di sela-sela kesibukannya menjelaskan kepada para pengunjung yang melihat hasil kreasi tersebut mengatakan bahwa ada kurang lebih 8 (delapan) warna alam yang mereka hasilkan.

“Warna alam yang ditemukan dari tanaman sekitar 8 warna, yaitu merah sepe, lembayung, biru langit, coklat, kuning, hitam, warna gading sama warna krem,” jelas Elizabeth.

Elizabeth menjelaskan bahwa dari satu tanaman bisa menghasilkan beberapa warna tergantung campuran yang diberikan. “Tanaman yang digunakan yang itu-itu saja, seperti kulit pohon mahoni dan kulit pohon burung atau pohon secang. Warnanya tergantung dicampur dengan apa. Kalau dicampur dengan tawas itu akan menghasilkan satu warna, kalau dengan kapur itu warnanya berbeda lagi,” ujarnya.

Selain tanaman-tanaman tersebut, untuk pewarna alami digunakan bisa menggunakan kunyit dan pohon kersen. Elizabeth menjelaskan bahwa pihaknya dalam memilih warna selalu menyesuaikan dengan bahan alam yang ada, sehingga yang tidak bisa ditemukan tidak digunakan.

“Warna yang sulit ditemukan adalah warna biru, tapi akhirnya kami berhasil mendapat warna biru langit,” tuturnya.

Dirinya pun mengungkapkan adanya kemungkinan muncul lapangan pekerjaan baru serta mampu mendongkrak perekonomian masyarakat, yaitu dengan produksi pewarna alam tersebut. “Bisa jadi. Karena dari Dekranasda juga memberikan bimbingan terkait pembuatan warna juga. Dan instruktur warna dekranasda pastinya banyak memberikan ilmu bagi masyarakat, “ jelas perempuan cantik asal Denpasar itu.

Elizabeth juga berterima kasih karena melalui kolaborasi tersebut dirinya juga belajar banyak hal dari Mama-mama perajin tenun di Penkase terkait warna alam dari bahan-bahan alam. “Saya memberikan ilmu desain, tapi saya juga belajar ilmu pewarna dari mama-mama di Penkase. Kita saling bertukar, itulah proses kolaborasi kita, “ pungkas Elizabeth.

Nama festival ‘Tanabae’ merupakan bahasa Kupang, dalam bahasa Indonesia baku ‘Tanah baik’, yang sebenarnya ingin disampaikan oleh tim IKKON Kupang bahwa Kupang adalah daerah yang penuh potensi. Biasanya orang-orang Kupang mengatakan ‘bae sonde bae tanah Kupang lebe bae’. Biar tanah lain lebih baik, tanah Kupang tetap lebih baik. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Per 28 Mei, Penambahan Kasus Positif Covid-19 Terbanyak dari Jawa Timur

    Per 28 Mei, Penambahan Kasus Positif Covid-19 Terbanyak dari Jawa Timur

    • calendar_month Kam, 28 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 115
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Pemerintah Indonesia melalui Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mencatat jumlah penambahan kasus terkonfirmasi positif Covid-19 per Kamis, 28 Mei 2020 ada sebanyak 687 orang sehingga totalnya menjadi 24.538. Juru Bicara Pemerintah untuk Covid-19 Achmad Yurianto mengatakan bahwa penambahan jumlah kasus positif tersebut yang paling banyak terdapat di Jawa Timur, kemudian Kalimantan […]

  • Listrik Tanpa Padam Saat Semana Santa, PLN Siap Support Festival Bale Nagi

    Listrik Tanpa Padam Saat Semana Santa, PLN Siap Support Festival Bale Nagi

    • calendar_month Ming, 31 Mar 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Loading

    Larantuka, Garda Indonesia | Semana Santa adalah ritual perayaan Pekan Suci Paskah yang dilakukan selama 7 (tujuh) hari berturut-turut oleh umat Katolik di Larantuka, Flores Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT). Secara keseluruhan, Semana Santa berarti pekan suci yang dimulai dari Minggu Palma, Rabu Pengkhianatan, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci hingga perayaan Minggu Halleluya atau […]

  • Yudi Selan, Kader Demokrat TTS Jawab Kebutuhan Air Bersih Desa Tublopo

    Yudi Selan, Kader Demokrat TTS Jawab Kebutuhan Air Bersih Desa Tublopo

    • calendar_month Sen, 14 Feb 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Loading

    SoE – NTT, Garda Indonesia | Yudi Arifus Selan, anggota DPRD Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT) menjawab kebutuhan air bersih di Dusun B, Desa Tublopo, Kecamatan Amanuban Barat. Yudi Selan, kader partai Demokrat ini menceritakan kepada media, tekadnya berawal sejak Desember 2021. Ia menyisihkan sebagian uang miliknya guna membangun jaringan air […]

  • Bank NTT & Alex Riwu Kaho Raih Penghargaan ‘Top CSR Awards 2022’

    Bank NTT & Alex Riwu Kaho Raih Penghargaan ‘Top CSR Awards 2022’

    • calendar_month Jum, 1 Apr 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Sejumlah perusahaan terkemuka dari berbagai sektor bisnis yang berasal dari seluruh Indonesia, mendapat kehormatan sebagai penerima penghargaan Top CSR Awards 2022. Tidak hanya itu, para leader di perusahaan ini pun dinobatkan sebagai pemimpin yang berkomitmen tinggi dalam implementasi CSR di perusahaannya pada Rabu petang, 30 Maret 2022 di Raffles Hotel Jakarta. […]

  • Manusia Punya Kehendak Berkuasa (Sebuah Refleksi Filosofis)

    Manusia Punya Kehendak Berkuasa (Sebuah Refleksi Filosofis)

    • calendar_month Kam, 16 Mei 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Novilus Uropmabin Dunia dewasa ini diwarnai dengan kemunafikan, hedonisme, korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi sesuatu hal yang lumrah bagi kehidupan manusia. Bagi manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etis dianggap ketinggalan zaman,  masih berpikir primitif dan berbagai macam stigma lainnya. Membicarakan kehendak manusia untuk berkuasa bukanlah sesuatu yang rahasia lagi karena inilah […]

  • Sosok Pemegang Remote Ekonomi Indonesia

    Sosok Pemegang Remote Ekonomi Indonesia

    • calendar_month Sen, 5 Jan 2026
    • account_circle Penulis
    • visibility 398
    • 0Komentar

    Loading

    Pernah terpikir, kenapa dari bangun tidur sampai tidur lagi, uang kamu seolah “terisap” ke satu orang yang sama? Makan mie instan? Dia yang punya. Belanja di minimarket depan kompleks? Milik dia. Lewat jalan tol atau isi bensin? Dia ada di sana. Kenalkan, Anthony Salim: The Real Silent Ruler of Indonesia. Tragedi ’98: dari istana ke […]

expand_less