Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Kelangkaan Minyak Goreng : Energi (Biodiesel) vs Pangan (Migor)?

Kelangkaan Minyak Goreng : Energi (Biodiesel) vs Pangan (Migor)?

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Kam, 10 Mar 2022
  • visibility 47
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Andre Vincent Wenas

“…jangan cepat menyalahkan pengusaha karena pengusaha tidak dilarang untuk mendapatkan untung, tentu saja pengusaha akan mencari bidang yang untungnya lebih banyak,” begitu kata Faisal Basri.

Tentu kita setuju, bahwa insting pengusaha adalah cari untung. Mana ada pengusaha cari buntung?

Kali ini kita pakai saja basis data (dari GAPKI) seperti yang disampaikan Pak Faisal Basri, ekonom senior yang “galak” tapi baik hatinya itu.

Pertama soal ekspor serta konsumsi dalam negeri untuk CPO dan PKO: Tahun 2019 ekspor 37,39 juta ton, konsumsi 16,75 juta ton. Tahun 2020 ekspor turun jadi 34 juta ton, konsumsi naik 17,35 juta ton. Tahun 2021 ekspor naik sedikit jadi 34,2 juta ton, konsumsi naik jadi 18,42 juta ton. Tahun 2022 diprediksi ekspor 33,21 juta ton, konsumsinya 20,49 juta ton.

Sementara data produksi CPO saja disampaikan, tahun 2020: 47 juta ton. Tahun 2021: 46,89 juta ton. Tahun 2022: 49 juta ton.

Kemudian bagaimana dengan penggunaan CPO untuk program Biodiesel versus yang untuk Pangan menurut data Pak Faisal? Begini:

Tahun 2019, untuk Biodiesel 5,83 juta ton, Pangan 9,86 juta ton, total 15,69 juta ton. Tahun 2020: Biodiesel 7,23 juta ton, Pangan 8,42 juta ton, total 15,65 juta ton. Tahun 2021: Biodiesel 7,37 juta ton, Pangan 8,92 juta ton, total 16,29 juta ton. Tahun 2022 diprediksi: Biodiesel 8,83 juta ton, dan Pangan 9,6 juta ton, total 18,43 juta ton.

Maka kita berhitung,

Mulai tahun 2020 saja, produksi CPO 47 juta ton, dikurangi total penggunaan untuk Biodiesel dan Pangan sejumlah 15,69 juta ton. Masih tersisa 31,31 juta ton, ini yang bisa (boleh) diekspor.

Lalu tahun 2021: produksi CPO 46,89 juta ton, dikurangi total untuk Biodiesel dan Pangan sejumlah 16,29 juta ton. Masih tersisa 30,6 juta ton, ini yang bisa (boleh) diekspor.

Kemudian prediksi tahun 2022 ini: produksi CPO 49 juta ton, dikurangi untuk program Biodiesel dan Pangan sejumlah total 18,43 juta ton. Masih tersisa 30,57 juta ton, ini juga yang masih bisa (boleh) diekspor.

Kalau dari data Pak Faisal itu, untuk kebutuhan domestik (baik untuk energi/biodiesel maupun untuk pangan/migor), produksi CPO kita masih lebih dari cukup, atau berlebihan.

Kalau kita disiplin dalam penerapan kebijakan Domestic Market Obligation (DMO), maka tak cukup adekuat untuk serta merta “menuduh” kebijakan biodiesel itu jadi biang kerok kelangkaan migor.

Bukankah kuantitas produksi minyak sawit nyatanya tidak kurang, bahkan lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan nasional. Jadi, di mana salahnya?

Soal harga. Memang harga CPO di pasaran internasional per metrik ton sejak tahun lalu (2021) kecenderungannya naik terus. Utamanya di semester kedua, average di atas USD 1000,-  Bahkan per September 2021 sempat di USD 1235/metrik ton.

Dengan patokan harga sebegitu tinggi, wajarlah jika melakukan ekspor bakal dapat keuntungan yang lebih tinggi dibanding jualan lokal.

Kaitan antara fluktuasi harga CPO di pasaran internasional adalah soal selisih harga antara bahan campuran Fatty Acid Methyl Ester (FAME) dengan harga solarnya. Itu yang disubsidi pemerintah.

Kita ingat juga bahwa sebelumnya (Juli 2021) Dirut Pertamina Nicke Widyawati sempat mengeluh dan minta supaya penetapan harga CPO yang untuk program biodiesel ini tidak perlu mengikuti harga pasar dunia. Jadi dipatok saja, supaya ada kepastian tentunya.

Jadi memang CPO untuk keperluan Biodiesel tidaklah diekspor, tetapi harganya dipatok ke harga ekspor. Sehingga konsekuensinya adalah subsidi dari pemerintah juga menyesuaikan terus (atau bahasa lainnya: naik terus!).

Sehingga memang tak ada alasan pengusaha bakal rugi jika jual CPO-nya untuk program biodiesel nasional.

Tapi pertanyaan mendasarnya adalah: berapa banyak CPO yang diperlukan untuk program biodiesel B-30 itu? Atau rumusan pertanyaan lainnya adalah: berapa banyak CPO yang bisa/mampu diserap untuk keperluan program biodiesel B-30 (atau bahkan B-40) itu?

Dari data Pak Faisal, prediksi di tahun 2022 ini, produksi CPO 49 juta ton, dikurangi untuk program Biodiesel dan Pangan sejumlah total 18,43 juta ton. Masih tersisa 30,57 juta ton, ini juga yang masih bisa (boleh) diekspor.

Kalau mau diversuskan antara CPO untuk kebutuhan energi atau pangan, maka daya serap keduanya masih jauh di bawah kemampuan produksi CPO nasional. Bahkan jika ada kenaikan penggunaan CPO untuk energi, seiring program campurannya naik terus (B-20, B-30 dan nanti B-40), produksi CPO kita masih sangat mencukupi.

Jadi, kalau untuk kebutuhan CPO dalam negeri, di mana kekurangannya?

Mari sebentar saja kita kembali ke soal harga. Bahwa, tanda-tanda kenaikan harga migor bakal melonjak sampai 20 ribuan per liter di pasar lokal itu sudah terdeteksi sejak Oktober 2021.

September 2021, dari kisaran 14—15 ribuan lalu naik di bulan Oktober jadi 16—17 ribuan, terus merambat sampai saat nataru di mana harganya lepas kendali. September, Oktober, November, Desember, Januari, Februari dan sekarang Maret: sudah setengah tahun!

Sehingga dengan demikian kita berpikir bahwa,

Program biodiesel bukanlah penyebab utama kelangkaan migor? Memang ada tren kenaikan untuk program energi seperti diceritakan Faisal Basri, tapi itu belum cukup kuat untuk bisa menjustifikasi biodiesel sebagai penyebab kelangkaan migor. Faktanya kemampuan produksi CPO nasional jauh melebihi pemakaian domestik (baik itu untuk energi plus pangan).

Namun, ada laporan dari Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) per Senin 7 Maret 2022 bahwa telah ada enam produsen minyak goreng yang berhenti produksi. Kenapa? Karena tidak mendapat pasokan CPO (crude palm oil)! …ini aneh, tapi nyata.

Sehingga kita pun bertanya-tanya,

Apakah seretnya pasokan CPO untuk industri migor domestik ini gegara semata soal “administrasi” di Kementerian Perdagangan? Seperti yang diindikasikan oleh Joko Supriyono (Ketua Umum GAPKI) yang sempat bilang, “Nah itu dia (ada kendala), perlu percepatan izin ekspor kayaknya.”

Apa yang dimaksud beliau, kok terkait dengan izin ekspor?

Menurutnya ada kendala pada perizinan ekspor CPO ke luar negeri, dan ini turut menghambat proses percepatan pemenuhan bahan baku murah untuk minyak goreng domestik. “Harusnya kalau izin ekspor lancar pasokan untuk DMO juga lancar,” kata Joko Supriyono.

Memang dalam Permendag 02/2022 (ditetapkan 18 Januari 2022) tertulis bahwa ekspor bisa dilakukan dengan melengkapi persyaratan: “Surat Pernyataan Mandiri bahwa Eksportir telah menyalurkan Crude Palm Oil, RBD Palm Olein dan Used Cooking Oil untuk kebutuhan dalam negeri, dilampirkan dengan kontrak penjualan.”

Jadi apakah ada semacam saling sandera begitu? Kalau izin ekspor belum diberi, maka walau sudah ada kontrak penjualan dalam negeri namun barang belum bisa (mau) di delivery? Walahuallam.

Atau… memang ada sementara pihak yang tetap nekat “mengekspor” dengan akal-akalan gaya mafia kerah-putih yang halus bin licin bin licik bin lihai bin sialan? Ya, walahuallam juga sih.

Untuk yang terakhir ini memang perlu pendalaman materi lebih lanjut. Begitu dalamnya materi yang perlu didalami, sehingga perlu “penyelam-penyelam” kelas wahid agar mampu menyelaminya.

Motif untuk “nekat eskpor” nya memang ada, yaitu harga pasaran internasional yang tinggi, maka bisa mendatangkan cuan lebih gede. Toh serapan untuk program biodiesel walaupun naik tapi belum mampu menyerap seluruh hasil produksi dengan harga patokan ekspor bukan?

Lagi pula yang jelas, Permendag No.2/2022 itu memang tidak melarang ekspor. Asalkan syarat-syaratnya bisa dipenuhi. Paham kan?

Ingat kata Faisal Basri di atas tadi, “…jangan cepat menyalahkan pengusaha karena pengusaha tidak dilarang untuk mendapatkan untung, tentu saja pengusaha akan mencari bidang yang untungnya lebih banyak.”

Rabu, 9 Maret 2022

Penulis merupakan Direktur Eksekutif Lembaga Kajian Strategis (LKS) PERSPEKTIF, Jakarta.

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Pjs. Bupati Belu Terima Rekomendasi KASN tentang Sanksi Bagi 9 Camat

    Pjs. Bupati Belu Terima Rekomendasi KASN tentang Sanksi Bagi 9 Camat

    • calendar_month Sel, 3 Nov 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 34
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | “Rekomendasi KASN-nya sudah ada, diberikan kepada pejabat pembina kepegawaian daerah untuk menjatuhkan sanksi kepada 9 camat yang bermasalah. Jenis sanksinya tentu sama karena terlibat dalam titik kegiatan yang sama,” ungkap Pjs. Bupati Belu, Zakarias Moruk saat ditemui awak media di ruang kerjanya, pada Selasa siang, 3 November 2020. Dalam rekomendasi KASN […]

  • Semangat Oma Rahel di TMMD-111 Kodim 1627/Rote Ndao

    Semangat Oma Rahel di TMMD-111 Kodim 1627/Rote Ndao

    • calendar_month Sen, 28 Jun 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 37
    • 0Komentar

    Loading

    Rote Ndao-NTT, Garda Indonesia | Usia bukan penghalang bagi perempuan lanjut usia (lansia), warga Desa Lekona, Kecamatan Pantai Baru, Kabupaten Rote Ndao, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Di tengah Baakti TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD)-111, di usia menggapai 71 tahun, tak menjadi halangan bagi nenek/oma yang biasa disapa Oma Rahel Nauk untuk ikut dalam kegiatan […]

  • Kejahatan Seksual pada Anak di Padang, Kemen PPPA: “Ini Kejahatan Serius!”

    Kejahatan Seksual pada Anak di Padang, Kemen PPPA: “Ini Kejahatan Serius!”

    • calendar_month Rab, 4 Des 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 47
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | TR (12), korban kekerasan seksual di Kota Padang, Sumatra Barat terbaring lemah di Rumah Sakit Umum Pusat Nasional Dr. Cipto Mangunkusumo, saat ditemui Deputi Perlindungan dan didampingi Asisten Deputi Perlindungan Anak dari Kekerasan dan Eksploitasi Kemen PPPA, Valentina Gintings, perwakilan Komisi Perlindungan Anak Indonesia, Sitti Hikmawatty dan Anggota Banggar DPR RI, […]

  • Mahfud MD Nilai Soeharto Layak Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

    Mahfud MD Nilai Soeharto Layak Diusulkan Jadi Pahlawan Nasional

    • calendar_month Sel, 28 Okt 2025
    • account_circle melihatindonesia
    • visibility 319
    • 0Komentar

    Loading

    Mahfud menilai bahwa semua mantan presiden sebenarnya tidak perlu lagi melalui proses penelitian ulang dalam pengusulan gelar Pahlawan Nasional.   Yogyakarta | Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, dinilai layak secara hukum untuk diusulkan sebagai Pahlawan Nasional. Pandangan ini disampaikan oleh mantan Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menkopolhukam) Mahfud MD saat ditemui di Yogyakarta, […]

  • Etape Pulau Sumba Dimulai, Pesepeda Tour De EnTeTe Jajal Lekuk 105,3 Km

    Etape Pulau Sumba Dimulai, Pesepeda Tour De EnTeTe Jajal Lekuk 105,3 Km

    • calendar_month Ming, 14 Sep 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Loading

    Etape 4 ini sebagai balap sepeda awal yang dilaksanakan di Pulau Sumba setelah 3 etape sebelumnya dilaksanakan di Pulau Timor.   Waingapu | Gubernur NTT, Melki Laka Lena dan Bupati Sumba Timur, Umbu Pekuwali secara resmi melepas para pembalap Tour De EnTeTe dalam pelaksanaan etape 4 dari Bukit Tanarara – Waingapu pada Minggu siang, 14 […]

  • Kota Kupang dan 21 Kabupaten di NTT Waspada Hujan Angin Kencang

    Kota Kupang dan 21 Kabupaten di NTT Waspada Hujan Angin Kencang

    • calendar_month Sab, 26 Feb 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Saat ini, wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berada di periode musim hujan. Bibit siklon tropis 99S terpantau di Laut Timor yang membentuk daerah pertemuan atau perlambatan angin (konvergensi) Laut Timor. Sistem ini juga menginduksi peningkatan kecepatan angin di wilayah NTT. Suhu muka laut di NTT masih cukup hangat, dan gelombang […]

expand_less