Mama Sudah Tiada, Tapi Ladangnya Tak Boleh Mati
- account_circle Eman Sura
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 87
- comment 0 komentar

![]()
Mama Oktovina Maneo tidak sempat melihat hari itu. Perempuan yang menghabiskan hidupnya menanam sayur di lahan sekitar 30 are di Dusun Bonatama, Desa Poto, Kecamatan Fatuleu Barat, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT) itu sudah berpulang beberapa waktu lalu. Tapi Kamis siang, 12 Maret 2026, di lahan yang sama, yang kini ditumbuhi padi yang mulai berbulir, anak-anaknya berdiri dengan sesuatu yang belum pernah ia miliki semasa hidup: sebuah motor air diesel yang siap mengalirkan air ke ladang, kapan pun mereka butuh.
“Kalau sudah musim kemarau, setiap hari Mama selalu menanam sayur di lahan ini,” kenang Justus Petrus Karma, putra Mama Oktovina sekaligus Ketua Kelompok Tani Kasih Mama. Matanya mengarah ke hamparan lahan di samping rumah mereka.
“Kami akan melanjutkan apa yang sudah Mama kerjakan selama ini,” lanjutnya.
Warisan yang lebih dari sekadar nama
Kelompok Tani Kasih Mama didirikan bukan sekadar sebagai usaha pertanian. Nama itu adalah monumen kecil untuk seorang ibu yang sederhana. Mama Oktovina adalah petani sayur yang tidak pernah menyerah pada keringnya musim kemarau, yang tidak pernah menunggu bantuan untuk turun ke kebun.
Kini semangat itu diteruskan oleh Justus dan kawan-kawannya, dengan komoditas yang sama yang pernah ditanam sang ibu: tomat, cabai, dan pare. Justus melihat ini sebagai momen untuk meneruskan semangat sang ibu. Apalagi potensi lahan itu didukung oleh sebuah sumur dengan air yang tersedia sepanjang tahun sudah menanti di sisi kebun. Yang selama ini kurang hanya satu, yaitu alat untuk mengangkat air itu ke permukaan dan mengalirkannya ke tanaman.
Bapak Salmun Mona, petani yang hadir dalam acara serah terima, mengungkapkan apa yang selama ini menjadi keluhan bersama.
“Kami di sini air melimpah. Tapi kalau hanya mengandalkan tenaga untuk timba di kali atau sumur, memang sangat menguras tenaga dan waktu. Karena itu bantuan seperti ini sangat berarti bagi kami,” ungkapnya.
Kepedulian yang datang dari jauh
Motor air itu tidak datang dari program pemerintah. Ia datang dari seorang putra NTT yang kini mengabdikan hari-harinya di Jakarta, Dr. Fransiskus Xaverius Lara Aba, SE, ME.c, Ph.D, dosen Program Magister Ekonomi Terapan Universitas Katolik Atma Jaya Jakarta, yang akrab disapa Frans Aba.

Penyerahan bantuan mesin Pompa Air untuk Petani di Desa Poto, Kecamatan Fatuleu Barat, Kab. Kupang oleh Frans Aba, dosen Unika Atma Jaya Jakarta. Foto: Istimewa
Frans Aba menempuh perjalanan panjang dari bangku kuliah di Widya Mandira Kupang hingga meraih gelar doktor dari University Sains Malaysia. Karier akademiknya membawanya jauh. Tapi itu tidak pernah memutus satu benang pun yang menghubungkannya dengan tanah kelahirannya.
Siang itu, melalui kerabatnya yang hadir langsung, satu unit pompa diesel tipe Super Fighter beserta selang pengisap dan selang pembuangan sepanjang lebih dari 60 meter resmi diserahkan ke tangan Justus.
“Potensi NTT itu besar. Tanahnya subur, orangnya gigih. Yang mereka butuh adalah perhatian nyata, bukan sekadar janji. Sekecil apa pun bantuan yang bisa kita berikan, itu bermakna bagi mereka,” kata Frans Aba.
Baginya, pertanian, pendidikan, dan ekonomi rakyat adalah tiga pilar yang tidak bisa dipisahkan jika NTT ingin benar-benar maju. Sebuah keyakinan yang ia pegang bukan hanya dalam kata-kata, tapi, hari ini, dalam bentuk sebuah mesin yang menderu di pinggir ladang.
Ladang yang kembali bernapas
Dengan motor air itu, Justus menargetkan panen ratusan kg produk hortikultura per bulan. Mungkin bukan angka yang fantastis, tapi bagi keluarga petani di pelosok Fatuleu Barat, ia adalah perbedaan antara sekadar bertahan dan benar-benar berkembang.
Kepala Dusun Bonatama, Otniel Fainekan, yang turut menyaksikan serah terima berharap semangat kelompok ini bisa menular ke lebih banyak anak muda di desanya.
“Bantuan ini datang di kelompok yang tepat. Karena saya lihat sendiri semangat anak-anak muda ini. Mudah-mudahan mereka bisa lebih produktif dan menjadi inspirasi sekaligus menjadi motor penggerak bagi lebih banyak anak muda di desa ini,” ungkapnya.
Di NTT, sektor pertanian menyumbang sekitar 28,83% PDRB provinsi. Namun Nilai Tukar Petani (NTP) per Januari 2026 hanya berada di angka 101,11, tipis di atas titik impas. Artinya, jutaan petani seperti Justus dan kawan-kawannya masih berjalan di pinggiran, hanya cukup untuk bertahan tapi belum cukup untuk melompat.
Satu motor air tidak akan mengubah statistik itu seketika. Tapi di Dusun Bonatama, ia sudah mengubah satu hal yang tidak tertangkap angka mana pun: harapan bahwa ladang Mama Oktovina tidak akan pernah dibiarkan mati.(*)
- Penulis: Eman Sura











Saat ini belum ada komentar