Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Kota » Teknik Ecobrik, Solusi Mahasiswa FKM Undana Olah Sampah Non Organik

Teknik Ecobrik, Solusi Mahasiswa FKM Undana Olah Sampah Non Organik

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sen, 15 Jul 2019
  • visibility 153
  • comment 0 komentar

Loading

Kota Kupang, Garda Indonesia | Masalah sampah di Kota Kupang masih sangat memprihatinkan. Di beberapa kelurahan seperti di Kelurahan Tuak Daun Merah (TDM), tidak memiliki Tempat Pembuangan Sementara (TPS). Selain itu pengolahan limbah ternak peliharaan masyarakat juga merupakan permasalahan yang perlu ditangani dengan serius agar tidak menimbulkan polusi udara.

Berkaitan dengan masalah tersebut diatas, mahasiswa semester V (lima) Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Undana melakukan Praktek Belajar Lapangan (PBL) di RT 14 dan 15 Kelurahan TDM Kecamatan Oebobo. Kegiatan diawali dengan survei disetiap rumah warga dimulai dari tanggal 19 Juni 2019 kemudian dilanjutkan dengan Minimal Lokakarya.

“Ada beberapa masalah yang kami soroti misalnya sampah, Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), kepemilikan jamban, sumber air dan ternak berkaitan dengan feses ternak”, jelas Simon Lenggu Koordinator Kelompok 7.

Untuk masalah sampah, lanjut Simon, yang mereka temukan adalah masyarakat menggunakan karung sebagai tempat penampungan sampah, namun menurutnya itu belum memenuhi standar yaitu tempat penampungan harus memiliki tutup.
“Dari informasi yang kami dapat, di RT 14 dan 15 belum ada penyuluhan berkaitan dengan pengolahan sampah “, ujar Simon.

Berkaitan dengan PHBS, tutur Simon, pola hidup yang diperhatikan adalah hidup bersih seperti mencuci tangan, dan juga olahraga. Sedangkan untuk sumber air yang digunakan yaitu dari air PAMD, air tangki yang dibeli dan air sumur.
” Dari 106 KK di RT 14 dan 15 hanya ada 4 sumur yang kami temukan. Selain itu menggunakan bak penampung. Bak penampungan itu biasanya diisi air tangki atau dari PAMD lancar biasanya mereka isi penuh bak”, ungkap Simon.

Lebih lanjut Simon menjelaskan bahwa dari hasil survei di lokasi kemudian dilanjutkan dengan Mini Lokakarya (Minlok) pada tanggal 6 Juli 2019, kemudian bersama dengan masyarakat disepakati ada 2 (dua) masalah yang diangkat untuk dilakukan penyuluhan lebih lanjut.

“Kita bersama masyarakat bersepakat untuk mengangkat 2 masalah yaitu tentang pengolahan sampah dan juga ternak babi dan ayam”, jelas Simon.

Penyuluhan tentang masalah pengolahan sampah dan ternak berlangsung pada hari Minggu, 14 Juli 2019 bertempat di RT 15 Kelurahan TDM. Hadir pada kesempatan tersebut Ketua RT 14,Delfianus Abi, Ketua RT 15, Fransiskus Goa, Salken F. Nifu, S. Pt, sebagai pemateri, warga RT 14 dan 15 serta anggota kelompok 7 yang melakukan PBL sebanyak 22 orang.

Delfianaus Abi, ketika ditanya berkaitan dengan pelaksanaan kegiatan mengatakan bahwa kegiatan tersebut sangat bermanfaat. Karena selama ini masyarakat belum mendapatkan penyuluhan berkaitan dengan pengolahan sampah dan juga manajemen pemeliharaan ternak.

“Kami baru pertama kali dapat penyuluhan. Dan kami berharap ada solusi yang diberikan untuk mengatasi masalah sampah dan kotoran ternak agar tidak terjadi polusi. Selama ini memang dilakukan kegiatan Jumat Bersih. Namun akhir-akhir ini sentuhan masyarakat mulai berkurang. Lahan atau tempat pembuangan sampah yang kurang menjadi salah satu akibat masih banyak sampah yang berserakan”, ujar Delfianus

Tambahnya, “Masyarakat memang tahu bahwa ini sampah, tapi tidak tahu cara mengelolanya. Kita tidak punya tempat untuk tampung sehingga masyarakat membuang sampah begitu saja”.

Kurangnya pemahaman tentang pengolahan sampah, lanjut Delfianus, masih menjadi kendala sehingga dirinya berharap bahwa bisa ada solusi yang baik yang diberikan melalui kegiatan ini dan berharap ada solusi baik yang diberikan agar bisa mengatasi masalah yang dihadapi masyarakat baik itu sampah maupun ternak.

Delfianus mengisahkan bahwa pernah ada motor pengangkut sampah tetapi rusak dan sampai sekarang tidak beroperasi. Dirinya mengatakan bahwa untuk saat ini ada motor pengangkut sampah di kelurahan namun belum beroperasi.

“Kita dulu ada motor pengangkut sampah tapi rusak dan hilang saja begitu. Sekarang ada lagi tapi tetap di kantor lurah dan belum beroperasi “, ungkap Delfianus.

Sementara itu, Salken F. Nifu dalam penyampaian materinya tentang Manajemen Pemeliharaan Ternak Babi dan Ayam di Daerah Perkotaan mengatakan bahwa memelihara ternak di perkotaan membutuhkan manajemen yang baik.

“Kalau dari masalah yang didapatkan teman-teman mahasiswa yaitu berkaitan dengan kotoran ternak. Dan di RT 14 dan 15 lebih banyak ternak babi”, ujar Salken.

Masalah yang ditimbulkan dari pemeliharaan ternak, jelas Salken adalah polusi udara akibat feses (tinja ternak) yang tidak dikelola dengan baik. Dirinya menjelaskan bahwa untuk mengatasi masalah ini, maka yang pertama adalah desain kandang.

“Lantai kandang harus miring dan memiliki lubang pembuangan. Selain itu harus ada tempat penampungan feses sehingga tidak berbau”, ujar alumni peternakan Undana itu.

Lebih lanjut Salken menjelaskan bahwa tempat penampungan juga harus memiliki penutup yang bisa dibuka dan ditutup agar bau feses tidak menyebar terutama musim hujan. Sedangkan untuk kandang yang tidak memiliki tempat penampungan, lanjut Salken, bahwa untuk mengatasi bau feses makan harus dibersihkan secara rutin.

“Kalau kurang tempat untuk tempat penampungan feses, maka kandang harus dibersihkan secara rutin setiap pagi dan sore”, tutur Salken.

Salken juga menyarankan kepada masyarakat yang kandangnya tidak memiliki lubang penampung agar menggunakan alas lantai dari sekam atau serbuk kayu juga menggunakan obat SOC Suplemen Organik untuk mengatasi bau feses.

“Kalau menggunakan alas lantai sekam atau serbuk kayu maka ketika ternakembuang kotoran akan langsung kering. Sedangkan SOC suplemen organik ini kita bisa pakai untuk atasi bau feses sekalipun feses kita tampung disamping kandang”, tutur Salken.

Yohanes Karudi Udes, Mahasiswa semester V FKM Undana, yang juga merupakan anggota dari kelompok 7, dalam penyampaian materinya tentang Bahaya Sampah dan Cara Pengolahannya, mengatakan bahwa yang perlu dilakukan oleh masyarakat dalam menangani masalah sampah yang pertama adalah mengetahui jenis-jenis sampah.

“Masyarakat perlu mengetahui jenis-jenis sampah sehingga mampu memisahkan sampah sesuai jenisnya”, ujar Rudi sapaan akrabnya.

Teknik mengolah sampah nonorganik dengan cara ekobrik

Rudi dalam materinya menyampaikan tentang bahaya dari sampah jika tidak dikelola dengan baik. Dirinya juga menjelaskan tentang syarat-syarat tempat penampungan sampah yang. Pada kesempatan tersebut, Rudi juga mengajak masyarakat untuk melakukan gerakan 3M, yaitu mengurangi, menggunakan kembali serta mendaur ulang.

” Kita harus mengurangi penggunaan barang yang sekali pakai contohnya penggunaan tisu. Menggunakan kembali barang-barang yang masih layak dipakai juga sangat penting terutama melakukan daur ulang “, ujar Rudi.

Ada dua intervensi yang disampaikan oleh Rudi mewakili teman-teman kelompok 7, yang perlu dilakukan oleh masyarakat yaitu tentang pembuatan pupuk kompos dan ecobrik.

“Untuk mengatasi sampah organik kita intervensi dengan pembuatan pupuk bokashi dan sampah non organik”, jelas Rudi.

Ecobrik sendiri, menurut Rudi, sangat bermanfaat karena bisa digunakan untuk membuat meja, kursi, pembatas ruangan, bahan bata ringan, juga bisa digunakan untuk terasering.

Pembuatannya, lanjut Rudi juga sangat sederhana, yaitu dengan menyiapkan botol bekas minuman seperti aqua sebagai wadah lalu sampah plastik dimasukan kedalam botol lalu dipadatkan dan ditutup kembali.

“Ecobrik ini punya manfaat yang sangat banyak dan tidak terlalu sulit pembuatannya. Kalau bapak mama masih kesulitan dengan pupuk bokashi, bisa memulai dengan ecobrik, terutama untuk RT 14 yang daerah pemukimannya dipinggir kali, bisa dimanfaatkan sebagai terasering”, pungkas Rudi.

Warga setempat sangat antusias dalam mengikuti kegiatan. Salah satu warga RT 15, Marten meminta kepada mahasiswa agar solusi tersebut dibuat dalam bentuk laporan agar diberikan kepada lurah sehingga nantinya menjadi acuan dalam pengolahan sampah. Dirinya juga berharap pemerintah bisa lebih tegas dalam menangani masalah sampah dan juga pemeliharaan ternak.

“Saya harap pemerintah mengambil solusi yang sudah ditawarkan sebagai acuan dalam penyelesaian masalah sampah. Pemerintah harus tegas. Bila perlu ada tindakan yang menimbulkan efek jera bagi masyarakat yang tidak mau ikut aturan”, tegas Marten. (*)

Penulis (*/Joe Tkikhau)
Editor (+rony banase)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Via Program Lisdes 2025—2029, PLN Siap Listriki 780 Ribu Rumah

    Via Program Lisdes 2025—2029, PLN Siap Listriki 780 Ribu Rumah

    • calendar_month Sab, 31 Mei 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Loading

    Lisdes merupakan program pemerintah melalui penugasan kepada PLN untuk menghadirkan listrik di seluruh wilayah termasuk wilayah tertinggal, terdepan dan terluar (3T). Hingga akhir tahun 2024, sebanyak 83.693 desa dan kelurahan telah menikmati listrik.   Jakarta | PT PLN (Persero) menyatakan kesiapannya mendukung arahan pemerintah dalam menjalankan Program Listrik Desa (Lisdes) guna menerangi sekitar 780 ribu […]

  • DPR Terbuka Kaji Pengusulan E-Voting dari PDI Perjuangan

    DPR Terbuka Kaji Pengusulan E-Voting dari PDI Perjuangan

    • calendar_month Sel, 20 Jan 2026
    • account_circle Penulis
    • visibility 176
    • 0Komentar

    Loading

    Dasco menyebut setiap gagasan yang dinilai baik untuk pemilu tentu layak dibicarakan oleh DPR. Ia menilai e-voting sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin maju.   Jakarta | Wakil Ketua DPR RI, Sufmi Dasco Ahmad menyatakan DPR terbuka untuk mengkaji usulan penerapan sistem pemungutan suara elektronik atau e-voting dalam pemilihan umum, termasuk pilkada. Pernyataan itu disampaikan […]

  • Padma Indonesia Imbau Calon PMI/TKI Gunakan Jalur Resmi

    Padma Indonesia Imbau Calon PMI/TKI Gunakan Jalur Resmi

    • calendar_month Sen, 18 Mar 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 103
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Lembaga Padma Indonesia (Pelayanan Advokasi untuk Keadilan dan Perdamaian Indonesia) menyatakan bahwa Pekerja Migran Indonesia (PMI)  asal NTT yang meninggal dunia di Malaysia mayoritas adalah mereka yang berangkat nekat sendiri atau diajak oleh teman dan/atau jaringan non prosedural ke Malaysia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Direktur Padma Indonesia, Gabriel Goa melalui rilis […]

  • Berantas Judi, Pemda Belu Gelar Rapat Tindak Lanjut Perintah Gubernur NTT

    Berantas Judi, Pemda Belu Gelar Rapat Tindak Lanjut Perintah Gubernur NTT

    • calendar_month Jum, 28 Feb 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Sebagai upaya menindaklanjuti perintah Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) dalam kunjungan kerjanya di Belu beberapa waktu lalu untuk memberantas judi, Pemkab Belu menggelar pertemuan bersama Kapolres Belu, Dandim Belu/1605, Kajari Belu, Satgas Yonif 744, tokoh agama (pastor, suster, pendeta), dan sejumlah pimpinan OPD lingkup Belu di Ruang Rapat Bupati pada […]

  • PLN Jadi Keluarga Poco Leok, Bangun Geotermal dengan Ritual Adat Penti

    PLN Jadi Keluarga Poco Leok, Bangun Geotermal dengan Ritual Adat Penti

    • calendar_month Rab, 20 Nov 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 96
    • 0Komentar

    Loading

    Dukungan masyarakat semakin menguat setelah ritual adat Penti ini, yang mengukuhkan PLN sebagai Ase Kae di sepuluh gendang yang tersebar di Poco Leok. Kehadiran masyarakat dalam prosesi ini menegaskan harapan agar pembangkit listrik berbasis panas bumi dapat segera terealisasi demi kesejahteraan dan kemajuan bersama.   Manggarai | Guna menjunjung tinggi dan menghormati adat istiadat di […]

  • Kemendikbud Terima 18 Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tingkat Provinsi

    Kemendikbud Terima 18 Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) Tingkat Provinsi

    • calendar_month Rab, 17 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Menteri Koordinator (Menko) Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani dan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menerima 18 (delapanbelas) dokumen Pokok Pikiran Kebudayaan Daerah (PPKD) tingkat provinsi. Dokumen disampaikan langsung oleh delapan orang Kepala Daerah di Kantor Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Jakarta, Rabu/17 Oktober 2018. “Sejumlah PPKD yang telah ditetapkan […]

expand_less