Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Transformasi Digital Pendidikan, Siapa Yang Amat Siap?

Transformasi Digital Pendidikan, Siapa Yang Amat Siap?

  • account_circle Athaya Shabihah
  • calendar_month Sab, 20 Des 2025
  • visibility 403
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Athaya Shabihah, Statistisi Ahli Pertama BPS Provinsi NTT

Pendidikan yang berkualitas tentu dimulai dari tenaga kependidikan yang berkualitas. Tenaga kependidikan tidak hanya mencakup guru sebagai pengajar, tetapi juga semua pekerja di sektor pendidikan termasuk tenaga manajerial, tenaga administrasi, tenaga teknis, dan banyak lagi. Ketika kualitas tenaga kependidikan terjaga, maka output sistem pendidikan pun akan meningkat. Pada akhirnya, hal ini bertujuan untuk menciptakan masyarakat yang lebih terpelajar dan mampu membawa Indonesia, khususnya Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), ke arah yang lebih baik.

Pada beberapa tahun terakhir, sistem pendidikan di Indonesia telah mengalami perubahan signifikan. Berbagai kegiatan yang sebelumnya dilakukan secara konvensional kini beralih ke bentuk digital dengan memanfaatkan teknologi. Hal ini tampak pada berbagai program pemerintah yang mendorong digitalisasi seperti adanya penyediaan akun belajar.id, dukungan sarana penunjang seperti laptop, alokasi dana khusus untuk pengadaan infrastruktur teknologi sekolah, kerja sama dengan operator telekomunikasi guna pemberian kuota internet, dan banyak lagi. Hal ini menunjukkan tekad kuat pemerintah untuk memperbaiki sistem pendidikan di melalui transformasi digital.

Namun, pertanyaan penting yang perlu diajukan adalah apakah tenaga kependidikan sudah cukup siap menghadapi perubahan tersebut?

Secara tidak langsung, mereka dituntut untuk mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Namun pada kenyataannya, masih terdapat sebagian tenaga kependidikan yang belum atau bahkan tidak mampu memanfaatkan teknologi secara optimal. Keterbatasan sarana serta rendahnya kualitas sumber daya manusia menjadi faktor utama yang menghambat proses adaptasi ini.

Jika ditinjau lebih jauh, pada tahun 2024 sebagian besar tenaga kependidikan di NTT memang telah memiliki tingkat pendidikan di atas SMA, yakni sebesar 84,24 persen. Meski demikian, masih terdapat 15,76 persen yang berpendidikan di bawah SMA. Persentase ini tergolong kecil, tetapi dampaknya cukup signifikan terhadap penggunaan komputer dan internet dalam pekerjaan. Tenaga kependidikan dengan tingkat pendidikan rendah cenderung lebih sulit mengadopsi teknologi, sehingga keberhasilan proyek digitalisasi pendidikan akan sulit tercapai tanpa perhatian serius pemerintah terhadap peningkatan kualitas pendidikan tenaga kependidikan itu sendiri.

Di samping dituntut untuk beradaptasi dengan era digital, permasalahan upah yang minim masih menjadi isu yang berulang kali dialami tenaga kependidikan. Berdasarkan data BPS, median pendapatan tenaga kependidikan di NTT tahun 2024 adalah sebesar Rp.2.000.000 per bulan. Artinya, separuh (50 persen) tenaga kependidikan di NTT memiliki pendapatan di bawah Rp.2.000.000 per bulan sementara separuh lainnya di atas Rp.2.000.000 per bulan. Median ini tidak dipengaruhi oleh pendapatan yang sangat tinggi maupun sangat rendah, sehingga lebih mencerminkan kondisi umum pekerja.

Pendapatan tersebut masih lebih rendah dari pada nilai Upah Minimum Provinsi (UMP) NTT tahun 2024 yang ditetapkan sebesar Rp.2.186.826 per bulan. Padahal, UMP dihitung berdasarkan kebutuhan hidup layak rata-rata, inflasi, dan kondisi ekonomi daerah. Banyaknya pekerja yang berpendapatan di bawah UMP menunjukkan bahwa kesejahteraan tenaga kependidikan yang relatif rendah dibanding dengan standar kebutuhan hidup layak. Akibatnya, mereka mungkin harus mengurangi pengeluaran atau mencari pendapatan tambahan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

Rendahnya tingkat kesejahteraan tersebut lambat laun akan berdampak pada motivasi, kualitas hidup, dan produktivitas tenaga kependidikan. Di tengah beban kerja, tuntutan administrasi, serta kewajiban untuk beradaptasi dengan sistem digital, upah yang diterima terasa tidak sebanding. Hal ini tercermin dari masih besarnya persentase tenaga kependidikan yang belum menggunakan teknologi dalam pekerjaannya, yaitu 25,06 persen belum menggunakan komputer dan 13,47 persen belum menggunakan internet. Angka ini patut menjadi perhatian serius apabila pemerintah benar-benar ingin mengimplementasikan digitalisasi pendidikan secara menyeluruh.

Selain persoalan upah yang relatif rendah, tenaga kependidikan juga masih minim dalam memperoleh penghargaan dari pemerintah, baik secara material maupun nonmaterial. Kurangnya penghargaan ini berpotensi memperparah penurunan motivasi dan rasa memiliki terhadap sistem pendidikan itu sendiri. Jika pemerintah ingin memastikan keberhasilan digitalisasi pendidikan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia, maka perhatian tidak cukup hanya pada penyediaan infrastruktur, tetapi juga perlu diwujudkan melalui pengakuan, apresiasi, dan kebijakan yang lebih berpihak pada kesejahteraan serta peran strategis tenaga kependidikan.

Pada akhirnya, tuntutan digitalisasi pendidikan harus dibarengi dengan kesiapan fasilitas, kualitas sumber daya manusia, serta regulasi yang mendukung kesejahteraan pekerja pendidikan. Pendidikan yang berkualitas memang menjadi tanggung jawab bersama. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa setiap individu juga harus terlebih dahulu berjuang memenuhi kebutuhan hidup dasarnya. Negara yang maju, cerdas, dan berdaya guna hanya dapat terwujud apabila masyarakatnya, termasuk tenaga kependidikan, hidup dalam kondisi yang sejahtera.(*)

 

 

  • Penulis: Athaya Shabihah

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Prof Eniya : Lumpur Panas Geotermal di Flores Bisa Jadi Ekowisata

    Prof Eniya : Lumpur Panas Geotermal di Flores Bisa Jadi Ekowisata

    • calendar_month Rab, 30 Apr 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 159
    • 0Komentar

    Loading

    Dikatakan, Prof. Eniya, telah terdapat konklusi atau kesimpulan yang menghantar solusi, misalnya terkait semburan asap atau lumpur panas geotermal bakal disesuaikan dengan peraturan Kementerian ESDM untuk pemanfaatan langsung dengan pelibatan masyarakat.   Kupang | Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konversi Energi, Prof. Dr. Eng, Eniya Lestiani Dewi, B.Eng., M.Eng. IPU. saat sesi doorstop dengan […]

  • PLN UIP Nusra Identifikasi Tanah Akses Menuju PLTP Ulumbu

    PLN UIP Nusra Identifikasi Tanah Akses Menuju PLTP Ulumbu

    • calendar_month Jum, 28 Feb 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 196
    • 1Komentar

    Loading

    Proses pengadaan tanah dimulai pada Februari 2025, dengan target penyelesaian pembayaran ganti rugi kepada pemilik tanah pada Maret 2025.   Ruteng | PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) bersama Badan Pertanahan Nasional (BPN) Manggarai menghelat sosialisasi inventarisasi dan identifikasi pengadaan tanah access road STA 0+000 – 7+200 pembangkit listrik tenaga panas bumi […]

  • Pemkot Kupang & BI NTT Bahas Trik Kontrol Inflasi

    Pemkot Kupang & BI NTT Bahas Trik Kontrol Inflasi

    • calendar_month Kam, 7 Sep 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 171
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Penjabat Wali Kota Kupang, Fahrensy Funay dan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi NTT, Donny Heatubun membahas dan mengulas upaya penanganan inflasi dan meningkatkan pertumbuhan ekonomi di Kota Kupang. Pertemuan keduanya dihelat pada pada Kamis, 7 September 2023. Turut hadir Deputi Kepala Perwakilan BI Provinsi NTT, Daniel Agus Prasetyo dan Pratyaksa […]

  • Buser Polres Belu, Diduga Aniaya Warga di Kecamatan Tasifeto Barat

    Buser Polres Belu, Diduga Aniaya Warga di Kecamatan Tasifeto Barat

    • calendar_month Sab, 2 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 216
    • 0Komentar

    Loading

    Belu-NTT, Garda Indonesia | Tim Buser Polres Belu diduga telah menganiaya Mesak Bau, warga Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), menjelang pergantian tahun 2020 di Dusun Halitoko, Desa Naitimu, Kecamatan Tasifeto Barat, pada Kamis sore, 31 Desember 2020. Kejadian nahas itu berawal ketika korban Mesak Bau sedang berusaha menghidupkan […]

  • SIAGA Bangun NTT dari Desa

    SIAGA Bangun NTT dari Desa

    • calendar_month Jum, 15 Nov 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Loading

    NTT merupakan provinsi kaya akan budaya dan potensi alam. Untuk itu, pembangunan untuk kesejahteraan rakyat menjadi pekerjaan rumah (PR) besar bagi Paket SIAGA.   Kupang | Pasangan calon gubernur dan wakil gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) nomor urut 3, Simon Petrus Kamlasi-Adrianus Garu (SIAGA) akan menerapkan pola kepemimpinan yang berbeda ketika dipercaya memimpin NTT 5 […]

  • Kejaksaan Agung Jadi Lembaga Terpercaya, Hasil Survei Meningkat 81,2%

    Kejaksaan Agung Jadi Lembaga Terpercaya, Hasil Survei Meningkat 81,2%

    • calendar_month Ming, 2 Jul 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 181
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Lembaga survei Indikator Politik Indonesia merilis hasil survei periode 20—24 Juni 2023 dalam kategori “Kepercayaan Terhadap Lembaga Negara”. Berdasarkan hasil survei tersebut, Kejaksaan Agung masih tetap menjadi lembaga penegak hukum paling dipercaya oleh masyarakat dengan persentase 81,2%. Atas hasil survei tersebut, Kejaksaan Agung dinilai paling tinggi tingkat kepercayaannya dalam penegakan hukum […]

expand_less