Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Ereksi Elite Partai Politik

Ereksi Elite Partai Politik

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sen, 28 Agu 2023
  • visibility 102
  • comment 2 komentar

Loading

Oleh:  Marsel Robot, Dosen Undana & Budayawan

Libido kekuasaan elite partai politik, belakangan mengalami ereksi yang tak tertahankan. Bahkan, mengalami ejakulasi dini dimulai 3 Oktober 2022 lalu, ketika Partai Nasional Demokrat (NasDem) mencalonkan Anies Baswedan sebagai presiden Republik Indonesia tahun 2024.

Padahal, ejakulasi dini selalu mengecewakan. Setidaknya, alogaritma politik Surya Paloh mulai mengalami kerusakan atau dirusakkan dan kemesraan dengan pemerintah mulai berantakan. Walau, pada pihak lain, ejakulasi dini NasDem justru menyedot libido Partai Demokrat. Partai berlambang bintang bersinar merah putih itu begitu lebay mendekati NasDem dengan sejumput harapan yang merindang di hati Bambang Yudhoyono kiranya Agus Harimurti Yudhoyono bisa sepelaminan dengan Anies Baswedan.

Ereksi di ruang sosial pun kian menderas dan berlepotan di sana-sini seakan menekan partai politik.  Karenanya, sejumlah partai politik mengalami birahi serius. Bayangkan, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) yang terkesan kalem dalam keriuhan dan ingin bermain santai, terangsang juga.

Lantas, mengumumkan Ganjar Pranowo sebagai calon presiden 2024. Muhaimin Iskandar dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) sudah lama turun-naik gunung menggelar silaturahmi, sebuah diksi alkitabiah untuk mengemas libido kekuasaan itu. Golkar bagai mengalami gangguan jiwa, terlihat autis, mondar-mandir, tak betah, dan sulit menentukan bukit untuk meniupkan nafiri politiknya. Keadaan itu justru mengancam Airlangga Hartarto untuk dipecat melalui algojo musyawarah luar biasa (munaslub).

Lantas, apa yang kita dapatkan dari konser elite politik atau kesibukan para elite politik mencari perselingkuhan untuk melampiaskan libido kekuasaannya itu? Jawaban setiap kita oleh berbeda. Tentu, sesuai pengalaman dan ensiklopedi (ketersediaan pengetahuan) kita untuk menafsirkan informasi dari ekspresi para perindu kekuasaan atau para pendamba jabatan itu.

Toh, hemat saya yang fakir atau kafir ilmu politik ini boleh berpendapat. Pertama, sepanjang dua tahun terakhir ini konser elite partai memperlihatkan betapa besarnya libido untuk berkuasa. Sangat kelihatan, raut wajah pemerintahan hanya sekadar persekongkolan para elite partai untuk meraih kekuasaan.

Persis kata Megawati, ketika menetapkan Ganjar Pranowo sebagai capres, bahwa presiden adalah petugas partai. Terkesan, negara ini kepunyaan segelintir orang. Lihatlah pemandangan yang amat getir. Mereka melakukan safari, lobi di sana- sini, memamerkan makanan mewah di hotel megah. Padahal, rakyat hidup dalam serba kesulitan dan perekonomian negara mengalami pendarahan berat.

Sungguh sebuah konser keserakahan.

Kedua, hal yang paling menggetarkan dan menggetirkan sekaligus bahwa politik akomodatif Presiden Joko Widodo membawa buah simalakama (maju mati mama, mundur mati bapa). Ia adalah presiden yang menjinakkan oposisi  dengan cara menyelingkuhi kawan dengan lawan dalam Kabinet Indonesia Maju. Prabowo dan Sandiaga Uno yang menjadi rival berat Jokowi pada periode pencalonan presiden sebelumnya malah dihela ke dalam ruang rangsang perselingkuhan itu.

Hilangnya rival yang generik itu justru memunculkan rival dari bandit-bandit berlabel akademis seperti Roky Gerung, si bajingan tolol itu. Atas nama demokrasi dan kebebasan berpendapat, ia boleh memfitnah dan mencaci pemerintah. Ia sengaja tidak mengeja perbedaan antara mengkritik dan menghina.

Gerung justru membangkrutkan demokrasi sekadar memaki-maki. Dan ia sangat popular karena kemampuan mencaci-maki Presiden Jokowi. Gerung effect kian masif. Sekarang, siapa pun boleh menghina atau memaki pemimpinnya. Mulailah masyarakat kita hidup dalam era jahiliah di mana bahasa bukan lagi modus ungkap peradaban.

Model akomodasi Jokowi, semula begitu mesra. Namun, dua tahun menjelang akhir masa jabatannya, politik akomodatif persis memelihara kalajengking di kasur pengantin Kabinet Indonesia Maju. Kelihatan misalnya, hari-hari ini, para pejabat perlahan mendua. Bahkan, meninggalkan Jokowi dengan cara masing-masing. Rasa genit tadi, mulai terasa pahit. Muncul kosa kata cinta, “itu dulu, Bung, ke depan lain, Bang”.

Jokowi terperosok di jalan licin yang dibuatnya. Atau memang, sengaja ia dibuatkan jalan licin itu untuk keperluan tertentu. Setidaknya, Pak Jokowi merival dengan dirinya. Pak Jokowi mengalami penderitaan atau minimal vertigo (sakit kepala sebelah). Sebab, ia berdiri persimpangan jalan licin itu (Prabowo atau Ganjar, atau yang lainnya).

Prabowo yang telah membantunya selama hampir 5 tahun. Ia telah menunjukkan loyalitas yang begitu latah terhadap Pak De (Jokowi). Bahkan, Prabowo dipandang orang yang paling tepat meneruskan program raksasa Ibu Kota Nusantara (IKN) yang sedang diributkan oleh sebagian masyarakat, terutama oleh Rocky Gerung, si bajingan tolol itu. Tentu, termasuk urusan tengik lainnya. Karena itu, Prabowo kelihatan santai menghadap pemilu presiden 2024 ini.

Seperti ada semilir angin berembus dari jendela surga yang menggelembungkan optimisme. Semakin dia santai, semakin misteri pula misi perjuangannya.

Rupanya, Airlangga Hartarto (Golkar) dan Budiman Sudjatmiko (PDIP) cukup pandai membaca larik-larik puitis politik yang menghubungi Prabowo dengan Jokowi. Tak terbayangkan misalnya, Budiman Sujatmiko yang dibesarkan sejak ingusan di PDI, berpaling dan menuju Prabowo. Hal yang sama dilakukan Airlangga Hartarto, loyalitas Pak De dengan jabatan menteri paling strategis.

Lalu, Airlangga angkat koper menuju Prabowo.

Terasa memang, dan memang terasa, tahun 2023 ini angin di istana kian tengik. Kursi-kursi di kantor kelihatan berantakan. Sebab, para menteri atau pejabat yang tak lain petugas partai itu lebih banyak waktu di luar kantor untuk melakukan manuver. Mereka perlahan menghela pelampung di bawah kursi untuk dipakai menyelamatkan diri pasca-Jokowi.

Nah, perangai yang paling baik saat ini ialah “bermuka dua” (muka-belakang alias muka semua). Sebab, badai politik yang halus itu lebih dahsyat daripada badai lautan.

Dasar manusia miskin. Semakin kaya, malah semakin merasa miskin. Semakin menjabat, semakin merasa hina dina. Padahal, jabatan sekadar aksesoris duniawi. Atau mungkin terlanjur menjadikan jabatan sebagai eksistensi atau modus eksistensi kemanusiaan. Akibatnya, martabat dimutasikan ke jabatan. Itulah sebabnya, mereka sangat gelisah bila kehilangan jabatan. Inilah kesialan eksistensial yang paling mengerikan.

Bayangkan, yang pulang penjara karena korupsi, malah dengan senyum dikulum masuk lagi partai dan mendapat jabatan strategis. Ada pula yang dicalonkan lagi menjadi wali kota.

Ini bukan kekeliruan, tetapi keterlaluan.

Artinya, sebodoh-bodohnya rakyat tidak sebodoh orang-orang ini. Semiskin-miskinnya rakyat tidak semiskin Mahkamah Agung, DPR, menteri, pejabat.  Dari sini pula, ketahuan, pemimpin kita telah kehilangan watak karitatifnya. Mereka seakan tidak perlu mengetahui harga beras semakin naik. Mereka tidak perlu mengetahui, rakyat hanya makan sekali dalam sehari. Mereka tak perlu mengetahui harga kebutuhan pokok yang terus merayap naik ke bukit penderitaan.

Lantas siapakah rakyat? Penyair Hartoyo Andangjaya menjawab lirih.

Rakyat ialah kita

jutaan tangan yang mengayun dalam kerja

di bumi di tanah tercinta

jutaan tangan mengayun bersama

membuka hutan-hutan lalang jadi ladang-ladang berbunga

mengepulkan asap dari cerobong pabrik-pabrik di kota

menaikkan layar menebar jala

meraba kelam di tambang logam dan batubara

Rakyat ialah tangan yang bekerja.

  • Penulis: Penulis

Komentar (2)

  • Fabyan Onduk

    Trimakasih atas tulisan yang sungguh mencerahkan ini. Mudah-mudahan semua mereka (pejabat dan politikus) turut membacanya. Merekapun bisa berkaca pada isi tulisan ini. Salam keraeng.

    Balas29 Agustus 2023 10:04 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Indonesia Posisi Teratas Kreator YouTube Terbanyak di Asia Tenggara

    Indonesia Posisi Teratas Kreator YouTube Terbanyak di Asia Tenggara

    • calendar_month Sab, 14 Jun 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 162
    • 0Komentar

    Loading

    Berdasarkan hasil studi, 94% pengguna Indonesia mengatakan bahwa Youtube merupakan tujuan awal mereka pada saat mencari konten video.   YouTube, situs web berbagi video daring didirikan pada 14 Februari 2005 oleh Chad Hurley, Steve Chen, dan Jawed Karim. Ketiga pendiri ini adalah mantan karyawan PayPal. YouTube mulai beroperasi setelah didaftarkan secara resmi pada hari Valentine […]

  • Komisi VIII DPR RI Apresiasi Kinerja Kementerian PPPA

    Komisi VIII DPR RI Apresiasi Kinerja Kementerian PPPA

    • calendar_month Sel, 6 Nov 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Ketua Komisi VIII DPR RI, M. Ali Taher mengapresiasi upaya Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) dalam meningkatkan pemberdayaan perempuan dan perlindungan anak. Pada pembukaan Rapat Koordinasi Teknis Perlindungan Anak (Rakortek) PA dengan tema Bersama Lindungi Anak Indonesia dari Kekerasan dan Diskriminasi, kehadiran Ali Taher menunjukkan dukungan DPR terhadap Kemen […]

  • 5.000 Hektare Lumbung Pangan di Sumba Tengah untuk Kesejahteraan Masyarakat

    5.000 Hektare Lumbung Pangan di Sumba Tengah untuk Kesejahteraan Masyarakat

    • calendar_month Sel, 23 Feb 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Loading

    Sumba-NTT, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo dalam kunjungan kerjanya ke Provinsi Nusa Tenggara Timur pada Selasa, 23 Februari 2021, melakukan peninjauan terhadap pembangunan lumbung pangan (food estate) baru di Kabupaten Sumba Tengah. Kawasan lumbung pangan di Sumba Tengah mencakup lahan seluas 5.000 hektare yang 3.000 hektare di antaranya diperuntukkan bagi penanaman padi, sementara 2.000 […]

  • Ketua KPK Firli Bahuri : Progres  Pemberantasan Korupsi di Indonesia

    Ketua KPK Firli Bahuri : Progres Pemberantasan Korupsi di Indonesia

    • calendar_month Ming, 26 Jan 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Lembaga Komisi Pemberantasan Korupsi ( KPK-red ) periode 2019—2023 (belum genap 1,5 bulan) sudah melakukan kerja nyata dengan menetapkan skala prioritasnya pada 12 orang tersangka yang sudah ditahan dan 10 orang menjadi tersangka. Bahwasanya untuk dapat mewujudkan harapan tersebut perlu ada sejumlah gagasan dan terobosan tentang pentingnya melakukan tindak pencegahan untuk […]

  • Mendagri Masih Mengkaji Dugaan Pengunduran Diri Wakil Bupati Nduga

    Mendagri Masih Mengkaji Dugaan Pengunduran Diri Wakil Bupati Nduga

    • calendar_month Sab, 28 Des 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 129
    • 0Komentar

    Loading

    Bogor, Garda Indonesia | Menteri Dalam Negeri Prof. H.M. Tito Karnavian hingga kini masih mengkaji informasi dugaan pengunduran diri Wakil Bupati Nduga Wentius Nimiangge. Hal itu diungkapkannya usai melakukan Rapat Terbatas di Istana Bogor, Jawa Barat, pada Jumat, 27 Desember 2019. “Saya sudah telepon Kapolda, Kabinda, untuk menanyakan kepada yang bersangkutan, mengundurkan diri betul apa […]

  • Kasus Panji Gumilang Naik Penyidikan, Polri: Tak Ada Bekingan

    Kasus Panji Gumilang Naik Penyidikan, Polri: Tak Ada Bekingan

    • calendar_month Rab, 5 Jul 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Direktorat Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri menaikkan status kasus dugaan penistaan agama pengasuh Pondok Pesantren Al Zaytun, Panji Gumilang, ke tahap penyidikan. “Kami sampaikan, selesai pemeriksaan penyidik telah gelar perkara, bahwa perkara kita tingkatkan dari penyelidikan ke penyidikan,” kata Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri, Brigjen Djuhandhani Rahardjo Puro kepada wartawan […]

expand_less