Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Manusia Punya Kehendak Berkuasa (Sebuah Refleksi Filosofis)

Manusia Punya Kehendak Berkuasa (Sebuah Refleksi Filosofis)

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Kam, 16 Mei 2024
  • visibility 87
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Novilus Uropmabin

Dunia dewasa ini diwarnai dengan kemunafikan, hedonisme, korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi sesuatu hal yang lumrah bagi kehidupan manusia.

Bagi manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etis dianggap ketinggalan zaman,  masih berpikir primitif dan berbagai macam stigma lainnya. Membicarakan kehendak manusia untuk berkuasa bukanlah sesuatu yang rahasia lagi karena inilah realitas hidup sehari-hari.

Kekuasaan diselubungi oleh kemunafikan yang bermuara pada kehancuran kehidupan, baik dalam kehidupan keluarga, komunitas, institusi, dan pada umumnya masyarakat modern.

Membicarakan manusia memiliki hasrat untuk berkuasa, kita bisa melihat fenomena politik di negara Republik Indonesia. Para elite politik mengumbar janji di mimbar kampanye guna mendapatkan suara dari rakyat. Namun setelah mereka duduk di kursi kekuasaan, mereka lupa diri dan melantarkan rakyatnya.

Tak hanya itu saja, ketika mereka menjabat, mereka melakukan korupsi atas uang rakyat demi memperkaya diri sendiri, menutup diri atas realitas kemiskinan, krisis kemanusiaan dan lain sebagainya.

Dalam majalah Gita Sang Surya madah persaudaraan semesta Abdul Moqsith Ghazali (Eras Baum,OFM) 2012. merefleksikan bahwa berada di titik seperti ini bisa dapat kita katakan seperti Thomas Hobbes (1588-1679) Homo homini lupus/manusia menjadi serigala bagi sesamanya.

Mengapa?

Karena pada dasarnya di dalam diri manusia berdiam hasrat untuk menindas, hasrat untuk berkuasa, memiliki hasrat untuk melihat orang lain sebagai yang asing, objek semata, sebagai ancaman, bukan manusia atau lebih rendah dari pada manusia. Dalam kenyataan hidup seperti ini, orang lain menjadi korban, ditelanjangi martabatnya sebagai manusia.

Sangatlah kejam kehidupan ini, meskipun dalam teori sosiologi mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial, manusia tidak hidup hanya seorang diri tetapi ada bersama yang lain.

Konsep kehendak untuk berkuasa

Melihat kembali latar belakang kehidupan saat ini, kita sudah berada di zaman yang tidak memberikan kepastian hidup yang lebih harmonis, damai dan sejahtera. Karena banyak persoalan yang terjadi dan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak, kita berada dalam bayang-bayang kematian jika tidak merefleksikan diri atas realitas hidup saat ini.

Apabila kita tidak merancang suatu masa depan yang lebih baik dari kenyataan saat ini, maka otomatis kita akan terus menghadapi suatu krisis moral akibat dari oknum-oknum yang mengedepankan kepentingan pribadinya atau memiliki hasrat untuk berkuasa tanpa melihat penderitaan orang lain di sekitar.

Oleh sebab itu, dalam menyikapi fenomena atas kehendak untuk berkuasa oleh oknum-oknum tertentu di belakangan ini dapat dilihat dari sudut pandang pemikiran filosofis Friedrich Nietzsche, seorang Filsuf Jerman yang hidup di akhir abad ke-19.  Ia berpendapat bahwa manusia dan alam semesta didorong oleh suatu kekuatan purba, yaitu kehendak untuk berkuasa (the will to power). Konsep Nietzsche dalam kehendak untuk berkuasa lebih lanjut diuraikan oleh Reza Wattimena dalam buku filsafat anti-korupsi, membedah hasrat kuasa, pemburuan kenikmatan, dan sisi hewani manusia di balik korupsi (2012). Wattimena mengangkat situasi kehidupan politik dan korupsi di Indonesia untuk menyikapinya dengan konsep atau pemikiran Nietzsche adalah salah satu konsep yang menarik perhatian banyak orang pada zamannya. Melihat dari latarbelakang konsep ini bisa dapat dikategorikan sebagai pemikir naturalistis yakin melihat manusia tidak lebih dari sekedar insting-insting alamiah atau mirip dengan hewan maupun makhluk hidup lainnya.

Lebih lanjut, Wattimena mengutip sebagaimana dicatat oleh Porter, yakni 3 (tiga) poin penting yang menjadi pengertian tentang kehendak untuk berkuasa dalam mewarnai pemikiran Nietzsche adalah sebagai berikut: 1. Kehendak untuk berkuasa sebagai abstraksi dari realitas. 2. Sebagai aspek terdalam sekaligus tertinggi dari realitas. 3. Sebagai realitas itu sendiri apa adanya.

Ketiga makna di atas dapat disingkat menurut bahasa Nietzsche kehendak untuk berkuasa adalah “klaim” kekuasaan yang paling tirani tak punya pertimbangan dan tak dapat dihancurkan dalam diri manusia. Dorongan ini tidak dapat ditahan, apalagi dimusnahkan karena segala sesuatu yang ada berasal dari padanya. Jadi seluruh realitas ini, dan segala yang ada di dalamnya adalah ledakan sekaligus bentuk lain dari kehendak untuk berkuasa.

Konsep kehendak untuk berkuasa menurut hemat saya adalah dilihat sebagai simbol dari kritik terhadap masyarakat modernitas yang memasung manusia menjadi objek semata. Jadi dengan konsep kehendak untuk berkuasa, Nietzsche ingin membongkar rahasia terdalam kemunafikan manusia modern yang berpura-pura menaati hukum dan moral tetapi di sisi lain menjadi gelap untuk berkuasa bagi orang lain.

Maka siapa yang bertarung dengan monster? Harus melihat bahwa ia sendiri tidak menjadi monster. Dan ketika kamu melihat dalam waktu lama ke dalam jurang yang kosong, jurang tersebut melihat kembali kepadamu, demikianlah tulisan Nietzsche.

Inilah gambaran orang-orang munafik yang ingin berkehendak untuk berkuasa, yang berkuasa atas nama moralitas atau nilai-nilai kebaikan. Karena itu berbicara tentang sisi gelap manusia, kehendak untuk berkuasa memang bisa langsung diacu, tetapi dengan kata lain akar dari sisi gelap manusia yang bersifat subyektif adalah merusak. Dalam hal ini, menurut Nietzsche adalah kehendak untuk berkuasa yang ada di dalam diri setiap manusia, sekaligus merupakan daya gerak dari dunia dan kehidupan itu sendiri.

Apa yang kita lakukan sebagai manusia?

Berhadapan dengan semuanya itu, yang perlu kita lakukan adalah mengenali sisi gelap dan menerima kehendak untuk berkuasa sebagai bagian dari diri kita dalam kehidupan ini. Sebab menyangkal adalah hanya berbuah pada ketakutan dan kemunafikan, kemudian nantinya bermuara pada kejahatan.

Jadi dalam tafsirnya Nietzsche kehendak untuk berkuasa bukan untuk diingkari, melainkan untuk diraih, dirayakan, dan digunakan untuk mencipta, bukan untuk bertindak mengobjekkan orang lain. Dengan kata lain kehendak untuk berkuasa adalah energi yang mendorong manusia untuk menciptakan peradaban baru selesai dengan kontekstual atau berkuasa untuk menciptakan sesuatu yang berdaya guna untuk semua orang bukan untuk diri sendiri.

Jadi, kehendak untuk berkuasa merupakan akar dari destruksi dan kreasi demi kehidupan bersama, karena hidup yang dirayakan bersama orang lain adalah tidak akan pernah jatuh ke dalam pemutlakan nilai-nilai kejahatan tetapi nilai kebaikan itu sendiri. Oleh karena itu, kehendak untuk berkuasa harus ditafsirkan secara humanistis dan diterapkan secara indah. Artinya penerapan kehendak untuk berkuasa di dalam kehidupan harus memiliki aspek estetika yang tepat dan mendalam. Agar keindahan itu mencakup semua aspek kehidupan manusia termasuk rencana, tata kelola, evaluasi, sampai pada ciri fisik sampai dengan fungsi kontrol yang ada di dalam kekuasaan itu sendiri. Supaya tanpa meniadakan yang lain sekaligus tidak menyangkal sisi gelap terdalam manusia, tetapi menerima itu sebagai bagian dari diri sendiri dan alam semesta untuk terus merajut hidup serta merayakan kehidupan bersama orang lain di tengah-tengah dunia ini.(*)

*/Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura Jayapura Papua

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • PROGRES! Praktisi Mengajar Politeknik Negeri Kupang Angkatan 3—2023

    PROGRES! Praktisi Mengajar Politeknik Negeri Kupang Angkatan 3—2023

    • calendar_month Jum, 29 Sep 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Peluncuran atau launching program Praktisi Mengajar Angkatan 3—2023 dilaksanakan secara luar jaringan (luring) atau offline dan dalam jaringan (daring) atau online pada Jumat pagi, 29 September 2023 di ruang rapat Rektorat Politeknik Negeri Kupang. Hadir saat peluncuran antara lain Direktur Politeknik Negeri Kupang, Frans Mangngi, S.T., M.Eng. Wakil Direktur I, II, […]

  • Tebang Pilih Kasus Ala Komnas HAM Dan Komisi III, Ada Apa atau Apa Ada?

    Tebang Pilih Kasus Ala Komnas HAM Dan Komisi III, Ada Apa atau Apa Ada?

    • calendar_month Rab, 9 Des 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 79
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Rudi S Kamri Hanya dalam hitungan jam Komisi Nasional Hak Azasi Manusia (Komnas HAM) dan Komisi III DPR RI langsung merespons kejadian tewasnya enam orang laskar khusus FPI pasca mereka menyerang dan akhirnya dilumpuhkan oleh Polisi. Sesuatu yang kelihatannya begitu mulia dan responsif yang dilakukan oleh kedua lembaga negara tersebut. Pertanyaannya, boleh dan pantaskan […]

  • Jokowi Beli Sepatu ‘Sneaker Fine Counsel’ dari Greysia Polii

    Jokowi Beli Sepatu ‘Sneaker Fine Counsel’ dari Greysia Polii

    • calendar_month Ming, 15 Agu 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 106
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Usai menerima kontingen Indonesia yang berlaga di Olimpiade Tokyo 2020, sekaligus menyerahkan bonus apresiasi bagi para atlet dan para pelatih, dengan mengedepankan protokol kesehatan ketat di halaman Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, pada Jumat, 13 Agustus 2021. Presiden Jokowi pun menerima penawaran dari peraih medali emas cabang bulu tangkis, Greysia Polii […]

  • Tua Adat Nua Wogo Bajawa Ajak PLN dan Media Kembangkan Desa Wisata

    Tua Adat Nua Wogo Bajawa Ajak PLN dan Media Kembangkan Desa Wisata

    • calendar_month Rab, 29 Okt 2025
    • account_circle Tim PLN UIP Nusra
    • visibility 412
    • 0Komentar

    Loading

    Tua Adat sekaligus Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Desa Nua Wogo, Yohanes Baghi, menyampaikan apresiasi atas kehadiran PLN dan komitmen perusahaan yang terus membuka ruang dialog dengan masyarakat.   Bajawa | Kunjungan PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) bersama rombongan wartawan NTT ke kawasan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Mataloko […]

  • TAK JIJIK! SPK & Andre Garu Pungut Sampah Usai Deklarasi

    TAK JIJIK! SPK & Andre Garu Pungut Sampah Usai Deklarasi

    • calendar_month Sen, 23 Sep 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Loading

    SoE | Deklarasi akbar pasangan calon Gubernur dan Wakil Gubernur NTT Simon Petrus Kamlasi-Adrianus Garu (SIAGA) di lapangan Puspemnas Soe, Kabupaten Timor Tengah Selatan (TTS), Sabtu, 21 September 2024, meninggalkan kesan yang positif. Puluhan ribu massa yang hadir dalam deklarasi SIAGA begitu antusias dan menikmati setiap yakni, orasi politik dari Simon Petrus Kamlasi yang merupakan […]

  • Pesparani 2020 Tak Sekadar Even Namun Harus Berdampak Bagi Masyarakat

    Pesparani 2020 Tak Sekadar Even Namun Harus Berdampak Bagi Masyarakat

    • calendar_month Sab, 18 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 81
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Kegiatan Pesta Paduan Suara Gerejani (Pesparani) Nasional yang akan dilaksanakan di Kota Kupang Tahun 2020 tidak boleh hanya sekadar membuat NTT terkenal tapi dapat berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Harapan itu disampaikan oleh Ketua Dekranasda NTT, Julie Sutrisno Laiskodat saat menyampaikan arahan pada pertemuan awal Persiapan Pesparani Katolik Nasional II Tahun […]

expand_less