QRIS kini sudah bisa digunakan lintas negara dengan Thailand, Malaysia, Singapura. Dalam waktu dekat, QRIS juga akan terhubung dengan Jepang, India, Korea Selatan, dan UEA (Uni Emirat Arab).
Jakarta | Bank Indonesia (BI) mencatat lonjakan signifikan dalam penggunaan layanan pembayaran digital berbasis QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) hingga kuartal II tahun 2025.
Deputi Gubernur BI, Filianingsih Hendarta, menyebut bahwa pengguna QRIS telah mencapai 57 juta, atau hampir menyentuh target 58 juta pengguna di akhir tahun. Volume transaksi juga menunjukkan kinerja impresif dengan 6,1 miliar transaksi atau 93 persen dari target tahunan sebanyak 6,5 miliar transaksi. Nilai nominal transaksi menembus Rp 317 triliun, tumbuh 121 persen secara tahunan (year on year), sementara jumlah merchant pengguna QRIS telah mencapai 39,3 juta dari target 40 juta.
BI juga memperluas layanan QRIS lintas negara (cross border). Transaksi inbound dari negara seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand mengalami peningkatan, sementara transaksi outbound dari Indonesia ke negara-negara tersebut sedikit melambat.
Sebagai bagian dari ekspansi, BI akan meluncurkan QRIS cross border dengan Jepang pada 17 Agustus 2025, bertepatan dengan Hari Kemerdekaan RI. Pada tahap awal, warga Indonesia yang bepergian ke Jepang dapat menggunakan QRIS untuk memindai QR Jepang. Sementara itu, kerja sama QRIS dengan Tiongkok juga akan dimulai melalui sandbox pada tanggal yang sama, mencakup transaksi inbound dan outbound, dengan target implementasi penuh sebelum akhir tahun.
Progres QRIS tahun ke tahun
QRIS (dibaca: “Kris”) adalah sistem pembayaran dengan kode QR standar nasional Indonesia yang diluncurkan oleh Bank Indonesia (BI) dan ASPI pada 17 Agustus 2019. QRIS mulai diterapkan secara wajib pada 1 Januari 2020, agar semua metode pembayaran berbasis QR di Indonesia bisa terintegrasi dan saling terkoneksi.
Nama “QRIS” sendiri terinspirasi dari keris, senjata tradisional khas Indonesia.
Penggunaan dan perkembangan QRIS pada akhir tahun 2023, pengguna QRIS ±43 juta, pedagang terdaftar: ±30 juta (92% UMKM), kemudian BI menargetkan pada tahun 2024–2025, jumlah pengguna pengguna 58 juta, pedagang 40 juta, volume transaksi: 6,24 miliar transaksi/tahun dan nilai transaksi Rp 42 triliun.
QRIS kini sudah bisa digunakan lintas negara dengan Thailand, Malaysia, Singapura. Dalam waktu dekat, QRIS juga akan terhubung dengan Jepang, India, Korea Selatan, dan UEA (Uni Emirat Arab).
Fitur utama dan manfaat QRIS
Interoperabilitas yakni pada satu kode QRIS dapat digunakan oleh semua aplikasi pembayaran (seperti GoPay, OVO, DANA, ShopeePay, BCA Mobile, dll) yang telah disetujui oleh BI.
Selain itu, QRIS dengan prinsip “UNGGUL” yakni Universal, dapat digunakan di seluruh Indonesia, Gampang, mudah digunakan, Guntung, menguntungkan bagi semua pihak, Untung, efisien dan cepat, dan Langsung, transaksi langsung masuk.
Tak hanya itu, QRIS pun menguntungkan pada pedagang karena untuk usaha mikro, biaya MDR (Merchant Discount Rate) bisa 0% untuk transaksi kecil (misalnya ≤ Rp100 ribu). Sementara, untuk usaha besar, MDR maksimal 0,3% tergantung kategori usaha.
QRIS juga mendukung inklusi keuangan dan mempermudah UMKM dan pedagang kecil ikut serta dalam sistem keuangan digital serta membantu pencatatan transaksi secara real-time.(*)
Sumber (*/Goodnews/redaksi)