Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Mengenal Marsinah, Pahlawan Nasional Sejajar dengan Soeharto

Mengenal Marsinah, Pahlawan Nasional Sejajar dengan Soeharto

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Kam, 13 Nov 2025
  • visibility 379
  • comment 0 komentar

Loading

Bagi generasi Z, pasti tak kenal siapa Marsinah baru saja diangkat jadi Pahlawan Nasional oleh Prabowo. Beliau yang memperjuangkan hak-hak buruh. Ia tewas mengenaskan. Siapa dalangnya, tidak ada yang tahu. Sekarang, namanya sejajar dengan Soeharto yang juga dinobatkan hero 2025.

Di zaman Soeharto ia dibunuh. Sekarang, ia sejajar dengan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. Dunia ini memang lucu, atau mungkin semesta sedang bercanda sambil menatap kita dengan senyum getir, karena akhirnya dua nama yang dulu dipisahkan darah, kini berdampingan dalam tinta penghormatan negara.

Marsinah, buruh pabrik jam di Sidoarjo, yang dulu berjuang demi kenaikan upah seribu rupiah, kini diabadikan sejajar dengan penguasa yang dulu menindas suaranya. Barangkali sejarah memang pandai berputar seperti jarum jam yang dulu ia rakit tiap hari.

Marsinah lahir dari keluarga sederhana di Nganjuk. Tak ada pamor, tak ada trah biru, tak ada televisi yang meliput kelahirannya. Ia hanya perempuan biasa, tapi dengan nyali luar biasa. Dalam dirinya ada campuran getir kemiskinan dan bara keberanian. Ia bukan politisi, bukan orator, hanya buruh yang mencatat jam kerja dengan teliti. Tapi ketika haknya diinjak, ia bangkit, bukan dengan senjata, melainkan dengan kata. Ia bicara lantang, padahal zaman itu suara bisa berujung di liang lahat.

Tahun 1993, di bawah langit kelam Orde Baru, Marsinah menjadi juru bicara hati banyak buruh. Mereka hanya ingin upah naik sedikit, agar nasi di rumah tak cuma lauk garam. Tapi pabrik menolak, dan negara diam. Maka mogok kerja pun terjadi. Marsinah ikut memperjuangkan 12 tuntutan sederhana, tentang upah, cuti haid, lembur, hak manusiawi. Hal-hal kecil, tapi cukup besar untuk mengguncang kekuasaan yang alergi pada protes. Hingga akhirnya, 5 Mei 1993, beberapa buruh dipanggil ke Kodim dan dipaksa menandatangani pengunduran diri.

Marsinah pergi menuntut penjelasan. Ia tidak kembali.

Tiga hari kemudian, tubuhnya ditemukan di pinggir hutan jati, penuh luka, penuh tanda tanya. Luka itu bukan hanya di tubuhnya, tapi di hati bangsa. Di situ sejarah berhenti menulis dan mulai membisu. Pelaku tidak jelas, proses hukum melingkar seperti ular yang menggigit ekornya. Marsinah lenyap, tapi namanya jadi mantra. Ia menjadi lambang tentang betapa mahal harga kejujuran di negeri yang suka menulis puisi tentang keadilan tapi takut menegakkannya.

Kini, tiga dekade kemudian, negara datang membawa piagam, menyematkan bintang di dada yang dulu ditusuk duri sejarah. Marsinah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Ironi? Tentu. Tapi juga keadilan yang datang dengan langkah sarkastik. Sebab siapa sangka, rezim yang dulu menekan gerakan buruh kini memuliakan buruh yang dulu mereka tekan.

Soeharto dan Marsinah kini sebaris dalam daftar nama pahlawan. Seolah sejarah sedang menulis satire terbesar sepanjang masa, bahwa dalam kematian sekalipun, takdir bisa berbalik.

Tapi mari kita tak tertawa dulu. Penghormatan ini bukan sekadar penghias dinding istana. Ini seharusnya cermin bagi generasi muda. Pahlawan tidak selalu berseragam, tidak selalu punya pangkat, tidak selalu duduk di kursi kekuasaan. Kadang pahlawan adalah buruh pabrik yang mati sendirian di hutan jati. Kadang perjuangan bukan soal kemenangan, tapi tentang tidak menyerah meski tahu akan kalah.

Marsinah adalah nyanyian sunyi yang menembus zaman. Ia mungkin gugur di era Soeharto, tapi hari ini ia hidup dalam kepala setiap anak muda yang menolak tunduk. Ia bukti, waktu bisa menunda keadilan, tapi tak bisa memadamkan kebenaran. Mungkin inilah happy ending paling aneh dalam sejarah bangsa. Ketika korban dan penguasa akhirnya sejajar di buku pelajaran, dan kita, para pembaca yang terlambat sadar, akhirnya mengerti, setiap darah yang tumpah punya harga yang tak bisa dibayar dengan medali.(*)

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Tambah Daya Listrik HARPELNAS 2023 Berakhir 30 September

    Tambah Daya Listrik HARPELNAS 2023 Berakhir 30 September

    • calendar_month Rab, 20 Sep 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Hari Pelanggan Nasional (HARPELNAS) yang setiap tahun selalu diperingati pada tanggal 4 September merupakan momentum bagi seluruh perusahaan nasional untuk memberikan pelayanan yang terbaik dan istimewa kepada pelanggan. PLN sebagai salah satu perusahaan BUMN terbesar di Indonesia tidak ketinggalan dalam berinovasi untuk memberikan pelayanan yang terbaik bagi para pelanggannya. Pada momentum […]

  • Niko Rihi Heke & Johanis Uly Kale Resmi Mendaftar di NasDem

    Niko Rihi Heke & Johanis Uly Kale Resmi Mendaftar di NasDem

    • calendar_month Kam, 3 Okt 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Loading

    Sabu Raijua, Garda Indonesia | Calon Bupati Petahana, Ir.Nikodemus Rihi Heke dan Calon Wakil Bupati, Johanis Uly Kale akhirnya resmi mendaftarkan diri ke Panitia Seleksi Partai NasDem Kabupaten Sabu Raijua untuk selanjutnya bakal melalui tahap seleksi sebagai Calon Bupati dan Wakil Bupati dalam Pilkada Sabu Raijua 2020. Hal ini sekaligus menampik berita yang tersebar bahwa […]

  • Predikat WTP Harus Jadi Standar di Lingkungan Kementerian PPPA

    Predikat WTP Harus Jadi Standar di Lingkungan Kementerian PPPA

    • calendar_month Kam, 10 Okt 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Loading

    Yogyakarta, Garda Indonesia | “WTP bukanlah sebuah prestasi, melainkan sudah kewajiban kita dalam menggunakan APBN,” ujar Rini Handayani, Staf Ahli Menteri Bidang Hubungan Antar Lembaga, Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA). Pernyataan tersebut disampaikannya saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Akuntasi Penyusunan Laporan Keuangan dan Laporan Pertanggungjawaban Bendahara Pengeluaran Tahun 2019 yang diselenggarakan Biro […]

  • Gereja Konsisten Terapkan Disiplin Protokol Kesehatan

    Gereja Konsisten Terapkan Disiplin Protokol Kesehatan

    • calendar_month Jum, 19 Jun 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 124
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Penerapan protokol kesehatan di masa pandemi berlaku tak hanya di ruang publik seperti pusat bisnis atau perkantoran, tetapi juga gereja sebagai tempat ibadat. Organisasi gereja telah berkomitmen untuk mendukung pemerintah dalam memutus mata rantai penularan Covid-19. Gereja Katolik melalui Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) sangat mendukung Kementerian Agama bahwa kegiatan keagamaan maupun […]

  • Terkait Dugaan Suap, Pengawas KPK Stepanus Pattuju Bakal Diperiksa Polri

    Terkait Dugaan Suap, Pengawas KPK Stepanus Pattuju Bakal Diperiksa Polri

    • calendar_month Kam, 10 Jun 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 175
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | AKP Stepanus Robin Pattuju yang dipecat Dewan Pengawas Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) karena dinilai melanggar etik terkait dugaan suap dari Wali Kota Tanjungbalai nonaktif Syahrial, bakal segera diperiksa Propam Polri. “Kalau ada salah, Propam yang akan memeriksa,” ucap Kadiv Humas Polri, Irjen Argo Yuwono, pada Rabu, 9 Juni 2021. Irjen Argo […]

  • Menko Polhukam Tanggapi Pernyataan Prabowo pada Konfnas Partai Gerindra

    Menko Polhukam Tanggapi Pernyataan Prabowo pada Konfnas Partai Gerindra

    • calendar_month Rab, 19 Des 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 166
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Prabowo saat konferensi Nasional Partai Gerindra Senin, 17 Desember 2018, menyatakan kalau dia kalah maka Indonesia akan punah. Menanggapi pernyataan tersebut, Menko Polhukam Jenderal TNI (Purn) Wiranto saat ditanya wartawan di acara HUT ke-19 Dharma Wanita Persatuan Komenko Polhukam menyatakan rasa keheranannya, itu sama saja dengan ancaman serius. “Belum ada dalam sejarah […]

expand_less