Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Humaniora » Awan Berarak di Tengah Pandemi

Awan Berarak di Tengah Pandemi

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Jum, 10 Apr 2020
  • visibility 137
  • comment 0 komentar

Loading

Awan Berarak di Tengah Pandemi

Oleh Helmy Tukan, S.Pd

Awan berarak mengejar pelangi tadi sore. Angin meniup dedaunan hijau berhias titik-titik air hujan yang mengguyur basah desaku. Aku tediam menatap pelangi yang tampil mempesona di sela-sela awan kelabu meski samar terlihat namun indahnya mampu menenangkan kalbu yang dilanda kegalauan karena si Nona Corona Virus. Ah…entahlah, aku menyapanya Nona Corona.

Sebuah nama yang indah meski ia hanyalah virus yang mematikan. Hari -hari di awal April begitu merayu diri membelai jiwa pada April tahun kemarin. Namun, apa mau dikata dengan April tahun ini, amat sangat berbeda dan mungkin menjadi sebuah hal yang langka dan fenomenal.

Masa prapaskah yang sunyi semakin sepi ditemani cerita-cerita tentang Virus Corona, tak lagi kudengar cerita tentang ramainya Kota Larantuka menjelang perayaan Semana Santa. Tak lagi terdengar suara-suara orang di ujung kampung melakukan latihan kor perayaan-perayaan suci selama masa paskah, bahkan kini aroma kemenyan dalam Gereja tak lagi tercium, lilin-lilin duka Yesus pada Upacara Lamentasi tak kulihat lagi secara langsung.

Duka hati kian menusuk titik -titik air mati, kian mengaliri wajah sendu ini, dan kini, layar androidku menjadi altar Tuhan, dinding bambu rumahku menjadi tembok bangunan gereja kecilku, lilin kecil di rumah, bunga melati di halaman rumah menjadi penghias di altar kecil rumahku.

Layar hp android hasil keringat suami menjadi andalan bagi kami mengikuti perayaan demi perayaan selama masa-masa sulit ini. Aku terdiam menatap bisu sunyi alam desaku, Waibalun sebuah kampung unik di ujung Kota Reinha Larantuka, sebuah kampung yang masih memegang teguh adat budaya warisan leluhur dan aku bangga akan hal itu.

Kota Reinha di Larantuka Kabupaten Flores Timur, Foto Istimewa

Sore itu, kembali aku mengenang kisah masa kecilku bersama nenek tercinta yang kini telah tiada. Sang nenek merupakan salah satu tokoh adat di Waibalun yang sangat aku sayangi. Darinya aku belajar banyak hal; darinya aku belajar bagaimana menghormati dan menghargai sesama entah dia itu berlaku baik atau pun tak baik dan yang utama tentunya cinta kasih pada sesama.

Kembali aku teringat cerita nenek ketika beliau masih kecil di desa yang masih sangat terbelakang kala itu yang bernama Waibalun, Ya..kampungku tentunya. Masa kecil nenek dihiasi dengan berjuta peristiwa kelabu, masa yang lebih sulit dari masa kita kini tentunya. Untuk makan saja susah, sekolah apalagi juga kehidupan beragama pun dilarang, miris bukan? Itulah fakta yang terjadi kala itu. Namun, karena kegigihan sang buyutku, nenek akhirnya bisa bersekolah dan akirnya menjadi guru agama.

Masa-masa sulit dilalui nenek beserta keluarga, menyusuri pelosok Tanah Lamaholot mewartakan sabda Tuhan, banyak rintangan harus dihadapi, banyak kerikil tajam bahkan duri jalanan yang kian menganga, kadang nenek harus melakukan ajaran secara rahasia; kadang nenek dan seisi kampung harus menerima Komuni Kudus secara sembunyi-sembunyi. Tak jauh beda kah dengan hal yang kita alami sekarang?

Ketika itu, nenek bersama orang-orang di zamannya mengalami masa di mana iman mereka diuji dan pengorbanan harus mereka lakukan hanya untuk sebuah nama yaitu Tuhan Yesus. Ketika itu, sang nenek berusaha menanamkan benih iman ke hati setiap orang, nenek berusaha melakukannya di tengah sulitnya masa di mana para penjajah pun mengonyak-ngoyak Bumi Pertiwi Indonesia.

Nenek dan beberapa teman gurunya mencoba masuk ke dalam hati setiap orang dengan siraman rohani, mencoba merintis dan menyebarkan pengajaran Agama Katolik di kawasan Flores dan aku sangat bangga padanya. Messki nenek harus menanggung segala duka akibat pengajarannya itu, rumah nenek harus dibakar dan nenek beserta keluarga dikejar oleh penjajah di Tanah Lomblen atau yang sekarang bernama Pulau Lembata, dan itu fakta !

Rumah Adat Waibalun

Anganku melayang jauh, tetes air mata jatuh membayangkan wajah tuanya kala itu, dengan semangat nenek bercerita walau kadang tertatih kata demi kata ia ucapkan hanya untuk dapat didengar cucu tersayang. Aku pun membandingkan dua hal ini, cerita masa lalu nenek di saat menjadi guru agama, menyebarkan Agama Katolik di tanah Lamaholot dan kisah kita sekarang, di tengah badai Virus Corona; mampukah kita bertekun dalam doa bersabar dalam cobaan?

Mampukah kita mempertahankan iman yang telah diperjuangkan oleh pendahulu kita pada masa lalu, ataukah kita hanya mampu menjadi onak duri dan kerikil tajam bagi sesama. Mampukah kita menjadikan hati kita altar suci bagi Tuhan? Meski, harus kita jalani sosial distance bahkan mungkin lock down. Apakah kita sanggup menjadi pewarta sabdaNya? Menjalankan hukum cinta kasih bagi sesama yang terkena dampak mewabahnya virus corona, seperti si tukang ojek, para sopir, pedagang kecil di pasar ataupun buruh-buruh di pelabuhan .

Sanggupkah kita menjadi Dewa dan Dewi penolong bagi kaum lemah dan terpinggirkan?

Di akir tulisan ini, aku hanya mau menyampaikan bahwa sesulit apapun situasi hidup kita, seberat apapun salib yang kita pikul saat ini karena Virus Corona maupun karena masalah hidup lainnya, kita hanya berharap pada Tuhan. Masa kita kini adalah masa di mana iman kita akan selalu dicoba.

Yesus hanya mau memberi peringatan kepada kita tentang Makna Cinta kasih yang semakin hari semakin tidak kita jalani. Kita hanya mau mencintai diri kita saja tanpa memandang sesama sedangkan di sana banyak orang lemah yang kurang beruntung dari kita yang mungkin lebih takut akan rasa laparnya hari ini dan esok apakah dapat makan atau tidak hanya karena dampak dari sosial distancing dan kehilangan sumber pendapatan.

Mari bersama kita saling peduli dengan menjadikan hati kita Altar Tuhan yang sesungguhnya di rumah kita masing-masing, dengan demikian kita semakin memaknai Cinta Kasih di manapun, kapanpun, kepada siapapun entah itu sahabat maupun musuh.(*)

Waibalun, Jumat, 10 April 2020

Selamat Paskah, Tetap diam di rumah (stay at home)

*/ Penulis merupakan Guru dan Pegiat Literasi, Pengurus IGI Flotim dan Ketua PKBM Watogokok Waibalun, Flotim, NTT

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Ungkap Pelaku Bom Bunuh Diri di Katedral Makassar, Polri : Mereka Suami Istri

    Ungkap Pelaku Bom Bunuh Diri di Katedral Makassar, Polri : Mereka Suami Istri

    • calendar_month Sen, 29 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Polri telah mengantongi identitas pelaku wanita bom bunuh diri di depan Gereja Katedral Makassar. Pelaku wanita tersebut berinisal YSF. “Identitas laki-laki tersebut diketahui berinisial L, sementara wanita yang L bonceng bernama YSF,” ujar Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono, pada Senin 29 Maret 2021. Irjen Argo mengatakan, YSF bekerja sebagai pegawai […]

  • PLN Bangun Transmisi di Nusa Tenggara, 79% Kandungan Dalam Negeri

    PLN Bangun Transmisi di Nusa Tenggara, 79% Kandungan Dalam Negeri

    • calendar_month Rab, 17 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Loading

    Mataram, Garda Indonesia | Sistem transmisi baik itu saluran udara tegangan tinggi (SUTT) dan juga gardu induk (GI) merupakan sarana infrastruktur ketenagalistrikan yang berfungsi menyalurkan energi listrik dari pusat pembangkit listrik menuju pusat  beban/ demand pelanggan. PT PLN (Persero) UIP Nusa Tenggara memiliki tugas untuk membangun infrastruktur ketenagalistrikan yang tersebar dari provinsi Nusa Tenggara Timur […]

  • Budi Arie Tegaskan Projo Bukan Relawan Pro Jokowi

    Budi Arie Tegaskan Projo Bukan Relawan Pro Jokowi

    • calendar_month Ming, 2 Nov 2025
    • account_circle melihatindonesia
    • visibility 453
    • 0Komentar

    Loading

    Budi Arie juga mengungkap rencana perubahan logo Projo agar tidak terkesan mengkultuskan seseorang.   Jakarta | Ketua Umum Projo, Budi Arie Setiadi, menegaskan bahwa nama Projo bukanlah singkatan dari Pro Jokowi seperti yang selama ini dikenal publik. Ia menjelaskan, nama Projo berasal dari bahasa Sanskerta dan Jawa Kawi. “Projo itu artinya negeri dan rakyat. Jadi […]

  • Pansus LKPJ TTS Temukan Dugaan Salah Atur Dana 3,5 Miliar di Puskesmas Siso

    Pansus LKPJ TTS Temukan Dugaan Salah Atur Dana 3,5 Miliar di Puskesmas Siso

    • calendar_month Sab, 11 Jul 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 90
    • 0Komentar

    Loading

    Soe-T.T.S, Garda Indonesia | Dalam hasil bergerilya hari terakhir di Kecamatan Mollo Selatan, Kabupaten Timor Tengah Selatan (T.T.S) pada Sabtu, 11 Juli 2020, Pansus LKPJ menghampiri Puskesmas Siso untuk menanyakan beberapa hal teknis soal pelayanan kesehatan di puskesmas tersebut. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2020/07/09/pansus-lkpj-minta-kejaksaan-tts-selisik-dana-rp-12-m-di-pd-mutis-jaya/ Dinahkodai oleh Ketua DPRD T.T.S, Marcu Buana Mba’u; Wakil Ketua II Yusuf […]

  • Flobamora Film Festival Siap Tayang Karya Pelajar NTT

    Flobamora Film Festival Siap Tayang Karya Pelajar NTT

    • calendar_month Sen, 10 Okt 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | Komunitas Film Kupang (KFK) berhasil menyelesaikan agenda Workshop Film Pelajar (WFP) pada dari Senin—Kamis, 26—29 September 2022). Rangkaian dinamika pun sudah disiapkan panitia bersama para mentor yang membantu dalam penyampaian materi. Sekiranya 20 peserta dengan 5 perwakilan dari setiap sekolah yang mendaftar telah membuahkan hasil, peserta siap menayangkan karya di Flobamora […]

  • IMO-Indonesia Siap Jadi Konstituen Dewan Pers

    IMO-Indonesia Siap Jadi Konstituen Dewan Pers

    • calendar_month Jum, 10 Nov 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Membangun organisasi badan usaha media bukanlah hal mudah. Semua butuh keseriusan dan kekompakan untuk bisa maju. Belum lagi, adanya ketentuan yang harus dapat dipenuhi organisasi bersangkutan agar mampu survive dan sesuai regulasi berlaku. Tidak hanya itu, organisasi juga harus bisa menjadi rumah besar bagi pelaku usaha di bidang media untuk menjadi […]

expand_less