Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Manusia Punya Kehendak Berkuasa (Sebuah Refleksi Filosofis)

Manusia Punya Kehendak Berkuasa (Sebuah Refleksi Filosofis)

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Kam, 16 Mei 2024
  • visibility 86
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Novilus Uropmabin

Dunia dewasa ini diwarnai dengan kemunafikan, hedonisme, korupsi, kolusi dan nepotisme menjadi sesuatu hal yang lumrah bagi kehidupan manusia.

Bagi manusia yang menjunjung tinggi nilai-nilai moral dan etis dianggap ketinggalan zaman,  masih berpikir primitif dan berbagai macam stigma lainnya. Membicarakan kehendak manusia untuk berkuasa bukanlah sesuatu yang rahasia lagi karena inilah realitas hidup sehari-hari.

Kekuasaan diselubungi oleh kemunafikan yang bermuara pada kehancuran kehidupan, baik dalam kehidupan keluarga, komunitas, institusi, dan pada umumnya masyarakat modern.

Membicarakan manusia memiliki hasrat untuk berkuasa, kita bisa melihat fenomena politik di negara Republik Indonesia. Para elite politik mengumbar janji di mimbar kampanye guna mendapatkan suara dari rakyat. Namun setelah mereka duduk di kursi kekuasaan, mereka lupa diri dan melantarkan rakyatnya.

Tak hanya itu saja, ketika mereka menjabat, mereka melakukan korupsi atas uang rakyat demi memperkaya diri sendiri, menutup diri atas realitas kemiskinan, krisis kemanusiaan dan lain sebagainya.

Dalam majalah Gita Sang Surya madah persaudaraan semesta Abdul Moqsith Ghazali (Eras Baum,OFM) 2012. merefleksikan bahwa berada di titik seperti ini bisa dapat kita katakan seperti Thomas Hobbes (1588-1679) Homo homini lupus/manusia menjadi serigala bagi sesamanya.

Mengapa?

Karena pada dasarnya di dalam diri manusia berdiam hasrat untuk menindas, hasrat untuk berkuasa, memiliki hasrat untuk melihat orang lain sebagai yang asing, objek semata, sebagai ancaman, bukan manusia atau lebih rendah dari pada manusia. Dalam kenyataan hidup seperti ini, orang lain menjadi korban, ditelanjangi martabatnya sebagai manusia.

Sangatlah kejam kehidupan ini, meskipun dalam teori sosiologi mengatakan bahwa manusia adalah makhluk sosial, manusia tidak hidup hanya seorang diri tetapi ada bersama yang lain.

Konsep kehendak untuk berkuasa

Melihat kembali latar belakang kehidupan saat ini, kita sudah berada di zaman yang tidak memberikan kepastian hidup yang lebih harmonis, damai dan sejahtera. Karena banyak persoalan yang terjadi dan berlangsung dalam kehidupan sehari-hari, sadar atau tidak, kita berada dalam bayang-bayang kematian jika tidak merefleksikan diri atas realitas hidup saat ini.

Apabila kita tidak merancang suatu masa depan yang lebih baik dari kenyataan saat ini, maka otomatis kita akan terus menghadapi suatu krisis moral akibat dari oknum-oknum yang mengedepankan kepentingan pribadinya atau memiliki hasrat untuk berkuasa tanpa melihat penderitaan orang lain di sekitar.

Oleh sebab itu, dalam menyikapi fenomena atas kehendak untuk berkuasa oleh oknum-oknum tertentu di belakangan ini dapat dilihat dari sudut pandang pemikiran filosofis Friedrich Nietzsche, seorang Filsuf Jerman yang hidup di akhir abad ke-19.  Ia berpendapat bahwa manusia dan alam semesta didorong oleh suatu kekuatan purba, yaitu kehendak untuk berkuasa (the will to power). Konsep Nietzsche dalam kehendak untuk berkuasa lebih lanjut diuraikan oleh Reza Wattimena dalam buku filsafat anti-korupsi, membedah hasrat kuasa, pemburuan kenikmatan, dan sisi hewani manusia di balik korupsi (2012). Wattimena mengangkat situasi kehidupan politik dan korupsi di Indonesia untuk menyikapinya dengan konsep atau pemikiran Nietzsche adalah salah satu konsep yang menarik perhatian banyak orang pada zamannya. Melihat dari latarbelakang konsep ini bisa dapat dikategorikan sebagai pemikir naturalistis yakin melihat manusia tidak lebih dari sekedar insting-insting alamiah atau mirip dengan hewan maupun makhluk hidup lainnya.

Lebih lanjut, Wattimena mengutip sebagaimana dicatat oleh Porter, yakni 3 (tiga) poin penting yang menjadi pengertian tentang kehendak untuk berkuasa dalam mewarnai pemikiran Nietzsche adalah sebagai berikut: 1. Kehendak untuk berkuasa sebagai abstraksi dari realitas. 2. Sebagai aspek terdalam sekaligus tertinggi dari realitas. 3. Sebagai realitas itu sendiri apa adanya.

Ketiga makna di atas dapat disingkat menurut bahasa Nietzsche kehendak untuk berkuasa adalah “klaim” kekuasaan yang paling tirani tak punya pertimbangan dan tak dapat dihancurkan dalam diri manusia. Dorongan ini tidak dapat ditahan, apalagi dimusnahkan karena segala sesuatu yang ada berasal dari padanya. Jadi seluruh realitas ini, dan segala yang ada di dalamnya adalah ledakan sekaligus bentuk lain dari kehendak untuk berkuasa.

Konsep kehendak untuk berkuasa menurut hemat saya adalah dilihat sebagai simbol dari kritik terhadap masyarakat modernitas yang memasung manusia menjadi objek semata. Jadi dengan konsep kehendak untuk berkuasa, Nietzsche ingin membongkar rahasia terdalam kemunafikan manusia modern yang berpura-pura menaati hukum dan moral tetapi di sisi lain menjadi gelap untuk berkuasa bagi orang lain.

Maka siapa yang bertarung dengan monster? Harus melihat bahwa ia sendiri tidak menjadi monster. Dan ketika kamu melihat dalam waktu lama ke dalam jurang yang kosong, jurang tersebut melihat kembali kepadamu, demikianlah tulisan Nietzsche.

Inilah gambaran orang-orang munafik yang ingin berkehendak untuk berkuasa, yang berkuasa atas nama moralitas atau nilai-nilai kebaikan. Karena itu berbicara tentang sisi gelap manusia, kehendak untuk berkuasa memang bisa langsung diacu, tetapi dengan kata lain akar dari sisi gelap manusia yang bersifat subyektif adalah merusak. Dalam hal ini, menurut Nietzsche adalah kehendak untuk berkuasa yang ada di dalam diri setiap manusia, sekaligus merupakan daya gerak dari dunia dan kehidupan itu sendiri.

Apa yang kita lakukan sebagai manusia?

Berhadapan dengan semuanya itu, yang perlu kita lakukan adalah mengenali sisi gelap dan menerima kehendak untuk berkuasa sebagai bagian dari diri kita dalam kehidupan ini. Sebab menyangkal adalah hanya berbuah pada ketakutan dan kemunafikan, kemudian nantinya bermuara pada kejahatan.

Jadi dalam tafsirnya Nietzsche kehendak untuk berkuasa bukan untuk diingkari, melainkan untuk diraih, dirayakan, dan digunakan untuk mencipta, bukan untuk bertindak mengobjekkan orang lain. Dengan kata lain kehendak untuk berkuasa adalah energi yang mendorong manusia untuk menciptakan peradaban baru selesai dengan kontekstual atau berkuasa untuk menciptakan sesuatu yang berdaya guna untuk semua orang bukan untuk diri sendiri.

Jadi, kehendak untuk berkuasa merupakan akar dari destruksi dan kreasi demi kehidupan bersama, karena hidup yang dirayakan bersama orang lain adalah tidak akan pernah jatuh ke dalam pemutlakan nilai-nilai kejahatan tetapi nilai kebaikan itu sendiri. Oleh karena itu, kehendak untuk berkuasa harus ditafsirkan secara humanistis dan diterapkan secara indah. Artinya penerapan kehendak untuk berkuasa di dalam kehidupan harus memiliki aspek estetika yang tepat dan mendalam. Agar keindahan itu mencakup semua aspek kehidupan manusia termasuk rencana, tata kelola, evaluasi, sampai pada ciri fisik sampai dengan fungsi kontrol yang ada di dalam kekuasaan itu sendiri. Supaya tanpa meniadakan yang lain sekaligus tidak menyangkal sisi gelap terdalam manusia, tetapi menerima itu sebagai bagian dari diri sendiri dan alam semesta untuk terus merajut hidup serta merayakan kehidupan bersama orang lain di tengah-tengah dunia ini.(*)

*/Penulis adalah mahasiswa STFT Fajar Timur Abepura Jayapura Papua

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Promo HUT RI dari PLN, Diskon Tambah Daya Hanya 170 Ribuan

    Promo HUT RI dari PLN, Diskon Tambah Daya Hanya 170 Ribuan

    • calendar_month Kam, 25 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | PT PLN (Persero) memeriahkan peringatan ke-77  kemerdekaan Republik Indonesia, memberikan layanan spesial untuk pelanggan. Melalui promo “Nyalakan Kemerdekaan”, pelanggan PLN akan mendapatkan diskon besar untuk penambahan daya yakni dari harga Rp 5.330.900,- menjadi hanya Rp 170.845 sedangkan untuk penyambungan sementara dengan hanya membayar Rp 170.845 dapat menggunakan layanan penyambungan sementara selama […]

  • Hoaks B.J. Habibie Meninggal! Presiden Jokowi Jenguk di RSPAD

    Hoaks B.J. Habibie Meninggal! Presiden Jokowi Jenguk di RSPAD

    • calendar_month Sel, 10 Sep 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Beredar isu Presiden ketiga Republik Indonesia B.J. Habibie meninggal dunia, pada Selasa dini hari. Kabar tersebut dipastikan sebagai berita bohong (hoaks) atau tidak benar dan telah terkonfirmasi. Presiden Joko Widodo pada Senin sore, 9 September 2019, menjenguk Presiden ke-3 Republik Indonesia, Bacharuddin Jusuf Habibie. B.J. Habibie yang diketahui sedang menjalani perawatan […]

  • Perdagangan Manusia Dibahas dalam KTT ASEAN 2023

    Perdagangan Manusia Dibahas dalam KTT ASEAN 2023

    • calendar_month Sen, 8 Mei 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Loading

    Labuan Bajo, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo menegaskan bahwa kejahatan perdagangan manusia harus diberantas tuntas dari hulu sampai ke hilir. Untuk itu, pada pelaksanaan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ke-42 ASEAN di Labuan Bajo tahun 2023 ini, Indonesia akan mengusung isu pemberantasan perdagangan manusia untuk dibahas bersama negara-negara anggota ASEAN. “Saya tegaskan bahwa kejahatan perdagangan […]

  • Ketua MPR RI Dorong Pemerintah Fokus dan Percepat Realisasi Vaksin Corona

    Ketua MPR RI Dorong Pemerintah Fokus dan Percepat Realisasi Vaksin Corona

    • calendar_month Sel, 4 Agu 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 78
    • 0Komentar

    Loading

    Bali, Garda Indonesia | Ketua MPR RI Bambang Soesatyo mengingatkan Indonesia harus berupaya mandiri dalam memenuhi kebutuhan vaksin Corona. Karena, diyakini virus SARS-CoV-2 penyebab Covid-19 ini akan eksis untuk jangka waktu yang lama. “Durasi flu Spanyol bisa dijadikan patokan. Flu Spayol mulai mewabah Maret 1918, dan berlangsung hingga Juni 1920. Pada rentang waktu Pandemi Covid-19 […]

  • Gubernur VBL Ajak Gereja Kolaborasi Tuntaskan Persoalan Pekerja Migran

    Gubernur VBL Ajak Gereja Kolaborasi Tuntaskan Persoalan Pekerja Migran

    • calendar_month Rab, 24 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 102
    • 0Komentar

    Loading

    Atambua-Belu, Garda Indonesia | Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) turut hadir sebagai pembicara pada pertemuan pastoral ke-11 di Hotel Matahari, Atambua Kabupaten Belu, Rabu, 24 Juli 2019 yang dihelat oleh 8 (delapan) Keuskupan Wilayah Nusa Tenggara (NTT dan Bali) yang mengusung tema ‘Gereja Peduli Migran dan Perantau’. Dalam kesempatan itu, Gubernur mengajak pihak gereja […]

  • PLN Sedia Listrik Gratis Mei—Oktober 2020 bagi Pelanggan Bisnis & Industri Kecil

    PLN Sedia Listrik Gratis Mei—Oktober 2020 bagi Pelanggan Bisnis & Industri Kecil

    • calendar_month Sab, 2 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 95
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo memperluas program perlindungan rakyat yang terdampak akibat Covid-19 dan mengupayakan pemulihan ekonomi, terutama di sektor usaha mikro, kecil, dan menengah. Termasuk program khusus bagi usaha ultramikro dan usaha mikro yang selama ini tidak tersentuh atau terjangkau lembaga keuangan maupun perbankan. Ada 5 (lima) skema besar program yang diperuntukkan […]

expand_less