Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Mengenal Marsinah, Pahlawan Nasional Sejajar dengan Soeharto

Mengenal Marsinah, Pahlawan Nasional Sejajar dengan Soeharto

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Kam, 13 Nov 2025
  • visibility 277
  • comment 0 komentar

Loading

Bagi generasi Z, pasti tak kenal siapa Marsinah baru saja diangkat jadi Pahlawan Nasional oleh Prabowo. Beliau yang memperjuangkan hak-hak buruh. Ia tewas mengenaskan. Siapa dalangnya, tidak ada yang tahu. Sekarang, namanya sejajar dengan Soeharto yang juga dinobatkan hero 2025.

Di zaman Soeharto ia dibunuh. Sekarang, ia sejajar dengan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. Dunia ini memang lucu, atau mungkin semesta sedang bercanda sambil menatap kita dengan senyum getir, karena akhirnya dua nama yang dulu dipisahkan darah, kini berdampingan dalam tinta penghormatan negara.

Marsinah, buruh pabrik jam di Sidoarjo, yang dulu berjuang demi kenaikan upah seribu rupiah, kini diabadikan sejajar dengan penguasa yang dulu menindas suaranya. Barangkali sejarah memang pandai berputar seperti jarum jam yang dulu ia rakit tiap hari.

Marsinah lahir dari keluarga sederhana di Nganjuk. Tak ada pamor, tak ada trah biru, tak ada televisi yang meliput kelahirannya. Ia hanya perempuan biasa, tapi dengan nyali luar biasa. Dalam dirinya ada campuran getir kemiskinan dan bara keberanian. Ia bukan politisi, bukan orator, hanya buruh yang mencatat jam kerja dengan teliti. Tapi ketika haknya diinjak, ia bangkit, bukan dengan senjata, melainkan dengan kata. Ia bicara lantang, padahal zaman itu suara bisa berujung di liang lahat.

Tahun 1993, di bawah langit kelam Orde Baru, Marsinah menjadi juru bicara hati banyak buruh. Mereka hanya ingin upah naik sedikit, agar nasi di rumah tak cuma lauk garam. Tapi pabrik menolak, dan negara diam. Maka mogok kerja pun terjadi. Marsinah ikut memperjuangkan 12 tuntutan sederhana, tentang upah, cuti haid, lembur, hak manusiawi. Hal-hal kecil, tapi cukup besar untuk mengguncang kekuasaan yang alergi pada protes. Hingga akhirnya, 5 Mei 1993, beberapa buruh dipanggil ke Kodim dan dipaksa menandatangani pengunduran diri.

Marsinah pergi menuntut penjelasan. Ia tidak kembali.

Tiga hari kemudian, tubuhnya ditemukan di pinggir hutan jati, penuh luka, penuh tanda tanya. Luka itu bukan hanya di tubuhnya, tapi di hati bangsa. Di situ sejarah berhenti menulis dan mulai membisu. Pelaku tidak jelas, proses hukum melingkar seperti ular yang menggigit ekornya. Marsinah lenyap, tapi namanya jadi mantra. Ia menjadi lambang tentang betapa mahal harga kejujuran di negeri yang suka menulis puisi tentang keadilan tapi takut menegakkannya.

Kini, tiga dekade kemudian, negara datang membawa piagam, menyematkan bintang di dada yang dulu ditusuk duri sejarah. Marsinah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Ironi? Tentu. Tapi juga keadilan yang datang dengan langkah sarkastik. Sebab siapa sangka, rezim yang dulu menekan gerakan buruh kini memuliakan buruh yang dulu mereka tekan.

Soeharto dan Marsinah kini sebaris dalam daftar nama pahlawan. Seolah sejarah sedang menulis satire terbesar sepanjang masa, bahwa dalam kematian sekalipun, takdir bisa berbalik.

Tapi mari kita tak tertawa dulu. Penghormatan ini bukan sekadar penghias dinding istana. Ini seharusnya cermin bagi generasi muda. Pahlawan tidak selalu berseragam, tidak selalu punya pangkat, tidak selalu duduk di kursi kekuasaan. Kadang pahlawan adalah buruh pabrik yang mati sendirian di hutan jati. Kadang perjuangan bukan soal kemenangan, tapi tentang tidak menyerah meski tahu akan kalah.

Marsinah adalah nyanyian sunyi yang menembus zaman. Ia mungkin gugur di era Soeharto, tapi hari ini ia hidup dalam kepala setiap anak muda yang menolak tunduk. Ia bukti, waktu bisa menunda keadilan, tapi tak bisa memadamkan kebenaran. Mungkin inilah happy ending paling aneh dalam sejarah bangsa. Ketika korban dan penguasa akhirnya sejajar di buku pelajaran, dan kita, para pembaca yang terlambat sadar, akhirnya mengerti, setiap darah yang tumpah punya harga yang tak bisa dibayar dengan medali.(*)

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ‘WhatsApp Group’ Personel Polisi Didisiplinkan, Jika Salah Ini Sanksinya

    ‘WhatsApp Group’ Personel Polisi Didisiplinkan, Jika Salah Ini Sanksinya

    • calendar_month Rab, 2 Mar 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 88
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri) mendisiplinkan WhatsApp Group (WAG) seluruh personel. Jika terbukti bersalah, personel akan memberi sanksi berupa etik hingga pidana. “Perintah Bapak Presiden akan ditindaklanjuti dan penegakan disiplin di internal Polri tentunya terus ditingkatkan pengawasannya baik oleh Itwasum dan Propam,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Dedi Prasetyo kepada wartawan pada Rabu, […]

  • TPA Rawa Kucing Dikonversi Menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

    TPA Rawa Kucing Dikonversi Menjadi Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa)

    • calendar_month Sel, 16 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 93
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Pengelolaan sampah yang ramah lingkungan menjadi isu dunia dengan diangkatnya Municipal Solid Waste Management sebagai tema Hari Habitat Dunia (HHD) 2018. HHD ditetapkan oleh PBB diperingati setiap tahun pada setiap senin pertama bulan Oktober. Selain itu pada setiap 31 Oktober diperingati sebagai Hari Kota Dunia (HKD) dimana tahun ini mengangkat tema Building […]

  • PAUD Pelita Kasih Tuadale; Didirikan Hanya Berbekal Impian & Iman

    PAUD Pelita Kasih Tuadale; Didirikan Hanya Berbekal Impian & Iman

    • calendar_month Ming, 12 Agu 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Kab.Kupang-NTT,gardaindonesia.id-Berdiri pada tanggal 27 Januari 2014; PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini) Pelita Kasih Tuadale, menggunakan Gereja sebagai wadah belajar bagi anak-anak di Desa Lifuleo Kecamatan Kupang Barat Kabupaten Kupang Provinsi NTT. Kini, meski dengan bangunan darurat berupa 2 (dua) ruang kelas berukuran sekitar 3×4 meter dan belum memiliki Kantor, PAUD Pelita Kasih tetap bersemangat menjalankan […]

  • Dalang Penculikan Pembunuhan Kacab Bank di Bekasi Diciduk Aparat

    Dalang Penculikan Pembunuhan Kacab Bank di Bekasi Diciduk Aparat

    • calendar_month Rab, 27 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 222
    • 0Komentar

    Loading

    Kasus ini semakin menyita perhatian publik setelah muncul dugaan keterlibatan oknum aparat dalam jaringan pelaku. Sejumlah tersangka bahkan dikabarkan sempat meminta perlindungan langsung kepada Kapolri agar mendapatkan jaminan keselamatan setelah identitas mereka terungkap.   Jakarta | Kasus penculikan dan pembunuhan Kepala Cabang Bank Rakyat Indonesia (BRI) Cempaka Putih, Mohamad Ilham Pradipta (37) di Bekasi kian […]

  • TJLS PLN! Warga Desa Nubahaeraka Lembata Dapat Air Bersih

    TJLS PLN! Warga Desa Nubahaeraka Lembata Dapat Air Bersih

    • calendar_month Rab, 20 Agu 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 94
    • 0Komentar

    Loading

    Tepat saat perayaan 80 tahun kemerdekaan Indonesia, sebanyak 119 kepala keluarga di Desa Nubahaeraka turut merayakan hadirnya akses air bersih yang telah lama dinantikan.   Lembata | PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) berkomitmen dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui program tanggung jawab sosial dan lingkungan (TJSL) berupa bantuan perbaikan dan […]

  • Jokowi Lewat di Pasar Atambua, Warga Teriak Histeris Namanya

    Jokowi Lewat di Pasar Atambua, Warga Teriak Histeris Namanya

    • calendar_month Jum, 25 Mar 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 104
    • 0Komentar

    Loading

    Belu, Garda Indonesia | Ribuan warga pasar baru Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), tampak sangat antusias menyambut kedatangan Presiden RI, Joko Widodo pada Kamis petang, 24 Maret 2022. Disaksikan Garda Indonesia, warga sudah memenuhi jalan sekitar pasar mulai pukul 14.00 WITA dan diawasi ketat pihak keamanan dari Polres, Brimob dan TNI. Hingga […]

expand_less