Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Mengenal Marsinah, Pahlawan Nasional Sejajar dengan Soeharto

Mengenal Marsinah, Pahlawan Nasional Sejajar dengan Soeharto

  • account_circle Rosadi Jamani
  • calendar_month Kam, 13 Nov 2025
  • visibility 378
  • comment 0 komentar

Loading

Bagi generasi Z, pasti tak kenal siapa Marsinah baru saja diangkat jadi Pahlawan Nasional oleh Prabowo. Beliau yang memperjuangkan hak-hak buruh. Ia tewas mengenaskan. Siapa dalangnya, tidak ada yang tahu. Sekarang, namanya sejajar dengan Soeharto yang juga dinobatkan hero 2025.

Di zaman Soeharto ia dibunuh. Sekarang, ia sejajar dengan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional. Dunia ini memang lucu, atau mungkin semesta sedang bercanda sambil menatap kita dengan senyum getir, karena akhirnya dua nama yang dulu dipisahkan darah, kini berdampingan dalam tinta penghormatan negara.

Marsinah, buruh pabrik jam di Sidoarjo, yang dulu berjuang demi kenaikan upah seribu rupiah, kini diabadikan sejajar dengan penguasa yang dulu menindas suaranya. Barangkali sejarah memang pandai berputar seperti jarum jam yang dulu ia rakit tiap hari.

Marsinah lahir dari keluarga sederhana di Nganjuk. Tak ada pamor, tak ada trah biru, tak ada televisi yang meliput kelahirannya. Ia hanya perempuan biasa, tapi dengan nyali luar biasa. Dalam dirinya ada campuran getir kemiskinan dan bara keberanian. Ia bukan politisi, bukan orator, hanya buruh yang mencatat jam kerja dengan teliti. Tapi ketika haknya diinjak, ia bangkit, bukan dengan senjata, melainkan dengan kata. Ia bicara lantang, padahal zaman itu suara bisa berujung di liang lahat.

Tahun 1993, di bawah langit kelam Orde Baru, Marsinah menjadi juru bicara hati banyak buruh. Mereka hanya ingin upah naik sedikit, agar nasi di rumah tak cuma lauk garam. Tapi pabrik menolak, dan negara diam. Maka mogok kerja pun terjadi. Marsinah ikut memperjuangkan 12 tuntutan sederhana, tentang upah, cuti haid, lembur, hak manusiawi. Hal-hal kecil, tapi cukup besar untuk mengguncang kekuasaan yang alergi pada protes. Hingga akhirnya, 5 Mei 1993, beberapa buruh dipanggil ke Kodim dan dipaksa menandatangani pengunduran diri.

Marsinah pergi menuntut penjelasan. Ia tidak kembali.

Tiga hari kemudian, tubuhnya ditemukan di pinggir hutan jati, penuh luka, penuh tanda tanya. Luka itu bukan hanya di tubuhnya, tapi di hati bangsa. Di situ sejarah berhenti menulis dan mulai membisu. Pelaku tidak jelas, proses hukum melingkar seperti ular yang menggigit ekornya. Marsinah lenyap, tapi namanya jadi mantra. Ia menjadi lambang tentang betapa mahal harga kejujuran di negeri yang suka menulis puisi tentang keadilan tapi takut menegakkannya.

Kini, tiga dekade kemudian, negara datang membawa piagam, menyematkan bintang di dada yang dulu ditusuk duri sejarah. Marsinah diangkat menjadi Pahlawan Nasional. Ironi? Tentu. Tapi juga keadilan yang datang dengan langkah sarkastik. Sebab siapa sangka, rezim yang dulu menekan gerakan buruh kini memuliakan buruh yang dulu mereka tekan.

Soeharto dan Marsinah kini sebaris dalam daftar nama pahlawan. Seolah sejarah sedang menulis satire terbesar sepanjang masa, bahwa dalam kematian sekalipun, takdir bisa berbalik.

Tapi mari kita tak tertawa dulu. Penghormatan ini bukan sekadar penghias dinding istana. Ini seharusnya cermin bagi generasi muda. Pahlawan tidak selalu berseragam, tidak selalu punya pangkat, tidak selalu duduk di kursi kekuasaan. Kadang pahlawan adalah buruh pabrik yang mati sendirian di hutan jati. Kadang perjuangan bukan soal kemenangan, tapi tentang tidak menyerah meski tahu akan kalah.

Marsinah adalah nyanyian sunyi yang menembus zaman. Ia mungkin gugur di era Soeharto, tapi hari ini ia hidup dalam kepala setiap anak muda yang menolak tunduk. Ia bukti, waktu bisa menunda keadilan, tapi tak bisa memadamkan kebenaran. Mungkin inilah happy ending paling aneh dalam sejarah bangsa. Ketika korban dan penguasa akhirnya sejajar di buku pelajaran, dan kita, para pembaca yang terlambat sadar, akhirnya mengerti, setiap darah yang tumpah punya harga yang tak bisa dibayar dengan medali.(*)

 

 

  • Penulis: Rosadi Jamani

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • ‘Hela Keta’ Tradisi Orang Timor Tengah Utara

    ‘Hela Keta’ Tradisi Orang Timor Tengah Utara

    • calendar_month Sab, 17 Jul 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 344
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Melkianus Nino Hela Keta adalah sebutan bahasa Dawan Timor yang bermakna “buka jalan”. Hela Keta merupakan tradisi adat  istiadat orang Timor di wilayah administratif Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU), Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). ‘Hela Keta’ sering diartikan oleh tua-tua adat sebagai simbol yang memiliki makna yang besar. Makna yang penting itu, sebagai […]

  • ‘8 Komitmen Banten’ dalam Strategi Pelaksanaan Pembangunan PPPA 4.0

    ‘8 Komitmen Banten’ dalam Strategi Pelaksanaan Pembangunan PPPA 4.0

    • calendar_month Jum, 26 Apr 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 125
    • 0Komentar

    Loading

    Tangerang-Banten, Garda Indonesia | Rakornas PPPA Tahun 2019 dengan tema “Mempercepat Terwujudnya Kesejahteraan Perempuan dan Anak Indonesia Melalui Pembangunan Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak 4.0” yang diselenggarakan sejak 23—26 April 2019 di Kab. Tangerang, Banten menghasilkan “Komitmen Banten”. “Kami berharap Komitmen Banten ini dapat menjadi strategi perencanaan dan pelaksanaan pembangunan PPPA ke depan. Tolong sampaikan […]

  • Tempuh Jalur Laut, 11 CPMI Dicekal KP3 Laut di Pelabuhan Tenau

    Tempuh Jalur Laut, 11 CPMI Dicekal KP3 Laut di Pelabuhan Tenau

    • calendar_month Ming, 14 Okt 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 189
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, gardaindonesia.id | Setelah berulangkali gagal dalam rencana pengiriman Calon Pekerja Migran Indonesia (CPMI) melalui jalur udara karena selalu dicekal dan diamankan oleh Satgaspam Bandara El Tari Kupang; kali ini para penyuplai dan calon tenaga kerja berupaya menggunakan Jalur laut, namun berhasil digagalkan oleh Petugas KP3 Laut Pelabuhan Tenau Kupang. 11 (sebelas) CPMI tersebut dicekal […]

  • Menteri PUPR dukung BUMN Karya Go International

    Menteri PUPR dukung BUMN Karya Go International

    • calendar_month Kam, 27 Sep 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 110
    • 0Komentar

    Loading

    Algiers,gardaindonesia.id – Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) selaku pembina jasa konstruksi nasional terus mendorong kontraktor dan kosultan Indonesia, meningkatkan kompetensi dan kualitasnya sehingga memiliki daya saing dalam kompetisi global. Kemampuan memenuhi standar mutu internasional diperlukan untuk meningkatkan ekspor jasa konstruksi nasional. Salah satu negara yang telah menjadi tujuan ekspor jasa konstruksi Indonesia adalah […]

  • Kawal Libur Akhir Tahun di Jayapura, Ditjen Hubud Buka Posko Terpadu

    Kawal Libur Akhir Tahun di Jayapura, Ditjen Hubud Buka Posko Terpadu

    • calendar_month Ming, 30 Des 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 132
    • 0Komentar

    Loading

    Jayapura, gardaindonesia.id | Libur akhir tahun Natal dan Tahun Baru merupakan momen yang ditunggu- tunggu oleh hampir seluruh masyarakat di Indonesia, apalagi bertepatan dengan libur anak sekolah, sehingga banyak orang menggunakan kesempatan ini untuk mengunjungi keluarga di kampung halaman atau sekedar memanjakan diri dengan menyambangi tempat-tempat wisata. Kesempatan ini juga dimanfaatkan oleh masyarakat Indonesia di […]

  • Kemen PPPA Ingatkan Raperda Perempuan & Anak Disertakan Naskah Akademik

    Kemen PPPA Ingatkan Raperda Perempuan & Anak Disertakan Naskah Akademik

    • calendar_month Sab, 24 Nov 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 169
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, gardaindonesia.id | Kemen PPPA menerima audiensi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kalimantan Barat dan DPRD Kota Tomohon pada Jumat (23/11/18). Pertemuan tersebut dalam rangka konsultasi draft rancangan peraturan daerah (Raperda) terkait urusan perempuan dan anak yang tengah disusun oleh kedua daerah. DPRD Prov. Kalimantan Barat tengah merancang Peraturan Penyelenggaraan Pembangunan Ketahanan Keluarga, sedangkan […]

expand_less