Musim Hujan NTP NTT Turun, Dinas Pertanian Inisiasi Demo Tani
- account_circle Roni Banase
- calendar_month 19 jam yang lalu
- visibility 128
- comment 0 komentar

![]()
NTP NTT tercatat mengalami penurunan pada periode musim hujan. Kondisi ini mencerminkan melemahnya daya beli petani akibat ketidakseimbangan antara harga yang diterima petani dan biaya produksi yang terus meningkat.
Kupang | Pada Desember 2025, Nilai Tukar Petani Nusa Tenggara Timur (NTP NTT) sebesar 101,46 dengan NTP masing-masing subsektor tercatat sebesar 103,67 untuk subsektor tanaman padi-palawija (NTP-P), 92,71 untuk subsektor hortikultura (NTP-H); 96,77 untuk subsektor tanaman perkebunan rakyat (NTP-TPR); 105,74 untuk subsektor peternakan (NTP-Pt) dan 96,18 untuk subsektor perikanan (NTP-Pi).
Terjadi penurunan sebesar 0,09 persen pada Desember 2025 jika dibandingkan dengan NTP November 2025. Perubahan ini disebabkan oleh perkembangan indeks harga terima yang lebih lambat dibandingkan harga bayar.
Nilai Tukar Petani Desember 2025 didasarkan pada perhitungan NTP dengan tahun dasar 2018 (2018=100). Penghitungan NTP ini mencakup 5 subsektor, yaitu subsektor padi & palawija, hortikultura, tanaman perkebunan rakyat, peternakan dan perikanan.
Penurunan NTP NTT pada Desember 2025 tercatat sebesar 101,46 atau turun tipis dibandingkan November 2025 yang berada pada angka 101,50 disebabkan karena kenaikan indeks harga yang dibayar petani lebih tinggi. Indeks harga yang diterima petani naik 0,46 persen, sementara indeks harga yang dibayar meningkat 0,55 persen. Demikian disampaikan Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, Senin, 5 Januari 2026.
“Kenaikan harga barang konsumsi dan sarana produksi menjadi faktor utama penekan Nilai Tukar Petani. Kondisi tersebut menyebabkan pengeluaran petani meningkat lebih cepat dibandingkan pendapatan dari hasil pertanian,” ungkapnya.
Matamira menyebutkan sejumlah komoditas yang mendorong kenaikan indeks harga yang diterima petani selama Desember 2025. Komoditas tersebut antara lain gabah, kemiri, jagung, kopi, kacang hijau, ayam ras, kacang tanah, dan bawang merah.
Masalah produksi, harga, dan akses pasar
NTP NTT tercatat mengalami penurunan pada periode musim hujan. Kondisi ini mencerminkan melemahnya daya beli petani akibat ketidakseimbangan antara harga yang diterima petani dan biaya produksi yang terus meningkat.
Penurunan NTP di musim hujan bukan fenomena baru di NTT, namun kembali terulang akibat kombinasi faktor struktural dan musiman yang belum tertangani secara optimal.
Adapun penyebab penurunan NTP diantaranya :
Pertama, produksi pertanian meningkat secara bersamaan, terutama pada komoditas pangan seperti padi, jagung, dan hortikultura. Panen serentak menyebabkan pasokan melimpah, sementara kemampuan penyerapan pasar terbatas. Akibatnya, harga jual di tingkat petani turun tajam, bahkan sering kali di bawah biaya produksi.
Kedua, biaya produksi meningkat di musim hujan. Petani harus mengeluarkan tambahan biaya untuk pestisida dan obat tanaman akibat meningkatnya serangan hama dan penyakit. Selain itu, biaya tenaga kerja dan transportasi ikut naik karena kondisi cuaca dan infrastruktur jalan yang rusak atau sulit dilalui.
Ketiga, kerusakan pascapanen meningkat. Curah hujan tinggi menyebabkan hasil panen mudah rusak, terutama komoditas hortikultura. Keterbatasan fasilitas pengeringan, penyimpanan, dan pengolahan membuat petani terpaksa menjual cepat dengan harga rendah untuk menghindari kerugian lebih besar.
Keempat, akses pasar petani NTT masih lemah. Ketergantungan pada tengkulak membuat posisi tawar petani rendah, terutama saat produksi melimpah. Minimnya industri pengolahan dan lemahnya sistem resi gudang memperparah situasi.
Kelima, komponen konsumsi rumah tangga petani meningkat. Pada musim hujan, pengeluaran untuk pangan, energi, dan kebutuhan kesehatan naik, sementara pendapatan dari hasil pertanian justru menurun. Kondisi ini secara langsung menekan NTP.
Demo Tani inisiasi Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT
Penurunan NTP berdampak pada menurunnya kesejahteraan petani, meningkatnya kerentanan ekonomi rumah tangga tani, serta memperbesar risiko kemiskinan di wilayah pedesaan NTT. Dalam jangka panjang, kondisi ini dapat melemahkan ketahanan pangan dan mempercepat alih fungsi tenaga kerja dari sektor pertanian.
Menilik kondisi ini, maka Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT menginisiasi pelatihan peningkatan sumber daya manusia terutama para petani dan pekebun agar siap memasuki era pertanian modern dan digital.
Kadis Pertanian dan Ketahanan Pangan Provinsi NTT, Joaz Umbu Wanda pada Senin, 5 Januari 2026, mengungkapkan bahwa petani usia di atas 50 tahun terus meningkat, sementara anak muda cenderung menjauh dari sektor pertanian. Namun pembangunan bersifat hilirisasi dari Presiden Prabowo dan Dasa Cita Gubernur dan Wakil Gubernur NTT, dapat membangun kerja sama pentahelix mendorong sektor pertanian dengan pola lahan kering menjadi lebih kekinian.
“Kalau kita ingin panen dalam waktu empat bulan, kita tanam padi atau jagung, kalau ingin panen lima hingga sepuluh tahun, kita tanam kopi atau kakao, namun kalau kita ingin mencapai generasi emas, maka kita harus menanam pendidikan,” bebernya.
Anak muda NTT, imbuh Joaz Umbu Wanda, harus dipersiapkan agar mereka paham pola pertanian adaptif dengan kecenderungan mulai menanam pada musim hujan dengan durasi hujan pendek 3—4 bulan periode Oktober—Maret
Tak hanya pelatihan bagi para petani dan pekebun, diungkapkan Joaz, Gubernur NTT, Melki Laka Lena menggelontorkan dana per OPD sebesar Rp300 juta mulai tahun 2027 untuk mengangkat potensi ekonomi desa bersifat hulu hilir dan Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan menginisiasi desa model pertanian (Demo Tani) diterapkan di desa miskin ekstrem dengan pemberian bantuan hortikultura dan pelatihan.
“Presiden RI (pertama) Ir. Soekarno menyatakan pangan merupakan harga diri suatu bangsa, oleh karena itu, kedaulatan pangan dan mandiri pangan merupakan komitmen bersama untuk swasembada pangan sesuai Dasa Cita, dari ladang dan laut menuju pasar dan Dasa Cita 10, Ayo Bangun NTT sebagi suatu gerakan bersama mewujudkan mandiri pangan dari hulu hingga hilir sebagai upaya hilirisasi nilai tambah ekonomi bagi petani,” tandas Joaz Umbu Wanda.(*)
- Penulis: Roni Banase











Saat ini belum ada komentar