Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Semiotika Politik Got

Semiotika Politik Got

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 12 Sep 2021
  • visibility 46
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh: Andre Vincent Wenas

Akhirnya got naik kelas. Jadi wacana dunia sosial-politik nasional! Ada yang masuk got untuk inspeksi saluran, dan ada juga yang masuk got lantaran kecemplung. Inspeksi, itu artinya ya memeriksa on-the-spot (turba, turun ke bawah), kerja lapangan, kerja nyata, untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Ini sering tidak disukai oleh bawahan yang malas dan sukanya kasih laporan ABS  (asal bapak senang).

Kucemplung, ya bisa gara-gara meleng, takabur, atau tidak waspada atau malah tidak peduli pada keadaan lingkungan, lantaran sibuk dengan hal lain. Istilah dalam manajemen sering diolok sebagai, “Semua kerjaan beres kecuali kerjaan utama, semua tugas dikerjakan kecuali tugas utama.”

Akhirnya semiotika politik got yang lagi naik daun akhir-akhir ini pun mengundang banyak tafsiran. Ada yang bilang, pejabat yang kecemplung (bukan inspeksi) got itu adalah tanda-tanda alam tentang keruntuhannya. Wuihh… serem.

Ya, kalau ingat cerita Prof. C.A. van Peursen (Strategi Kebudayaan), memanglah masyarakat kita dikenal masih hidup dalam tiga tahapan alam budaya sekaligus.

Ada yang masih di tahapan Mitis, yaitu sikap manusia dirinya masih merasa dikepung oleh berbagai kekuatan gaib di sekitarnya. Banyak dewa-dewi alam raya, penguasa kesuburan, api, keberuntungan, kesehatan (kejantanan), dan berbagai proyeksi minat atau hasrat lainnya masih eksis dalam pentas mitos kita semua.

Lalu ada juga yang berada di tahapan Ontologis. Yaitu mereka yang tidak lagi hidup dalam kepungan kuasa mistis, melainkan sudah bebas dan malah ingin meneliti segala hal. Mereka bisa mengambil jarak (distansi) terhadap obyek yang dulu dirasakan mengepung mereka (mitos). Ia mulai berteori tentang hakikat segala sesuatu (ontologi).

Kemudian ada yang sudah di tahapan Fungsional. Ini sikap dan alam pikiran yang tidak terpesona lagi oleh hal mistis. Juga ia tidak cuma ambil jarak dari obyek penyelidikannya (seperti sikap ontologis), ia melangkah lebih jauh dengan membuat semacam relasi atau suatu kebertautan yang baru terhadap segala sesuatu dalam lingkungannya. Obyek dipandang menurut peran atau fungsi yang dimainkan dalam relasi keseluruhan yang saling bertautan.

Tak usah terlalu pusing dengan teori di atas. Kita sadari saja bahwa semiotika got yang barusan naik daun ini memang bisa membantu menjelaskan fenomena politik kontemporer kita.

Bahwa got atau selokan itu adalah saluran air (kotor) yang secara fungsional adalah untuk menyalurkan air pembuangan dan/atau air hujan untuk dibawa ke suatu tempat agar tidak menjadi masalah bagi lingkungan dan kesehatan.

Begitu menurut penjelasan di Wikipedia. Lalu penjelasan lanjutannya, selokan umumnya terdapat di pinggir jalan, didesain untuk mengalirkan kelebihan air hujan dan air permukaan dari jalan raya, tempat parkir, sisi jalan, dan atap.

Secara teknis keterangannya begini, besarnya selokan dihitung atas dasar curah hujan tertinggi, aliran air buangan ataupun air tanah (khususnya didaerah pegunungan), ataupun dari waduk untuk mengalirkan air keperluan irigasi. Kalau kekecilan dapat mengakibatkan air dari selokan meluap keluar dari selokan bahkan dapat mengakibatkan banjir.

Agar air dalam selokan dapat berjalan dengan lancar perlu dilakukan perawatan selokan secara reguler untuk membuang aliran air dari sampah.

Jadi, kita mau melihatnya secara praktis dan sederhana saja.

Bahwa memang perlu got (selokan, saluran air) itu diinspeksi secara rutin. Diinspeksi itu artinya yang dilihat dan diperiksa adalah got itu sendiri. Diteliti dan diperiksa, jikalau got itu adalah saluran air yang besar ukurannya mungkin perlu turun ke bawahnya untuk diperiksa.

Lalu kalau got itu tidak ada penutupnya, dan dirasa bisa membahayakan warga (terutama untuk anak kecil dan ibu hamil misalnya), ya mestilah dipasang penutupnya.

Karena kalau tidak diperiksa (diinspeksi) dengan teliti, risikonya bisa mampat, atau malah kucemplung sendiri. Apa lagi kalau intensi jalan-jalan di perkampungan kota itu bukan untuk kerja inspeksi, tapi cuma untuk pencitraan, yah bablaslah…

Masyarakat pun bisa belajar dari semiotika got, atau politisasi got ini. Bahwa memilih pemimpin yang mau merendahkan diri untuk turun memeriksa ke bawah itu ternyata lebih baik, dari pada memilih mereka yang hanya mendongak ke atas sambil melambai-lambaikan tangan dan mengabaikan eksistensi got yang ada di bawah sana.

Namun semua sudah terjadi. Apa boleh buat.

Kita hanya mau bilang, jangan terlalu kecil hati, masih banyak kok got di Jakarta yang perlu diinspeksi.

Sabtu, 11 September 2021

Penulis merupakan pemerhati ekonomi-politik

Foto utama oleh ceklissatu.com

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Satyagraha Mahatma Gandhi, Strategi Melawan Kebijakan Oligarki

    Satyagraha Mahatma Gandhi, Strategi Melawan Kebijakan Oligarki

    • calendar_month Sab, 26 Jun 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 43
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Fr. Benediktus D. Ndun Penindasan menjadi tema yang sangat relevan dalam seluruh lapisan kehidupan manusia. Penindasan bagaikan hantu yang sangat menakutkan. Saking menakutkan sampai-sampai membuat sebagian orang menyerah pada penindasan. Penindasan semacam menjadi kodrat baru bagi manusia. Maka, pantaslah bila kidung penindasan diproklamasikan. Namun, siapa yang nanti menjadi pelopor untuk mengidungkan penindasan. Dengan terus […]

  • ‘Launching GrabCar Protect Kota Kupang’ Tersedia 100 Armada Aman Covid-19

    ‘Launching GrabCar Protect Kota Kupang’ Tersedia 100 Armada Aman Covid-19

    • calendar_month Kam, 5 Nov 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 39
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Pandemi Covid-19 yang masih mengancam, jumlah pasien positif yang terus bertambah di Kota Kupang, Grab sebagai perusahaan jasa transportasi online menyediakan layanan khusus yang dinamakan Grabcar Protect. Sebentar lagi, layanan ini dapat dinikmati; kurang lebih 100 (seratus) armada GrabCar disiapkan untuk layanan khusus yang menjamin kenyamanan dan keamanan yang sesuai […]

  • ‘System Core Banking’–T24 Bank NTT Serentak Dipakai di 250 Kantor Cabang

    ‘System Core Banking’–T24 Bank NTT Serentak Dipakai di 250 Kantor Cabang

    • calendar_month Ming, 17 Mei 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 72
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | System Core Banking yang baru, bertajuk T24 Bank NTT telah resmi digunakan Bank NTT terhitung sejak Senin, 11 Mei 2020. Langkah strategis ini menjadi fondasi transformasi teknologi Bank NTT untuk meningkatkan layanan perbankan yang dapat diakses nasabah maupun masyarakat di mana dan kapan saja. Demikian kabar baik ini disampaikan oleh Direktur […]

  • Skandal Rusun DP 0 Rupiah: Bakal Menguak Tabir Busuk Lainnya?

    Skandal Rusun DP 0 Rupiah: Bakal Menguak Tabir Busuk Lainnya?

    • calendar_month Sab, 13 Mar 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 63
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Andre Vincent Wenas, MM., MBA. Mozaik yang selama ini tidak lengkap mulai terpasanglah puzzle-nya satu-persatu. Sekarang yang mulai dikutak-kutik adalah Badan Anggaran (Banggar) serta Ketua DPRD DKI Jakarta. Dalam soal apa? soal keterkaitannya dalam manipulasi (mark-up) pembelian lahan untuk proyek rumah DP 0 Rupiah. Tentu saja semua yang ditanya oleh wartawan menghindar. Entah dari […]

  • Pemprov NTT & Undana Kerjasama Prioritas Kelangsungan Hidup Komodo

    Pemprov NTT & Undana Kerjasama Prioritas Kelangsungan Hidup Komodo

    • calendar_month Rab, 15 Mei 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 44
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Pemprov (Pemerintah Provinsi) NTT menggelar Rapat bersama dalam rangka menindaklanjuti upaya-upaya untuk pengelolaan Taman Nasional Komodo (TNK) yang lebih optimal. Rapat dipimpin langsung oleh Sekda NTT Ir. Benediktus Polo Maing, dilaksanakan di Ruang Rapat Sekda Gedung Sasando, Selasa, 14 Mei 2019. Turut hadir dalam rapat tersebut diantaranya, Wakil Rektor Undana Bidang […]

  • Perdana, Kota Kupang Raih Opini WTP Sejak Jadi Daerah Otonom

    Perdana, Kota Kupang Raih Opini WTP Sejak Jadi Daerah Otonom

    • calendar_month Kam, 30 Jul 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 52
    • 0Komentar

    Loading

    Kota Kupang, Garda Indonesia | Untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak berdiri sebagai daerah otonom 24 tahun lalu, Kota Kupang meraih opini Wajar Tanpa Pengecualian (WTP) atas Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terhadap Laporan Keuangan Pemerintah Daerah (LKPD) Kota Kupang Tahun 2019. Penyerahan LHP BPK kali ini berbeda dari biasanya karena berlangsung […]

expand_less