Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Surat Kertas Hitam Buat Gubernur dan DPRD Provinsi NTT

Surat Kertas Hitam Buat Gubernur dan DPRD Provinsi NTT

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sen, 15 Sep 2025
  • visibility 174
  • comment 6 komentar

Loading

Oleh : Marsel Robot, Dosen Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP Undana

Bapak Gubernur, Bapak dan Ibu Dewan Perwakilan Rakayat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang saya hormati. Saya menulis surat ini di atas kertas hitam. Maaf! Dan barangkali, Bapak dan Ibu sulit membaca surat ini, karena tidak kelihatan huruf-hurufnya. Lagi pula, ditulis dengan tinta hitam. Namun, jikalau Bapak Gubernur, Bapak dan Ibu Dewan membaca dengan mata hati, maka huruf-huruf di atas kertas hitam itu terlihat sangat terang. Bahkan, makin lama Anda membaca, kata-kata, frasa-frasa, dan kalimat-kalimat surat ini bergegas meninggalkan kertas dan berduyun menuju aula hati Bapak dan Ibu.

Saya menulis surat ini sebagai balasan atas surat Bapak Gubernur per tanggal 16 Mei 2025 dengan nomenklatur Peraturan Gubernur Nusa Tenggara Timur Nomor 22 tahun 2025. Ini jenis surat sakti dan berbisa.

Saya dan sebagian kecil masyarakat NTT telah membaca dengan seksama surat itu. Cuma dua halaman surat itu. Berisikan dua item penting, yakni tunjangan perumahan dan tunjangan transportasi untuk anggota dewan. Postur kalimat disusun dalam diktum. Namun, dari poin ke poin, berisikan ayat-ayat pilu yang menjadi sembilu menyayatkan rasa keadilan. Bayangkan, dalam pasal 3 ayat 3, misalnya Anda memberitahukan: DPRD diberi tunjangan perumahan Rp23.600.000 setiap bulan. Tunjangan itu naik begitu fantastis dari tunjangan tahun sebelumnya Rp12.500.000 (Pergub No 72 tahun 2024). Itu berarti pula, jumlah yang dibayar negara tiap satu bulan untuk 65 orang DPRD NTT adalah Rp1.534.000.000.

Anda menggunakan kata “perumahan” (bukan rumah) yang mengandung arti kompleks atau terdiri atas sejumlah rumah. Pantas saja biayanya sefantastis itu. Kalaupun disebut “tunjangan rumah”, entah, rumah jenis apa yang digunakan oleh teman-teman dewan semahal itu.

Ketika Anda menyusun kalimat-kalimat ini, pernakah membayangkan tentang keadaan rakyatmu di pedalam Kodi (Sumba Barat Daya), di pedalaman Nelu (Timor Tengah Utara), di pedalaman Rajong (Manggarai Timur), di pedalaman Pulau Pantar (Alor) atau di pedalam Wolowaru (Ende) yang hidup di bawah rumah reot, sereot nasibnya.

Hadir dalam bayangan, tunjangan rumah satu bulan dari 65 anggota DPRD NTT sudah dapat membangun kompleks perumahan sederhana untuk rakyat Anda. Bagian lain, surat Anda itu berisikan tunjangan transportasi yang juga tidak kalah fantastisnya. Dalam Pasal 4 ayat 3, Anda memuat tunjangan transportasi dengan rincian Ketua DPRD NTT per bulan sebesar Rp25.000.000, Wakil Ketua DPRD NTT Rp23.000.000 dan anggota Rp21.000.0000.

Tiba-tiba pertanyaan lewat di depan gedung DPR, begitu miskinkah anggota dewan sampai uang kos (sewa rumah) dan uang angkot (angkutan kota) atau dalam bahasa birokrat Anda uang transportasi harus ditanggung oleh rakyat yang hidupnya memelas di bawah garis kemiskinan dan terus ditimbuni oleh kebohongan? Itu juga, belum direken-reken tunjangan lain yang bunyi itemnya sangat tidak masuk akal. Semakin absurd itemnya, semakin besar uang dari item itu.

Bapak Gubernur, Bapak dan Ibu Dewan Perwakilan Rakayat Daerah Provinsi Nusa Tenggara Timur yang saya hormati. Bukankah peraturan yang Anda susun merupakan produk dari mentalintas rente, mencari keuntungan dari penderitaan rakyatmu? Tahukah Bapak, rakyat Anda makan berapa kali sehari? Dan makan apa? Tetapi, satu yang pasti, bahwa rakyatmu hanya hidup dengan sekerat pertanyaan “apa ada makan hari ini?” Sedangkan di atas sana, para pejabat yang berlagak berjuis itu dan DPR yang menikmati kemewahan di bawah rindang penderitaan rakyat? Lalu, Anda bertanya: makan apa hari ini? Makan di mana? Mestinya, surat Anda harus dirayakan dengan nyanyian requiem. Karena, kalimat-kalimat adalah kain kafan untuk membarigkan jenazah sila kedua, “kemanusiaan yang adil dan beradab.” Sebab, kenaikan tunjangan DPRD yang fantastis berbading terbalik dengan kehidupan rakyat yang melarat, tingkat kurang gizi paling tinggi dan menjadi provinsi termiskin ketiga di Indonesia setelah Papua dan Papua Barat.

Bapak Gubernur dan Bapak Ibu Dewan Perwakilan Rakayat Daerah Nusa Tenggara Timur yang saya hormati. Lebih ironis lagi, Anda menyusun surat ini (baca Pergub) kala Presiden Prabowo memerintah untuk mengencangkan ikat pinggang atau efisiensi. Anda malah menaikkan tunjangan rumah dan transportasi bagi kolegamu Dewan Perwakilan Rakyat.

Kini, rakyatmu bukan saja menderita karena kemiskinan yang mendera sepanjang hidupnya, tetapi lebih menderita membaca surat Anda yang seakan menggorok leher keadilan sosial. Sementara itu, DPR telah telah menggunting jalan pulang sehingga tidak dapat menyaksikan keadaan rakyat. Di ruang DPR, rakyat sekadar tumpukan narasi untuk memperjuangkan kepentingan kalian.

Beberapa rangkap alibi kalian kirimkan kepada masyarakat sekadar menimbun kebohongan. Ketua DPR dengan wajah datar tanpa sila kedua di testanya, berkata sembrono; bahwa tunjangan itu sesuai dengan pergub. Sedangkan Bapak Gubernur mengatakan ini merupakan aspirasi teman dewan karena ongkos daerah pemilihan tinggi.

Kesimpangsiuran jawaban Bapak dan Ketua DPRD sebagai isyarat bahwa Pergub ini sebagai “kemesraan simbolik”. Algoritma birokratis saling menguntungkan. Teringat film komedi 1986: “Kejarlah Daku Kau Kutangkap”. Tentu, saya tak ingin vulgar seperti teman saya Ndaju yang mengatakan, DPR itu sebagai singkatan dari Dewan Pengkhianat Rakyat.

Bapak Gubernur dan Bapa Ibu anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Nusa Tenggara Timur yang saya hormati. Saya sungguh paham, Anda mungkin kesulitan melawan diri. Melawan ketiadaan makna dalam diri seperti petua purba filsuf Kierkegaard. Karena itu, Nietzsche menganjurkan, manusia harus “melawan dirinya” untuk melahirkan manusia unggul (Übermensch). Melawan diri ekstra sulit. Lebih mudah melawan ribuan demonstran daripada melawan diri. Karena itu, RUU Perampasan Aset yang berusia belasan tahun tidak juga disahkan. DPR lebih mampu melawan demonstran daripada melawan diri. Sebagai wakil rakyat, menyerahkan diri kepada rakyat, bukan sebaliknya memalak rakyat. Memang, musuh terbesar seseorang bukan orang lain melainkan dirinya sendiri.

Saya tidak melanjutkan untuk menulis surat ini. Saya tahu Pak Gubernur sangat sibuk mengurus rakyat NTT yang sampai saat ini masih seperti dulu. Saya juga paham keadaan teman-teman DPR, juga sangat sibuk melaksanakan sidang, sesudah sidang, hasil sidang disidangkan lagi dan realisasi sidang itu adalah dokumen sidang. Tetapi, yang paling pasti, ada uang sidang, ada makan siang, ada kudapan, ada uang transportasi, dan ada uang komunikasi intensif. Sungguh tega hidup mewah di bawah rimbunan penderitaan rakyat.(*)

 

 

 

  • Penulis: Penulis

Komentar (6)

  • Inho

    Tulisan Bapak mengingatkan saya pada kata-kata filsuf Jean-Jacques Rousseau, “Manusia dilahirkan bebas, tetapi di mana-mana dia terbelenggu.” Kebijakan yang tidak berpihak pada rakyat kecil adalah belenggu yang semakin memperdalam kesenjangan. Bapak mengajak kita untuk melihat lebih jauh dari sekadar peraturan dan angka, untuk merasakan penderitaan yang tidak tampak di permukaan. Semoga ini menjadi titik awal bagi kita untuk membebaskan diri dari belenggu ketidakadilan dan bergerak menuju dunia yang lebih adil, seperti yang disuarakan oleh para filsuf pembebas.

    Terima kasih atas tulisan yang sangat menggugah ini.

    Balas16 September 2025 9:19 pm
  • Jonan

    Sudah so pasti PERGUB untuk mengutungkan para elit.. tidak mungkin jeruk makan jeruk.. Tikus2 kantor yg berdasi lagi rakuas2nya makan uang rakyat.. Sampai2 cicilan perumahan perbln dibayar oleh rakyat.. Mana NURANI kalian DPRD dan GUBERNUR NTT..

    Balas16 September 2025 7:58 pm
  • Alot Andreas

    Sulit, sulit, sulit sekali membantah isi surat pak Marsel Robot ini. Doktor yang pernah menulis tentang “Tatabahasa Tubuh Rektor Undana” ini memang jeli mengamati fenomena sosial dan dengan lugas mendeskripsikannya. Nilai “Kemanusiaan yang adil dan beradab”, dan “Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” memang sudah sejak lama tak dihiraukan para elit politik kita. Kesenjangan bumi-langit antara penghasilan mereka dan rakyat yang mereka urus tak pernah mengusik nalar dan kalbu mereka yang paling dalam. Mereka gelap mata dalam menentukan ‘income’ politik mereka. Dengan penyampaian pak Marsel Robot dan berbagai elemen lain terkait tingginya disparitas pendapatan antara elit politik dan rakyat kebanyakan, mudah-mudahan para elit politik tergerak kalbunya untuk mau meninjau kembali semua produk regulasi terkait agar disparitas dimaksud bisa lebih diperdekat kesenjangannya. Semoga Tuhan menolong mereka. (Ingat sumpah jabatan: “Semoga Tuhan menolong saya!”).

    Balas16 September 2025 7:33 pm
  • Norma

    Miris melihat sikap dan alokasi anggaràn untuk DPR RI maupun DPRD Prov NTT. Masihkah ada kerinduan untuk menjagokan mereka atau rakyat tidak akan mau memilih lagi periode akan datang. Biarlàh tidak ada Dewàn yang tidak memiliki empati akan kesusahan terhadap orang yang telah menjagokannya.

    Balas16 September 2025 6:14 pm
  • Christine Chandra

    Sungguh miris dengan kenyataan ini.
    Kalau rakyat hanya menulis
    Kalau rakyat tetap berdiam & menunggu
    Kalau rakyat yang punya pengaruh dijamu di ruang mewah lengkap dengan makan siang mewah

    Tak akan ada artinya tulisan ini
    Tak akan ada perubahan.

    Agenda selanjutnya apa
    Jika pemberitahuan tersebut sudah disampaikan & tetap akan dilaksanakan???

    Kami tunggu GERAKAN RAKYAT NTT yang lebih nyata selanjutnya.

    Balas16 September 2025 4:29 pm
  • Servas Lawang

    Tepuk tangan meriah untuk tulisan ini.

    Balas16 September 2025 7:42 am

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Siswi Ponpes asal Alor Juara Dakwah Serambi Bank Indonesia

    Siswi Ponpes asal Alor Juara Dakwah Serambi Bank Indonesia

    • calendar_month Kam, 4 Apr 2024
    • account_circle Penulis
    • visibility 183
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang, Garda Indonesia | “Kejadian tahun 2019, ekonomi konvensional mengalami keberuntungan dan ekonomi nasional mengalami masalah, oleh karena itu saya mengajak kita semua menggunakan ekonomi syariah,” demikian penggalan tauziah dari siswi dari pondok pesantren (Ponpes) Ponpes AL Qur’an Cijantung 7 Kalabahi, Kabupaten Alor. Tauziah dari perempuan yang disapa Rahmatia Maulid Enga asal Alor itu menghantar dirinya […]

  • PLN Bangun Jalan Menuju PLTP Mataloko, Pedagang Dapat Untung

    PLN Bangun Jalan Menuju PLTP Mataloko, Pedagang Dapat Untung

    • calendar_month Sab, 1 Feb 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 134
    • 0Komentar

    Loading

    Peningkatan signifikan tersebut belum pernah dirasakan masyarakat sebelumnya. Jauh sebelum PLN turun tangan, Stefanus bercerita kalau warga mengalami kesulitan dalam menjalani aktivitas perekonomian sehari-hari, terutama ketika menjual hasil tani, yang menjadi komoditas wilayah tersebut. Jalan becek dan berlumpur menjadi tantangan sehari-hari.   Ngada | Pembenahan akses jalan menuju titik lokasi pembangkit listrik tenaga panas bumi […]

  • Upaya Kementerian PPPA Lindungi Hak Pekerja Perempuan

    Upaya Kementerian PPPA Lindungi Hak Pekerja Perempuan

    • calendar_month Sen, 28 Okt 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 190
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Saat ini perempuan bekerja hampir di semua bidang pembangunan. Asisten Deputi Perlindungan Hak Perempuan dalam Ketenagakerjaan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA), Rafael Walangitan mengatakan hak perempuan pekerja harus diperhatikan. Pekerja perempuan memerlukan pemeliharaan dan perlindungan kesehatan yang baik, khususnya terkait kesehatan reproduksinya. “Apabila perempuan pekerja tidak diberi perlindungan […]

  • PSI Ambisi Bangun Kandang Gajah di Basis Partai Lain Jelang Pemilu 2029

    PSI Ambisi Bangun Kandang Gajah di Basis Partai Lain Jelang Pemilu 2029

    • calendar_month Sab, 31 Jan 2026
    • account_circle Penulis
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Loading

    Perpindahan Ahmad Ali dan Rusdi Masse dari NasDem ke PSI dipandang berpotensi memicu gelombang perpindahan kader lainnya. Namun, pengamat menilai ambisi besar PSI tetap harus dibuktikan.   Jakarta | Partai Solidaritas Indonesia (PSI) mulai menunjukkan ambisi besar untuk menantang dominasi partai-partai mapan, meski PSI tidak lolos ke parlemen pada Pemilu 2024, Ketua Umum PSI Kaesang […]

  • PVMBG Tetapkan Zona Berbahaya Sektoral Gunung Karangetang

    PVMBG Tetapkan Zona Berbahaya Sektoral Gunung Karangetang

    • calendar_month Sel, 12 Feb 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 144
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi merekomendasikan warga maupun pengunjung tidak melakukan aktivitas di dalam zona bahaya Gunung Karangetang di Pulau Siau, Sulawesi Utara. Aktivitas vulkanik gunung ini dengan guguran lava terjadi sejak November 2018 lalu. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) mengeluarkan rekomendasi zona perkiraan bahaya yang meliputi radius […]

  • Mensos Gus Ipul Pastikan Korban Banjir Sumatra Dapat Santunan

    Mensos Gus Ipul Pastikan Korban Banjir Sumatra Dapat Santunan

    • calendar_month Kam, 4 Des 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 306
    • 0Komentar

    Loading

    Berdasarkan data terbaru yang ditampilkan dalam situs resmi BNPB hingga Rabu sore, 3 Desember 2025, jumlah korban meninggal meningkat menjadi 810 jiwa. Selain itu, 612 orang masih dinyatakan hilang di tiga provinsi terdampak.   Jakarta | Pemerintah memastikan pemberian santunan bagi korban banjir dan longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat. Menteri Sosial […]

expand_less