Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Opini » Jokowi Takutlah Kutukan Rakyat

Jokowi Takutlah Kutukan Rakyat

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Ming, 28 Jan 2024
  • visibility 78
  • comment 0 komentar

Loading

Oleh : Septian Raharjo

Menyimak keributan soal pernyataan Jokowi, bahwa presiden boleh kampanye dan memihak. Banyak orang kecewa. Unfollow akun Jokowi dilakukan besar-besaran. Jumlahnya sampai jutaan.

Orang-orang baru paham, oh ternyata Jokowi memang sebar-bar itu. Pengkultusan yang dilakukan selama sepuluh tahun, roboh sudah.

Orang-orang baru mengerti, ternyata inilah sosok Jokowi yang sebenarnya. Berita miring yang dulu ditutup-tutupi, terbuka sudah.

Memang ada banyak sanggahan, baik dari istana atau dari PSI. Tapi semua itu tidak cukup. Mereka tak bisa mengobati kekecewaan publik.

Alasan bahwa Jokowi melaksanakan Undang-Undang itu klise. Dan jelas itu melanggar etika. Karena maksud dari Undang-Undang Pemilu No. 7 tahun 2017 sebenarnya bukan begitu.

Kalau Jokowi seorang petahana, kemudian kampanye untuk dirinya dan partainya, itu boleh. Itu yang dimaksud undang-undang. Karena dia terpaksa melakukannya.

Tapi ketika Jokowi sudah dua periode kemudian kampanye untuk anaknya, itu namanya amoral. Itu namanya aji mumpung.

Mungkin itu tidak melanggar undang-undang, tapi itu tidak pantas dan memalukan.

Presiden punya menteri, punya tentara, punya polisi, punya kejaksaan, punya BUMN, semua itu akan bergerak terang-terangan kalau presiden memihak pada orang selain dirinya.

Tanpa diperintah pun mereka akan begitu. Karena itu tabiat bobrok birokrasi kita. Mereka tidak memikirkan rakyat, tapi sibuk menafsirkan maksud Pak Lurah.

Maka kalau presiden gak maju lagi, ya jangan kampanye dan memihak. Jadilah negarawan. Berikan dukungan dengan porsi yang seimbang. Atau jauh-jauh dan mengawasi dari belakang.

Sampai segitu kah syahwat ingin berkuasa lagi?

Kemudian persoalan yang kedua, presiden harus cuti kalau kampanye. Masalahnya, mekanismenya bagaimana? Presiden harus izin pada dirinya sendiri? Terus cutinya sampai berapa lama? Negara mengalami kekosongan kekuasaan dong?

Kalau memang cutinya hanya saat kampanye, memangnya Paspampres itu tidak dibiayai negara? Memangnya kendaraan dan logistiknya tidak ditanggung negara? Memangnya Presiden mau naik bajai dan ongkos sendiri?

Jadi, memahami undang-undang itu memang harus pakai akal sehat. Pakai nurani. Jangan pakai syahwat politik.

Itu kan semacam diskresi. Presiden dan menteri diberikan sedikit kelonggaran untuk kampanye, kalau itu berkaitan dengan dirinya atau partainya.

Tapi kalau presiden dan menteri kampanye untuk orang lain, otaknya di mana? Sudah sesakit itukah Indonesia?

Kelonggaran itu jangan dijadikan pembenaran dari nafsu politik. Ngurus negara jauh lebih penting dari kampanye.

Sebisa mungkin itu harus dihindari.

Ini kan enggak. Presiden koar-koar bahwa dia dan menterinya boleh kampanye dan memihak. Kan giblik bingit.

Lagi pula, Jokowi udah dukung anaknya habis-habisan. Pakai BLT dan bansos. Mengerahkan aparat dan BUMN. Sudah begitu tak bermoral, masih kurang ya? Mau dilakukan terang-terangan ya?

Persoalan kampanye dan pemihakan presiden itu kan sebenarnya sederhana. Gak perlu pakai alasan klise menaati undang-undang. Berpikir saja secara rasional, pantas gak itu dilakukan?

Kalau bilang pantas, berarti kadar etikanya dipertanyakan. Moralnya pasti minim. Biasanya begitulah prinsip seorang oportunis dan berjiwa korup. Etika bukan sesuatu yang penting. Apalagi rakyat.

Ingat pesan Gus Dur, “Tidak ada jabatan di dunia ini yang perlu dipertahankan mati-matian.”

Sehebat-hebatnya Soeharto, usia juga yang membatasi kediktatorannya. Jokowi mau ikut-ikutan menghalalkan segala cara?

Tiga periode, gagal. Perpanjangan masa jabatan, gagal. Sekarang mau kembali berkuasa lewat Gibran?

Takutlah kutukan rakyat. Kekuasaan itu bisa membuat kualat. Bahkan ketika sudah mati, namamu akan dicaci dan dihujat.

Astha Yudhana. (*)

*/Disadur dari akun Twitter @Gus_Raharjo

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Gubernur Viktor : “Mukjizat Lahir dari Diri Kita Sendiri & Jangan Cari Mukjizat!”

    Gubernur Viktor : “Mukjizat Lahir dari Diri Kita Sendiri & Jangan Cari Mukjizat!”

    • calendar_month Sel, 18 Jun 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 105
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Gubernur NTT Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL) saat memberikan sambutan dalam Perayaan HUT Ke-18 Persekutuan Doa GMIT menyampaikan tentang pentingnya ‘Doa’ sebagai satu-satunya infrastruktur untuk bertemu dengan jalan kebenaran “Jadi kalau Doa dihilangkan maka infrastruktur tidak ada. Umpamanya jika mau ke Lelogama dan Naikliu di Kabupaten Kupang saat musim hujan tidak bisa […]

  • Presiden Jokowi Sambut Joe Biden & Para Pemimpin G20 di Bali

    Presiden Jokowi Sambut Joe Biden & Para Pemimpin G20 di Bali

    • calendar_month Rab, 16 Nov 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 107
    • 0Komentar

    Loading

    Nusa Dua, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo menyambut para pemimpin negara-negara G20 dan pemimpin organisasi internasional yang menghadiri konferensi tingkat tinggi (KTT) G20 di Hotel Apurva Kempinski Bali, Kabupaten Badung pada Selasa, 15 November 2022. Kedatangan para pemimpin ini menandai dimulainya acara puncak KTT G20 di Bali. Di lobi pendopo hotel, Presiden menyambut dan […]

  • Dua Tahun Erupsi Lewotobi : Antara Tangis, Trauma, dan Ketangguhan Berkelanjutan

    Dua Tahun Erupsi Lewotobi : Antara Tangis, Trauma, dan Ketangguhan Berkelanjutan

    • calendar_month Jum, 19 Des 2025
    • account_circle Eman Nara Sura
    • visibility 281
    • 0Komentar

    Loading

    Program psikososial yang dilakukan CIS Timor dan didukung Save The Children sekitar 2 bulan lalu memberikan dampak signifikan. Mereka dilatih selama 5 hari bagaimana membangkitkan semangat para guru dan anak-anak di wilayah pengungsian.   Kupang | Tangis, air mata, kehilangan, tapi juga semangat untuk bangkit. Itulah narasi yang tergambar dalam pameran foto dan temu wicara […]

  • 10 Tahun Lalu, Terima Kasih Jateng

    10 Tahun Lalu, Terima Kasih Jateng

    • calendar_month Rab, 6 Sep 2023
    • account_circle Penulis
    • visibility 114
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Prihati Utami 10 tahun yang lalu. Saya adalah salah satu orang yang pesimis dengan sosok satu ini,  Ganjar Pranowo. Halah….paling ya gitu-gitu aja. Suatu hari saat pelantikan pak Ganjar di periode pertama. Saya melihat seorang lelaki, mengenakan jas hitam hendak masuk ke gedung tempat pelantikan, tepatnya di DPRD Provinsi Jateng. Dia adalah tamu, […]

  • MoU PLN–Kejaksaan Tinggi, Akselerasi Transisi Energi di Nusa Tenggara

    MoU PLN–Kejaksaan Tinggi, Akselerasi Transisi Energi di Nusa Tenggara

    • calendar_month Sel, 15 Jul 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 112
    • 0Komentar

    Loading

    Kejaksaan hadir sebagai mitra strategis,  bagian dari pembangunan nasional termasuk pendampingan hukum kegiatan usaha BUMN.   Mataram | PT PLN (Persero) Unit Induk Pembangunan Nusa Tenggara (UIP Nusra) terus memperkuat kolaborasi lintas lembaga dalam mendukung agenda nasional transisi energi. Langkah ini diwujudkan melalui penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara PLN dan Kejaksaan Tinggi Nusa Tenggara Barat […]

  • Semarak Lomba Songsong HUT Ke-77 RI di SMA PGRI Mnelalete TTS

    Semarak Lomba Songsong HUT Ke-77 RI di SMA PGRI Mnelalete TTS

    • calendar_month Sen, 15 Agu 2022
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    SoE, Garda Indonesia | Sekolah Menengah Atas (SMA) PGRI Mnelalete Soe, Timor Tengah Selatan (TTS), Provinsi Nusa Tenggara Timur, melaksanakan berbagai kegiatan lomba yakni lomba pasukan baris berbaris (PBB), tarian kreasi dan fashion show antarkelas X, XI dan XII dalam menyongsong HUT ke-77 Kemerdekaan Republik Indonesia tahun 2022, di halaman SMA PGRI Mnelalete pada Senin, […]

expand_less