Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Daerah » Bantuan Sarana Sanitasi Pijar Timur Mangkrak, Sekolah di Belu Pungut Siswa

Bantuan Sarana Sanitasi Pijar Timur Mangkrak, Sekolah di Belu Pungut Siswa

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sab, 11 Sep 2021
  • visibility 96
  • comment 0 komentar

Loading

Belu–NTT, Garda Indonesia | Bantuan sarana sanitasi disabilitas ramah sekolah tahun 2019 berupa satu unit jamban inklusif (WC) dari LSM Pijar Timur Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT), yang diterima SDI Kinbana, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat, sudah mangkrak selama dua tahun. Padahal, anggaran yang ditransfer oleh Pijar Timur ke rekening sekolah senilai Rp. 18.000.000,- (delapan belas juta rupiah).

Sementara, pantauan Garda Indonesia pada Kamis, 9 September 2021, bangunan sarana sanitasi disabilitas masih dalam kondisi belum bisa dipakai. Tembok belum diplester, keramik belum dipasang, dan kelengkapan fasilitas pengaman belum tersedia.

Kepala sekolah SDI Kinbana, FB ketika dikonfirmasi pada Kamis pagi, 9 September 2021, mengaku bahwa anggaran itu sesungguhnya tidak bisa mencukupi untuk menuntaskan bangunan sarana sanitasi ramah sekolah tersebut. “Sebenarnya sejak awal, kami menolak bantuan itu karena setelah kami pelajari RABS – nya bersama ketua komite, ternyata dana itu tidak bisa untuk selesaikan satu WC sesuai ukuran yang ditentukan Pijar Timur,” alas Firmus.

Ketua komite ER pun secara terpisah, secara senada menyampaikan keluhan yang sama. Bahwa, solusi satu – satunya yang ditempuh adalah dengan memungut dari siswa/siswi melalui rapat dengan orang tua murid, dengan merujuk pada surat pemberitahuan dari Pijar Timur. Nilai pungutannya senilai Rp. 18. 000 (delapan belas ribu rupiah) per siswa dari jumlah total 187 siswa.

“Kami rapat dengan orang tua ini juga karena ada permintaan dari Pijar Timur. Mereka yang kirim surat ke kami. Tapi saat rapat, mereka tidak hadir. Seharusnya mereka sendiri hadir untuk menjelaskan ke orang tua murid, kenapa WC itu belum selesai,” kesal ER.

ER menjelaskan lebih lanjut bahwa dalam lokakarya, LSM Pijar Timur tidak bicara tentang RABS. Namun, justru meminta adanya kontribusi dari orang tua murid dalam bentuk galian fondasi dan septic tank, okfol, pasang fondasi, dan potong kayu bulat untuk profil. Tetapi saat pelaksanaan, ternyata tidak seperti yang diharapkan, orang tua yang hadir hanya sedikit orang.

Selanjutnya, ketua komite mencari tukang sambil menunggu datangnya RABS dari Pijar Timur. Ketika terima RABS, tercatat bahan – bahan dengan jumlah masing – masing, pasir 1 ret, batu 1 ret, semen 10 sak.

“Karena saya lihat bahan sedikit, saya dan kepala sekolah sepakat bertemu pihak Pijar Timur di Motabuik, Kecamatan Atambuan Selatan untuk klarifikasi. Tapi kantornya tutup karena katanya kantor di Kefa (TTU). Akhirnya kami pulang dan tidak kembali lagi karena saya jatuh sakit,” terang ER.

Dalam perjalanan waktu, uang itu ditransfer ke rekening sekolah dengan nilai delapan belas juta rupiah sesuai RABS, dengan perincian tiga juta rupiah untuk tukang dan lima belas juta rupiah untuk bahan.

“Pak kepala datang suruh saya cari tukang dengan ongkos tiga juta. Tukang tidak mau, kami naikkan lagi menjadi lima juta. Tapi, tetap saja tidak ada tukang yang mau. Akhirnya, kepala sekolah cari tukang sendiri sampai kondisi bangunan seperti sekarang ini,” ujar ER.

ER menceritakan lanjut bahwa bahan, waktu itu satu kali belanja di Toko Arena Kinbana dengan dana lima belas juta rupiah. Nota belanjanya, langsung diambil semuanya oleh Pijar Timur sehingga saat ini pihak sekolah tidak memiliki bukti pembelanjaan bahan.

“Jadi anggarannya, Pijar Timur yang atur semuanya. Dan mereka bilang kalau tidak cukup, sekolah usaha sendiri untuk kasih cukup. Waktu itu, saya sebagai ketua komite rasa berat, makanya saya mau tolak saja. Anehnya, Pijar Timur terus mendesak bahkan sampai datang mengamuk di sekolah dan di rumah kepala sekolah,” ungkap ER lagi.

Kondisi jamban inklusif (WC) SDI Kinbana, Desa Bakustulama, Kecamatan Tasifeto Barat

ER yang terbawa rasa kesal, menuturkan bahwa pihak komite dan sekolah pasrah sambil menunggu sampai tim pengawas dan donatur datang memeriksa sendiri sekaligus tatap muka untuk disampaikan kondisi kesulitan yang dihadapi sebenarnya.

“Saat ini kepala sekolah pasrah sambil terus berjuang dengan caranya demi anak–anak,” tutur ER.

Jumlah dana yang harus dicukupkan, lanjut ER, berjumlah Rp. 3.740.000 (atas kesepakatan Rp. 18.000/siswa dibulatkan menjadi Rp. 20.000/siswa). Kekurangan itu, dibebankan kepada orang tua murid dari total 187 siswa/siswi untuk bayar tukang, pesan pasir 1 ret, air 1 tangki, dan keramik 15 dos.

“Sampai sekarang ini, orang tua belum kumpulkan semuanya. Jadi, kalau mereka tidak mau kumpul, lebih baik kita tunggu sampai pemilik modal datang lihat sendiri. Yang penting, kita sudah berupaya maksimal. Biar kita sama–sama bertanggung jawab ke pemilik modal,” tandas ER.

Informasi lain yang diperoleh Garda Indonesia pada Sabtu siang, 11 September 2021 dari salah satu sekolah yang juga menerima bantuan sarana sanitasi tahun 2020, bahwa dana bantuan sarana sanitasi Pijar Timur senilai Rp. 18.900.000 (delapan belas juta sembilan ratus ribu rupiah). Bahwa, anggaran itu dikelola oleh pihak komite sekolah, dan telah selesai meskipun harus dengan bantuan uang pribadi kepala sekolah bersangkutan senilai satu juta lebih rupiah.

“Dananya ada delapan belas juta sembilan ratus. Tapi, mereka potong lagi sampai sisa tujuh belas juta lebih. Dana itu memang tidak cukup untuk WC ukuran itu. Tapi karena demi anak – anak, terpaksa kami terima sampai harus rela keluarkan uang pribadi. Saya sudah tambah uang pribadi satu juta lebih, tapi belum juga selesai. Ada bagian tertentu yang masih pakai bambu. Padahal, yang sebenarnya harus pakai besi,” ujar polos kepala sekolah.

Kepala sekolah itu menambahkan bahwa pihak Pijar Timur terus mendesak agar sarana sanitasi wajib tuntas sesuai dengan ukuran dan kelengkapan fasilitas yang ditentukan, meski dananya dalam keadaan tidak cukup.

Pihak Pijar Timur, ketika dikonfirmasi via sambungan telepon pada Sabtu siang, 11 September 2021 terkesan tidak bersahabat. Seorang petugas lapangan yang dikenal berinisial G malah mengancam Garda Indonesia dengan nada suara keras.

“Semua kuitansi–kuitansi, kita akan beberkan. Kalau mau lihat kuitansi – kuitansi, silakan pak datang ke kantor, copy kuitansi semua, pak lihat dan kita akan klarifikasi di toko yang bersangkutan supaya itu lebih fair pak. Jadi, supaya sebelum pak muat, pak muat tanpa kuitansi semua, saya akan komplain itu berita. Jadi, silakan datang, karena semua proses pembelanjaan lengkap. Nanti, saya sampai kantor baru saya bel lagi karena saya sementara ada di luar,” sebut G sembari menegaskan bahwa pernyataan komite itu bohong semuanya!

Saat dihubungi kembali setengah jam kemudian melalui telepon, malah G berdalih tidak memiliki kesempatan untuk bertemu. Bahkan, G lagi–lagi mencercah Garda Indonesia dengan kata–kata tak pantas. Padahal, G sendiri yang menawarkan dan meminta sebelumnya untuk menunjukkan semua bukti kuitansi pembelanjaan.

“Maksud pak kejar kuitansi itu tujuannya untuk apa? Saya tanya pak, kalau pak butuh kuitansi itu, tujuan pak untuk apa? Kalau pak mau berita, pak dengar dari saya. Kalau pak butuh itu, saya tanya pak, untuk apa kalau pak mau lihat itu? Pak, kuitansi semua lengkap di sini. Itu menjadi dokumen kami,” kata G dengan suara kasar.

Sebelumnya, pada Kamis, 9 September 2021 petugas G sempat meminta Garda Indonesia untuk tidak mempublikasi, dengan kilah demi nama baik kepala sekolah. Katanya, jika dipublikasi maka kepala sekolah SDI Kinbana yang akan menanggung coreng nama baik.

Pantauan Garda Indonesia, G mendesak pihak sekolah dengan suara keras agar segera tuntaskan bangunan yang masih dalam kondisi terbengkalai dalam pacuan waktu dua hari, kerja siang malam. Bahkan, meminta kepala sekolah untuk mengelabui tim pemeriksa dengan menyiapkan semua perlengkapan sarana sanitasi atas upaya kepala sekolah sendiri. (*)

Penulis + foto: (*/Herminus Halek)

  • Penulis: Penulis

Rekomendasi Untuk Anda

  • Semiotika Politik Got

    Semiotika Politik Got

    • calendar_month Ming, 12 Sep 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 109
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh: Andre Vincent Wenas Akhirnya got naik kelas. Jadi wacana dunia sosial-politik nasional! Ada yang masuk got untuk inspeksi saluran, dan ada juga yang masuk got lantaran kecemplung. Inspeksi, itu artinya ya memeriksa on-the-spot (turba, turun ke bawah), kerja lapangan, kerja nyata, untuk memastikan segala sesuatunya berjalan sesuai rencana. Ini sering tidak disukai oleh bawahan […]

  • Sutopo Purwo Nugroho Meninggal Dunia di Guangzhou China

    Sutopo Purwo Nugroho Meninggal Dunia di Guangzhou China

    • calendar_month Ming, 7 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 82
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Kepala Pusat Data Informasi dan Humas (Pusdatinmas) Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho meninggal dunia di Guangzhou, China, Minggu, 7 Juli 2019, pukul 02.20 waktu setempat atau 01.20 WIB. Informasi duka tersebut beredar melalui pesan singkat grup WhatsApp Info Publik Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (MKG) NTT dari Wawan, salah […]

  • WNA Asal Australia Korban Laka Lantas di Kupang Dapat Santunan Jasa Raharja

    WNA Asal Australia Korban Laka Lantas di Kupang Dapat Santunan Jasa Raharja

    • calendar_month Rab, 8 Jan 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 98
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Warga Negara Asing (WNA) yang menjadi korban kecelakaan di Indonesia ternyata juga mendapatkan santunan kecelakaan dari Jasa Raharja. Salah satunya adalah Mr. Ridwan Sedgwick (68), warga negara Australia. Yang bersangkutan meninggal dunia dalam kecelakaan maut yang terjadi di ruas Jalan Sam Ratulangi III dekat UD. KAE di Kelurahan Oesapa Barat Kota […]

  • Tak Ada Dualisme PMI Kota Kupang, Bill Mandala Dilantik Jadi Ketua Baru

    Tak Ada Dualisme PMI Kota Kupang, Bill Mandala Dilantik Jadi Ketua Baru

    • calendar_month Rab, 30 Apr 2025
    • account_circle Penulis
    • visibility 233
    • 0Komentar

    Loading

    Sebagai Pemerintah Kota Kupang, tekan Serena Francis, pihaknya tidak mengakui kepengurusan lain. Banyak aspek yang dipertimbangkan, mulai dari AD/ART, latar belakang pendidikan, hingga keterlibatan dalam organisasi tanpa kepentingan politik.   Kota Kupang | Wakil Wali Kota Kupang, Serena Francis melantik jajaran pengurus Palang Merah Indonesia (PMI) Kota Kupang masa bakti 2025—2030 pada Selasa, 29 April […]

  • Masa Paskah 2019, Gereja Bait El Penfui Edukasi Jemaat Hidup Sehat

    Masa Paskah 2019, Gereja Bait El Penfui Edukasi Jemaat Hidup Sehat

    • calendar_month Sab, 9 Mar 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Panitia Hari Raya Gerejawi (PHRG) 2019 Gereja Bait El Penfui pose bersama usai kegiatan

  • Pesona Pantai Teres: Potongan Surga di Serambi Selatan Kabupaten Kupang

    Pesona Pantai Teres: Potongan Surga di Serambi Selatan Kabupaten Kupang

    • calendar_month Sel, 17 Agu 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 89
    • 0Komentar

    Loading

    Oleh : Marsel Robot dan Tim PKM Pusdibubpar LP2M Undana Menyebut Pantai Teres, mungkin saja terasa tak renyah di telinga Anda. Tapi, kadang rasa tak renyah itulah yang mencubit hasrat dan merangsang  rasa ingin tahu tentang pantai yang eksotik ini. Pantai ini memang keren. Memamerkan lanskap garis pantai sejauh mata memandang. Tetapi, ada yang berbeda […]

expand_less