Breaking News
light_mode
Trending Tags
Beranda » Pertanian Perkebunan » Belajar Ketahanan Pangan dari Suku Boti di Pulau Timor

Belajar Ketahanan Pangan dari Suku Boti di Pulau Timor

  • account_circle Penulis
  • calendar_month Sen, 16 Jun 2025
  • visibility 214
  • comment 0 komentar

Loading

Suku Boti tinggal di pedalaman Timor Tengah Selatan, sekitar 40 km dari kota So’e, dan sekitar 4—5 jam perjalanan dari Kota Kupang, Ibu Kota Provinsi NTT. Secara administratif, Desa Boti terletak di Kecamatan Kie.

 

Pada tantangan krisis pangan global, masyarakat adat Suku Boti di Pulau Timor, Nusa Tenggara Timur (NTT), menunjukkan peran kearifan lokal untuk ketahanan pangan.

Terletak di wilayah pegunungan kering di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Desa Boti tetap mempertahankan tradisi pertanian berkelanjutan yang menjamin ketahanan pangan tanpa ketergantungan pada sistem luar.

Suku Boti tinggal di pedalaman Timor Tengah Selatan, sekitar 40 km dari kota So’e, dan sekitar 4—5 jam perjalanan dari Kota Kupang, Ibu Kota Provinsi NTT. Secara administratif, Desa Boti terletak di Kecamatan Kie.

Selain itu, masyarakat Boti sangat menjaga kebersihan perkampungan, terutama di sekitar area kerajaannya. Mereka melarang perburuan hewan di kawasan perkampungan untuk menjaga kelestarian alam.

Menelisik kehidupan Suku Boti

Suku Boti tinggal di daerah terpencil yang dikelilingi perbukitan kering, sekitar 40 km dari Kota Soe, ibu kota Kabupaten Timor Tengah Selatan. Meskipun hidup dalam kesederhanaan, mereka memiliki sistem pangan yang mandiri.

Kehidupan sehari-hari mereka berpusat pada pertanian tradisional, peternakan, dan pelestarian adat. Mereka menolak modernisasi yang merusak keseimbangan alam, sehingga tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan secara mandiri.

Suku Boti sangat menjaga kelestarian alam dan memiliki kearifan lokal yang unik. Mereka memiliki prinsip hidup mandiri dan menolak bantuan dari pihak luar, termasuk bantuan pemerintah seperti beras miskin.

Resiliensi pemenuhan pangan

Kunci ketahanan pangan Suku Boti terletak pada keanekaragaman tanaman pangan dan teknik pertanian yang ramah lingkungan. Mereka menanam jagung, sorgum, ubi kayu, kacang-kacangan, serta berbagai jenis sayuran lokal yang tahan kekeringan.

Masyarakat adat Boti membawa hasil panen umbi-umbian genus Dioscorea pada Minggu, 6 Agustus 2023. Umbi-umbian yang tumbuh merambat ini biasanya dipanen dua tahun sekali di musim kemarau, saat daunnya mulai mengering. Foto :Agus Susanto. Indonesia, 2023.

Sistem pertanian mereka tidak menggunakan pupuk kimia atau pestisida, melainkan mengandalkan kompos alami dan rotasi tanaman untuk menjaga kesuburan tanah.

Selain bercocok tanam, mereka juga memelihara ternak seperti kambing, ayam, dan babi dalam skala kecil. Hasil ternak tidak hanya untuk konsumsi, tetapi juga berperan dalam ritual adat dan sistem barter antar-keluarga. Dengan demikian, mereka tidak bergantung pada pasokan pangan dari luar, melainkan menciptakan siklus pangan yang mandiri.

Budaya makan menghargai alam

Masyarakat Boti memiliki budaya makan yang sederhana namun kaya nutrisi. Mereka mengonsumsi apa yang mereka tanam dan hasilkan sendiri, menghindari makanan olahan atau kemasan.

Jagung dan umbi-umbian menjadi makanan pokok, disajikan dengan sayuran liar seperti daun kelor dan buah gewang yang kaya gizi. Setiap keluarga memiliki lumbung (gudang penyimpanan tradisional) untuk menyimpan cadangan pangan, memastikan ketersediaan makanan bahkan di musim kemarau panjang.

Pelajaran dari Suku Boti untuk Ketahanan Pangan Nasional

Ahmad Arif, Inisiator Nusantara Food Biodiversity, menekankan pentingnya belajar dari masyarakat adat seperti Suku Boti.

“Keragaman hayati adalah anugerah terbesar yang kita punya, namun saat ini terjadi pergeseran budaya pangan yang menyebabkan keseragaman pangan. Kita tergantung pada beras dan gandum impor, padahal Indonesia memiliki ribuan sumber pangan lokal yang lebih adaptif,” kata Arif kepada GNFI, Jumat,13 Juni 2025.

Menurutnya, Suku Boti membuktikan bahwa ketahanan pangan bisa dicapai dengan memanfaatkan keanekaragaman hayati dan kearifan lokal. Langkah konkret yang bisa diambil antara lain melestarikan benih lokal, mendorong konsumsi pangan beragam, dan mengembalikan penghargaan terhadap sistem pangan tradisional.(*)

Sumber (*/Goodnews/Firdarainy Nuril Izzah + ragam)

  • Penulis: Penulis

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • Anak Muda Kota Kupang Terpapar Covid, Ini Pesan Yolanda Kadjakoro

    Anak Muda Kota Kupang Terpapar Covid, Ini Pesan Yolanda Kadjakoro

    • calendar_month Sel, 19 Jan 2021
    • account_circle Penulis
    • visibility 185
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | Corona Virus Disease (Covid-19) tak hanya menyerang usia lanjut, bayi, dan anak-anak, termasuk kaum muda pun terpapar virus mematikan yang mulai mewabah sejak Maret 2020 di Indonesia. Bahkan saat ini, jumlah kasus terpapar Covid-19 di Kota Kupang per Senin, 18 Januari 2021, jumlah kasus mencapai 1.431 jiwa, masih dirawat 831 jiwa, […]

  • 14 dari 1.280 Secapa AD Negatif Covid-19, 296 Tunggu Hasil Swab Kedua

    14 dari 1.280 Secapa AD Negatif Covid-19, 296 Tunggu Hasil Swab Kedua

    • calendar_month Ming, 12 Jul 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 133
    • 0Komentar

    Loading

    Bandung, Garda Indonesia | Sebanyak 1.280 anggota, staf dan keluarga Sekolah Calon Perwira Angkatan Darat (Secapa AD) positif Covid-19. Saat ini, 17 orang masih dirawat di Rumah Sakit Dustira Cimahi, sedangkan sisanya diisolasi di Markas Komando Secapa AD. Baca juga : http://gardaindonesia.id/2020/07/12/ratusan-ikan-kakap-putih-ambon-penuhi-gizi-secapa-tni-pasien-covid-19/ Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD) Jenderal TNI Andika Perkasa, mengungkapkan bermula yang dirawat […]

  • Gubernur VBL : Mulai Hari Ini, Gratis ‘Swab dan Rapid Test’ bagi Masyarakat NTT

    Gubernur VBL : Mulai Hari Ini, Gratis ‘Swab dan Rapid Test’ bagi Masyarakat NTT

    • calendar_month Jum, 16 Okt 2020
    • account_circle Penulis
    • visibility 163
    • 0Komentar

    Loading

    Kupang-NTT, Garda Indonesia | “Saya hitung mulai hari ini, masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) yang akan melakukan perjalanan ke Jakarta atau ke mana pun, apalagi Desember nanti, anak-anak yang akan berangkat sekolah ke luar NTT, tidak lagi dibebani dengan swab atau rapid test dengan anggaran-anggaran seperti itu,” ujar Gubernur NTT, Viktor Bungtilu Laiskodat (VBL). Baca […]

  • Hukum Berat!, Pelaku Kejahatan Seksual terhadap Anak

    Hukum Berat!, Pelaku Kejahatan Seksual terhadap Anak

    • calendar_month Jum, 21 Sep 2018
    • account_circle Penulis
    • visibility 136
    • 0Komentar

    Loading

    Balikpapan,gardaindonesia.id – Sekretaris Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPP), Pribudiarta Nur Sitepu didampingi Plt. Deputi Bidang Perlindungan Anak, Sri Danti Anwar mewakili Kemen PPPA ikut hadir dalam sidang pembacaan putusan tersangka kasus tindak pidana pencabulan terhadap anak yang dilakukan oleh salah satu pegiat lingkungan dan aktivis anak, Pandu Dharma Wicaksono (22) di Balikpapan, […]

  • Listrik Padam di Jabodetabek, Presiden Jokowi: “Jangan Sampai Terjadi Lagi!”

    Listrik Padam di Jabodetabek, Presiden Jokowi: “Jangan Sampai Terjadi Lagi!”

    • calendar_month Sen, 5 Agu 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 155
    • 0Komentar

    Loading

    Jakarta, Garda Indonesia | Presiden Joko Widodo meminta PT PLN (Persero) melakukan perbaikan dan evaluasi secepat-cepatnya atas kejadian gangguan listrik massal yang melanda Jakarta dan sebagian wilayah di Pulau Jawa pada Minggu, 4 Agustus 2019, kemarin. Secara tegas, ia tidak ingin hal serupa terjadi lagi di kemudian hari. Hal tersebut disampaikan Presiden saat menyambangi kantor […]

  • Tingkatkan Kualitas Hidup Perempuan dan Anak di Papua, Laki-laki Harus Terlibat

    Tingkatkan Kualitas Hidup Perempuan dan Anak di Papua, Laki-laki Harus Terlibat

    • calendar_month Rab, 31 Jul 2019
    • account_circle Penulis
    • visibility 156
    • 0Komentar

    Loading

    Jayapura, Garda Indonesia | Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (Kemen PPPA) bersama Dewan Adat Papua mendorong keterlibatan laki-laki dalam penanganan masalah perempuan dan anak di Provinsi Papua. Sebab menurut Menteri Pemberdayaan Perempuan dan perlindungan Anak, Yohana Yembise, selama ini partisipasi laki-laki di Papua dianggap kurang dan kesadaran akan melindungi perempuan dan anak yang belum […]

expand_less